INICIAR SESIÓNJam di salah satu sisi dinding ruang tengah telah menunjukkan pukul tiga pagi, Cindy mulai merasa mata dan kepalanya berat. Kresna melihatnya menguap berkali-kali dan akhirnya menghela napas sebelum berkata.
"Cukup dulu untuk malam ini," katanya dengan suara serak. "Masuklah kamar. Kamu butuh istirahat agar bisa berpikir jernih besok pagi. Aku akan terus menyortir data ini sebentar lagi." Cindy menggelengkan kepala. "Tidak! Aku tidak bisa tidur sementara kamu masih bekerja." "Tenang saja, aku sudah terbiasa begadang. Kamu kan bukan orang seperti aku yang bisa bertahan tanpa tidur selama berhari-hari." Kresna berdiri dan menarik kursi yang Cindy tempati. "Pergi tidur! Besok pagi kita akan menguraikan temuan baru yang mungkin aku dapatkan." Tanpa bisa berdebat lebih jauh, Cindy mengangguk dan berdiri. Saat dia berjalan menuju kamar, dia berbalik melihat Kresna yang sudah kembali fokus pada layar laptopnya. "Kamu juga harus istirahat ya," ujarnya pelan sebelum masuk kamar dan menutup pintunya. Namun, Cindy tidak bisa segera tidur. Pikirannya terbagi antara temuan kasus yang belum selesai dan perasaan baru yang tumbuh di hatinya terhadap Kresna. Dia menyadari bahwa selama malam ini, dia tidak lagi melihatnya sebagai seseorang menyebalkan—malahan, dia merasa aman ketika bersama pria itu. Setelah sekitar satu jam berusaha tidur, Cindy memutuskan untuk keluar kamar lagi. Dia menemukan Kresna sudah terlelap di kursi dengan kepalanya tertunduk di atas meja. Beberapa laptop masih menyala, menampilkan baris kode yang belum selesai. Tanpa berpikir panjang, Cindy mengambil selimut dari sofa dan menutupinya pada Kresna yang sedang mendengkur pelan. Saat dia menyesuaikan selimut itu, dia melihat wajah Kresna yang tenang saat tidur. Wajahnya terlihat begitu tenang dan damai. sangat berbeda dengan sikapnya yang kasar dan menyebalkan ketika terjaga. "Aku tidak menyangka kamu bisa terlihat lembut seperti ini," bisik Cindy perlahan sebelum kembali ke kamar. Kali ini, dia bisa tertidur dengan nyenyak. Pagi menyapa melalui celah gorden apartemen, membawa cahaya keemasan yang menerangi debu-debu halus yang menari di atas perangkat elektronik Kresna. Setelah mandi dan merapikan diri Cindy melangkah ke dapur. Ia membutuhkan kesibukan untuk mengalihkan pikirannya dari hal-hal negatif jika gagal mengungkap kebenaran dalam waktu tiga hari. Dan satu hari sudah berlalu, berarti tinggal dua hari lagi waktu yang dia miliki. Bunyi desis mentega di atas teflon dan aroma roti panggang mulai memenuhi ruangan. Cindy sedang mengocok telur saat suara pintu kamar mandi terbuka terdengar. Ia menoleh sekilas, menyangka Kresna akan keluar dengan wajah mengantuk dan rambut berantakan seperti biasanya. Namun, pemandangan di ruang tamu membuat gerakan tangan Cindy terhenti seketika. Kresna keluar dari kamar mandi hanya dengan lilitan handuk di pinggang. Rambutnya basah kuyup, tetesan air mengalir di lehernya, jatuh melewati dadanya yang ternyata bidang. Pria itu berjalan santai menuju sofa—tempat tidurnya semalam—dan tanpa beban mengambil sebuah kaus hitam bersih yang tergeletak di sana. Cindy terpaku di ambang pintu dapur, tangannya masih memegang pengocok telur. Dari posisinya, ia melihat dengan jelas punggung Kresna yang tegap dan berotot, serta garis-garis otot perut yang terbentuk keras saat pria itu merentangkan tangan untuk memakai kaus. 