Share

Bab 4

Penulis: Serena Sentosa
"Aku nggak setuju ayahmu pindah kamar," tolak ibunya Stella dengan tegas.

Dia menatap Stella. Nadanya lebih serius dari sebelumnya. "Kalau kamu nggak jelaskan hal ini padaku, aku akan mengurus prosedur pemulangan ayahmu hari ini juga."

"Ibu!" Stella panik.

Mengingat kondisi ayahnya saat ini, mana mungkin dia tidak menjalani pengobatan?

Perawat juga mencoba membujuknya. "Tante, semua masalah bisa dibicarakan baik-baik. Jangan mempertaruhkan kesehatan keluarga sendiri."

"Kalau keberadaan kami sebagai orang tuanya malah menjadi beban bagi putri kami, lebih baik kami mati saja," kata ibunya Stella sambil menatap mata putrinya.

Stella tahu, jika dia tidak memberikan alasan yang masuk akal hari ini, ibunya pasti akan membiarkan ayahnya keluar dari rumah sakit.

Dia segera menjelaskan, "Ini gaji dibayar muka dari bosku."

"Bos mana yang akan memberikan gaji dibayar muka?" Ibu Stella jelas tidak percaya.

Sampai Stella menunjukkan riwayat obrolan mereka. "Bos ini tinggal di vila besar dan sangat kaya. Dia tahu di mana aku kuliah, jadi dia nggak takut aku kabur."

"Selain itu, Sean sudah beberapa kali berganti guru les, tapi dia akrab denganku dan selalu memanggilku Kak Stella."

Ibu Stella secara alami berasumsi bahwa Sean adalah tipe anak nakal dari keluarga kaya yang tidak boleh dipukul atau dimarahi, tipe anak yang membuat orang kewalahan.

Jarang-jarang dia bisa menemukan guru yang disukainya, jadi si bos bersedia memberikan gaji dibayar di muka pada Stella untuk mempertahankannya.

Dia baru merasa lega. "Lakukan pekerjaanmu dengan baik. Jangan mengecewakan orang. Ajari anak itu dengan baik."

"Ibu, aku mengerti. Kalau aku nggak mengajari Sean dengan baik, mereka pasti nggak akan mempertahankanku. Sekarang, Ibu sudah setuju membiarkan Ayah ganti kamar, 'kan?" kata Stella sambil melangkah maju untuk membantunya berdiri.

Untungnya, ayahnya tidak ada di sini sekarang. Jika tidak, dia masih harus menjelaskan lagi padanya, dan itu mungkin akan membuat ayahnya merasa tidak nyaman.

Kali ini, ibunya Stella baru melepaskan kekhawatiran sepenuhnya. Dia mengemasi barang-barang suaminya, dan naik ke lantai atas menuju kamar pribadi bersama perawat.

Begitu membuka pintu, terlihat kamar mandi pribadi, tempat tidur besar, tempat tidur tambahan kecil, dan bahkan dispenser air dengan pengatur suhu.

"Kalau kalian butuh sesuatu, tekan saja tombol panggil di samping tempat tidur. Nanti akan ada perawat bertugas yang datang." Perawat memberikan beberapa instruksi, lalu pergi.

Ibunya Stella melihat sekeliling, mengulurkan tangan untuk menyentuh seprai yang halus dan bersih, lalu menghela napas pelan. "Di sini memang jauh lebih nyaman. Sangat tenang. Ayahmu pasti bisa beristirahat dengan baik."

"Hanya saja, kamar ini pasti mahal, 'kan?"

Stella tahu ibunya masih mengkhawatirkan masalah uang.

Dia memberikan segelas air hangat kepada ibunya, lalu dengan hati-hati merapikan pakaiannya. "Aku sudah bisa cari uang sekarang, jadi kita harus membiarkan Ayah tinggal di kamar yang lebih nyaman. Begitu selesai konsultasi nanti, Ayah akan segera ke sini. Setelah Ayah sembuh, kita akan membawanya pulang dari rumah sakit."

Tepat di saat itu, ponsel Stella berdering, dan nama Cristian muncul di layar.

Dia secara naluriah melirik ibunya di samping. Ujung jarinya melayang di atas tombol jawab, dan melembutkan nada suaranya. "Halo, Tuan Cristian?"

"Sean demam, dan aku harus pergi dinas sekarang. Kamu paling cepat bisa datang jam berapa?" Nada suara Cristian terdengar mendesak.

