Share

Bab 4

Penulis: Silas
Setelah semua barang selesai kukemas dan kukirim, seluruh tenagaku seolah ikut terkuras. Aku terduduk lemas di sofa.

Aku mengirim beberapa pesan kepada Nadya, tetapi tak satu pun dibalas.

Baru menjelang sore, dia meneleponku lewat panggilan video.

Begitu kuangkat, pemandangan di layar terasa begitu familier.

Dia berada di kantor Ayah, tempat aku tumbuh besar.

Ibu meninggal saat aku masih kecil. Sejak itu Ayah tak pernah menikah lagi dan membesarkanku seorang diri.

Karena tak ingin aku kesepian di rumah, ke mana pun pergi Ayah selalu membawaku.

"Nadya, kenapa kamu ada di Grup Winata?"

Nadya menoleh ke sekeliling, lalu mengamati ruangan itu.

"Tante ngomong apa, sih? Ini kantor Papa, kok."

"Sekarang ini perusahaan Papa. Grup Winata sudah lama nggak ada."

Dadaku seolah ditusuk ribuan jarum hingga terasa sesak.

"Nadya, kamu anak pintar, 'kan? Kamu tahu apa yang sebenarnya terjadi?"

Mendengar pujian itu, dia langsung bercerita tanpa curiga.

"Tahu dong. Papa pernah cerita semuanya. Kakek dari Grup Winata nyerahin semua proyeknya ke Papa. Terus Kakek melakukan kesalahan sampai ditangkap polisi, lalu nggak lama kemudian meninggal di penjara."

Mustahil.

Ayah adalah orang yang paling menjunjung kejujuran. Demi keuntungan sebesar apa pun, beliau tak mungkin melakukan sesuatu yang melanggar hati nuraninya, apalagi sampai melanggar hukum.

Suaraku bergetar saat bertanya lagi, "Lalu ... setelah itu?"

"Habis itu perusahaan ini jadi milik Papa."

"Tante lupa, ya? Dulu Tante sering datang ke kantor Papa sambil nangis dan bilang Papa harus membayar nyawa Kakek."

Aku memejamkan mata. Air mata menetes satu per satu membasahi layar ponsel.

Sejak awal Ayah memang tidak pernah menyukai Joel. Berkali-kali Ayah mengatakan pria itu terlalu licik.

Ayah bahkan pernah mengurungku di kamar agar aku tidak menemuinya.

Namun demi Joel, aku nekat melompat dari balkon lantai tiga hingga tulang betisku hancur.

Pada akhirnya, hati Ayah tetap luluh demi melihatku bahagia.

Tak pernah terlintas sedikit pun bahwa karena mencintai orang yang salah, aku justru akan menyeret Ayah menuju kematian.

Dengan mata sembab, aku pulang ke rumah.

Ayah sedang menyiapkan makan malam. Di atas meja sudah tersaji beberapa hidangan, sementara Ayah duduk sendirian menungguku.

Pemandangan sederhana itu membuat mataku kembali memanas.

Begitu mendekat, kusadari semua masakan di meja adalah makanan kesukaanku.

Dadaku terasa sesak. Aku mencengkeramnya erat sambil mati-matian menahan tangis.

Saat melihatku datang, wajah Ayah langsung dipenuhi senyum bahagia.

"Putri Ayah sudah pulang."

"Bibi Santi, tolong tambah lagi masakan kesukaan Fiona."

Aku duduk di hadapan meja makan, menatap hidangan itu dengan hati yang dipenuhi rasa bersalah.

Sambil menyendok nasi, aku bertanya lirih, "Yah, kenapa Ayah masak makanan yang Ayah sendiri nggak suka? Bukannya Ayah paling nggak suka makanan manis?"

Ayah mengusap kedua tangannya sambil tersenyum canggung.

"Ayah selalu berharap kamu pulang makan di rumah, tapi Ayah nggak pernah tahu kapan kamu akan pulang. Makanya setiap hari Ayah masak makanan kesukaanmu. Jadi kapan pun kamu pulang, makanannya sudah siap."

Aku menunduk. Air mata jatuh satu demi satu ke atas nasi, meninggalkan rasa asin yang menusuk hati.

Rupanya selama ini Ayah selalu menunggu seperti itu.

Hari demi hari, entah sudah berapa lama dia menjalaninya seorang diri.

"Yah, mulai sekarang aku akan dengar semua perkataan Ayah."

"Aku nggak akan keras kepala lagi."

Ayah menatapku penuh kasih, lalu terus menyendokkan lauk ke mangkukku sampai hampir meluap.

Sebelum pulang, aku berulang kali mengingatkannya agar berhati-hati terhadap Joel.

Setelah itu aku kembali ke rumah untuk mengambil dokumen penting sebagai persiapan berangkat ke luar negeri keesokan harinya.

Begitu tiba di depan rumah, sebuah truk pindahan sudah terparkir di sana. Para pekerja sibuk mengangkut barang ke dalam.

Olivia langsung berlari menghampiriku begitu melihatku.

"Fiona! Aku kangen banget sama kamu!"