'Astaga, aku tidak mengira dia punya roti sobek seperti itu.' batin Cindy panas dingin. Kresna tidak terlihat seperti seorang peretas yang hanya duduk di depan komputer seharian; tubuhnya lebih mirip seseorang yang rutin melakukan latihan fisik berat. "Kau tahu, Mbak Sekretaris, menatap orang yang sedang ganti baju itu tidak sopan dalam kode etik mana pun," suara Kresna memecah keheningan, nada suaranya penuh dengan nada menggoda yang khas. Cindy tersentak, wajahnya langsung panas hingga ke telinga. Ia segera berbalik kembali ke arah kompor, membalik roti panggang dengan gerakan yang terlalu cepat hingga nyaris gosong. "Aku tidak menatap! Aku hanya... memastikan kau tidak pingsan karena kurang tidur!" Kresna tertawa rendah, suara yang terdengar begitu dekat di belakang Cindy. Pria itu kini sudah mengenakan kausnya dan berjalan ke dapur, aroma sabun segar dan sisa uap air darinya kini mengalahkan aroma mentega. Dan wajahnya yang sudah mandi dan bercukur rapi ternyata jauh lebih tampan untuk dilihat. "Yakin?" Kresna bersandar di konter dapur, menatap Cindy yang mendadak sangat sibuk dengan telur dadarnya. "Wajahmu semerah saus sambal, Cindy. Tapi tenang saja, aku anggap itu pujian untuk kerja keras gim-ku selama tinggal di Singapura." "Sudahlah. Hentikan omong kosongmu, ayo duduk dan makan!" ujar Cindy ketus, berusaha mengembalikan otoritasnya yang barusan runtuh. "Kita punya banyak hal untuk dikerjakan, dan aku tidak mau kau pingsan karena hipoglikemia saat sedang meretas sistem nanti." Kresna menurut, ia duduk di meja makan yang masih penuh dengan kabel, namun kini sudah disisihkan sedikit ruang oleh Cindy agar mereka bisa meletakkan piring. Cindy menyajikan sarapan sederhana namun tertata rapi: telur dadar, roti panggang, dan potongan alpukat. "Wah, presentasinya standar bintang lima," komentar Kresna sambil mulai makan. "Aku biasanya cuma makan sereal langsung dari kotaknya kalau lagi kerja." "Tentu saja. Kualitas adalah segalanya," sahut Cindy. Ia mulai duduk di depan Kresna, berusaha keras tidak memikirkan bayangan tubuh pria itu yang baru saja ia lihat. "Apa kamu berhasil menemukan sesuatu setelah aku tidur kemarin malam?" tanya Cindy sambil mulai menyantap sarapannya. "Kemarin aku melihat seorang sekretaris cantik yang tidur di kasur empuknya. Dengan hanya memakai lingery yang sexy berwarna merah." "Whaaat? Kamu, kamu mengintipku?" Cindy menghardik Kresna karena jawaban vulgarnya. "Tapi tidak, aku kemarin malam hanya memakai kaos dan celana pendek. Tidak ada lingery sexy!" "Hahaha." Kresna tergelak melihat reaksi Cindy. "Yah itu kan cuma harapanku. Siapa tahu kamu mewujudkannya sebagai hiburanku di tengah kode-kode lagoritma yang membosankan." "In Your Dream!" tolak Cindy mentah-mentah. "Aku sudah menemukan sesuatu yang penting," Kresna setelah puas menggoda Cindy. "Tapi kita bisa membahasnya nanti saja. Setelah sarapan pagi untuk mengisi energi." "Baiklah." Cindy pun menurut. "Dan satu lagi, hilangkan imajinasi liar tentang aku di kepalamu." "Oh tidak bisa, sekretaris sexy dengan lingery berwarna merah sudah melekat di hati." "Kamu memang menyebalkan, Kresna!" Dan Kresna tertawa geli sementara Cindy memasang muka manyun sepanjang acara sarapan.Lampu di ruang rapat eksekutif Menara Pradana masih menyala terang, meski jarum jam sudah melampaui angka dua belas malam. Di luar, Jakarta mulai meredup, namun di dalam ruangan ini, denyut nadi kreativitas baru saja