Share

Bab 2

Penulis: Serena Sentosa
Stella merasa segan. "Nggak perlu, Tuan Cristian. Aku masih mau ke rumah sakit."

Cristian menoleh. "Ada anggota keluarga yang dirawat di rumah sakit?"

Stella mengangguk.

Belum lama ini, dia menerima telepon dari ibunya.

Ibuku menangis di telepon. Dia bilang ayahku didiagnosis menderita stroke, dan masih membutuhkan 20 juta.

Bagi keluarga biasa, mendapatkan 20 juta sangatlah sulit.

Ditambah, orang tuanya mengalami kerugian dan terlilit utang dalam bisnis mereka, jadi kerabat berhenti berhubungan dengan mereka.

Dia juga tidak punya pilihan lain selain berpikir untuk meminta agar gajinya dibayar muka dulu.

Untungnya, Cristian setuju.

Ini adalah kesempatan yang bagus.

Cristian menghampiri Stella. "Kebetulan aku juga mau pergi ke rumah sakit untuk menemui temanku, jadi bisa sekalian kuantar. Aku juga bisa carikan dokter yang bagus untuk keluargamu."

Stella menatap Cristian dengan bingung.

Cristian maju ke depan, dan berjalan memunggunginya.

Pria itu sangat tinggi, dengan bahu lebar dan pinggang ramping—perawakan seorang model pria.

Bosnya bukan hanya tampan, tetapi juga baik hati.

Selain itu, dia juga pengacara top paling terkenal di kota.

Sayangnya, dia seorang duda.

Memang tidak ada yang sempurna di dunia ini.

"Kenapa masih diam di situ? Bukannya mau ke rumah sakit?"

Tiba-tiba, suara Cristian terdengar.

Stella tersadar dari lamunannya, menundukkan kepala, dan buru-buru mengikuti Cristian.

Cristian menyetir sendiri. Kurang dari satu jam, dia mengantar Stella ke rumah sakit umum.

Stella langsung pergi ke ruang rawat inap.

Cristian pergi ke ruang gawat darurat.

Di ruang gawat darurat, seorang pria berjas putih dan berkacamata berbingkai emas tampak terkejut ketika melihat Cristian.

"Tumbe Pengacara Cristian datang ke sini hari ini?"

Cristian selalu sibuk dengan pekerjaannya. Biasanya, butuh beberapa kali percobaan agar dia sudi datang untuk melakukan konsultasi.

Bibir tipis Cristian sedikit terbuka, tetapi masih belum mengeluarkan suara apa pun.

Pria itu tertawa kecil sambil bercanda. "Apa karena makin tua dan tiba-tiba punya energi berlebihan?"

Cristian menatapnya dengan tajam.

Pria itu memutar bola matanya. "Nggak suka dengar fakta ya? Sudah kubilang dari dulu, habiskan lebih banyak waktu dengan wanita. Masalahmu sama sekali bukan masalah."

Detik berikutnya, pria itu membuka laci, mengeluarkan dua botol obat, dan membantingnya di depan Cristian.

Cristian bergeming. Bibir tipisnya sedikit terbuka. "Aku nggak butuh lagi."

Dia tidak impoten. Dia hanya belum bertemu dengan orang yang bisa memancing respon alami tubuhnya.

Kemunculan Stella seakan telah ditakdirkan.

Pria itu bertanya dengan heran, "Siapa yang kamu tiduri?"

Suara Cristian terdengar dingin. "Nggak ada."

"Terus, siapa yang membuatmu bereaksi?" Pria itu mencondongkan tubuh lebih dekat dan menepuk bahu Cristian. "Sobat, kondisimu akhirnya membaik juga!"

Sejak Renata Sugondo meninggal, Cristian telah hidup tanpa wanita di sisinya selama tujuh tahun, dan juga merupakan hal yang tidak biasa.

Sebagai seorang sobat, dia menyaksikan semua ini.

Saat Cristian hendak menepis tangannya, sebuah suara marah terdengar dari kejauhan.

"Bagus. Kalian menggunakan dalih berobat dan diam-diam ingin mengelabuiku, 'kan?"

Detik berikutnya, Tuan Besar Hutomo mengangkat tongkatnya dan menghantamkannya ke Cristian.

Mata Tuan Besar Hutomo membelalak marah. "Jujurlah padaku, apa kamu yang menyebabkan Renata meninggal? Kamu membuat seorang anak terpisah dari ibunya hanya untuk bersama dengan Frans?"