Jantung Stella berdebar kencang. "Aku akan naik taksi ke sana sekarang juga."

"Oke, tolong periksa suhu tubuh Sean setiap dua jam, dan ingat kebiasaan kecilnya ...."

"Tuan Cristian, Sean nggak mau minum obat demam yang pahit, jadi harus menambahkan sedikit madu ke dalamnya. Dia mesti minum segelas susu murni sebelum tidur, dan menyalakan lampu tidur kecil saat dia tidur. Aku ingat semua ini." Stella terdiam sejenak. "Tuan Cristian bisa pergi dinas dengan tenang. Aku pasti akan menjaga Sean dengan baik."

Cristian tidak berbicara lagi dan langsung menutup telepon.

Mendengar percakapan mereka, ibunya Stella segera mendesak putrinya. "Bergegaslah ke sana. Anak itu demam dan nggak ada orang dewasa di rumah. Dia pasti sangat tersiksa."

"Baiklah, nanti aku datang lagi." Stella bergegas pergi.

Setelah meninggalkan rumah sakit, dia langsung naik taksi ke kediaman Hutomo.

Mobil melaju kencang. Hatinya benar-benar cemas. Ketika mobil akhirnya berhenti, dia segera membayar dan keluar, lalu berlari kecil menuju ke kediaman Hutomo.

Saat mendorong pintu kamar Sean hingga terbuka, jantungnya berdebar kencang. "Sean, aku datang."

Mendengar suara yang familier, Sean membuka kelopak matanya yang berat. Wajahnya memerah, bibirnya kering dan pecah-pecah, tubuh kecilnya meringkuk seperti bola.

Setelah melihat orang di depannya dengan jelas, gelombang kesedihan dan ketakutan melanda dirinya. Dia mengerutkan bibirnya, dan mulai terisak pelan, "Kak Stella, apa aku sudah mau mati?"

"Nggak akan, kamu hanya sakit. Kamu akan segera sembuh." Stella duduk di samping tempat tidur dan mengulurkan tangan untuk memeriksa suhu badannya.

Panas sekali.

Jika demamnya tak kunjung turun, khawatirnya akan memicu masalah kesehatan jangka panjang.

Dia lebih dulu menyiapkan obat penurun demam, menambahkan sedikit madu ke dalamnya, dan membujuk Sean untuk meminumnya. Kemudian, dia mengambil handuk basah, lalu mengusap tubuhnya berulang kali untuk menurunkan suhu tubuhnya.

Setelah suhu tubuhnya turun, Sean juga merasa jauh lebih enakan. Tak lama kemudian, kelopak matanya terkulai, dan dia meringkuk lalu tertidur di sampingnya.

Sesaat kemudian, suara napas teratur memenuhi kamar itu.

Stella melembutkan gerakannya, menyeka tubuhnya lagi, lalu mengeluarkan ponselnya untuk melaporkan situasi tersebut kepada Cristian.

Pesan itu baru saja terkirim ketika sebuah suara lirih terdengar dari samping. "Ibu."

Stella terdiam sejenak, lalu mengangkat tangannya dan menepuk punggung Sean dengan lembut. "Ibu di sini."

Dia tidak memiliki pikiran yang tidak pantas tentang Cristian, dan juga tidak berpikir untuk menggantikan ibunya Sean.

Namun saat ini, dia benar-benar kasihan pada Sean.

Anak kecil tidak mengerti apa pun. Dia hanya tahu dia tidak punya ibu, dan ayahnya sering pergi bekerja, meninggalkannya sendirian di rumah.

Stella menemaninya lama. Merasa Sean akan segera bangun, dia bangkit dan turun ke dapur.

Anak kecil mudah lapar. Apalagi setelah demam, dia harus makan sesuatu untuk memulihkan energi setelah bangun nanti.

Dia mengeluarkan bahan-bahan segar yang telah disiapkannya dari lemari es, menyalakan kompor, dan memasak mi. Dia merebus telur setengah matang, memotong sedikit sayuran hijau segar, dan memasukkannya ke dalam.

Setelah itu, dia mengambil foto dengan ponselnya dan mengirimkannya ke Cristian. Tepat ketika dia hendak membawa makanan itu ke atas, panggilan video dari pria itu masuk.

Panggilan telepon dari bos tentu harus diangkat. Dia cepat-cepat meletakkan mangkuk, menyeka tangan di celemek, dan menekan tombol jawab. "Tuan Cristian, demam Sean sudah turun. Dia lagi tidur sekarang. Aku ...."

