Share

Bab 3

Penulis: Serena Sentosa
Kemunculan Stella benar-benar di luar dugaan Cristian.

Kata-kata Cristian barusan juga tidak terduga bagi Stella.

Mengingat gaji 100 juta yang dibayar lebih dulu, tawarannya untuk membiarkannya tinggal di rumahnya, kesediaannya untuk mengantarnya, dan juga membantunya untuk mencarikan dokter, semuanya sinkron dengan kata-katanya barusan. Jika tidak, mengapa dia membantunya tanpa alasan?

Namun, yang tidak dipahami Stella adalah dia hanya bertemu Cristian sekali, jadi bagaimana Cristian bisa tertarik padanya?

Saat ini, Cristian telah melangkah mendekati Stella. "Apa yang kamu lakukan di sini?"

Suara pria itu menarik Stella kembali ke dunia nyata.

Stella menundukkan kepalanya. "Aku mau cari Dokter Frans."

Formulir keterangan rawat inap dikeluarkan oleh Dokter Frans dari unit gawat darurat.

Ada tes yang tidak perlu dilakukan, jadi bagian rawat inap mengatakan dia perlu mencari Dokter Frans untuk menandatangani pengembalian dana. Siapa sangka, dia baru saja sampai di pintu ketika dia mendengar Cristian mengucapkan kata-kata itu.

Yang mengejutkan lagi, Cristian ternyata mengenal Dokter Frans.

"Mencariku?" Frans melangkah maju, dan agak terkejut.

Saat ini, Cristian tengah memungut barang-barang yang berserakan di depan Stella, dan menyerahkannya kepadanya.

Stella mengucapkan terima kasih, tetapi tidak berani menatap mata Cristian kali ini.

Frans berjalan menghampiri Stella.

Napas Stella tidak teratur, dan reaksinya juga agak lambat.

Tuan Besar Hutomo menyadari tipu daya itu. "Cristian, kamu kira aku percaya dengan kata-katamu barusan? Masih menganggapku sebagai orang bodoh ya?"

"Aku hanya menyukainya, dan masih belum mulai mengejarnya. Rencanaku memang telah dirusak, tapi secara kebetulan tepat mengenai sasaran," kata Cristian sambil menatap Stella.

Stella masih tidak berani mengangkat kepalanya.

Sampai Cristian menyebut nama Frans. "Bukannya kamu datang mencari dokter?"

Stella terkadang bereaksi lambat. Itu karena dia terkejut.

Namun, reaksinya benar-benar membuat orang ingin tertawa.

"Ya, aku datang untuk mencari Dokter Frans." Setelah diingatkan Cristian, Stella baru tersentak, dan menyerahkan laporan pemeriksaan kepada Frans.

"Dokter Frans, bagian rawat inap bilang tes ini nggak diperlukan. Bisakah Dokter menandatanganinya agar aku bisa membatalkannya?"

"Oh, begitu. Oke, sini aku tandatangani."

Frans baru memahami apa yang terjadi, dan segera mengambil formulir itu.

Namun, dia refleks melirik Stella beberapa kali.

Usianya masih dua puluhan awal, punya paras yang sangat cantik dan polos, tidak seperti wanita-wanita yang mencoba segala cara untuk mendekati Cristian.

Tidak heran Cristian bilang gadis ini sesuai seleranya.

Saat Frans menandatangani formulir itu, Cristian berkata, "Karena kamu yang mengurus prosedur rawat inapnya, kamu harus mengawasi ayahnya dengan cermat."

"Nggak masalah."

Frans melirik nama di formulir pemeriksaan tanpa sadar: Benny Jimarta. Pasien dirawat di departemen kardiologi sekarang.

Kardiologi adalah departemen yang menjadi tanggung jawab muridnya.

Ini sama sekali bukan masalah baginya.

Selesai menandatangani, Frans mengembalikan formulir kepada Stella sambil berkata, "Bawa saja ini ke bagian kasir."

"Baik."

Begitu Stella selesai menjawab, Cristian melangkah mendekat dan berkata, "Aku bawa kamu ke sana. Kebetulan ada beberapa hal yang ingin kukatakan padamu."

"Oke."

Meskipun Stella gugup, dia juga tidak bisa mengabaikannya.

Cristian meninggalkan ruang gawat darurat bersama Stella.

