Share

Membuka Diri

Author: Die-din
last update Last Updated: 2026-01-23 09:10:42

Setelah beberapa jam bekerja tanpa istirahat, mata Cindy mulai berat. Dia melihat Kresna yang masih fokus meneliti setiap detail data dengan kedua mata yang sudah mulai menonjol akibat terlalu banyak menatap monitor.

Meskipun sudah berhasil menyimpan sebagian bukti, mereka masih belum menemukan jejak yang bisa langsung mengaitkan anggota dewan direksi tersebut dengan kasusnya.

"Aku akan membuatkan kamu makanan cepat saji," ujar Cindy pelan, tanpa menunggu jawaban. Dia merasa perlu melakukan sesuatu selain hanya duduk dan menonton Kresna bekerja di depan latar komputer.

Di dapur, Cindy membuka lemari es yang sudah terisi dengan makanan siap saji dan beberapa bahan masakan dasar. Dia memilih untuk membuat mie instan dengan tambahan telur dan sayuran—sesuatu yang cepat namun cukup mengenyangkan.

Sambil menunggu air mulai mendidih, dia merenungkan bagaimana suasana di apartemen ini telah berubah dalam beberapa jam saja.

Awalnya dia melihat Kresna sebagai orang aneh yang harus dihindari. Kemudian berubah menjadi sumber masalah, orang yang membuat hidupnya menjadi kacau. Tapi sekarang, melihat pria itu bekerja dengan penuh dedikasi tanpa pamrih—hanya untuk membayar utang pada Ardi—Cindy merasa ada sisi lain dari pria itu yang tidak pernah dia lihat sebelumnya.

'Mungkin Kresna tidak seburuk itu. Dia hanya seorang inttovet, maniak komputer yang tidak terbiasa bersosialisasi dengan orang lain.'

Tak lama kemudian dua mangkuk mie instan spesial dengan telur dan sayuran telah matang dengan sempurna. Dan Cindy membawanya dengan nampan ke ruang tengah.

"Ayo makan dulu, sebelum kamu pingsan di depan laptop," ujar Cindy saat dia meletakkan mangkuk mie di atas meja yang masih berantakan dengan perangkat elektronik.

Kresna terkejut dan melihat ke arahnya dengan pandangan acuh. Dia mengangkat bahu dan mengambil mangkuk tanpa berkata apa-apa. Namun saat dia mencicipi mie tersebut, wajahnya berubah menjadi sedikit rileks.

"Enak," katanya dengan suara rendah. "Lebih enak dari makanan cepat saji yang biasanya aku beli di warung dekat kost."

Cindy tersenyum kecil dan duduk di sisi lain meja, memakan miliknya sendiri. Mereka makan dalam keheningan yang tidak lagi kaku seperti sebelumnya. Kali ini keheningannya terasa lebih tenang, bahkan nyaman sedikitnya.

Setelah selesai makan, Kresna mulai membersihkan meja sedikit demi sedikit, menggeser perangkat-perangkatnya agar ada ruang yang lebih rapi.

"Kamu tahu, sejak aku bekerja untuk Pak Ardi, belum pernah ada orang yang menawariku makanan," katanya tanpa melihat Cindy. "Semua orang melihatku sebagai orang aneh yang berbahaya."

"Kalau kamu tidak selalu bersikap menyebalkan, mungkin orang lain akan lebih mudah menerima kamu," balas Cindy dengan nada yang tidak terlalu menyakitkan.

Kresna akhirnya menoleh dan tersenyum tipis—suatu hal yang belum pernah dilihat oleh Cindy sebelumnya. "Itu cara aku melindungi diri. Kalau orang benci padaku, mereka tidak akan mendekatiku, mengecohku atau menggunakan aku untuk kepentingan mereka sendiri."

Cindy terdiam mendengar kata-kata itu. Dia mulai memahami bahwa sikap kasar Kresna bukanlah sesuatu yang dia pilih begitu saja. "Aku... aku tidak tahu," ujarnya perlahan. "Aku selalu menganggap kamu aneh, sombong dan tidak peduli dengan orang lain."

"Kalau kamu berada di posisiku, kamu juga akan berpikir dua kali sebelum mempercayai orang," jawab Kresna. Dia kembali menghadap layar, tapi suaraannya menjadi lebih lembut.

"Tapi kamu berbeda, Cin. Kamu benar-benar tidak punya apa-apa yang harus disembunyikan. Aku bisa melihatnya dari cara kamu menjawab semua pertanyaanku."

Cindy terdiam karena panggilan namanya dari Kresna. Bukan lagi panggilan Mbak Sekretaris seperti biasanya. Sepertinya hacker misterius itu sudah mau sedikit membuka diri untuknya.

Malam semakin larut, namun mereka tidak merasa kantuk sama sekali. Cindy mulai lebih aktif membantu Kresna—mencatat informasi penting, membandingkan data dari berbagai sumber, bahkan belajar sedikit tentang cara membaca pola aktivitas digital yang diajarkan oleh Kresna.

"Lihat ini," kata Kresna saat menunjukkan sebuah file pada Cindy. "Pelaku selalu menggunakan akun email sementara yang dibuat dengan nama samaran yang mirip dengan nama kamu."

