Share

Bab 2

Tiba-tiba datang banyak nya orang berbondong untuk melihat kejadian. Padahal tadi Gebi tidak melihat satupun orang disana. Lalu dari mana saja mereka.

Argebi berlari memasuki sekolah. Ikut mengerubungi hal yang tampak sedang dipertontonkan.

"Hahaha cupu"

Lelaki yang jatuh dari ketinggian berdiri dengan tawaan. Membuat orang orang panik tidak terkira. Darah yang mengalir dikepala menetes melewati wajah. Tapi, mengapa tidak merasakan apa-apa?

Gebi menahan nafas. Mundur beberapa langkah dan berlari menuju kelas.

Yang ada diotaknya adalah, laki-laki itu sudah tiada. Lalu siapa dia? mengapa masuk dengan seenaknya ketubuh seseorang yang baru saja mati.

Gebi menelusur kelas. Kosong

Karena semua sibuk menatap kearah mayat hidup. 

Aaaa

Teriakan orang membuat Gebi tersentak dan menuju keluar. Lelaki itu? ingin lompat dari tingkat dua. Tempatnya berada saat ini.

Itu artinya, hal yang dilihatnya tadi hanya ilusi. Dan akan menjadi nyata.

"Jangan" Teriakan dari orang-orang dibawah memekakan telinga. Gebi menghampiri lelaki itu.

"Hey, Kau"

Lelaki itu menatap kearah Gebi. Menaruh tangan keudara berjalan mundur hingga kaki memanjat pembatas.

"Jangan mendekat, kau tidak tau rasanya menjadi aku"

Lelaki itu memukul kepala dengan satu tangan. Gebi tetap datar tidak ada niatan untuk membujuk.

Memejamkan mata sekilas. Gebi melihat selembaran kisah, Seorang lelaki yang menatap wanita bercinta dengan lelaki lain.

Gebi tertawa kecil. "Hanya karena cinta ternyata"

"Sangat buruk"

Ejekan Gebi membuat lelaki itu maju mendekatinya. "Kau diam! karena kau tidak pernah merasakan sakitnya di khianati"

Gebi mengangguk anggukkan kepalanya. "Lalu, kau tau bagaimana rasanya kehilangan semua orang yang ada dihidupmu. Tanpa ada yang tersisa, seharusnya kau bangga. Karena masih banyak yang mengharapkanmu hidup" Gebi menunjuk kebawah dengan matanya. Banyak orang yang panik, bahkan keluarga dan petugas kepolisian sudah ada disana.

Lelaki itu terdiam. 

"Jika kau ingin mati. Silahkan, aku tidak akan menghentikanmu. Tapi jika kau sudah mati, kuharap jangan menemuiku untuk meminta tolong, karena sudah terlalu banyak hantu yang harus ku tolong"

Gebi meninggalkan lelaki otu bergitu saja. Membuat para orang dibawah berteriak histeris lagi dan lagi karena Lelaki itu menaiki pembatas.

"Keras kepala" Gebi menghela nafas lelah.

"Akan aku bantu dirimu kalau kau tetap memilih hidup"

Mulut Gebi begitu saja berucap tanpa berfikir. Sang lelaki pun turun dari pembatas dan menatap Gebi antusias.

"Aku setuju"

"huh. Tidak manusia, tidak setan sama sama merepotkan"

.

Sepulang dari sekolah Gebi menaiki Bis lagi untuk kerumahnya. Tidak seperti tadi pagi, Bis kali ini terlalu padat hingga tidak mendapatkan tempat duduk.

Argebi berdiri hingga pegal menguasai kakinya. Halte menuju rumah sudah dekat, Bis berhenti dan ia pun keluar. Ingin membayar tapi supir tidak menerima uangnya dan pergi begitu saja. Sebenarnya dia heran, tapi juga untung baginya.

Angin lagi lagi berhembus kencang. Dingin menguasai tubuh sehingga Argebi mengeratkan rompi yang dikenakannya. Berjalan dengan suasana cukup sepi. Tidak bisa dipungkiri Gebi sangat ingin cepat sampai kerumah.

Pohon pohon seakan ingjn tercabut dari akarnya. Angin badai menerbangkan sampah yang berserakan. 

Whuss

Angin menghembus telinga Gebi, anehnya angin itu terasa hangat.Gebi mempercepat langkah menggenggam erat tas ransel yang dikenakannya.

Membuka pintu dengan tergesa gesa seakan ada yang mengikutinya. 

Brak!

Pintu terbanting. Argebi naik kekasur kayunya dengan keras dan menghasilkan bunyi khas.

Memejamkan mata beberapa kali ingin membaca hal yang akan terjadi. Mata membola tahu akan gejolak kejadian yang meratapi kesedihan.

Tidak ada kata lain yang bisa disebutkan. Gebi tidak akan bisa menghentikan. Lalu? Ia akan menunggu kejadian itu datang dan meratapi kebodohannya untuk kesekian kali.

.

#Kecelakaan beruntun malam ini terjadi 

#Bis sekolah menewaskan puluhan anak-anak

#Angin topan menerbangkan atas rumah hingga mengenai leher orang yang lewat.

Argebi menonton berita terkini. Sekilas yang terlintas dikepalanya tidak mengarah hal yang salah. Semua yang dilihat sudah terjadi. Tidak bisa dikendalikan karena ia hanya manusia biasa.

Hanya diberi anugrah untuk tahu lebih dulu tanpa bisa menghentikan apa yang sudah ditakdirkan.

Tapi Argebi terpuruk. Lebih baik tidak tau sama sekali dari pada tau tapi hanya bisa diam tanpa melalukan apapun yang bisa merubah segalanya.

Gebi mematikan tv. Sehingga kesunyian menghantuinya seakan memerahi atas kebodohan. Rasa ingin berteriak pada dunia kalau ia ingin mati saja.

Tapi ia tidak ingin seperti hantu-hantu bergentayangan yang selalu mengantuinya untuk meminta tolong.

Tidak. Gebi tidak sudi

Lebih baik menolong dari pada meminta tolong. Lagian pada siapa ia akan meminta tolong jika nantinya dia mati? apakah ada orang yang sepertinya? yang selalu dengan cuma-cuma dan sukarela membatu para makhluk halus itu.

Sepertinya tidak.

Dor...dor...dor

Gebi tersentak kala pintu rumahnya digedor dengan brutal. Siapa yang mengganggu dipagi yang menyedihkan ini.

Mengintip di tengah bolongan yang terbuka dibagian pintu. Tidak terlihat.

Gebi membuka pintu dengan pelan. Terlihat lelaki yang membuatnya mengucapkan janji dengan tidak berfikir dua kali. Datang dengan tidak ada sopan dan masuk tanpa permisi.

Gebi menutup pintu. Mengikuti lelaki itu yang duduk dimeja makan.

Mencomot roti yang ada dimeja. "Aku menagih janji"

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status