Beranda / Romansa / Sekretaris Sexy Milik CEO Dingin / EPISODE 5 BATAS YANG RETAK

Share

EPISODE 5 BATAS YANG RETAK

Penulis: Isabella Hart
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-20 16:00:52

Happy Reading ☺️

Nadira tahu hari itu tidak akan mudah sejak langkah pertamanya memasuki gedung.

Udara terasa berbeda—lebih berat. Bisik-bisik tidak lagi disembunyikan. Beberapa bahkan berhenti tepat saat ia lewat, seolah sengaja ingin memastikan ia mendengar sisa-sisa kalimat yang tertinggal.

Ia memilih fokus. Menyusun map. Menyusun jadwal. Menyusun wajahnya agar tetap netral.

Namun ketika sebuah amplop cokelat diletakkan di atas mejanya, tangannya berhenti.

Di bagian depan, tertulis rapi: Kepada HRD.

Dan di pojok kanan bawah—namanya.

Nadira menghela napas pelan. Ia sudah menduga. Hanya tidak menyangka secepat ini.

Ruang HRD sunyi.

Seorang staf senior membuka berkas dengan hati-hati, ekspresinya profesional namun kaku. “Kami menerima laporan anonim. Isinya… dugaan hubungan tidak profesional.”

Nadira menegakkan punggung. “Tidak ada hubungan di luar pekerjaan.”

“Kami mengerti.” Staf itu menautkan jari. “Tapi kami tetap perlu klarifikasi.”

“Silakan,” jawab Nadira tenang, meski dadanya terasa sesak.

Pertanyaan demi pertanyaan dilontarkan. Semua dijawab. Semua sesuai fakta. Tidak ada yang disembunyikan—karena memang tidak ada yang perlu disembunyikan.

Namun saat pertemuan berakhir, satu kalimat membuat Nadira terdiam.

“Demi meredam situasi, kami menyarankan opsi rotasi atau… pengunduran diri sukarela.”

Nadira tersenyum tipis. “Saya mengerti.”

Keluar dari ruangan itu, langkahnya terasa ringan—terlalu ringan, seperti berjalan di atas kaca tipis yang bisa pecah kapan saja.

Arka sedang menandatangani dokumen ketika pintunya diketuk.

“Nadira,” panggilnya tanpa menoleh.

Ia masuk, berdiri rapi seperti biasa. Terlalu rapi.

“Ada apa?” tanya Arka, akhirnya mengangkat wajah.

Nadira menelan ludah. “Saya dipanggil HRD.”

Arka berdiri seketika. “Apa?”

“Ada laporan,” lanjut Nadira tenang. “Dan saya… mempertimbangkan untuk mengundurkan diri.”

Kata-kata itu jatuh pelan, tapi dampaknya menghantam keras.

“Tidak,” ucap Arka tanpa ragu. “Itu tidak akan terjadi.”

“Niat saya bukan untuk memperkeruh keadaan.”

“Nadira.” Arka mendekat satu langkah. “Kamu tidak bersalah.”

Ia menggeleng. “Tapi nama Bapak ikut terseret.”

Hening.

Arka memejamkan mata sesaat, seolah menahan sesuatu. “Kalau kamu pergi, itu berarti mereka menang.”

Tatapan mereka bertemu. Jarak aman. Tapi emosi sudah melewati garis itu.

“Saya akan bicara dengan HRD,” lanjut Arka tegas. “Sekarang.”

Rapat darurat digelar sore itu.

Arka berdiri di hadapan HRD dan jajaran manajemen dengan sikap dingin yang jarang terlihat. “Laporan ini tidak berdasar.”

“Pak Direktur—”

“Saya minta bukti,” potong Arka. “Bukan asumsi.”

Suasana tegang. Beberapa saling pandang.

“Jika yang dipermasalahkan adalah frekuensi kerja,” lanjut Arka, “maka itu murni profesional. Dan jika reputasi perusahaan menjadi alasan, maka seharusnya kita menindak penyebar gosip, bukan korbannya.”

Kata korban membuat ruangan terdiam.

“Saya bertanggung jawab penuh,” tutup Arka. “Dan saya tidak menerima pengunduran diri Nadira.”

Keputusan itu final.

Namun kemenangan tidak serta-merta membawa lega.