"Ini menunjukkan bahwa mereka benar-benar mengincarmu khususnya, bukan hanya memilih korban secara acak."

"Kenapa aku?" tanya Cindy dengan suara cemas. "Aku hanya seorang sekretaris eksekutif. Tidak ada alasan bagi seseorang untuk menjatuhkanku."

Kresna diam sejenak sebelum menjawab. "Mungkin karena kamu terlalu dekat dengan Pak Ardi, sang pimpinan tertinggi Pradana Group. Atau mungkin karena kamu tahu sesuatu yang tidak kamu sadari sendiri."

Cindy merenungkan kata-kata itu. Apakah benar dia tahu sesuatu yang bisa membahayakan seseorang? Dia mencoba mengingat semua percakapan yang pernah dia dengar dan dokumen yang pernah dia tangani selama bekerja sebagai sekretaris Ardi.

Saat dia sedang memikirkan hal itu, Kresna secara tidak sengaja menyentuh tangannya lagi saat mereka berusaha mengambil file yang sama. Kali ini, mereka tidak langsung menarik tangan mereka jauh. Kresna melihat mata Cindy dengan tatapan yang lebih lembut dari biasanya.

"Kamu tidak sendirian dalam hal ini, kamu tahu kan?" katanya dengan suara yang hampir tidak terdengar. "Aku akan memastikan kamu tidak akan terjebak dan dipersalahkan untuk sesuatu yang tidak kamu lakukan."

Cindy merasa ada sesuatu yang bergetar di dalam hatinya. Dia tidak bisa menjelaskan dengan pasti apa itu—apakah rasa terima kasih, rasa aman, atau sesuatu yang lebih dalam. Yang dia tahu adalah, dia sekarang merasa nyaman berada di samping pria yang dulu dia anggap sebagai musuh.

"Aku tahu," jawabnya dengan lembut. "Terima kasih, Kresna."

Kresna mengangguk dan menarik tangannya perlahan. "Sekarang, mari kita kembali bekerja. Kita punya banyak hal yang harus diselesaikan sebelum waktu tiga hari itu habis."

Meskipun mereka kembali fokus pada pekerjaan, suasana di antara mereka sudah sama sekali berbeda. Ada rasa saling percaya yang mulai tumbuh, sesuatu yang tidak mereka duga akan muncul dari situasi yang menyakitkan ini. Dan ketika Cindy melihat Kresna yang sedang bekerja dengan serius, dia tidak bisa tidak berpikir—mungkin ini adalah awal dari sesuatu yang baru dalam hidupnya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sekretaris Cantik Vs Mr. Hacker   Pertemuan Dua Arsitek

    Lantai 40 Menara Pradana seketika berubah menjadi medan magnet dengan kutub yang saling menolak. Di balik pintu kayu jati yang kedap suara, udara terasa statis, seolah-olah oksigen di ruangan itu telah diionisasi oleh ketegangan yang dibawa oleh dua tamu tak diundang dari Wismail Group. Kresna berjalan menyusuri lorong marmer dengan langkah yang tidak biasanya ragu. Pesan singkat dari Ardi bukan sekadar instruksi; itu adalah perintah siaga satu. Ia merapikan jaket hoodie hitamnya, mencoba menutupi noda kopi kecil di kaosnya—sisa dari kepanikan serangan dua hari lalu. Di sampingnya, Cindy berjalan dengan langkah tegap, tumit sepatu hak tingginya mengetuk lantai dengan irama yang menenangkan sekaligus mengancam. "Kresna," bisik Cindy pelan sebelum mereka mencapai pintu ganda ruang eksekutif. "Pasang firewall di wajahmu. Jangan biarkan mereka membaca emosimu." Kresna hanya mengangguk tipis. Ia tahu siapa yang ada di dalam. Ia telah menelusuri jejak digital "si penyerang" selama

  • Sekretaris Cantik Vs Mr. Hacker   Kedatangan Wismail

    Pagi itu, atmosfer di lobi Menara Pradana tidak lagi membawa sisa-sisa aroma laut Anyer yang santai. Udara seolah terkompresi, menjadi lebih padat, formal, dan dingin. Pendingin ruangan sentral terasa menusuk hingga ke tulang, sejalan dengan ketegangan yang merayap di antara pilar-pilar marmer setinggi sepuluh meter.Dua sosok pria melangkah masuk melalui pintu putar kaca dengan langkah yang membelah keheningan lobi. Kehadiran mereka segera memedot perhatian para resepsionis yang biasanya sibuk dengan gawai masing-masing. Pria pertama, yang berjalan di depan, adalah perwujudan dari otoritas yang dipoles dengan kemewahan: Irza Wismail, seorang priq yang tinggi, muda dan tampan. Ia mengenakan setelan jas custom-made seharga mobil kelas menengah, dengan senyum tipis yang tidak pernah mencapai matanya—sebuah senyum yang dikalkulasi secara matematis.Di belakangnya, mengikuti seperti bayangan yang lebih gelap, adalah seorang pria berusia awal tiga puluhan. Ia mengenakan kacamata berbingka

