Share

7. Dia Bukanlah Aku

Happy Reading

***

Beberapa kali Tari sengaja menghindar dari percakapan ataupun berduaan dengan Andrian. Semua terjadi karena gadis itu masih belum mampu untuk menatap dan bersikap biasa saja sejak kejadian melihat adegan iya-iya antara bosnya dengan sang istri muda.

Gosip tentang kedekatannya dengan Andrian juga semakin santer terdengar. Entah siapa yang mengembuskan kabar tersebut, tetapi Tari sudah mulai terbiasa. Awalnya mungkin risih, tetapi mengapa mesti mendengarkan gosip murahan jika dirinya saja tidak seperti yang dituduhkan.

Tari sudah membereskan semua barang-barangnya di meja kerjanya. Mengambil tas dan bersiap untuk pulang. Saat membuka pintu, si bos sudah berdiri dengan tangan yang terayun. Mungkin hendak mengetuk pintu ruangannya.

"Tar, siapkan dirimu! Besok, kita ada tinjauan ke lokasi perusahaan yang baru," perintah Andrian saat melihat Tari akan pulang dan berada di ambang pintu.

Tari, hanya melirik Andrian tanpa menjawab apa pun. Dia juga tidak menganggukkan kepala sebagai tanda setuju. Berbagai macam rasa meraup-raup di dalam hatinya antara takut, benci serta harus melaksanakan kewajiban sebagai karyawan.

Bayangan saat dia harus menginap di hotel yang sama dengan si bos terlintas. Tari mulai bergidik, jika sampai terjadi lagi dan lelaki itu tidak bisa mengontrol dirinya. Maka, bahaya akan mengancam diri sang sekretaris.

"Saya harap kamu nggak  menolak! Ini sudah menjadi tugas sebagai seorang sekretaris. Mengerti?" Andrian mendahului Tari menuju lift. Namun, saat semakin mendekati ruangan persegi itu dan langkah si gadis tak terdengar, si bos menengok ke belakang. "Kamu nggak turun?" tanyanya saat melihat sang sekretaris masih terdiam.

Tari bergeming di tempat berdiri, belum mengunci pintu dan enggan sekali turun bersama si bos. Dia sengaja menunggu agar Andrian turun terlebih dulu. Sejak kejadian waktu itu dirinya berusaha menjauhi sang atasan.

Tari tidak lagi bisa bersikap ramah ataupun hormat dengan lelaki seperti atasannya. Wajah si bos tampak marah. Andrian langsung menekan tombol lift untuk segera turun. Beberapa saat menunggu, Tari meninggalkan kantor dengan lift berbeda.

Ketika sudah berada di lantai dasar seseorang menyapa dan berkata.

"Tar, tunggu!" panggil seseorang itu, "ada waktu untuk ngobrol?"

Tari tersenyum dan mengangguk. "Ada apa, Pak?" Dia sengaja duduk di sofa depan resepsionis.

"Jangan ngobrol di sini! Bagaimana kalau kita ke kafe yang dekat dengan kantor? Kamu bawa motor, 'kan?" Si lelaki tampak antusias. Wajahnya begitu semringah ketika melihat senyuman Tari.

Bisik-bisik dari rekan kerja, terdengar oleh Tari.

"Ih, Pak Tio. Dia itu buta apa goblok, sih? Apa beliau gak dengar gosip tentang affair Tari dan Pak Andrian? Lagaknya aja alim, dalamnya busuk juga ternyata." Mereka melirik sinis pada Tari, tak peduli orang yang digunjing akan mendengarnya.

Bahkan tanpa sungkan mereka mengatakan lelaki itu goblok. Tak ada lagi kata sungkan pada sang atasan. Padahal jika mau, lelaki itu bisa memberikan mereka surat peringatan atas perkataan buruk tadi. Namun, nyatanya si lelaki tidak melakukan hal itu.

Tari melihat ke arah Bramantio Dirgantara, seorang manager HRD di perusahaan itu. Pada usia yang terbilang masih muda, dia sudah diberi jabatan dengan tanggung jawab yang cukup berat. Tari mengenal si lelaki sejak masih bekerja di perusahaan lama.

Tio merupakan salah satu putra pemilik biro perjalanan haji dan umroh. Namun, entah mengapa lelaki itu tidak mau meneruskan usaha orang tuanya. Dia malah bekerja pada perusahaan milik Andrian.

"Bapak tidak malu ngajak saya ngobrol setelah mendengar perkataan mereka tadi?" Tari berjalan keluar terlebih dahulu. Berusaha menghindari gunjingan karyawan lain. Jam pulang seperti ini, semua orang saling berebut untuk keluar dari tempat kerja.