Malamnya, Nadira duduk di kamar dengan lampu redup, menatap ponsel tanpa benar-benar melihat. Pesan dari Arka masuk.

Arka: Besok kita bicara.

Ia membalas singkat. Baik, Pak.

Padahal yang ingin ia tulis jauh lebih panjang.

Keesokan pagi, hujan turun sejak subuh.

Nadira datang lebih awal. Arka sudah ada di ruangannya, berdiri di dekat jendela.

“Duduk,” ucapnya pelan.

Nadira menurut.

“Aku tidak ingin kamu merasa tertekan,” kata Arka, tanpa gelar. “Jika kamu ingin pindah divisi—”

“Saya tidak ingin pergi,” potong Nadira jujur.

Arka menoleh. Ada kelegaan singkat di matanya.

“Tapi,” lanjut Nadira, “saya juga tidak ingin jadi alasan.”

Arka mendekat, berhenti tepat sebelum batas yang seharusnya. “Kamu bukan alasan. Kamu… bagian dari keputusan saya.”

Kalimat itu terlalu jujur.

Nadira menunduk. “Pak Arka, kita harus jaga jarak.”

Arka tersenyum tipis—senyum yang lelah. “Aku tahu. Tapi jarak itu retak sejak gosip pertama.”

Hening kembali mengisi ruangan.

Di luar, hujan semakin deras.

Siang itu, Alina mengirim pesan singkat pada Arka. Aku pergi sore ini.

Arka membaca tanpa membalas.

Namun saat Nadira keluar untuk makan siang, Alina berdiri di dekat lift.

“Kamu bertahan,” kata Alina, tanpa basa-basi.

“Saya hanya bekerja,” jawab Nadira.

Alina mengangguk kecil. “Arka selalu begitu. Jika dia melindungi, dia serius.”

“Apa maksudmu?”

“Masa lalu kami rumit,” ujar Alina jujur. “Tapi satu hal pasti—dia tidak pernah pasang badan seperti ini untuk siapa pun.”

Kalimat itu menempel, tak mau lepas.

Sore menjelang, listrik padam sesaat karena hujan. Lampu darurat menyala redup.

Nadira berada di ruang arsip saat pintu tertutup otomatis.

“Pak?” panggilnya pelan.

Langkah kaki mendekat. “Nadira?”

Arka mendorong pintu. Ruangan sempit. Lampu redup. Jarak terlalu dekat.

“Kamu baik-baik saja?” tanya Arka.

“Iya.”

Keheningan menjadi tebal. Detak jam terdengar terlalu keras.

“Nadira,” ucap Arka rendah. “Aku menahan diri.”

Ia terkejut, menatapnya.

“Menahan untuk tidak melampaui batas,” lanjut Arka jujur. “Tapi hari ini… hampir.”

Nadira menarik napas. “Kalau kita melangkah sekarang, semuanya akan hancur.”

Arka mengangguk pelan. “Aku tahu.”

Tangannya terangkat—berhenti di udara. Tidak menyentuh.

Momen itu menggantung, rapuh, nyata.

Listrik kembali menyala. Lampu terang memecah ketegangan.

Arka menurunkan tangannya. “Maaf.”

“Tidak,” jawab Nadira pelan. “Terima kasih… karena berhenti.”

Malam itu, hujan akhirnya reda.

Nadira pulang dengan perasaan campur aduk—lega, takut, dan sesuatu yang berdenyut hangat di dada.

Di apartemennya, Arka berdiri lama di balkon, menatap kota.

Ia sudah pasang badan.

Sudah memilih berdiri di depan.

Kini ia tahu—

jika perasaan ini terus tumbuh, ia harus memilih:

mundur dengan aman,

atau maju dan menghadapi semua konsekuensinya.

Dan untuk pertama kalinya,

pilihan kedua tidak terdengar menakutkan.

Malam itu, Nadira tidak langsung tidur.

Ia duduk di tepi ranjang, sepatu masih tergeletak di lantai, jas kerjanya tergantung rapi namun terasa seperti beban. Kalimat Alina terus terngiang—dia tidak pernah pasang badan seperti ini untuk siapa pun.

Nadira memejamkan mata.

Kalau begitu… kenapa aku?

Ponselnya bergetar. Sebuah email masuk dari HRD. Singkat, formal.