  • Sekretaris Cantik Vs Mr. Hacker   Keputusan Mutlak CEO

    Dua hari telah berlalu. Empat puluh delapan jam tanpa tidur penuh. CERBERUS akhirnya menunjukkan sesuatu yang selama ini bersembunyi di balik kabut kode yang berubah-ubah.Kresna menyadari adanya pola yang konsisten. Bukan di bentuk malware-nya. Bukan di struktur enkripsinya. Melainkan di gaya penulisan payload. indentasi, urutan fungsi, dan cara menyamarkan loop rekursif.“Itu tanda tangan,” gumam Kresna pelan.Ia membuka arsip lama. Beberapa bulan lalu, timnya pernah menganalisis percobaan penetrasi sistem dari kompetitor lama—perusahaan teknologi bernama Wismail Corporation.Saat itu hanya uji coba agresif. Tidak pernah terbukti. Namun struktur coding-nya… Sama.Kresna memperbesar layer terakhir hasil dekripsi parsial. Di salah satu modul tersembunyi, ada komentar kecil yang nyaris tak terlihat://wm:rev17Wismail. Revision 17.“I got you,” bisiknya dalam senyum kemenangan.Sore itu, Kresna kembali menggunakan ponsel terenkripsi untuk memberikan laporan kepada sang atasan. Pada der

  • Sekretaris Cantik Vs Mr. Hacker   Hacker sekaligus Stalker

    Kresna duduk ke meja kerjanya menghadap tiga layar monitor sekaligus, melancarkan jurus-jurus hacking tingkat tinggi untuk membobol beberapa sistem keamanan perusahaan Pradana. Beberapa jam berlalu dan baru separuhnya saja proses hacking selesai. Terlalu banyak nama dan instansi yang berhubungan dengan server. Terlalu banyak riwayat invasi yang harus dipilah dan disorting sesuai dengan kriteria yang ditetapkan Kresna sebagai kode hacking. Bagi Kresna tak ada satu sistem keamanan pun yang tidak mungkin dia masuki. Meskipun tentu tidak mudah dan memerlukan banyak waktu agar tidak tertangkap dan dianggap sebagai cyber crime. Ponsel di meja Kresna berdering dan nama 'Big boz' yang terpampang disana. Pak Ardi? Ada apa lagi? Buru-buru Kresna mengangkat dan menerima pangilan itu. "Halo Kresna..." sapa Ardi buru-buru. "Ya pak?" "Kres, kamu bisa tahu lokasi seseorang dari sinyal ponselnya kan?" "Bisa." "Aku pengen kamu lacak dan laporkan tentang keberadaan seseorang setiap jam s

  • Sekretaris Cantik Vs Mr. Hacker   Invasi Siber

    Euforia liburan Anyer masih menggantung di udara Menara Pradana seperti sisa wangi laut yang menempel pada pakaian. Namun, di balik tawa para karyawan yang masih sibuk memamerkan foto matahari terbenam di grup W******p kantor, sebuah predator sedang mengintai dalam kegelapan siber. Pukul 10.00 pagi. Kresna sedang duduk di ruang IT-nya, menyesap kopi hitam ketiga hari itu. Matanya yang sedikit merah menatap layar utama yang menampilkan grafik lalu lintas data perusahaan. Semuanya tampak hijau. Normal. Terlalu normal. Tiba-tiba, sebuah titik merah berkedip di pojok bawah monitor kirinya. Itu adalah honeypot—sebuah server jebakan yang sengaja dipasang Kresna untuk menarik perhatian penyusup amatir. Namun, titik itu tidak hanya berkedip; ia meledak menjadi ribuan baris perintah yang mencoba mereplikasi diri secara eksponensial. "Sial," umpat Kresna, kopinya nyaris tumpah. "Ini bukan serangan brute force biasa. Ini serangan Polymorphic Code." Kresna segera menekan tombol darurat di meja

  • Sekretaris Cantik Vs Mr. Hacker   The Key

    Senin pagi di Menara Pradana pasca-liburan Anyer terasa seperti mesin yang baru saja diminyaki; segalanya berjalan terlalu mulus hingga terasa mencurigakan. Di lobi, para karyawan masih sibuk bertukar cerita tentang serunya permainan Blind Navigation atau betapa cantiknya Dokter Ella malam itu. Namun, bagi Bambang, setiap langkah yang ia ambil di koridor lantai eksekutif terasa seperti berjalan di atas hamparan kulit telur.Bambang masuk ke dalam lift dengan napas yang tertahan. Di dalam, sudah ada Cindy yang tampil sempurna dengan setelan blazer hitam dan rok pensil, serta Kresna yang—seperti biasa—bersembunyi di balik jaket hoodie gelap dan aroma kopi hitam yang kuat."Pagi, Mbak Cindy... Pak Kresna," sapa Bambang dengan nada suara yang sedikit melengking karena gugup."Pagi, Bambang," sahut Cindy tanpa menoleh dari layar tabletnya.Kresna hanya mengangguk singkat. Suasana lift yang sempit itu mendadak terasa seperti ruang interogasi b

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status