Tuan Besar Hutomo mengikuti mereka, tetapi sebelum pergi, dia menyempatkan diri untuk memelototi Frans.

Tatapannya begitu garang, dan jelas merupakan peringatan.

Frans menggelengkan kepalanya. Dia mendadak mendapat masalah tanpa alasan yang jelas.

Sulit dihadapi.

Cristian sendiri?

Dia dan Stella sudah tiba di koridor luar.

Dia tahu kakeknya mengikutinya, dan juga menyadari kepanikan serta kegelisahan Stella saat ini. Hanya saja, karena semuanya terjadi secara tidak sengaja, alih-alih membiarkan kesalahpahaman kakeknya makin dalam, mengapa tidak memanfaatkan situasi ini dan memulai.

Cristian mengerucutkan bibirnya dan bertanya pada Stella, "Kamu dengar apa yang barusan kukatakan, 'kan?"

Stella mengangguk. Suaranya lembut. "Ya."

Dia tidak mengerti bagaimana dirinya bisa sesuai dengan selera pria itu.

Cinta pada pandangan pertama?

Dia tidak secantik itu sampai membuat orang jatuh cinta pada pandangan pertama.

Kalau begitu ... Stella teringat dengan Sean. "Apa karena aku akrab dengan Sean?"

"Aku nggak menyangkalnya. Apalagi, kamu juga cantik dan punya kepribadian yang baik."

Tuan Besar Hutomo menguping dari belakang.

Cristian mengeluarkan ponselnya sambil berbicara.

Jari-jarinya menari-nari di layar, lalu mengirimkan kata 'kerja sama' ke ponsel Stella. Kemudian, Cristian memberi isyarat pada Stella untuk melihat ponselnya.

"Aku sudah transfer sejumlah uang lagi untukmu. Gunakan dulu untuk membayar pengobatan ayahmu. Kalau nggak cukup, minta lagi padaku."

Ketika melihat pesan dari Cristian, Stella langsung paham.

Karena Cristian sudah begitu membantunya, dia tidak mungkin menolak. Hanya saja, meskipun mereka berpura-pura pacaran sekarang, keluarganya Cristian juga tidak mungkin percaya.

Stella tetap berkata dengan jujur, "Tuan Cristian, terima kasih sudah menyukaiku. Bergaul dengan anak kecil adalah pekerjaanku. Ayahku masih menungguku, jadi aku harus pergi sekarang."

Sebelum Cristian sempat menjawab, Stella telah berbalik dan pergi.

Dia juga khawatir kata-kata ini akan memengaruhi Cristian, jadi dia mengiriminya pesan.

[Tuan Cristian, kalau aku langsung menyanggupi kerja samamu, akan terkesan bahwa aku punya motif tersembunyi. Kamu juga akan tampak terlalu terburu-buru dan nggak tulus. Kita bisa kerja sama secara bertahap.]

Cristian sangat puas dengan pesan tersebut. Kerja sama seperti itulah yang dia inginkan.

Sambil bersandar pada tongkatnya, Tuan Besar Hutomo berjalan dari samping dan mendekati Cristian. "Ternyata, perasaanmu hanya bertepuk sebelah tangan. Kamu bahkan masih belum menggandeng tangannya."

"Tindakan lebih berarti daripada kata-kata. Kalau bukan karena Kakak salah paham padaku dan Frans, dia nggak akan mendengar percakapan kita. Aku juga nggak perlu terburu-buru seperti ini."

Setelah mengatakan itu, Cristian melangkah maju.

Tuan Besar Hutomo mengejarnya. "Bocah nakal, kamu masih berani menyalahkanku? Toh, siapa tahu kalian berdua bekerja sama?"

"Bagaimana kalau kami nggak kerja sama?"

Cristian menghentikan langkahnya.

Tuan Besar Hutomo tersenyum. "Baguslah kalau itu bukan kerja sama. Aku akan minta maaf padamu dan Frans. Selain itu, aku juga akan memastikan guru Renata diperlakukan dengan sangat terhormat saat masuk ke keluarga kami."

Cristian teringat akan mimpi erotis itu.

Hubungan jangka panjang memang lebih baik daripada hubungan jangka pendek.

"Ini soal perasaan, bukan perjudian."

Setelah mengatakan itu, Cristian mulai berjalan lagi, tanpa menoleh ke belakang.