Subjek: Klarifikasi Internal

Tidak ditemukan pelanggaran etika kerja. Namun, diharapkan semua pihak menjaga profesionalisme.

Nadira menghembuskan napas panjang. Tidak ada sanksi. Tidak ada permintaan mundur. Tapi juga tidak ada rasa aman.

Keesokan paginya, Nadira datang lebih awal dari biasanya.

Ia ingin menyelesaikan semua pekerjaan sebelum pikirannya kembali kacau. Namun saat ia tiba di lantai direksi, suasana justru hening tidak wajar.

Beberapa meja kosong. Grup kantor sunyi.

Tak lama, Arka keluar dari lift. Setelannya rapi, wajahnya tenang—terlalu tenang.

“Kamu ke ruang saya,” ucapnya singkat.

Di dalam, Arka menyerahkan satu map tipis. “Ini evaluasi internal. Bukan untukmu.”

Nadira menatapnya bingung.

“Saya minta audit komunikasi kantor,” lanjut Arka. “Penyebar gosip akan dipanggil.”

“Pak…” Nadira ragu. “Itu bisa memperkeruh.”

“Tidak,” jawab Arka datar. “Ini membersihkan.”

Nada itu membuat Nadira terdiam.

“Dan satu hal lagi,” tambah Arka, suaranya lebih rendah. “Mulai minggu depan, kamu akan ikut saya ke Surabaya untuk meeting klien.”

Nadira terkejut. “Perjalanan dinas?”

“Iya. Tiga hari.”

Ia menimbang cepat. Gosip masih panas. Perjalanan dinas justru bisa disalahartikan.

“Jika kamu tidak nyaman—”

“Saya ikut,” potong Nadira akhirnya. “Selama itu profesional.”

Tatapan Arka melembut sesaat. “Terima kasih.”

Berita perjalanan dinas menyebar lebih cepat dari yang Nadira kira.

Di pantry, seorang staf berujar tanpa sadar, “Berani juga ya ikut Pak Arka ke luar kota.”

Nadira menatapnya lurus. “Itu bagian dari pekerjaan.”

Staf itu terdiam.

Namun di dalam hati, Nadira bergulat. Ia tahu apa pun yang ia lakukan akan terus disorot. Satu kesalahan kecil, semuanya runtuh.

Sore hari, sebelum pulang, Arka menghentikannya di lorong.

“Nadira,” panggilnya pelan. “Tentang perjalanan nanti—”

“Pak,” sela Nadira, menatap langsung. “Saya ingin kita sepakati satu hal.”

Arka mengangguk.

“Di luar jam kerja, kita tetap jaga jarak. Tidak ada makan berdua. Tidak ada hal yang bisa disalahartikan.”

Hening.

“Baik,” jawab Arka akhirnya. “Saya setuju.”

Nada itu profesional. Tapi mata mereka mengatakan hal lain.

Malam sebelum keberangkatan, Nadira kembali ragu.

Ia berdiri di depan koper kecilnya, menimbang apakah semua ini sepadan. Ia membuka ponsel, hampir mengetik pesan pada Arka—lalu menghapusnya.

Di tempat lain, Arka duduk di ruang kerja apartemennya, menatap jadwal perjalanan. Nama Nadira tercantum rapi sebagai pendamping resmi.

Ia tahu, membawa Nadira berarti mengundang spekulasi baru. Tapi membiarkannya sendirian di kantor juga bukan pilihan.

Ini bukan soal gosip, pikirnya.

Ini soal pilihan.

Pagi keberangkatan tiba.

Bandara ramai. Nadira datang tepat waktu, mengenakan pakaian formal sederhana. Arka berdiri beberapa langkah darinya—menjaga jarak, seperti yang disepakati.

Namun saat pengumuman boarding terdengar, koper Nadira tersangkut. Ia hampir kehilangan keseimbangan.

Tangan Arka refleks meraih—lalu berhenti di udara.

“Tidak apa-apa?” tanyanya cepat.

“Iya.” Nadira tersenyum tipis. “Terima kasih… sudah berhenti.”

Arka mengangguk kecil. “Aku belajar.”

Mereka berjalan berdampingan, dengan jarak aman yang terasa semakin rapuh.

Di pesawat, Nadira menatap keluar jendela. Awan membentang luas.

