Share

Bab 5

Penulis: Serena Sentosa
Apa Cristian percaya?

Apa pria itu akan berpikir bahwa dia punya motif tersembunyi, sengaja merayunya agar bisa naik tangga sosial, dan menjadi nyonya rumah?

Apa pria itu akan langsung mengakhiri hubungan kerja mereka, dan memecatnya?

Makin dipikir, Stella makin gugup. Dia menggigit bibirnya erat-erat. Dia tidak menyadari betapa besar masalah yang akan timbul oleh gerakan refleks itu bagi pria di hadapannya.

Jakun Cristian bergerak-gerak. Dia buru-buru memalingkan muka, berdehem dua kali sambil menekan ujung jarinya ke bibir. "Aku ingin melihat Sean."

"Oke, aku pergi ke kamar sekarang." Stella terkejut.

Dia membawa mi di satu tangan dan ponsel di tangan lainnya, lalu naik ke lantai atas secepat mungkin. Selain langkah kakinya, Cristian juga bisa mendengar napasnya.

Hal ini kembali mengingatkannya akan adegan dalam benaknya.

Dalam mimpinya, Stella memanggilnya Tuan Cristian persis seperti yang dilakukannya sekarang. Wajahnya memerah dan matanya berkilauan.

Mereka hanya bertemu beberapa kali, dan hubungannya dengan Stella hanyalah sebatas pekerjaan. Tidak mungkin ada hubungan yang lebih dari itu.

Saat ini, Stella telah membuka pintu kamar.

Sean sudah bangun. Mendengar suara itu, dia menoleh dan matanya langsung berbinar. Suaranya yang lembut dan manis dipenuhi kegembiraan. "Ayah!"

Stella dengan cepat menyerahkan ponsel kepadanya agar dia bisa mengobrol dengan Cristian.

Dia duduk di samping, perlahan meniup mi dengan sendok kecil untuk mendinginkannya, bersiap untuk menyuapi Sean.

Tiba-tiba, Sean melapor pada Cristian dengan suara lantang, "Ayah, aku sangat menyukai Kak Stella. Dia sangat baik padaku, seperti seorang ibu."

Suaranya tidak keras, tetapi kata-katanya memiliki dampak yang luar biasa.

Jantung Stella berdebar kencang. Jari-jarinya mencengkeram sendok dengan erat, dan seluruh tubuhnya langsung membeku.

Tanpa sadar dia menundukkan kepala, ujung telinganya terasa panas dan lembap. Dia berharap bisa menemukan lubang untuk bersembunyi.

Adegan di dapur barusan sudah cukup memalukan, dan sekarang Sean masih mengatakan hal-hal seperti itu. Sulit bagi Cristian untuk tidak berpikir banyak.

Apalagi, dia tidak punya cara untuk menyalahkan siapa pun.

Sean hanyalah snak kecil. Anak-anak selalu berbicara tanpa berpikir. Dia menyukainya dan ingin berbagi perasaan ini dengan orang terdekatnya. Tidak ada yang salah dengan itu.

Kalau dia kehilangan pekerjaan ini, dia terpaksa harus mencari pekerjaan paruh waktu lainnya, dan perlahan-lahan mengumpulkan 100 juta untuk melunasi utangnya pada Cristian.

Setidaknya, biaya pengobatan ayahnya sudah dilunasi. Orang sebaik Cristian tidak mungkin menyimpan dendam terhadap seorang pasien, sekalipun pria itu tidak menyukainya.

"Sean." Ekspresi Cristian sedikit melunak saat dia dengan lembut mengoreksi Sean. "Kakak dan ibu itu berbeda. Keduanya nggak boleh disamakan."

Sebuah kalimat sederhana dengan jelas menyatakan batasan.

Sean tidak mengerti, tetapi dia patuh. Dia menundukkan kepalanya. "Aku mengerti. Aku nggak akan mengatakan hal seperti itu lagi."

"Stella." Cristian tiba-tiba menoleh dan melihat ke arahnya.

Melihat wanita itu membungkuk dan kepalanya tertunduk, persis seperti burung puyuh, dia merasa marah sekaligus geli.

Ucapan polos seorang anak kecil telah membuatnya ketakutan seperti ini?

Penakut sekali.

Lupakan saja, sebaiknya dia tidak menggodanya lagi. Jika dia menakutinya sampai dia berhenti kerja, dia masih harus mencari guru les yang cocok untuk Sean, dan dia juga tidak bisa terus mengelabui kakeknya lagi.

