Share

Sekali Tatap, Hati Sang Pengacara Luluh
Sekali Tatap, Hati Sang Pengacara Luluh
Penulis: Serena Sentosa

Bab 1

Penulis: Serena Sentosa
Cristian Hutomo bermimpi.

Dalam mimpinya, dia menindih seorang wanita.

Wanita itu memiliki pinggang ramping dan kulit putih.

Begitu memesona.

Dia bisa melihat dengan jelas mata wanita yang cerah dan jernih itu. Mata itu begitu indah dan mampu membangkitkan hasrat terdalam di hati seorang pria.

Hanya saja, dia sama sekali tidak menduga.

Guru les putranya akan menjadi objek fantasi erotisnya.

"Tok, tok."

Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu.

"Masuk."

Cristian menghentikan lamunannya, merapikan penampilannya, dan berdiri. Meskipun dia mengenakan setelan jas dan dasi, reaksi tubuhnya masih tetap ada.

Dia telah melajang selama tujuh tahun sejak pernikahannya berakhir.

Tidak dimungkiri, mimpi ini memberikan dampak padanya.

Pelayan wanita, Bi Mirna, membuka pintu dan berdiri dengan hormat di ambang pintu. "Tuan Cristian, Nona Stella datang. Dia bilang dia mau cari Tuan."

"Mmm."

Cristian menjawab dengan nada datar.

Namun, dia menyalakan sebatang rokok.

Dia baru turun ke bawah setelah menghabiskan sebatang rokok.

Saat menuruni tangga spiral kayu, dia melihat Stella Jimarta, yang mengenakan gaun katun putih dan sepatu kanvas biru seperti biasanya.

Dia tidak mengikat rambutnya hari ini.

Rambut hitamnya yang panjang dan lurus terurai alami hingga ke pinggangnya.

Saat mata mereka bertemu, dia menyadari rona merah di mata Stella.

"Bi Mirna bilang kamu cari aku?"

Cristian berbicara dengan suara yang sedikit serak.

Mungkin masih dipengaruhi mimpi yang baru saja dialaminya, ketika dia melihat Stella, adegan sebelumnya masih terbayang di benaknya. Sosok wanita itu begitu memikat dan memesona di bawah tubuhnya.

Wanita itu memohon padanya.

"Benar, Tuan Cristian." Stella menundukkan kepalanya.

Cristian memperhatikan tangan kanannya yang terkepal.

Wanita itu sangat gugup saat ini.

Cristian sedikit mengerutkan kening. "Apa yang terjadi?"

Stella telah mengajar les di rumah selama dua bulan, tetapi kemarin adalah pertama kalinya mereka bertemu.

Ketika memilih kandidat guru waktu itu, asistennya pernah memperlihatkannya foto. Dia melirik foto itu dan merasa parasnya cantik. Mengingat Stella kuliah di universitas bergengsi, dia pun mempertahankannya.

Dia pernah melihat sosoknya melalui rekaman CCTV.

Siapa sangka, di pertemuan pertama mereka kemarin, sikapnya yang pemalu justru mencuri hatinya.

"Tuan Cristian, bolehkah aku minta gajiku dibayar lebih awal? Aku tahu ini nggak sesuai aturan, tapi aku sangat butuh uang ...." Stella mengerahkan banyak usaha.

Dia gugup. Bicaranya agak cepat dan juga tidak begitu stabil.

Setelah mengatakan itu, dia menundukkan kepala dan tidak berani menatap mata Cristian.

Dia tidak punya pilihan lain. Jika tidak, dia tidak akan meminta bantuan.

"Apa 100 juta cukup?"

Seraya berbicara, Cristian mengambil langkah ke depan Stella.

Stella memperhatikan bayangan yang jatuh di depannya. Dia tidak percaya. "Tuan Cristian, kamu setuju untuk membayar gajiku lebih awal?"

Kemarin, saat mengobrol, Bi Mirna mengatakan Cristian akan tinggal di rumah selama beberapa hari kali ini.

Karena sesuatu menimpa keluarganya, Stella baru punya pemikiran seperti itu.

Namun, Cristian justru bertanya padanya apa 100 juta cukup. Itu sebabnya, dia tidak percaya.

Cristian mengeluarkan ponselnya. "Beri tahu aku rekeningmu dan whatsappmu. Akan kutransfer uangnya sekarang."

Melihat sikapnya yang serius, Stella baru percaya, tetapi dia tidak mungkin mengambil 100 juta. Dia buru-buru melambaikan tangannya. "Tuan Cristian, aku hanya akan mengambil apa yang seharusnya aku dapatkan."