Frans dan Cristian adalah sobat yang tak terpisahkan sejak kecil.

Bahkan sebelum Cristian menikahi Renata, rumor tentang keduanya sudah beredar luas.

Awalnya, dia mengira kemunculan Regina telah memulihkan reputasi Keluarga Hutomo. Siapa sangka, Renata meninggal saat melahirkan.

Cristian melajang selama tujuh tahun. Dia mengaku sangat mencintai Renata, dan tidak tertarik pada wanita lain.

Awalnya dia juga cemas, tetapi sekarang dia mengerti .... Ini semua adalah konspirasi di antara mereka berdua.

"Kakek, apa yang Kakek pikirkan?"

"Kakek Hutomo, aku difitnah!"

Cristian dan Frans nyaris berbicara bersamaan.

Dibandingkan dengan Frans yang merasa takut, Cristian dengan gesit meraih tongkat Tuan Besar Hutomo.

Frans sendiri?

Dia berdiri di belakang Cristian.

Tidak, bagi Tuan Besar Hutomo, Frans bersembunyi di balik Cristian.

Tuan Besar Hutomo makin marah. "Difitnah? Cristian, kamu terang-terangan melindungi Frans sekarang? Bisa-bisanya kalian berdua melakukan hal seperti ini, dan aku masih mengkhawatirkan kalian. Kalian menyembunyikannya dariku selama tujuh tahun, dan mencelakai orang nggak bersalah. Apa kalian masih punya hati nurani?"

Makin berbicara, Tuan Besar Hutomo makin marah.

Dia memegang dadanya, dan tampak terhuyung-huyung.

Melihat hal itu, Frans segera melangkah maju untuk memapahnya.

Namun, Tuan Besar Hutomo menolak dengan keras. "Jangan sentuh aku!"

Tuan Besar Hutomo menatap Frans seolah-olah sedang menatap sesuatu yang kotor.

Melihat Tuan Besar Hutomo emosi, Frans segera mendesak Cristian. "Mengapa masih diam di situ? Bukannya kamu datang ke sini untuk mengatakan bahwa kamu normal? Cepat katakan, siapa wanita yang kamu sukai itu? Jangan biarkan aku difitnah lagi. Aku bersusah payah melamar dan akhirnya diterima juga. Jadi, jangan sampai merusak pernikahanku!"

Dia tidak sanggup dituduh sebagai pembunuh, dan difitnah menyukai laki-laki.

Tuan Besar Hutomo mendengus dingin. "Kalian sudah tertangkap basah olehku, dan masih ingin membodohiku di sini? Aku memang sudah tua, tapi aku nggak bodoh!"

Detik berikutnya, Tuan Besar Hutomo meraih Frans, dan membawanya ke hadapan Cristian.

Dia berkata dengan nada menantang, "Cristian, hari ini aku akan mengutamakan kebenaran di atas keluarga sendiri. Keluarga Hutomo nggak punya keturunan bajingan yang menganggap nyawa manusia nggak berharga sepertimu!"

Dia sangat peduli dengan Cristian, dan telah datang ke rumah sakit pagi-pagi tadi. Sembari menunggu pemeriksaan fisik, dia juga ingin mengambilkan obat untuk Cristian.

Terakhir, apa yang dilakukan Cristian? Cucunya benar-benar mempermalukannya!

"Cristian, bicaralah. Apa yang lagi kamu pikirkan? Kamu nggak menyukai wanita bersuami, 'kan?" Frans mulai tidak sabar.

Cristian benar-benar terdiam melihat pemandangan di hadapannya.

Dia mengantar Stella ke rumah sakit, dan sekalian menceritakan hal ini kepada Frans.

Hasilnya?

Dia malah disalahpahami seperti ini.

Dia mulanya tidak ingin menjelaskan, tetapi jika dilihat sekarang ....

Cristian mengerutkan kening dalam-dalam. "Kakek sudah terlalu banyak berpikir. Aku sama sekali nggak tertarik pada laki-laki ...."

"Terus, apa kamu pernah tertarik pada wanita? Kamu telah menyembunyikannya dariku selama bertahun-tahun. Cristian, kamu benar-benar mengecewakanku!"

Tuan Besar Hutomo menunjuk Cristian. Tangannya gemetar tak terkendali.

Dulu dia senang karena masalah Cristian akhirnya terpecahkan, tetapi kini sepertinya ada banyak keraguan.