Joel berdiri di belakangnya dengan sigap menopang tubuh Olivia, seolah takut dia terjatuh.

Namun saat tatapannya bertemu denganku, dia buru-buru menarik tangannya kembali.

"Fiona, aku cuma takut dia nabrak kamu. Kamu tahu sendiri dia ceroboh."

Olivia tertawa sambil memukul pelan lengannya.

Lalu dia merangkul lenganku dengan akrab. "Aku bawa kabar baik. Mulai sekarang aku pindah ke sini, tinggal bareng kalian. Kalau Joel berani bikin kamu sedih lagi, aku sendiri yang bakal menghajarnya."

Joel ikut tertawa. "Belum tentu siapa yang menghajar siapa. Hati-hati, nanti kamu malah masuk rumah sakit lagi."

Seperti biasa, mereka kembali saling bercanda dan berdebat. Kali ini aku tak lagi berniat melerai.

Melihat mereka tertawa bersama, hatiku justru terasa benar-benar mati.

Aku melepaskan rangkulan Olivia, masuk ke dalam mengambil dokumen-dokumenku, lalu kembali ke depan pintu.

Dengan suara datar aku berkata, "Nggak perlu. Rumah ini, kalian saja yang tempati."

Setelah mengatakan itu, aku berbalik hendak pergi.

Olivia buru-buru menarik lenganku.

"Jangan, Fiona. Jangan marah. Aku nggak jadi pindah, deh. Jangan kayak gini."

Belum sempat aku melepaskan diri, Joel sudah mendorongku menjauh.

Dia menarik Olivia masuk ke dalam rumah sambil berkata dengan nada tak sabar,

"Sudahlah, nggak usah pedulikan dia. Udah sebesar ini masih saja bikin ulah. Kalau memang nggak mau tinggal di sini, sekalian saja jangan pernah balik."

Setelah mengucapkan itu, dia membanting pintu tepat di hadapanku.

Aku menatap pintu yang kini tertutup rapat. Bersamaan dengan itu, sisa kehangatan terakhir di hatiku ikut lenyap.

Tentu saja aku tidak akan kembali lagi.

Besok aku akan berangkat ke kantor cabang luar negeri.

Sayangnya, aku tak bisa melihat sendiri wajah Joel saat proyek yang diincarnya lepas dalam rapat tender besok.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Selamat Tinggal, Mimpi Lama   Bab 9

    Begitu keluar dari bandara, Joel langsung menuju kantorku.Dia menunggu hingga malam. Saat aku dan Dennis keluar dari gedung perusahaan, barulah akhirnya dia melihat kami.Kami masih berjalan berdampingan sambil tertawa dan berdebat soal rencana kerja hari itu.Begitu melewati pintu keluar, langkah Dennis tiba-tiba terhenti.Aku mengikuti arah pandangannya dan melihat sosok yang begitu kukenal.Joel berdiri di bawah lampu jalan, menatapku tanpa berkedip.Refleks aku hendak berbalik ke arah lain. Namun Joel berlari menghampiri, bahkan nyaris tertabrak mobil yang melintas.Dia mencengkeram pergelangan tanganku begitu erat hingga terasa nyeri."Joel! Apa sebenarnya maumu?""Bukannya kamu sendiri yang nyuruh aku pergi? Aku sudah pergi. Lalu sekarang kenapa kamu malah datang nyari aku?"Matanya merah karena kelelahan. Tatapannya dipenuhi kepanikan.Dia buru-buru menggeleng. "Fiona, jangan begini. Aku tahu aku salah.""Pulanglah sama aku. Aku janji semua ini nggak akan terulang lagi. Olivia

  • Selamat Tinggal, Mimpi Lama   Bab 8

    Joel terdiam selama beberapa detik, seolah sengaja menungguku bertanya lebih banyak.Entah sejak kapan, dia mulai merindukan suaraku.Hanya mendengarnya sebentar saja sudah membuat hatinya merasa lebih tenang."Fiona, jangan marah lagi, ya. Cepat pulang.""Sekarang aku benar-benar butuh kamu."Aku hanya tertawa sinis. Di matanya, rupanya aku tak lebih dari seseorang yang bisa dipanggil kapan pun dia mau.Begitu dia merasa membutuhkan, aku harus selalu ada di sisinya.Keheninganku malah disalahartikan oleh Joel. Dengan suara yang jarang sekali selembut itu, dia kembali berkata, "Fiona, setelah semua ini selesai, aku akan menebus semuanya. Soal foto pernikahan yang dulu kamu inginkan, mau konsep tradisional ataupun gaya Barat, terserah kamu.""Atau kita ...."Aku sudah muak mendengarnya dan langsung menyela."Sudah cukup, Joel.""Kamu terlalu merasa dirimu penting. Memang, dulu aku pernah mencintaimu sepenuh hati selama bertahun-tahun. Tapi sejak tahu kamu mengkhianatiku, semuanya sudah