"Mengapa aku harus malu? Kamu juga bukan orang yang seperti mereka katakan tadi. Aku mengenalmu jauh sebelum berada di sini, apalagi kamu sempat menjadi karyawan ayah selama setahun. So, bagaimana mungkin aku akan terpengaruh ucapan mereka? Biarlah mereka menganggapku bodoh, itu tidak masalah." Tio menyejajarkan langkahnya dengan Tari. Masih berusaha agar si gadis mau menerima ajakannya tadi.

"Gimana, kamu mau kan ngobrol di tempat lain bersamaku?"

Tari berbalik dan mengangguk sebagai jawaban kesediannya. Sampai di parkiran, Tari segera mengambil motor. "Duluan saja, Pak. Nanti saya ikuti dari belakang."

"Bagaimana kalau kamu naik mobilku saja? Motormu taruh saja di sini!" pinta Tio.

"Tidak perlu, Pak. Nanti malah merepotkan dan menimbulkan fitnah lagi bagi saya."

"Oke kalau gitu. Aku jalan duluan, ya?" Tari mengangguk. Dia menunggu mobil Tio keluar area parkir.

Sebentar saja, mereka sudah sampai di kafe yang dituju. Obrolan makin seru saat Tio menanyakan kabar yang berembus tentang Tari dengan atasannya sekaligus owner perusahaan. Sebelum gadis itu menjawab, pesanan mereka datang. Jadi, Tari masih punya kesempatan untuk menjelaskannya nanti.

"Jadi bagaimana yang sebenarnya, Tar? Aku tidak ingin mengikuti arus dengan berprasangka kepadamu. Jika, memang kamu tidak memiliki hubungan dengan beliau, maka kesempatan itu akan terbuka lebar untukku." tanya sang manajer HRD setelah pelayan pergi meninggalkan mereka berdua. Tio sengaja menyamarkan keinginan hatinya untuk memiliki Tari.

"Maksudnya bagaimana, Pak?" Bagi gadis itu, kalimat terakhir dari perkataan Tio terasa ambigu. Tak ingin menduga-duga bahwa lelaki di depannya ini tertarik dan memiliki rasa lebih selain hubungan antara atasan dan bawahan.

"Kalimat yang mana?" tanya Tio, "jangan panggil, Pak! Ini sudah bukan jam kantor, lagian kita seumuran. Berasa tua aku."

"Kalimat terakhir Bapak tadi." Tari menutup mulutnya saat Tio memelototkan mata. "Saya harus panggil apa?" tanyanya setelah menyadari kekeliruan yang dibuat.

"Apa aja boleh. Misal panggil nama bagaimana?" Tio menyeruput jus jeruk dihadapannya. Mengatakan keinginan di hati pada seorang perempuan itu membuat kerongkongannya kering. Apalagi belum secara gamblang dia mengatakan apa yang ada di hati sepenuhnya kepada si gadis.

"Jangan! Rasanya terdengar tidak sopan, jika memanggil nama saja." Tari menggeleng tak setuju. Sebagian orang Jawa memang agak saru ketika memanggil nama pada seseorang yang dihormati atau atasan.

"Gimana kalau kamu manggil aku sayang saja," goda Tio mengungkapkan keinginan hatinya. Namun, tatapan tajam dari Tari menyurutkan niatnya. "Panggil Mas saja, deh. Kayaknya keberatan."

"Oke, panggil Mas saja, ya. Saya akan menceritakan yang sejujurnya tentang pertanyaan, Bapak sebelumnya, eh, maksudnya Mas," ucap Tari, "saya dan Pak Andrian tidak ada hubungan apa pun seperti yang diberitakan. Saya yakin, kabar itu bermula setelah saya dan beliau pergi keluar kota waktu itu. Entah siapa yang menyebarkan gosip pertama kali. Saya sendiri bingung. Pasalnya, kami berdua memang tidak melakukan apa pun dan kepergian tersebut murni karena perkejaan."

Tio manggut-manggut. Lalu, berkata, "Sabar, aku percaya kamu tidak akan melakukannya. Menurutku wajar kalian sering terlihat berdua dan memang tugas seorang sekretaris harus selalu bersama seorang direktur, 'kan? Lalu, salahnya di mana. Jika pekerjaan yang kalian kerjakan dinilai sebagai affair, ya, nggak masuk akal banget."

"Terima kasih, Mas. Sudah mempercayai saya, tapi karyawan yang lain tidak berpikiran seperti itu. Saya tetap dianggap memiliki hubungan selain pekerjaan dengan Pak Andri."

Obrolan mereka terhenti saat Tari menerima panggilan dari ibunya. Dia segera pamit pada Tio untuk pulang terlebih dahulu. Belum sempat Tio mengutarakan maksudnya mengajak gadis itu, dia sudah pergi.

"Sabar, masih ada besok untuk mengungkapkan isi hati. Setidaknya, aku sudah tahu bagaimana perasaan Tari pada Pak Andri," kata Tio lirih setelah si gadis meninggalkan mejanya.

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status