dimulai. Ardi Pradana, sang CEO yang biasanya tak gentar menghadapi fluktuasi pasar saham, kini tampak tak berdaya di depan meja jatinya."Bagaimana? Ada ide?" Ardi menagih dengan nada mendesak kepada keempat staf andalannya. Wajahnya yang biasa kaku kini tampak memelas. Sebagai pria yang terbiasa berpikir logis dan strategis, urusan asmara ternyata menjadi titik buta yang membuatnya mentok total. Ia ingin melamar Ella, namun ia tak ingin acara itu terasa seperti sekadar transaksi bisnis yang kaku.Bambang, Kresna, dan Gery saling bertukar pandangan dalam keheningan yang canggung. Kresna lebih paham cara menjebol firewall daripada menyusun buket bunga. Gery lebih mahir menyusun pasal-pasal hukum daripada skenario romantis. Sementara Bambang? Ia hanya bisa memikirkan mak
Lampu neon di lobi Menara Pradana berpendar dingin saat Kresna dan Cindy melangkah masuk dengan napas yang masih memburu. Keduanya tampil kontras dengan lingkungan korporat yang steril itu. Kresna dengan jaket hoodie yang resletingnya belum tertutup sempurna, dan Cindy dengan riasan tipis sisa makan malam yang mulai memudar. Ponsel Kresna tadi bergetar tepat satu menit setelah Cindy menutup telepon dari Ardi. Suara Ardi di seberang sana terdengar sangat mendesak, memerintahkan Kresna untuk tidak membuang waktu satu detik pun. "Kresna, langsung ke lantai 40." Hanya itu yang dikatakan sang CEO sebelum memutus sambungan. Di depan lift eksekutif, mereka bertemu dengan Gery. Sang pengacara perusahaan itu biasanya tampil dengan setelan jas tiga lapis yang kaku, namun malam ini ia hanya mengenakan kemeja putih yang lengan bajunya digulung hingga siku, dasinya sudah dilonggarkan. Wajahnya tampak tegang. "Gery? Kamu juga dipanggil?" tanya Cindy sambil menekan tombol lift. Semakin penasar
Lampu neon di lobi Menara Pradana berpendar dingin saat Kresna dan Cindy melangkah masuk dengan napas yang masih memburu. Keduanya tampil kontras dengan lingkungan korporat yang steril itu; Kresna dengan jaket hoodie yang resletingnya belum tertutup sempurna, dan Cindy dengan riasan tipis sisa makan malam yang mulai memudar. Ponsel Kresna tadi bergetar tepat satu menit setelah Cindy menutup telepon dari Ardi. Suara Ardi di seberang sana terdengar sangat mendesak, memerintahkan Kresna untuk tidak membuang waktu satu detik pun. "Kresna, langsung ke lantai 40. Keamanan tertinggi," hanya itu yang dikatakan sang CEO sebelum memutus sambungan. Di depan lift eksekutif, mereka bertemu dengan Gery. Sang pengacara perusahaan itu biasanya tampil dengan setelan jas tiga lapis yang kaku, namun malam ini ia hanya mengenakan kemeja putih yang lengan bajunya digulung hingga siku, dasinya sudah dilonggarkan. Wajahnya tampak tegang. "Pak Gery? Anda juga dipanggil?" tanya Cindy sambil menekan tombo
Setelah berbulan-bulan terjebak dalam labirin kode, ancaman spionase industri, dan sandiwara profesional di koridor Menara Pradana, hari Sabtu ini terasa seperti sebuah anomali yang indah. Untuk pertama kalinya, ponsel Kresna tidak memuntahkan barisan log peringatan merah, dan agenda Cindy bersih dari jadwal rapat koordinasi Perusahaan Pradana. Apartemen Cindy terletak di lantai dua puluh delapan, sebuah ruang minimalis yang didominasi warna krem dan abu-abu lembut, sangat kontras dengan kepribadiannya yang tajam di kantor. Di sini, tidak ada sekretaris eksekutif yang kaku atau peretas yang waspada. Yang ada hanyalah dua manusia yang mencoba merebut kembali kemanusiaan mereka dari cengkeraman korporat. Siang itu Kresna sengaja berkunjung ke apartemen Cindy sebagai ganti kencan mereka. Mereka menghabiskan hari minggu dengan suasana kesederhanaan yang tenang. Mereka tidak pergi ke mal mewah atau restoran berbintang. Kresna, yang biasanya menghabiskan akhir pekan di depan ti