  • Selamat Tinggal, Mimpi Lama   Bab 7

    Menyadari Olivia sedang marah, Joel menghela napas panjang.Dia meraih Olivia ke dalam pelukannya dan memeluknya erat."Sudahlah, jangan bicara begitu hanya karena emosi. Kamu 'kan tahu, orang yang paling aku cinta tetap kamu. Fiona cuma sedang ngambek. Tunggu dua hari lagi, begitu amarahnya reda, dia pasti pulang. Aku tinggal minta maaf dan mengalah sedikit. Dia pasti akan dengan senang hati ngasih aku proyek yang lebih besar."….Setibanya di di Kota Losanya, aku beristirahat selama dua hari.Setelah itu, aku langsung mulai menyesuaikan diri dengan pekerjaan di kantor cabang.Orang yang ikut berangkat bersamaku adalah Dennis Saputra, putra tunggal Pak Fredy, Presiden Direktur Grup Saputra.Ayah bilang, begitu Pak Fredy mendengar aku akan dikirim ke luar negeri untuk menimba pengalaman,beliau langsung memutuskan mengirim Dennis agar ikut ditempa.Yang masih membuatku heran, Keluarga Saputra memiliki begitu banyak perusahaan sendiri. Kenapa justru dia dikirim berlatih di perusahaan mi

  • Selamat Tinggal, Mimpi Lama   Bab 6

    Langkah Joel langsung terhenti.Dengan wajah tak percaya, dia menatap Ayah yang berdiri di atas panggung, seolah tak yakin dengan apa yang baru saja didengarnya.Dari berbagai penjuru ruangan terdengar tawa-tawa kecil yang menyakitkan, cukup jelas hingga menusuk telinganya.Perwakilan Grup Saputra berjalan melewatinya, sengaja menyenggol bahunya hingga dia terdorong ke samping.Tatapan pria itu penuh ejekan."Maaf ya, Pak Joel. Kesempatan kali ini jatuh ke tangan kami.""Proyek sebesar ini memang bukan perkara mudah. Mungkin Pak Andre khawatir Anda yang terbiasa hidup nyaman belum sanggup menanganinya."Selama ini Joel selalu diperlakukan bak tamu kehormatan. Penghinaan di depan banyak orang itu benar-benar membuat harga dirinya hancur.Dia terpaku di tempat, wajahnya memerah karena marah sekaligus malu.Begitu melihat kedua pihak hendak menandatangani kontrak dan membubuhkan stempel, dia langsung menerobos ke depan seperti kehilangan akal."Jangan! Kontrak itu nggak boleh ditandatanga

  • Selamat Tinggal, Mimpi Lama   Bab 5

    Tak lama setelah aku pergi, Joel membuka kembali pintu rumah.Olivia keluar dari dapur sambil membawa sepiring buah yang baru selesai dicuci.Gerak-geriknya begitu santai, seolah rumah itu memang sudah lama menjadi miliknya."Lagi lihat apa?"Joel menoleh ke arah luar, tetapi aku sudah tak terlihat lagi.Entah mengapa, hatinya mendadak diliputi kegelisahan."Nggak ... cuma buang sampah."Olivia duduk di sofa lalu langsung membongkar kebohongannya."Tempat sampahnya masih penuh.""Joel, kalau kamu benar-benar cinta sama Fiona, aku akan gugurkan kandungan ini. Jangan pakai sandiwara murahan begini untuk mempermainkan kami berdua."Joel menghela napas, lalu berjongkok di atas karpet.Tangannya mengusap lembut perut Olivia sambil membujuknya dengan suara pelan."Olivia, jangan ngomong begitu. Nanti bayinya kaget.""Sudah kubilang, perusahaan sangat butuh proyek dari Grup Winata. Aku cuma khawatir Fiona pulang dalam keadaan marah lalu dia minta ayahnya batalin semuanya."Joel menunduk dan m

  • Selamat Tinggal, Mimpi Lama   Bab 4

    Setelah semua barang selesai kukemas dan kukirim, seluruh tenagaku seolah ikut terkuras. Aku terduduk lemas di sofa.Aku mengirim beberapa pesan kepada Nadya, tetapi tak satu pun dibalas.Baru menjelang sore, dia meneleponku lewat panggilan video.Begitu kuangkat, pemandangan di layar terasa begitu familier.Dia berada di kantor Ayah, tempat aku tumbuh besar.Ibu meninggal saat aku masih kecil. Sejak itu Ayah tak pernah menikah lagi dan membesarkanku seorang diri.Karena tak ingin aku kesepian di rumah, ke mana pun pergi Ayah selalu membawaku."Nadya, kenapa kamu ada di Grup Winata?"Nadya menoleh ke sekeliling, lalu mengamati ruangan itu."Tante ngomong apa, sih? Ini kantor Papa, kok.""Sekarang ini perusahaan Papa. Grup Winata sudah lama nggak ada."Dadaku seolah ditusuk ribuan jarum hingga terasa sesak."Nadya, kamu anak pintar, 'kan? Kamu tahu apa yang sebenarnya terjadi?"Mendengar pujian itu, dia langsung bercerita tanpa curiga."Tahu dong. Papa pernah cerita semuanya. Kakek dari

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status