Wajah Cristian berubah muram. "Kakek, apa yang Kakek pikirkan? Dari dulu sampai sekarang, aku hanya belum bertemu orang yang tepat, tapi sekarang aku sudah menemukannya. Dia adalah guru lesnya Sean. Namanya Stella Jimarta."

Dilihat dari sikap kakeknya, dia tidak akan tenang sampai dia menyeret Frans, dan dirinya ke kantor polisi hari ini.

Demi menenangkan kakeknya, dia terpaksa menyebut nama Stella.

Begitu mendengar nama 'Stella', baik Frans maupun Tuan Besar Hutomo terkejut.

"Kapan kamu mencari guru les? Kamu nggak ditipu, 'kan?"

"Kamu yakin kamu menyukai gadis itu?" tanya Tuan Besar Hutomo. Detik berikutnya, dia melepaskan tangan Frans, dan melangkah mendekati Cristian.

Dia pernah bertemu dengan guru les Sean. Gadis itu sangat putih, kurus, dan mungil.

Cristian mengangguk. "Ya, guru les Sean sangat sesuai dengan seleraku."

"Bruk!"

Suara benda berat yang menghantam lantai langsung menarik perhatian ketiga orang.

Stella tampak berdiri dengan panik di depan pintu.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Sekali Tatap, Hati Sang Pengacara Luluh   Bab 50

    Stella berjongkok. Paku-paku berkilau dingin di bawah lampu jalan yang berkelap-kelip itu membuat bulu kuduknya merinding.Mana mungkin ada begitu banyak paku tajam yang tiba-tiba muncul di gang kecil seperti ini? Jelas sekali ada seseorang yang sengaja menaruhnya di sana."Ada begitu banyak paku di sini. Tuan Cristian, jangan-jangan ada orang ...."Sebelum dia sempat menyampaikan kekhawatirannya, Cristian telah meraih pergelangan tangannya dan menyuruhnya berdiri."Kamu balik dulu. Aku bisa urus sendiri."Stella enggan pergi. Dia berbalik dan menatapnya dengan khawatir."Tapi .... Tuan Cristian, biarlah aku menemanimu.""Jangan khawatirkan aku. Aku sudah hubungi petugas perawatan untuk menanganinya. Semuanya akan segera beres. Jam malam asramamu hampir habis. Kalau kamu nggak segera masuk, kamu bisa kena sanksi dari pengurus asrama. Ayo cepat masuk."Cristian menggelengkan kepalanya perlahan dan menyenggol bahu Stella, memberi isyarat agar dia segera pergi.Stella tampak bimbang dan e

  • Sekali Tatap, Hati Sang Pengacara Luluh   Bab 49

    Selain itu, mereka mengenakan pakaian serba hitam, yang sepenuhnya menutupi wajah mereka. Jika ingin melarikan diri, mereka tinggal melemparkan pakaian hitam mereka ke semak-semak, lalu masuk melalui pintu ini.Dengan demikian, sekalipun diselidiki, mereka berdua juga tidak akan ketahuan.Ivan melirik teman yang tampak enggan di sampingnya itu, lalu mengerutkan kening, dan memperingatkannya dengan suara rendah."Dengar ya, masalah ini kita lakukan sama-sama. Kalau tertangkap, kita berdua akan bertanggung jawab. Mulai sekarang, kamu harus bertindak sesuai apa yang kukatakan!"Temannya yang mendengar kata-kata itu ketakutan hingga gemetar, dan tidak berani memberikan nasihat lagi. Dia hanya bisa bersembunyi di balik gelapnya malam, menatap gugup ke arah mobil yang perlahan mendekat.Ivan menoleh. Sorot matanya dipenuhi rasa iri, dan pandangannya tertuju pada Stella yang duduk di kursi penumpang. Membayangkan Stella naik mobil Cristian setiap hari membuatnya merasa sesak.Bagaimanapun jug

  • Sekali Tatap, Hati Sang Pengacara Luluh   Bab 48

    Suara pria yang dalam dan dingin terdengar dari belakang.Stella segera berdiri dengan canggung dan mencondongkan tubuh ke samping, sambil memegang erat tas kanvas di tangannya.Sean duduk di tempat duduknya, dan dengan hati-hati merapikan barang-barang di mejanya.Stella yang mengajarinya. Barang-barang harus dirapikan setelah digunakan. Tuan muda yang dimanjakan itu, yang selalu dilayani sepenuh hati, secara bertahap mengembangkan kebiasaan merapikan barang-barangnya sendiri. Beberapa kebiasaan buruknya juga secara bertahap diperbaiki oleh Stella.Cristian masuk. Pandangannya sekilas menyapu meja yang rapi sebelum beralih ke Stella, yang berdiri diam di samping."Kamu sudah bekerja keras hari ini.""Aku antar kamu balik asrama saja."Tepat ketika Stella hendak menolak, Cristian sudah meninggalkan kamar Sean. Hanya punggung pria itu yang tersisa dalam pandangannya."Tu ...."Kata-kata penolakan Stella tersangkut di tenggorokannya. Dia menoleh, buru-buru mengucapkan selamat tinggal pad

