LOGINHappy Reading ☺️
Pagi itu, Nadira tahu ada yang berubah. Ia merasakannya sejak melangkah masuk ke lobi kantor—tatapan-tatapan yang terlalu cepat berpaling, bisik-bisik yang terpotong setengah kalimat, dan senyum tipis yang terasa dipaksakan. Semua tampak rapi di permukaan, tapi ada riak halus yang tak bisa ia abaikan. Ia menghela napas, menegakkan bahu. Kerja saja. Jangan pikirkan yang lain. Di meja kerjanya, ia membuka agenda hari itu. Belum sempat menyusun prioritas, ponsel kantor bergetar. “Nadira,” suara Arka terdengar dari interkom. “Ke ruangan saya.” “Baik, Pak.” Begitu pintu tertutup, Arka berdiri di dekat jendela, punggungnya menghadap kota yang masih diselimuti sisa hujan. Ia berbalik ketika Nadira masuk. “Hari ini akan ada tamu,” ucapnya singkat. “Saya butuh kamu standby.” “Investor?” Arka menggeleng. “Bukan.” Nada itu membuat Nadira menahan pertanyaan. Ia mengangguk dan mencatat. “Dan satu hal lagi,” tambah Arka, matanya menatap Nadira lebih lama dari biasanya. “Jangan menanggapi apa pun yang kamu dengar.” Nadira ragu. “Maksud Bapak…?” “Gosip,” jawabnya datar. “Biarkan.” Ia mengangguk. “Baik, Pak.” Namun begitu ia kembali ke mejanya, dua rekan kerja yang sedang berbincang langsung terdiam. Nadira pura-pura fokus, meski telinganya menangkap potongan kalimat. “…katanya sering pulang bareng…” “…Pak Arka jarang begitu…” Nadira menelan ludah. --- Menjelang siang, seorang perempuan melangkah masuk ke lantai direksi. Tinggi, elegan, dengan setelan krem dan senyum percaya diri. Rambutnya tergerai rapi, langkahnya mantap seolah tempat itu bukanlah wilayah asing. Resepsionis terlihat gugup. “Selamat siang, Mbak. Ada yang bisa saya bantu?” “Aku ke ruang Arka,” jawab perempuan itu ringan. “Kami janji bertemu.” Nama itu jatuh begitu saja, tanpa gelar. Nadira yang kebetulan berdiri di dekat sana menoleh. Pandangan mereka bertemu. Perempuan itu tersenyum tipis—senyum yang terlatih. “Kamu sekretarisnya?” tanyanya ramah. “Iya,” jawab Nadira sopan. “Ada keperluan—” “Aku Alina,” potongnya. “Mantan rekan bisnis Arka.” Kata mantan itu bergema aneh. Nadira mengangguk pelan. “Silakan, saya antar.” Di sepanjang koridor, Alina berjalan di sampingnya dengan santai. “Arka terlihat baik akhir-akhir ini.” Nadira memilih diam. “Kamu dekat dengannya?” tanya Alina, seolah sedang membicarakan cuaca. “Saya bekerja profesional,” jawab Nadira hati-hati. Alina tersenyum. “Jawaban aman.” --- Begitu pintu ruang Arka terbuka, pria itu tampak terkejut—sesaat saja, tapi cukup untuk terlihat. “Alina.” “Halo, Arka.” Alina membuka tangan kecil, tidak sampai memeluk. “Lama tak bertemu.” Arka mempersilakan duduk. “Ada apa?” “Aku di kota. Kupikir kita bisa bicara.” Arka melirik Nadira. “Kamu bisa tunggu di luar.” Nadira mengangguk. Saat ia menutup pintu, suara Alina masih terdengar samar—ringan, penuh percaya diri. Di luar, beberapa karyawan melirik penasaran. Jadi ini sumbernya, pikir Nadira. --- Waktu berjalan lambat. Terlalu lambat. Nadira mencoba fokus, namun pikirannya berputar. Siapa Alina? Mengapa Arka terlihat… tidak nyaman? Dan kenapa ia merasa dadanya mengencang oleh sesuatu yang tidak berhak ia rasakan? Pintu terbuka. Alina keluar terlebih