Dia kemudian mengatakan beberapa hal lagi, tetapi Cristian sama sekali tidak mendengarnya.

Bibir stella sangat merah, dahinya dipenuhi keringat halus, poninya menempel lembut di pelipisnya. Setetes keringat perlahan mengalir di garis rahangnya yang halus, lalu menghilang ke lehernya.

Lebih ke bawah lagi, ada kerah yang tidak dikancing, dan belahan dada yang nyaris tidak terhalang.

"Tuan Cristian?" Stella menyadari pria itu tidak fokus.

Dia refleks menunduk, dan wajahnya langsung memerah. Dia cepat-cepat menutupi kerah bajunya dengan tangan. "A ... aku nggak ... tadi di dapur terlalu panas, jadi aku pikir ...."

Kata-katanya tersangkut di tenggorokannya. Merasa penjelasannya membuatnya terkesan punya motif tersembunyi, telinga Stella terasa panas sekali.

Dia bahkan tidak berani lagi melihat layar ponsel. Dia merasa tidak nyaman.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Sekali Tatap, Hati Sang Pengacara Luluh   Bab 50

    Stella berjongkok. Paku-paku berkilau dingin di bawah lampu jalan yang berkelap-kelip itu membuat bulu kuduknya merinding.Mana mungkin ada begitu banyak paku tajam yang tiba-tiba muncul di gang kecil seperti ini? Jelas sekali ada seseorang yang sengaja menaruhnya di sana."Ada begitu banyak paku di sini. Tuan Cristian, jangan-jangan ada orang ...."Sebelum dia sempat menyampaikan kekhawatirannya, Cristian telah meraih pergelangan tangannya dan menyuruhnya berdiri."Kamu balik dulu. Aku bisa urus sendiri."Stella enggan pergi. Dia berbalik dan menatapnya dengan khawatir."Tapi .... Tuan Cristian, biarlah aku menemanimu.""Jangan khawatirkan aku. Aku sudah hubungi petugas perawatan untuk menanganinya. Semuanya akan segera beres. Jam malam asramamu hampir habis. Kalau kamu nggak segera masuk, kamu bisa kena sanksi dari pengurus asrama. Ayo cepat masuk."Cristian menggelengkan kepalanya perlahan dan menyenggol bahu Stella, memberi isyarat agar dia segera pergi.Stella tampak bimbang dan e

  • Sekali Tatap, Hati Sang Pengacara Luluh   Bab 49

    Selain itu, mereka mengenakan pakaian serba hitam, yang sepenuhnya menutupi wajah mereka. Jika ingin melarikan diri, mereka tinggal melemparkan pakaian hitam mereka ke semak-semak, lalu masuk melalui pintu ini.Dengan demikian, sekalipun diselidiki, mereka berdua juga tidak akan ketahuan.Ivan melirik teman yang tampak enggan di sampingnya itu, lalu mengerutkan kening, dan memperingatkannya dengan suara rendah."Dengar ya, masalah ini kita lakukan sama-sama. Kalau tertangkap, kita berdua akan bertanggung jawab. Mulai sekarang, kamu harus bertindak sesuai apa yang kukatakan!"Temannya yang mendengar kata-kata itu ketakutan hingga gemetar, dan tidak berani memberikan nasihat lagi. Dia hanya bisa bersembunyi di balik gelapnya malam, menatap gugup ke arah mobil yang perlahan mendekat.Ivan menoleh. Sorot matanya dipenuhi rasa iri, dan pandangannya tertuju pada Stella yang duduk di kursi penumpang. Membayangkan Stella naik mobil Cristian setiap hari membuatnya merasa sesak.Bagaimanapun jug

  • Sekali Tatap, Hati Sang Pengacara Luluh   Bab 48

    Suara pria yang dalam dan dingin terdengar dari belakang.Stella segera berdiri dengan canggung dan mencondongkan tubuh ke samping, sambil memegang erat tas kanvas di tangannya.Sean duduk di tempat duduknya, dan dengan hati-hati merapikan barang-barang di mejanya.Stella yang mengajarinya. Barang-barang harus dirapikan setelah digunakan. Tuan muda yang dimanjakan itu, yang selalu dilayani sepenuh hati, secara bertahap mengembangkan kebiasaan merapikan barang-barangnya sendiri. Beberapa kebiasaan buruknya juga secara bertahap diperbaiki oleh Stella.Cristian masuk. Pandangannya sekilas menyapu meja yang rapi sebelum beralih ke Stella, yang berdiri diam di samping."Kamu sudah bekerja keras hari ini.""Aku antar kamu balik asrama saja."Tepat ketika Stella hendak menolak, Cristian sudah meninggalkan kamar Sean. Hanya punggung pria itu yang tersisa dalam pandangannya."Tu ...."Kata-kata penolakan Stella tersangkut di tenggorokannya. Dia menoleh, buru-buru mengucapkan selamat tinggal pad