  • Sekali Tatap, Hati Sang Pengacara Luluh   Bab 47

    Setelah bahunya ditepuk oleh ayahnya, Sean langsung patuh dan dengan enggan duduk kembali di kursinya. Matanya terus melirik Cristian dan Stella secara bergantian, jelas masih menyimpan gagasan yang sama seperti sebelumnya.Stella berdeham dan mendorong buku ke depan Sean."Baiklah, berhenti bercanda lagi. Belajar baik-baik. Nanti aku akan kasih soal dikte."Sean merintih begitu mendengar soal dikte. Perhatiannya langsung teralih dari Cristian dan Stella, berpindah sepenuhnya pada buku pelajaran di depannya.Layaknya orang dewasa, dia menghela napas dalam-dalam, lalu dengan patuh mulai menghafal kosakata dalam buku teksnya.Cristian tetap berdiri di belakangnya. Sementara, Stella tidak berbalik, dan duduk tegak di posisi semula.Bagaimanapun, topik barusan terlalu menyiksanya, terutama karena Cristian terus membahas gagasan konyol dari Sean, membuatnya panik sekaligus bingung.Di belakangnya, tatapan Cristian tertuju pada punggungnya, dan Stella tentu bisa merasakannya. Tatapan membara

  • Sekali Tatap, Hati Sang Pengacara Luluh   Bab 46

    "Kakak, aku nggak peduli. Aku mau kasih tahu Ayah dulu!"Sean menggembungkan wajahnya yang bulat, dan tidak berniat menurutinya. Dia dengan paksa melepaskan diri dari tangan wanita itu, mengangkat kakinya, dan bergegas menuju pintu. Suaranya tegas dan jelas, seolah takut tidak ada yang mendengarnya.Stella sangat cemas hingga tidak tahu harus berbuat apa, tetapi Sean sudah berdiri dan dengan paksa menepis tangannya."Kak, tunggu ya. Aku akan kasih tahu Ayah sekarang juga!"Begitu selesai berbicara, Sean menubruk pria yang berdiri di pintu.Suasana di ruangan itu seketika menjadi hening.Melihat itu, Stella segera berdiri. Wajahnya terasa panas, dan dia tidak tahu harus berbuat apa.Cristian melirik Sean, yang menubruk ke pelukannya itu.Kalimat Sean 'menikahlah dengan ayahku'—terdengar begitu jelas di telinganya. Dia masih memegang piring buah di tangannya. Tubuhnya sama sekali tidak bergeser meskipun Sean datang menubruknya.Kemudian, dia mendongak dan bertukar pandang dengan Stella

  • Sekali Tatap, Hati Sang Pengacara Luluh   Bab 45

    "Jangan bilang begitu."Suaranya lembut dan dipenuhi rasa tak berdaya. Dia tidak berani menatap pria itu lagi. Tatapannya tertunduk, dan telinganya memerah karena malu.Sean yang duduk di sebelahnya, mendengar semuanya dengan jelas dan mulai meledek sambil mengayunkan kakinya."Ayah suka menjaga Kakak. Aku sudah melihat semuanya."Wajah Stella bertambah merah.Dia tidak bisa lagi duduk di posisi semula dan segera berdiri, lalu berkata sambil menatap Sean, "Ayo, Sean. Sudah selesai makan, 'kan? Ayo kita pergi belajar."Wajah Sean langsung muram begitu topik belajar muncul.Namun, membayangkan berada bersama Stella membuatnya menghela napas panjang. Pada akhirnya, dia tidak berkata apa-apa, dengan enggan bangkit, dan menggenggam tangan Stella."Ayo, Kak. Jangan khawatir, aku pasti akan patuh."Stella kabur dari dari meja makan karena malu. Sebaliknya, Cristian hanya berdiri diam, dan dengan tenang mengamati sosoknya yang menjauh.Lalu, dia mengangkat alisnya.Di lantai atas, Stella menek

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status