dulu, menatap Nadira dengan senyum kecil. “Kamu cekatan,” katanya. “Jaga Arka baik-baik.” Kalimat itu terdengar seperti pujian—atau peringatan. Nadira tersenyum sopan. “Terima kasih.” Alina pergi. Beberapa detik kemudian, Arka memanggilnya masuk. Arka duduk dengan siku bertumpu di meja, wajahnya lelah. “Kamu dengar apa pun?” “Tidak, Pak.” Ia mengangguk. “Bagus.” Ada hening singkat. “Alina,” ucap Arka akhirnya, “adalah bagian dari masa lalu yang tidak ingin saya ulangi.” Nadira terkejut. “Maaf, Pak. Saya tidak bermaksud—” “Saya tahu.” Arka menghela napas. “Saya hanya ingin kamu tahu… agar kamu tidak salah menafsirkan.” Kenapa beliau merasa perlu menjelaskan? Nadira mengangguk pelan. “Saya mengerti.” --- Sore hari, gosip itu benar-benar menyebar. Di pantry, dua karyawan berbisik tanpa menyadari kehadiran Nadira. “Katanya mantannya datang.” “Pantas Pak Arka protektif.” Nadira meletakkan cangkirnya dengan hati-hati. “Permisi.” Mereka terdiam, wajah memerah. Di mejanya, pesan singkat masuk dari Arka. Arka: Pulanglah tepat waktu hari ini. Nadira membalas singkat. Baik, Pak. Namun saat jam menunjukkan pukul enam, hujan kembali turun deras. Nadira berdiri ragu di lobi, menunggu reda. Mobil hitam berhenti di depannya. “Kamu naik,” kata Arka dari balik jendela yang terbuka. “Pak, saya bisa—” “Hujan.” Satu kata. Tegas. Ia menurut. Di dalam mobil, keheningan terasa tebal. Hujan memukul kaca seperti ritme yang tak sabar. “Alina akan pergi besok,” ucap Arka tanpa menoleh. “Dia datang hanya untuk menutup urusan lama.” Nadira menatap ke depan. “Baik, Pak.” “Dan soal gosip…” Arka berhenti sejenak. “Saya akan mengurusnya.” “Tidak perlu, Pak. Saya—” “Perlu.” Nada Arka tegas. “Saya tidak membiarkan reputasi kamu terganggu.” Kata kamu terdengar personal. Mobil berhenti di depan kos Nadira. Hujan belum reda. “Nadira,” panggil Arka saat ia hendak turun. Ia menoleh. “Jika ada yang membuatmu tidak nyaman—apa pun—katakan.” Tatapan mereka bertemu. Jarak aman, namun perasaan melompat jauh melewati garis itu. “Iya, Pak,” jawab Nadira pelan. Ia turun dan menutup pintu. Mobil itu pergi, meninggalkan Nadira dengan hujan, dingin, dan perasaan yang semakin sulit ia abaikan. Di dalam mobil, Arka menggenggam kemudi lebih erat. Masa lalu telah mengetuk pintu. Gosip telah membuka celah. Dan kini, ia tahu satu hal dengan pasti— Perasaannya pada Nadira bukan lagi sekadar naluri melindungi. Itu adalah sesuatu yang, jika dibiarkan, akan mengubah segalanya. Malam itu, Nadira tidak langsung naik ke kamarnya. Ia berdiri di bawah kanopi kecil kos, menatap hujan yang masih turun tipis. Kata-kata Arka terus terulang di kepalanya—Saya tidak membiarkan reputasi kamu terganggu. Entah sejak kapan, perhatian pria itu mulai terasa lebih berat dari sekadar hubungan atasan dan bawahan. Ia menghela napas panjang sebelum akhirnya masuk. --- Keesokan harinya, suasana kantor justru semakin panas. Nadira baru duduk lima menit ketika pesan masuk bertubi-tubi di grup internal divisi administrasi. Sebagian besar sudah dihapus, tapi cukup untuk menyisakan jejak. “Katanya sekretaris baru dekat sama Pak Arka.” “Kemarin mantan Pak Direktur datang loh.” “Pantesan…” Nadira mematikan layar. Tangannya