Lobi Menara Pradana yang biasanya riuh oleh langkah kaki tergesa, pagi ini terasa seperti hamparan air tenang pasca badai. Kasus sabotase siber yang sempat mengguncang gedung itu berakhir dengan antiklimaks yang mengejutkan. Karna Nugroho, sang peretas yang sempat dianggap sebagai ancaman maut, kini duduk di lobi dengan kemeja kasual, menyesap kopi hitam tanpa beban. Tidak ada borgol, tidak ada pengawalan ketat. Di hadapannya, Cindy duduk dengan punggung tegak, sementara Kresna berdiri di sampingnya dengan tangan terlipat di dada, matanya masih memancarkan aura permusuhan yang tidak ditutupi. "Jadi," Kresna memecah keheningan, suaranya rendah dan tajam. "Semua drama pemerasan, foto Anyer, dan penyadapan itu hanya... audisi?" Karna terkekeh pelan, meletakkan cangkirnya. "Bisa dibilang begitu. Pak Irza punya obsesi kecil untuk menemukan 'tulang punggung' terbaik di industri ini. Dia tidak butuh orang pintar, karena orang pin
Pagi itu, suasana di lantai 40 Menara Pradana terasa mencekam, setidaknya bagi mereka yang peka terhadap getaran frekuensi rendah ketegangan siber. Kresna tidak tidur semalaman. Matanya yang merah tersembunyi di balik tudung hoodie, jemarinya masih bergetar kecil karena kelelahan kafein dan amarah yang dingin.Di meja sekretariat, Cindy duduk tegak, memaksakan senyum sopan kepada setiap staf yang lewat. Namun, di bawah meja, jemarinya meremas ponselnya kuat-kuat. Foto infra-merah dari nomor tak dikenal itu masih menghantui galerinya. Ancaman Karna bukan sekadar gertakan; itu adalah serangan presisi pada titik buta emosionalnya.Tepat pukul 09.00, Karna melangkah keluar dari lift. Ia tidak langsung menuju ruang rapat. Ia berhenti di depan meja Cindy, meletakkan sebuah cangkir kopi latte dengan seni latte art berbentuk kunci."Pagi, Mbak Cindy. Sudah siap untuk presentasi audit hari ini?" tanya Karna, suaranya halus seperti sutra yang menyembunyikan sembilu. "Saya harap 'modul' yang ki
"Tidak ada." Ardi menjawab tegas, dan Kresna juga lanjut menegaskan. "Pak Ardi, jika ada sesuatu yang memengaruhi performa kerja Cindy atau saya, Bapak akan menjadi orang pertama yang tahu. Tapi sejauh ini, sistem berjalan sangat optimal. Bahkan lebih baik dari sebelumnya."
Malam itu, SCBD bersinar seperti hamparan berlian yang tumpah di atas aspal Jakarta. Kresna berdiri di depan lobi restoran rooftop itu dengan perasaan yang jauh lebih tidak nyaman daripada saat ia meretas database interpol. Kemeja biru gelap pemberian Cindy terasa terlalu pas di tubuhny
Cindy merasakan tembok pertahanannya runtuh. Ia melihat pria jenius di hadapannya ini tampak begitu rapuh, terjebak dalam rasa tidak aman yang akut. Ia mengulurkan tangannya, ragu sejenak, lalu menyentuh lengan Kresna dengan lembut. "Aku tidak butuh seorang pria yang sempurna
Pertempuran sunyi di Menara Pradana dimulai. Jika sebelumnya lorong-lorong kantor itu menjadi saksi bisu dari tatapan rahasia dan senyum simpul antara sang Sekretaris dan sang Kepala IT, kini atmosfernya berubah menjadi medan perang es yang mencekam. Di kantor, Cindy menjalan