"Aku juga karena melihatmu dengan Sean cukup akrab selama dua bulan terakhir ini. Siapa namamu ...."

"Stella Jamitra."

Stella dengan cepat memperkenalkan dirinya.

Cristian mengangguk. "Bu Stella, karena Sean akrab denganmu, kamu bisa terus menjadi gurunya. Dengan begitu, aku juga bisa tenang."

Yang paling penting, mimpi yang berkaitan dengannya hari ini membuktikan bahwa dirinya tidak impoten. Dia masih pria normal.

Kata-kata Cristian membuat Stella merasa senang. "Benarkah, Tuan Cristian?"

Dia menatap Cristian dengan matanya yang cerah dan jernih.

Jakun Cristian bergerak-gerak, dan hanya menggumamkan 'mmm'.

"Terima kasih banyak!" Stella menyatukan kedua tangannya dan membungkuk kepada Cristian.

Terlihat jelas bahwa dia sangat senang bisa terus mengajar.

Benar, Stella memang senang sekali.

Karena kondisi keluarganya kurang baik, jadi dia harus mencari uang kuliah dan biaya hidup sendiri.

Dia juga dikenalkan oleh orang yang mengatakan bahwa mengajar les akan membuatnya punya penghasilan yang lumayan.

Kadang-kadang, dia bahkan mungkin mendapatkan bonus tambahan jika bertemu dengan orang tua murid yang baik.

Satu-satunya kekurangannya adalah anak-anak sulit diatur.

Namun, ini juga merupakan masalah probabilitas.

Selain itu, mendisiplinkan anak bukanlah masalah bagi Stella, yang mana telah mulai merawat adik laki-lakinya sejak usia delapan tahun.

Oleh karena itu, dia melamar sebagai guru les.

Siapa sangka, dia akan terpilih langsung.

Setelah menghabiskan dua bulan bersama Sean, anak itu juga sangat menyukainya.

Dia terus memanggilnya 'Kak Stella'.

Sekarang?

Orang tua murid, yang juga bosnya, setuju agar dia terus lanjut mengajar. Ucapan terima kasihnya sungguh berasal dari dalam lubuk hatinya.

"Nomor rekening dan whatsapp-mu."

Cristian tidak menyangka Stella akan begitu senang karena dia bisa terus mengajar.

Namun, mereka telah membicarakan masalah ini dari tadi.

Dia tidak suka memperpanjang proses ketika melakukan suatu hal.

Mendengar kata-katanya yang singkat, Stella segera memberikan nomor rekening dan whatsapp-nya.

Jari-jari Cristian bergerak dengan cepat, dan mentransfer uang dengan cepat.

Stella melihat ....

Nama yang tertera di profil whatsappnya adalah inisial H, dan foto profilnya adalah sebuah perahu yang sedang berlabuh.

Sebelum dia sempat melihat lebih lama, Cristian telah mengirim bukti transfer.

Dia sungguh mentransfer 100 juta.

"Tuan Cristian, terima kasih banyak. Jangan khawatir, aku pasti akan mengajari Sean dengan baik." Stella terharu dan sekali lagi berterima kasih kepada Cristian.

Cristian menyadari ketulusan di mata wanita itu, dan merasa geli sesaat.

"Apa itu berarti kamu nggak mengajarinya dengan benar sebelumnya?"

Mendengar perkataan Cristian, Stella dengan cepat melambaikan tangannya. "Bukan, bukan itu maksudku. Aku akan mengajarinya dengan lebih baik lagi ...."

Menyadari tatapan Cristian, Stella menyadari bahwa makin dijelaskan, semuanya justru makin kacau.

Cristian memperhatikan kepanikan dan kegelisahan yang dirasakan Stella saat ini.

Dia sangat penurut, tidak seperti wanita-wanita yang berusaha menggunakan segala cara untuk mendekatinya.

Di saat itu, Cristian tiba-tiba memiliki sebuah ide.

Melihat Cristian tidak berbicara, Stella menggigit bibir bawahnya dan menjelaskan lagi, "Tuan Cristian, aku nggak mengungkapkannya dengan baik, tapi aku sangat berterima kasih padamu. Kamu membantuku, jadi satu-satunya caraku untuk membalas budi adalah dengan mengajari Sean dengan baik."

Kata-kata wanita itu menghentikan lamunan Cristian.

Pria itu mengangguk. "Baguslah kalau begitu. Tapi aku agak sibuk belakangan ini. Kalau Bu Stella berkenan, bisakah kamu tinggal di sini untuk beberapa hari?"

Mendengar itu, Stella terkejut.