sedikit gemetar, tapi ia memaksa diri tetap tenang. Ia berdiri, membawa map ke ruang Arka seperti biasa. Namun sebelum sampai, seorang manajer senior menghadangnya. “Nadira,” panggilnya dengan senyum yang terlalu dibuat-buat. “Pak Arka ada di ruang rapat. Kamu tunggu sebentar.” “Iya, Pak.” Saat ia berbalik, bisikan kembali terdengar. “Kamu lihat caranya jalan?” “Percaya diri banget.” “Pasti ada apa-apa.” Nadira menggenggam mapnya lebih erat. --- Di dalam ruang rapat, Arka sedang membahas laporan penting bersama jajaran direksi. Tapi fokusnya buyar. Ia melihat layar ponselnya—nama Nadira muncul beberapa kali, tak jadi menelepon. Begitu rapat selesai, ia langsung berdiri. “Saya izin,” ucapnya singkat, mengabaikan tatapan heran yang lain. Saat pintu lift terbuka, ia melihat Nadira berdiri di lorong, sendirian. Wajahnya tetap tenang, tapi Arka tahu—ketenangan itu rapuh. “Kamu ikut saya,” katanya pelan. Tanpa menunggu jawaban, Arka berjalan menuju ruangannya. Nadira mengikutinya. Begitu pintu tertutup, Arka menoleh. “Apa yang terjadi?” “Tidak ada, Pak,” jawab Nadira otomatis. Arka menatapnya lama. “Jangan bohong.” Hening. Akhirnya Nadira mengangkat wajah. “Saya hanya ingin bekerja dengan baik. Itu saja.” Arka menghela napas. “Saya tahu.” Ia berjalan mendekat, berhenti di jarak aman. “Tapi lingkungan ini tidak selalu adil.” Nada suaranya berubah lebih rendah. “Dan saya tidak akan membiarkan kamu menanggung hal yang seharusnya menjadi tanggung jawab saya.” Nadira menelan ludah. “Pak Arka—” “Mulai hari ini,” potong Arka tegas, “semua koordinasi penting langsung lewat saya. Tidak ada lagi yang berani bicara sembarangan.” Keputusan sepihak itu membuat Nadira terkejut. “Itu bisa memicu lebih banyak gosip.” “Biarkan,” jawab Arka dingin. “Saya yang hadapi.” --- Keputusan itu benar-benar mengubah dinamika kantor. Arka terlihat semakin sering memanggil Nadira—secara profesional, terbuka, tapi konsisten. Tidak ada sentuhan. Tidak ada kata berlebihan. Namun justru itulah yang membuat orang-orang semakin memperhatikan. Dan Nadira… mulai merasa semakin sulit menjaga jarak emosional. Siang itu, saat mereka berdiskusi di ruang kerja Arka, jarak kursi terlalu dekat. Nadira bisa mencium aroma kopi pahit di napasnya. “Kamu gemetar,” kata Arka tiba-tiba. Nadira tersentak. “Tidak, Pak.” Arka menurunkan suaranya. “Kamu tidak harus kuat sendirian.” Kalimat itu sederhana. Tapi cukup untuk membuat Nadira menunduk, menyembunyikan getaran di dadanya. --- Sore hari, Alina kembali muncul—kali ini di lobi, berpapasan langsung dengan Nadira. “Sepertinya gosip kantor cukup kejam,” ujar Alina santai. Nadira menatapnya. “Saya tidak terlibat.” “Aku tahu.” Alina tersenyum kecil. “Justru itu yang berbahaya.” Sebelum Nadira sempat bertanya, Alina melangkah pergi. Beberapa detik kemudian, Arka muncul dari lift. Wajahnya mengeras saat melihat ke arah Alina yang menjauh. “Kamu bicara dengannya?” tanya Arka. “Sedikit.” Arka mengangguk, rahangnya mengeras. “Mulai sekarang, kamu tidak perlu berurusan dengan masa lalu saya.” Nada itu bukan perintah. Lebih seperti janji. --- Malam itu, Nadira pulang lebih larut. Saat ia membuka pintu kamarnya, ponselnya bergetar. Arka: Pastikan