Perjalanan ini seharusnya tentang pekerjaan.

Namun jauh di dalam dirinya, Nadira tahu—

Inilah awal dari ujian yang lebih besar.

Dan Arka, duduk beberapa baris di depannya, tahu satu hal dengan pasti:

menjaga jarak mungkin masih bisa dilakukan…

tetapi menjaga perasaan, tidak lagi sesederhana itu.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Sekretaris Sexy Milik CEO Dingin    EPISODE 35 DI BAWAH SUMPAH DAN KAMERA

    HAPPY READING 🥰 Pagi datang terlalu cepat. Nadira hampir tidak tidur sama sekali. Ia hanya sempat memejamkan mata sebentar sebelum alarm berbunyi, memaksa tubuhnya bangkit di tengah rasa lelah yang masih menggantung. Hari ini bukan hari biasa. Hari ini adalah hari di mana semuanya bisa runtuh—atau justru terbuka. Ia memilih pakaian dengan hati-hati. Bukan untuk terlihat cantik. Bukan untuk terlihat kuat. Tapi untuk terlihat tak tergoyahkan. Setelah menarik napas panjang, Nadira mengambil map berisi dokumen-dokumen yang semalam ia periksa ulang. Bukti transfer, email internal, rekaman rapat, catatan koreksi laporan. Semuanya ada di sana. Semuanya siap. Saat ia keluar dari apartemen, dua orang keamanan perusahaan sudah menunggunya di lobi. “Perintah langsung dari Pak Arka,” kata salah satu dari mereka. Nadira tidak membantah. Ia tahu—hari ini tidak ada yang boleh terjadi secara kebetulan. Gedung pusat Arkadia Group dipenuhi suasana tegang. Bukan hanya karyawan internal. B

  • Sekretaris Sexy Milik CEO Dingin    EPISODE 34 HARGA DARI KEBENARAN

    Happy Reading ☺️Pengumuman resmi keluar pukul sepuluh pagi.Email dari sekretariat dewan masuk serentak ke seluruh jajaran manajerial. Nadira membacanya di ruang proyek sementara—ruangan tanpa jendela, dinding abu-abu, meja lipat yang terlalu bersih untuk disebut nyaman.Keputusan sementara:Audit forensik disetujui.Kewenangan CEO tetap berlaku.Akses tertentu dibatasi selama proses berjalan.Tidak ada nama yang jatuh hari ini.Tidak ada yang menang.Namun semua orang tahu—ini baru permulaan.Ponsel Nadira bergetar.Arka: Kamu baca?Nadira: Sudah.Arka: Tetap di ruanganmu. Jangan menemui siapa pun sendiri.Ia mengunci ponsel, menarik napas dalam-dalam. Baru sepuluh menit berlalu ketika pintu diketuk.Seorang staf keamanan berdiri di ambang. “Mbak Nadira, mohon ikut kami. Ada klarifikasi tambahan.”“Klarifikasi apa?”“Instruksi dari dewan.”Nadira berdiri. “Saya minta perwakilan legal.”Staf itu ragu sepersekian detik. “Permintaan dicatat.”Koridor menuju ruang klarifikasi lebih semp

  • Sekretaris Sexy Milik CEO Dingin    EPISODE 33 SIDANG YANG TIDAK NETRAL

    Happy Reading ☺️Ruang komite etik terletak di lantai tertinggi—dinding kaca, meja oval panjang, dan kursi-kursi kulit yang selalu terasa lebih dingin dari suhu ruangan. Nadira melangkah masuk dengan map hitam di tangan, punggungnya tegak, wajahnya terkendali.Semua mata tertuju padanya.Arka sudah duduk di ujung meja. Tidak menoleh. Tidak memberi isyarat. Jarak itu disengaja—sebuah pementasan yang harus sempurna.Ketua komite membuka sidang tanpa basa-basi. “Agenda kita hari ini adalah klarifikasi dugaan penyalahgunaan kewenangan dan kebocoran data.”Nadira duduk di kursi yang disediakan, tepat di sisi layar presentasi. Ia meletakkan map hitam itu di depannya, menahan dorongan untuk menyentuhnya terlalu sering.“Sebelum kita mulai,” kata salah satu anggota dewan senior, suaranya halus, “kami ingin mendengar dari sekretaris CEO. Mengingat namanya beberapa kali muncul.”Nadira mengangguk. “Saya siap.”Arka tetap diam.Pertanyaan pertama datang seperti peluru kecil—tanggal, akses sistem