"Kalau Bu Stella nggak punya waktu, lupakan saja." Cristian menyadari keterkejutan wanita itu.

Ya sudahlah. Dia akan melupakan ide untuk menempatkan wanita itu di dekatnya, alih-alih dia ketakutan dan kabur.

"Bu Stella, aku masih ada urusan. Kalau kelak kamu butuh sesuatu, hubungi lewat whatsapp saja. Siapa tahu aku nggak ada. Dengan begitu, kamu juga nggak perlu datang sia-sia."

Selesai berbicara, dia langsung berbalik tanpa menunggu jawaban Stella.

Melihat Cristian hendak naik ke atas, Stella merasa tidak enak hati pada pria yang mentransfer uang dengan begitu mudah, jadi dia pun memanggilnya.

"Tuan Cristian, aku punya waktu. Aku akan pulang mengemasi barang-barangku sekarang, lalu kembali lagi nanti."

Cristian dengan mudah menawarkan gaji sebesar 20 juta.

Saat dia meminta gajinya dibayar lebih dulu, pria itu langsung memberinya 100 juta. Dia orang yang baik.

Jika Stella menolak permintaan ini, apa dia masih pantas membicarakan tentang rasa terima kasih yang tulus dan mendidik anaknya dengan baik?

Tindakan lebih berarti daripada kata-kata.

"Kebetulan, aku juga mau keluar sebentar. Sekalian kuantar saja."

Cristian menanggapinya dengan sudut bibir yang terangkat.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Sekali Tatap, Hati Sang Pengacara Luluh   Bab 50

    Stella berjongkok. Paku-paku berkilau dingin di bawah lampu jalan yang berkelap-kelip itu membuat bulu kuduknya merinding.Mana mungkin ada begitu banyak paku tajam yang tiba-tiba muncul di gang kecil seperti ini? Jelas sekali ada seseorang yang sengaja menaruhnya di sana."Ada begitu banyak paku di sini. Tuan Cristian, jangan-jangan ada orang ...."Sebelum dia sempat menyampaikan kekhawatirannya, Cristian telah meraih pergelangan tangannya dan menyuruhnya berdiri."Kamu balik dulu. Aku bisa urus sendiri."Stella enggan pergi. Dia berbalik dan menatapnya dengan khawatir."Tapi .... Tuan Cristian, biarlah aku menemanimu.""Jangan khawatirkan aku. Aku sudah hubungi petugas perawatan untuk menanganinya. Semuanya akan segera beres. Jam malam asramamu hampir habis. Kalau kamu nggak segera masuk, kamu bisa kena sanksi dari pengurus asrama. Ayo cepat masuk."Cristian menggelengkan kepalanya perlahan dan menyenggol bahu Stella, memberi isyarat agar dia segera pergi.Stella tampak bimbang dan e

  • Sekali Tatap, Hati Sang Pengacara Luluh   Bab 49

    Selain itu, mereka mengenakan pakaian serba hitam, yang sepenuhnya menutupi wajah mereka. Jika ingin melarikan diri, mereka tinggal melemparkan pakaian hitam mereka ke semak-semak, lalu masuk melalui pintu ini.Dengan demikian, sekalipun diselidiki, mereka berdua juga tidak akan ketahuan.Ivan melirik teman yang tampak enggan di sampingnya itu, lalu mengerutkan kening, dan memperingatkannya dengan suara rendah."Dengar ya, masalah ini kita lakukan sama-sama. Kalau tertangkap, kita berdua akan bertanggung jawab. Mulai sekarang, kamu harus bertindak sesuai apa yang kukatakan!"Temannya yang mendengar kata-kata itu ketakutan hingga gemetar, dan tidak berani memberikan nasihat lagi. Dia hanya bisa bersembunyi di balik gelapnya malam, menatap gugup ke arah mobil yang perlahan mendekat.Ivan menoleh. Sorot matanya dipenuhi rasa iri, dan pandangannya tertuju pada Stella yang duduk di kursi penumpang. Membayangkan Stella naik mobil Cristian setiap hari membuatnya merasa sesak.Bagaimanapun jug