Dia berusaha sebisa mungkin untuk melunakkan nada bicaranya. "Mi sebaiknya dimakan selagi masih panas."

"Aku mengerti." Stella dengan cepat mengambil mangkuk dan bersiap menyuapi Sean.

Dia sangat teliti, meniup setiap sendok untuk mendinginkannya sebelum menyuapkannya ke mulut Sean, dan Sean dengan patuh memakannya sesuap demi sesuap.

Setelah memberinya beberapa suap, Cristian yang berada di ujung layar tiba-tiba berseru, "Nggak perlu menyuapinya. Dia sudah besar dan bisa makan sendiri."

Stella tahu bahwa anak-anak tidak boleh terlalu dimanjakan, tetapi Sean sedang sakit, jadi menyuapinya sesekali seharusnya tidak masalah.

Tentu saja, pendapatnya tidak penting. Karena dia dibayar, dia hanya perlu melakukan apa pun yang dikatakan bosnya.

Dia meletakkan handuk di bawah mangkuk dan menaruhnya di tangan Sean. "Pegang yang benar. Pelan-pelan makan. Jangan sampai melukai lidahmu."

"Mmm!" Sean mengangguk dengan antusias.

Untuk sesaat, satu-satunya suara di kamar itu hanyalah suara seruputan mi yang dimakan Sean. Suasana seketika menjadi sangat canggung.

Stella suka menggigit bibirnya saat gugup. Bibir bawahnya yang sudah merona bertambah merah karena digigit, seperti bunga yang menunggu untuk dipetik.

Cristian memecah keheningan lebih dulu. "Kamu dari tadi terus merawat Sean. Jangan sampai lupa makan. Aku mungkin akan pulang dalam tiga hari. Kalau ada sesuatu yang kurang di rumah, beli saja. Aku akan transfer uang padamu."

"Baik, Tuan Cristian." Stella mengiakannya.

Pria itu sudah bilang begitu. Kalau begitu, kemungkinan besar dia tidak akan memecatnya dalam waktu dekat.

Memikirkan hal itu, Stella merasa sedikit lega.

Setelah mengakhiri panggilan video, Cristian langsung mentransfer 40 juta kepadanya.

Mendengar suara notifikasi, Stella segera memeriksanya. Dia terkejut, dan buru-buru membuka whatsapp: [Tuan Cristian, ini terlalu banyak. Mana mungkin terpakai sebanyak itu? Aku nggak bisa menerimanya.]

Pesan itu baru saja terkirim ketika kotak obrolan menampilkan 'sedang mengetik' di atasnya.

Sebuah pesan singkat masuk dengan cepat: [Aku nggak punya waktu untuk transfer uang padamu berulang kali. Simpan saja dulu. Jangan lupa untuk catat pengeluaran harian.]

Jadi, pada dasarnya dia membayar di muka biaya penggantian untuk jangka waktu yang lama sekaligus.

Stella tidak menolak lagi. Setelah menerima uang itu, dia menyetorkannya ke dompet digital terpisah dan bahkan mengunduh perangkat lunak akuntansi.

Selama dua hari berikutnya, dia tinggal di kediaman Hutomo untuk menemani Sean sampai anak itu pulih sepenuhnya dan bisa kembali bersekolah.

Sean mendekat dan bertanya dengan penasaran, "Kak Stella, ayahku nggak di rumah. Kakak mau antar aku ke sekolah nggak?"

Stella mengangguk. "Akan kuantar dan kujemput nanti. Sepulang sekolah, jangan berkeliaran ke mana-mana. Berdirilah di gerbang sekolah dan tunggu aku. Jangan ikut orang lain selain aku, oke?"

Sean mengangguk dengan semangat.

Dia berkata kepada Stella, "Guru kami bilang, orang asing yang mencoba membawa kami pergi adalah penculik, orang jahat!"

Stella mengelus kepala Sean yang lembut. Dia merasa lega karena Sean memiliki kewaspadaan yang tinggi.

Kelas pertamanya hari ini jam 10 pagi. Setelah mengantar Sean, dia akan naik bus ke kampus. Dia masih punya banyak waktu.

Hanya saja, Stella tidak mengantisipasi adanya pembangunan jalan di kota, yang memaksa bus untuk mengambil jalan memutar yang panjang. Karena keterlambatan ini, dia tiba di kelas hampir di menit-menit terakhir, dan secara acak mencari sebuah tempat duduk.