  • Sekretaris Sexy Milik CEO Dingin    EPISODE 32 RUANG ARSIP B2

    Happy Reading ☺️Langkah Nadira bergema pelan di lantai beton B2. Udara di ruang arsip terasa lebih dingin, bercampur bau kertas lama dan logam. Lampu neon berkedip samar, membuat bayangan rak-rak besi memanjang seperti jeruji.Ia menghentikan langkah di depan meja kecil tempat map hitam itu tergeletak.Namanya tertulis rapi.Terlalu rapi.Nadira menarik napas, lalu membuka map itu.Di dalamnya tersusun dokumen lama—laporan audit internal, memo rapat, dan salinan kontrak yang ditandai stabilo merah. Tanggal-tanggalnya meloncat ke masa ketika Arka belum menjadi CEO. Nama-nama muncul berulang, beberapa sudah tidak lagi bekerja di perusahaan.Satu foto terjepit di antara kertas-kertas itu.Arka. Lebih muda. Wajahnya lebih keras, sorot matanya tidak setenang sekarang. Di sampingnya, seorang pria yang Nadira kenali dari profil lama di intranet—mantan direktur operasional yang diberhentikan secara mendadak.Di balik foto itu, tertulis tangan:Dia memilih bertahan. Kami yang dikorbankan.Nad

  • Sekretaris Sexy Milik CEO Dingin    EPISODE 31 JARAK YANG DIPERTONTONKAN

    Happy Reading ☺️Pagi datang terlalu cepat.Nadira tiba di kantor lebih awal dari biasanya. Rambutnya terikat rapi, riasan wajahnya tipis dan netral—nyaris seperti perisai. Ia berjalan lurus menuju mejanya tanpa menoleh ke arah ruang kerja Arka di ujung koridor.Lift eksekutif terbuka.Arka keluar dengan langkah mantap. Jasnya sempurna. Wajahnya dingin. Tidak ada satu pun tanda bahwa malam tadi pernah terjadi.“Pagi,” ucapnya datar saat melewati Nadira.“Pagi, Pak.”Tidak ada tatapan. Tidak ada jeda.Profesionalitas dipertontonkan dengan rapi—terlalu rapi.Namun Nadira bisa merasakannya: kehadiran Arka yang menekan, seperti medan magnet yang dipaksa saling menjauh.Rapat dewan dimulai pukul sembilan.Nadira duduk di sisi ruang, laptop terbuka, fokus pada notulen. Satu per satu direktur datang, termasuk Alena—dengan senyum yang terlalu percaya diri.“Pagi, Nadira,” sapa Alena ringan. “Kamu terlihat… segar.”Nadira membalas dengan senyum formal. “Terima kasih.”Arka masuk terakhir. Ruan

  • Sekretaris Sexy Milik CEO Dingin    EPISODE 30 GARIS YANG TAK LAGI DIJAGA

    Happy Reading ☺️Hujan turun pelan ketika Nadira melangkah keluar dari lift lantai eksekutif. Kantor hampir sepenuhnya gelap, hanya beberapa lampu meja yang masih menyala—tanda orang-orang penting yang belum selesai dengan urusannya.Langkahnya terhenti di depan ruang kerja Arka.Pintu tidak tertutup rapat.Ia bisa saja berbalik. Menunggu besok. Bersikap profesional seperti beberapa hari terakhir yang terasa menyiksa.Namun Nadira justru mengetuk pelan, lalu mendorong pintu.Arka berdiri membelakanginya, menatap kota dari balik dinding kaca. Jasnya tergantung di sandaran kursi, lengan kemejanya tergulung, dasinya entah diletakkan di mana. Sosoknya terlihat lebih manusia malam ini—lelah, tapi penuh tekanan yang belum dilepaskan.“Maaf,” ujar Nadira pelan. “Saya kira Bapak sudah pulang.”Arka menoleh.Tatapan mereka bertemu, dan ada jeda sepersekian detik yang terlalu panjang untuk disebut kebetulan.“Kamu masih di sini,” katanya. Bukan pertanyaan.Nadira mengangguk. “Laporan terakhir s

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status