  • Sekali Tatap, Hati Sang Pengacara Luluh   Bab 48

    Suara pria yang dalam dan dingin terdengar dari belakang.Stella segera berdiri dengan canggung dan mencondongkan tubuh ke samping, sambil memegang erat tas kanvas di tangannya.Sean duduk di tempat duduknya, dan dengan hati-hati merapikan barang-barang di mejanya.Stella yang mengajarinya. Barang-barang harus dirapikan setelah digunakan. Tuan muda yang dimanjakan itu, yang selalu dilayani sepenuh hati, secara bertahap mengembangkan kebiasaan merapikan barang-barangnya sendiri. Beberapa kebiasaan buruknya juga secara bertahap diperbaiki oleh Stella.Cristian masuk. Pandangannya sekilas menyapu meja yang rapi sebelum beralih ke Stella, yang berdiri diam di samping."Kamu sudah bekerja keras hari ini.""Aku antar kamu balik asrama saja."Tepat ketika Stella hendak menolak, Cristian sudah meninggalkan kamar Sean. Hanya punggung pria itu yang tersisa dalam pandangannya."Tu ...."Kata-kata penolakan Stella tersangkut di tenggorokannya. Dia menoleh, buru-buru mengucapkan selamat tinggal pad

  • Sekali Tatap, Hati Sang Pengacara Luluh   Bab 47

    Setelah bahunya ditepuk oleh ayahnya, Sean langsung patuh dan dengan enggan duduk kembali di kursinya. Matanya terus melirik Cristian dan Stella secara bergantian, jelas masih menyimpan gagasan yang sama seperti sebelumnya.Stella berdeham dan mendorong buku ke depan Sean."Baiklah, berhenti bercanda lagi. Belajar baik-baik. Nanti aku akan kasih soal dikte."Sean merintih begitu mendengar soal dikte. Perhatiannya langsung teralih dari Cristian dan Stella, berpindah sepenuhnya pada buku pelajaran di depannya.Layaknya orang dewasa, dia menghela napas dalam-dalam, lalu dengan patuh mulai menghafal kosakata dalam buku teksnya.Cristian tetap berdiri di belakangnya. Sementara, Stella tidak berbalik, dan duduk tegak di posisi semula.Bagaimanapun, topik barusan terlalu menyiksanya, terutama karena Cristian terus membahas gagasan konyol dari Sean, membuatnya panik sekaligus bingung.Di belakangnya, tatapan Cristian tertuju pada punggungnya, dan Stella tentu bisa merasakannya. Tatapan membara

  • Sekali Tatap, Hati Sang Pengacara Luluh   Bab 46

    "Kakak, aku nggak peduli. Aku mau kasih tahu Ayah dulu!"Sean menggembungkan wajahnya yang bulat, dan tidak berniat menurutinya. Dia dengan paksa melepaskan diri dari tangan wanita itu, mengangkat kakinya, dan bergegas menuju pintu. Suaranya tegas dan jelas, seolah takut tidak ada yang mendengarnya.Stella sangat cemas hingga tidak tahu harus berbuat apa, tetapi Sean sudah berdiri dan dengan paksa menepis tangannya."Kak, tunggu ya. Aku akan kasih tahu Ayah sekarang juga!"Begitu selesai berbicara, Sean menubruk pria yang berdiri di pintu.Suasana di ruangan itu seketika menjadi hening.Melihat itu, Stella segera berdiri. Wajahnya terasa panas, dan dia tidak tahu harus berbuat apa.Cristian melirik Sean, yang menubruk ke pelukannya itu.Kalimat Sean 'menikahlah dengan ayahku'—terdengar begitu jelas di telinganya. Dia masih memegang piring buah di tangannya. Tubuhnya sama sekali tidak bergeser meskipun Sean datang menubruknya.Kemudian, dia mendongak dan bertukar pandang dengan Stella

  • Sekali Tatap, Hati Sang Pengacara Luluh   Bab 45

    "Jangan bilang begitu."Suaranya lembut dan dipenuhi rasa tak berdaya. Dia tidak berani menatap pria itu lagi. Tatapannya tertunduk, dan telinganya memerah karena malu.Sean yang duduk di sebelahnya, mendengar semuanya dengan jelas dan mulai meledek sambil mengayunkan kakinya."Ayah suka menjaga Kakak. Aku sudah melihat semuanya."Wajah Stella bertambah merah.Dia tidak bisa lagi duduk di posisi semula dan segera berdiri, lalu berkata sambil menatap Sean, "Ayo, Sean. Sudah selesai makan, 'kan? Ayo kita pergi belajar."Wajah Sean langsung muram begitu topik belajar muncul.Namun, membayangkan berada bersama Stella membuatnya menghela napas panjang. Pada akhirnya, dia tidak berkata apa-apa, dengan enggan bangkit, dan menggenggam tangan Stella."Ayo, Kak. Jangan khawatir, aku pasti akan patuh."Stella kabur dari dari meja makan karena malu. Sebaliknya, Cristian hanya berdiri diam, dan dengan tenang mengamati sosoknya yang menjauh.Lalu, dia mengangkat alisnya.Di lantai atas, Stella menek

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status