Sebelum dia sempat mengeluarkan buku pelajaran, teman sekamarnya, Emma Ciputra, yang duduk di sebelahnya, menoleh dan bertanya dengan sedikit nada menyindir, "Beberapa hari ini, kamu keluar pagi-pagi dan pulang larut malam. Apa yang kamu sibukkan?"

"Aku ada urusan." Stella dan Emma tidak pernah akur. Dia juga tahu Emma sedang mencari masalah, jadi dia tidak mau repot-repot meladeninya.

Emma memutar bola matanya. Entah apa yang dia pura-purakan!

Tepat saat itu, dosen di podium memberi tahu semua orang. "Nggak perlu absensi hari ini. Kita akan mengadakan ujian."

Stella sangat serius dalam belajar, jadi wajar jika dia tidak takut ujian.

Namun, dia tiba-tiba teringat bahwa dia lupa mengirim pesan kepada Cristian. Sebelum lembar ujian dibagikan, dia segera membuka Whatsapp dan mengiriminya pesan singkat: [Sean sudah sekolah hari ini.]

Dan Emma kebetulan menoleh ke arahnya. Matanya membelalak kaget.

Stella sedang mengobrol dengan siapa? Dia menerima transfer dari seseorang, dan jumlahnya begitu banyak. Pasti ada puluhan juta, 'kan?"

Jangan-jangan dia ....

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Sekali Tatap, Hati Sang Pengacara Luluh   Bab 50

    Stella berjongkok. Paku-paku berkilau dingin di bawah lampu jalan yang berkelap-kelip itu membuat bulu kuduknya merinding.Mana mungkin ada begitu banyak paku tajam yang tiba-tiba muncul di gang kecil seperti ini? Jelas sekali ada seseorang yang sengaja menaruhnya di sana."Ada begitu banyak paku di sini. Tuan Cristian, jangan-jangan ada orang ...."Sebelum dia sempat menyampaikan kekhawatirannya, Cristian telah meraih pergelangan tangannya dan menyuruhnya berdiri."Kamu balik dulu. Aku bisa urus sendiri."Stella enggan pergi. Dia berbalik dan menatapnya dengan khawatir."Tapi .... Tuan Cristian, biarlah aku menemanimu.""Jangan khawatirkan aku. Aku sudah hubungi petugas perawatan untuk menanganinya. Semuanya akan segera beres. Jam malam asramamu hampir habis. Kalau kamu nggak segera masuk, kamu bisa kena sanksi dari pengurus asrama. Ayo cepat masuk."Cristian menggelengkan kepalanya perlahan dan menyenggol bahu Stella, memberi isyarat agar dia segera pergi.Stella tampak bimbang dan e

  • Sekali Tatap, Hati Sang Pengacara Luluh   Bab 49

    Selain itu, mereka mengenakan pakaian serba hitam, yang sepenuhnya menutupi wajah mereka. Jika ingin melarikan diri, mereka tinggal melemparkan pakaian hitam mereka ke semak-semak, lalu masuk melalui pintu ini.Dengan demikian, sekalipun diselidiki, mereka berdua juga tidak akan ketahuan.Ivan melirik teman yang tampak enggan di sampingnya itu, lalu mengerutkan kening, dan memperingatkannya dengan suara rendah."Dengar ya, masalah ini kita lakukan sama-sama. Kalau tertangkap, kita berdua akan bertanggung jawab. Mulai sekarang, kamu harus bertindak sesuai apa yang kukatakan!"Temannya yang mendengar kata-kata itu ketakutan hingga gemetar, dan tidak berani memberikan nasihat lagi. Dia hanya bisa bersembunyi di balik gelapnya malam, menatap gugup ke arah mobil yang perlahan mendekat.Ivan menoleh. Sorot matanya dipenuhi rasa iri, dan pandangannya tertuju pada Stella yang duduk di kursi penumpang. Membayangkan Stella naik mobil Cristian setiap hari membuatnya merasa sesak.Bagaimanapun jug

  • Sekali Tatap, Hati Sang Pengacara Luluh   Bab 48

    Suara pria yang dalam dan dingin terdengar dari belakang.Stella segera berdiri dengan canggung dan mencondongkan tubuh ke samping, sambil memegang erat tas kanvas di tangannya.Sean duduk di tempat duduknya, dan dengan hati-hati merapikan barang-barang di mejanya.Stella yang mengajarinya. Barang-barang harus dirapikan setelah digunakan. Tuan muda yang dimanjakan itu, yang selalu dilayani sepenuh hati, secara bertahap mengembangkan kebiasaan merapikan barang-barangnya sendiri. Beberapa kebiasaan buruknya juga secara bertahap diperbaiki oleh Stella.Cristian masuk. Pandangannya sekilas menyapu meja yang rapi sebelum beralih ke Stella, yang berdiri diam di samping."Kamu sudah bekerja keras hari ini.""Aku antar kamu balik asrama saja."Tepat ketika Stella hendak menolak, Cristian sudah meninggalkan kamar Sean. Hanya punggung pria itu yang tersisa dalam pandangannya."Tu ...."Kata-kata penolakan Stella tersangkut di tenggorokannya. Dia menoleh, buru-buru mengucapkan selamat tinggal pad