Melihat sosok Cristian yang pergi, Tuan Besar Hutomo tiba-tiba mendapatkan sebuah ide.

....

Di tempat Stella.

Setelah membayar tagihan, dia mentransfer sebagian biaya hidup kepada ayahnya. Ternyata, masih ada banyak uang yang tersisa.

Saat dia sedang memikirkan cara untuk mengatur uang yang tersisa, ayahnya tiba-tiba curiga dan menariknya ke samping. "Stella, jujurlah pada Ayah, dari mana datangnya uang ini? Bahkan, gajimu juga nggak akan dibayar sebanyak ini, 'kan? Apa kamu melakukan sesuatu yang nggak pantas kamu lakukan?"

Melihat tatapan muram ayahnya, Stella terdiam dan tidak tahu harus berkata apa.

Tepat di saat itu, perawat membuka pintu dan masuk. "Pasien, kemasi barang-barangmu dan ikut aku ke kamar pribadi."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Sekali Tatap, Hati Sang Pengacara Luluh   Bab 50

    Stella berjongkok. Paku-paku berkilau dingin di bawah lampu jalan yang berkelap-kelip itu membuat bulu kuduknya merinding.Mana mungkin ada begitu banyak paku tajam yang tiba-tiba muncul di gang kecil seperti ini? Jelas sekali ada seseorang yang sengaja menaruhnya di sana."Ada begitu banyak paku di sini. Tuan Cristian, jangan-jangan ada orang ...."Sebelum dia sempat menyampaikan kekhawatirannya, Cristian telah meraih pergelangan tangannya dan menyuruhnya berdiri."Kamu balik dulu. Aku bisa urus sendiri."Stella enggan pergi. Dia berbalik dan menatapnya dengan khawatir."Tapi .... Tuan Cristian, biarlah aku menemanimu.""Jangan khawatirkan aku. Aku sudah hubungi petugas perawatan untuk menanganinya. Semuanya akan segera beres. Jam malam asramamu hampir habis. Kalau kamu nggak segera masuk, kamu bisa kena sanksi dari pengurus asrama. Ayo cepat masuk."Cristian menggelengkan kepalanya perlahan dan menyenggol bahu Stella, memberi isyarat agar dia segera pergi.Stella tampak bimbang dan e

  • Sekali Tatap, Hati Sang Pengacara Luluh   Bab 49

    Selain itu, mereka mengenakan pakaian serba hitam, yang sepenuhnya menutupi wajah mereka. Jika ingin melarikan diri, mereka tinggal melemparkan pakaian hitam mereka ke semak-semak, lalu masuk melalui pintu ini.Dengan demikian, sekalipun diselidiki, mereka berdua juga tidak akan ketahuan.Ivan melirik teman yang tampak enggan di sampingnya itu, lalu mengerutkan kening, dan memperingatkannya dengan suara rendah."Dengar ya, masalah ini kita lakukan sama-sama. Kalau tertangkap, kita berdua akan bertanggung jawab. Mulai sekarang, kamu harus bertindak sesuai apa yang kukatakan!"Temannya yang mendengar kata-kata itu ketakutan hingga gemetar, dan tidak berani memberikan nasihat lagi. Dia hanya bisa bersembunyi di balik gelapnya malam, menatap gugup ke arah mobil yang perlahan mendekat.Ivan menoleh. Sorot matanya dipenuhi rasa iri, dan pandangannya tertuju pada Stella yang duduk di kursi penumpang. Membayangkan Stella naik mobil Cristian setiap hari membuatnya merasa sesak.Bagaimanapun jug

  • Sekali Tatap, Hati Sang Pengacara Luluh   Bab 48

    Suara pria yang dalam dan dingin terdengar dari belakang.Stella segera berdiri dengan canggung dan mencondongkan tubuh ke samping, sambil memegang erat tas kanvas di tangannya.Sean duduk di tempat duduknya, dan dengan hati-hati merapikan barang-barang di mejanya.Stella yang mengajarinya. Barang-barang harus dirapikan setelah digunakan. Tuan muda yang dimanjakan itu, yang selalu dilayani sepenuh hati, secara bertahap mengembangkan kebiasaan merapikan barang-barangnya sendiri. Beberapa kebiasaan buruknya juga secara bertahap diperbaiki oleh Stella.Cristian masuk. Pandangannya sekilas menyapu meja yang rapi sebelum beralih ke Stella, yang berdiri diam di samping."Kamu sudah bekerja keras hari ini.""Aku antar kamu balik asrama saja."Tepat ketika Stella hendak menolak, Cristian sudah meninggalkan kamar Sean. Hanya punggung pria itu yang tersisa dalam pandangannya."Tu ...."Kata-kata penolakan Stella tersangkut di tenggorokannya. Dia menoleh, buru-buru mengucapkan selamat tinggal pad