kamu sudah sampai dengan aman. Ia menatap layar cukup lama sebelum membalas. Nadira: Sudah, Pak. Terima kasih. Jawaban singkat. Aman. Namun Nadira tahu, sesuatu telah berubah. Dan Arka—yang duduk sendirian di apartemennya—menyadari hal yang sama. Jika ini terus berlanjut, batas profesional itu akan runtuh. Bukan karena skandal. Melainkan karena perasaan yang tak lagi bisa disangkal. Dan kali ini… ia tidak yakin ingin menghentikannya.Happy Reading ☺️Gedung kantor mulai sepi ketika jam menunjukkan hampir pukul sembilan malam.Lampu-lampu sebagian telah dimatikan, menyisakan lorong panjang dengan cahaya redup yang terasa lebih sunyi dari biasanya. Nadira duduk di mejanya, menatap layar komputer tanpa benar-benar membaca apa pun.Pintu ruang CEO masih tertutup.Dan entah kenapa, justru itu yang membuat dadanya terasa sesak.Beberapa menit kemudian, pintu itu terbuka.“Nadira.”Ia menoleh. Arka berdiri di ambang pintu, jasnya sudah dilepas, dasi dilonggarkan. Tampilan yang jarang ia lihat—lebih manusiawi, lebih berbahaya.“Kamu belum pulang,” katanya.“Bapak juga,” jawab Nadira pelan.Arka melangkah keluar dan menutup pintu ruangannya kembali. Kali ini, ia tidak kembali ke kursi CEO. Ia justru berjalan mendekat ke meja Nadira.“Kamu bisa pulang,” katanya, namun nada suaranya tidak benar-benar menyuruh.Nadira menelan ludah. “Tadi Bapak bilang… ada yang perlu dibicarakan.”Arka berhenti tepat di depannya.“Aku tidak i
Happy Reading ☺️Malam itu, hujan turun tanpa peringatan.Nadira masih duduk di kursinya ketika jam dinding menunjuk angka delapan. Lantai eksekutif sudah lengang. Lampu-lampu meja menyala temaram, meninggalkan bayangan panjang di koridor.Pintu ruang Arka masih tertutup.Ia menutup laptop, merapikan agenda, lalu berdiri. Baru dua langkah melangkah, suara pintu terbuka membuatnya berhenti.Arka Mahendra keluar dari ruangannya.Jasnya sudah dilepas. Kemeja putihnya digulung hingga siku. Rambutnya sedikit berantakan—tidak seperti biasanya.“Kamu belum pulang?” tanyanya.Nadira menoleh. “Saya menunggu Bapak. Ada berkas yang perlu ditandatangani.”Arka mendekat. Jarak mereka kini terlalu dekat untuk disebut profesional.“Besok saja,” ucapnya pelan. “Hujan.”Seolah itu alasan yang cukup.Nadira ragu. “Saya bisa pulang sendiri, Pak.”Tatapan Arka turun sejenak—ke jemarinya yang masih menggenggam map—lalu kembali naik ke wajahnya.“Saya tidak mengulang perintah,” katanya.Nada itu tidak kera
Happy Reading ☺️Pagi itu hujan turun tipis sejak subuh, membasahi kaca gedung Mahendra Group dengan gurat-gurat air yang bergerak pelan. Nadira tiba lebih awal dari biasanya, mantel tipisnya masih lembap saat ia menggantung tas di kursi.Ia menarik napas panjang.Sudah hampir tiga minggu ia bekerja sebagai sekretaris pribadi Arka Mahendra, dan entah sejak kapan jantungnya mulai berdetak berbeda setiap kali pintu lift terbuka.Belum sempat ia menyalakan laptop, pintu ruang direktur utama terbuka.Arka keluar dengan jas abu gelap, rambut rapi, ekspresi dingin yang selalu sama—namun matanya berhenti sesaat ketika melihat Nadira sudah duduk di meja.“Kamu datang lebih pagi,” ucapnya.“Iya, Pak. Hujan, jadi saya berangkat lebih cepat.”Arka mengangguk singkat. “Bagus.”Satu kata itu selalu terdengar sederhana. Namun dari Arka Mahendra, kata bagus adalah bentuk persetujuan tertinggi.Ia masuk ke ruangannya tanpa menoleh lagi.Nadira baru saja membuka agenda hari ini ketika interkom menyala