  • Sekali Tatap, Hati Sang Pengacara Luluh   Bab 47

    Setelah bahunya ditepuk oleh ayahnya, Sean langsung patuh dan dengan enggan duduk kembali di kursinya. Matanya terus melirik Cristian dan Stella secara bergantian, jelas masih menyimpan gagasan yang sama seperti sebelumnya.Stella berdeham dan mendorong buku ke depan Sean."Baiklah, berhenti bercanda lagi. Belajar baik-baik. Nanti aku akan kasih soal dikte."Sean merintih begitu mendengar soal dikte. Perhatiannya langsung teralih dari Cristian dan Stella, berpindah sepenuhnya pada buku pelajaran di depannya.Layaknya orang dewasa, dia menghela napas dalam-dalam, lalu dengan patuh mulai menghafal kosakata dalam buku teksnya.Cristian tetap berdiri di belakangnya. Sementara, Stella tidak berbalik, dan duduk tegak di posisi semula.Bagaimanapun, topik barusan terlalu menyiksanya, terutama karena Cristian terus membahas gagasan konyol dari Sean, membuatnya panik sekaligus bingung.Di belakangnya, tatapan Cristian tertuju pada punggungnya, dan Stella tentu bisa merasakannya. Tatapan membara

  • Sekali Tatap, Hati Sang Pengacara Luluh   Bab 46

    "Kakak, aku nggak peduli. Aku mau kasih tahu Ayah dulu!"Sean menggembungkan wajahnya yang bulat, dan tidak berniat menurutinya. Dia dengan paksa melepaskan diri dari tangan wanita itu, mengangkat kakinya, dan bergegas menuju pintu. Suaranya tegas dan jelas, seolah takut tidak ada yang mendengarnya.Stella sangat cemas hingga tidak tahu harus berbuat apa, tetapi Sean sudah berdiri dan dengan paksa menepis tangannya."Kak, tunggu ya. Aku akan kasih tahu Ayah sekarang juga!"Begitu selesai berbicara, Sean menubruk pria yang berdiri di pintu.Suasana di ruangan itu seketika menjadi hening.Melihat itu, Stella segera berdiri. Wajahnya terasa panas, dan dia tidak tahu harus berbuat apa.Cristian melirik Sean, yang menubruk ke pelukannya itu.Kalimat Sean 'menikahlah dengan ayahku'—terdengar begitu jelas di telinganya. Dia masih memegang piring buah di tangannya. Tubuhnya sama sekali tidak bergeser meskipun Sean datang menubruknya.Kemudian, dia mendongak dan bertukar pandang dengan Stella

  • Sekali Tatap, Hati Sang Pengacara Luluh   Bab 45

    "Jangan bilang begitu."Suaranya lembut dan dipenuhi rasa tak berdaya. Dia tidak berani menatap pria itu lagi. Tatapannya tertunduk, dan telinganya memerah karena malu.Sean yang duduk di sebelahnya, mendengar semuanya dengan jelas dan mulai meledek sambil mengayunkan kakinya."Ayah suka menjaga Kakak. Aku sudah melihat semuanya."Wajah Stella bertambah merah.Dia tidak bisa lagi duduk di posisi semula dan segera berdiri, lalu berkata sambil menatap Sean, "Ayo, Sean. Sudah selesai makan, 'kan? Ayo kita pergi belajar."Wajah Sean langsung muram begitu topik belajar muncul.Namun, membayangkan berada bersama Stella membuatnya menghela napas panjang. Pada akhirnya, dia tidak berkata apa-apa, dengan enggan bangkit, dan menggenggam tangan Stella."Ayo, Kak. Jangan khawatir, aku pasti akan patuh."Stella kabur dari dari meja makan karena malu. Sebaliknya, Cristian hanya berdiri diam, dan dengan tenang mengamati sosoknya yang menjauh.Lalu, dia mengangkat alisnya.Di lantai atas, Stella menek

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status