  • Sekali Tatap, Hati Sang Pengacara Luluh   Bab 47

    Setelah bahunya ditepuk oleh ayahnya, Sean langsung patuh dan dengan enggan duduk kembali di kursinya. Matanya terus melirik Cristian dan Stella secara bergantian, jelas masih menyimpan gagasan yang sama seperti sebelumnya.Stella berdeham dan mendorong buku ke depan Sean."Baiklah, berhenti bercanda lagi. Belajar baik-baik. Nanti aku akan kasih soal dikte."Sean merintih begitu mendengar soal dikte. Perhatiannya langsung teralih dari Cristian dan Stella, berpindah sepenuhnya pada buku pelajaran di depannya.Layaknya orang dewasa, dia menghela napas dalam-dalam, lalu dengan patuh mulai menghafal kosakata dalam buku teksnya.Cristian tetap berdiri di belakangnya. Sementara, Stella tidak berbalik, dan duduk tegak di posisi semula.Bagaimanapun, topik barusan terlalu menyiksanya, terutama karena Cristian terus membahas gagasan konyol dari Sean, membuatnya panik sekaligus bingung.Di belakangnya, tatapan Cristian tertuju pada punggungnya, dan Stella tentu bisa merasakannya. Tatapan membara

  • Sekali Tatap, Hati Sang Pengacara Luluh   Bab 46

    "Kakak, aku nggak peduli. Aku mau kasih tahu Ayah dulu!"Sean menggembungkan wajahnya yang bulat, dan tidak berniat menurutinya. Dia dengan paksa melepaskan diri dari tangan wanita itu, mengangkat kakinya, dan bergegas menuju pintu. Suaranya tegas dan jelas, seolah takut tidak ada yang mendengarnya.Stella sangat cemas hingga tidak tahu harus berbuat apa, tetapi Sean sudah berdiri dan dengan paksa menepis tangannya."Kak, tunggu ya. Aku akan kasih tahu Ayah sekarang juga!"Begitu selesai berbicara, Sean menubruk pria yang berdiri di pintu.Suasana di ruangan itu seketika menjadi hening.Melihat itu, Stella segera berdiri. Wajahnya terasa panas, dan dia tidak tahu harus berbuat apa.Cristian melirik Sean, yang menubruk ke pelukannya itu.Kalimat Sean 'menikahlah dengan ayahku'—terdengar begitu jelas di telinganya. Dia masih memegang piring buah di tangannya. Tubuhnya sama sekali tidak bergeser meskipun Sean datang menubruknya.Kemudian, dia mendongak dan bertukar pandang dengan Stella

  • Sekali Tatap, Hati Sang Pengacara Luluh   Bab 45

    "Jangan bilang begitu."Suaranya lembut dan dipenuhi rasa tak berdaya. Dia tidak berani menatap pria itu lagi. Tatapannya tertunduk, dan telinganya memerah karena malu.Sean yang duduk di sebelahnya, mendengar semuanya dengan jelas dan mulai meledek sambil mengayunkan kakinya."Ayah suka menjaga Kakak. Aku sudah melihat semuanya."Wajah Stella bertambah merah.Dia tidak bisa lagi duduk di posisi semula dan segera berdiri, lalu berkata sambil menatap Sean, "Ayo, Sean. Sudah selesai makan, 'kan? Ayo kita pergi belajar."Wajah Sean langsung muram begitu topik belajar muncul.Namun, membayangkan berada bersama Stella membuatnya menghela napas panjang. Pada akhirnya, dia tidak berkata apa-apa, dengan enggan bangkit, dan menggenggam tangan Stella."Ayo, Kak. Jangan khawatir, aku pasti akan patuh."Stella kabur dari dari meja makan karena malu. Sebaliknya, Cristian hanya berdiri diam, dan dengan tenang mengamati sosoknya yang menjauh.Lalu, dia mengangkat alisnya.Di lantai atas, Stella menek

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status