  • Sekali Tatap, Hati Sang Pengacara Luluh   Bab 47

    Setelah bahunya ditepuk oleh ayahnya, Sean langsung patuh dan dengan enggan duduk kembali di kursinya. Matanya terus melirik Cristian dan Stella secara bergantian, jelas masih menyimpan gagasan yang sama seperti sebelumnya.Stella berdeham dan mendorong buku ke depan Sean."Baiklah, berhenti bercanda lagi. Belajar baik-baik. Nanti aku akan kasih soal dikte."Sean merintih begitu mendengar soal dikte. Perhatiannya langsung teralih dari Cristian dan Stella, berpindah sepenuhnya pada buku pelajaran di depannya.Layaknya orang dewasa, dia menghela napas dalam-dalam, lalu dengan patuh mulai menghafal kosakata dalam buku teksnya.Cristian tetap berdiri di belakangnya. Sementara, Stella tidak berbalik, dan duduk tegak di posisi semula.Bagaimanapun, topik barusan terlalu menyiksanya, terutama karena Cristian terus membahas gagasan konyol dari Sean, membuatnya panik sekaligus bingung.Di belakangnya, tatapan Cristian tertuju pada punggungnya, dan Stella tentu bisa merasakannya. Tatapan membara

  • Sekali Tatap, Hati Sang Pengacara Luluh   Bab 46

    "Kakak, aku nggak peduli. Aku mau kasih tahu Ayah dulu!"Sean menggembungkan wajahnya yang bulat, dan tidak berniat menurutinya. Dia dengan paksa melepaskan diri dari tangan wanita itu, mengangkat kakinya, dan bergegas menuju pintu. Suaranya tegas dan jelas, seolah takut tidak ada yang mendengarnya.Stella sangat cemas hingga tidak tahu harus berbuat apa, tetapi Sean sudah berdiri dan dengan paksa menepis tangannya."Kak, tunggu ya. Aku akan kasih tahu Ayah sekarang juga!"Begitu selesai berbicara, Sean menubruk pria yang berdiri di pintu.Suasana di ruangan itu seketika menjadi hening.Melihat itu, Stella segera berdiri. Wajahnya terasa panas, dan dia tidak tahu harus berbuat apa.Cristian melirik Sean, yang menubruk ke pelukannya itu.Kalimat Sean 'menikahlah dengan ayahku'—terdengar begitu jelas di telinganya. Dia masih memegang piring buah di tangannya. Tubuhnya sama sekali tidak bergeser meskipun Sean datang menubruknya.Kemudian, dia mendongak dan bertukar pandang dengan Stella

  • Sekali Tatap, Hati Sang Pengacara Luluh   Bab 45

    "Jangan bilang begitu."Suaranya lembut dan dipenuhi rasa tak berdaya. Dia tidak berani menatap pria itu lagi. Tatapannya tertunduk, dan telinganya memerah karena malu.Sean yang duduk di sebelahnya, mendengar semuanya dengan jelas dan mulai meledek sambil mengayunkan kakinya."Ayah suka menjaga Kakak. Aku sudah melihat semuanya."Wajah Stella bertambah merah.Dia tidak bisa lagi duduk di posisi semula dan segera berdiri, lalu berkata sambil menatap Sean, "Ayo, Sean. Sudah selesai makan, 'kan? Ayo kita pergi belajar."Wajah Sean langsung muram begitu topik belajar muncul.Namun, membayangkan berada bersama Stella membuatnya menghela napas panjang. Pada akhirnya, dia tidak berkata apa-apa, dengan enggan bangkit, dan menggenggam tangan Stella."Ayo, Kak. Jangan khawatir, aku pasti akan patuh."Stella kabur dari dari meja makan karena malu. Sebaliknya, Cristian hanya berdiri diam, dan dengan tenang mengamati sosoknya yang menjauh.Lalu, dia mengangkat alisnya.Di lantai atas, Stella menek

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status