Happy Reading ☺️Malam itu, kantor Mahendra Group sudah jauh lebih lengang dari biasanya.Lampu-lampu di lorong sebagian telah dimatikan, menyisakan cahaya putih redup yang membuat suasana terasa lebih sunyi. Nadira masih duduk di mejanya, menatap layar laptop dengan mata sedikit lelah. Notulen rapat hari itu hampir selesai, hanya perlu satu kali pengecekan terakhir sebelum dikirim.Di dalam ruang Direktur Utama, Arka belum keluar sejak satu jam lalu.Biasanya, Nadira tidak terlalu memikirkan jam pulang Arka. Namun entah sejak kapan, ia mulai otomatis memperhatikan—lampu ruangannya masih menyala, pintu belum terbuka, dan tidak ada tanda-tanda ia akan meninggalkan kantor dalam waktu dekat.Nadira menarik napas pelan, lalu kembali fokus.Beberapa menit kemudian, pintu kaca buram itu akhirnya terbuka.“Nadira.”Ia mendongak. Arka berdiri di ambang pintu, jasnya sudah dilepas, dasi sedikit dilonggarkan. Wajahnya tetap datar, tapi terlihat lebih lelah dari biasanya.“Iya, Pak?”“Kamu masih
Happy Reading☺️Pagi datang dengan langkah yang terlalu cepat bagi Nadira.Ia berdiri di depan cermin kamar mandi, merapikan kerah kemejanya yang sederhana. Rambutnya diikat rapi, wajahnya tampak tenang—setidaknya di permukaan. Namun ada sesuatu di balik tatapannya yang berbeda dari hari-hari sebelumnya.Ia tidak lagi sekadar bersiap untuk bekerja.Ia bersiap untuk menghadapi dirinya sendiri.Lift kantor membawa Nadira naik dalam diam. Beberapa karyawan masuk dan keluar, menyapanya singkat. Ia membalas dengan senyum profesional yang sudah menjadi kebiasaan. Namun jantungnya berdetak sedikit lebih cepat saat lantai tujuan semakin dekat.Pintu lift terbuka.Langkah pertamanya keluar terasa lebih berat dari biasanya.Di meja resepsionis, semuanya terlihat normal. Aroma kopi, suara keyboard, dan percakapan ringan mengisi ruangan. Namun Nadira tahu, hari ini tidak akan sesederhana itu.Ia berjalan ke mejanya dan mulai menyalakan komputer. Belum sempat duduk sepenuhnya, suara tenang itu ter
Happy Reading ☺️ Pagi datang tanpa permisi. Nadira terbangun sebelum alarm berbunyi, matanya langsung menatap langit-langit kamar hotel. Cahaya pucat menyelinap lewat celah tirai, terlalu terang untuk pikirannya yang belum siap menghadapi hari. Ia bangun perlahan, seolah gerakan terlalu cepat bisa memecahkan sesuatu di dalam dadanya. Malam tadi masih menempel—bukan sebagai kejadian, melainkan sebagai jarak. Jarak yang terasa lebih intim daripada sentuhan. Di kamar mandi, Nadira menatap pantulan dirinya sendiri. Wajahnya terlihat biasa saja, tapi ada sesuatu di matanya yang berubah. Lebih waspada. Lebih jujur. Ia menyadari satu hal sederhana yang terlalu lama ia abaikan: menahan perasaan ternyata juga bentuk pengakuan. Sarapan berlangsung sunyi. Mereka duduk berhadapan di meja panjang restoran hotel. Ada kopi, roti panggang, dan obrolan ringan tentang jadwal hari ini. Semuanya terdengar normal. Terlalu normal. Namun di sela bunyi sendok dan cangkir, ada kata-kata yang







