Share

Bab 3

Author: Silas
Pikiranku mendadak kosong, seolah ada sesuatu yang baru saja putus di dalam kepalaku.

"Barusan kamu bilang apa?"

Nadya menggaruk kepalanya, tampak kebingungan.

"Tante, dulu setiap kali aku lihat Tante, Tante selalu kayak orang kesurupan. Seram banget."

"Tante pernah narik-narik Papa sambil bilang mau bunuh Papa dan nyuruh Papa tanggung jawab atas kematian ayahnya Tante."

"Mama juga bilang aku harus menjauh dari Tante, takut Tante nyakitin aku."

Seluruh tubuhku langsung terasa dingin. Aku menggigit bibir bawah sekuat tenaga hingga nyaris berdarah.

Sebenarnya, apa yang dilakukan Joel di masa depan sampai-sampai aku ingin menuntut nyawanya sebagai balasan atas kematian Ayah?

Aku memaksa diri tersenyum. "Nadya, itu cuma bercanda. Tante lagi main-main sama Papamu."

Padahal, di dalam hati aku mati-matian ingin tahu apa yang sebenarnya telah terjadi.

Belum sempat bertanya lagi, tiba-tiba terdengar suara Joel dari belakang. Entah sejak kapan dia sudah pulang.

"Fiona, lagi telepon sama siapa?"

Aku tak boleh membiarkan Joel bertemu dengan Nadya. Tanpa pikir panjang, panggilan itu langsung kututup.

Melihat aku diam saja, Joel mengira aku masih merajuk karena pertengkaran kemarin.

Dia meletakkan sebotol madu akasia di hadapanku.

"Aku sengaja beli ini dari Kota Nala buat kamu. Jangan marah lagi, ya."

"Katanya madu ini bagus buat kecantikan dan kesehatan kulit."

Tatapanku jatuh pada botol kecil itu, tetapi dadaku justru dipenuhi rasa pahit.

Siang tadi di rumah sakit, Olivia memeluk belasan botol madu akasia dengan wajah sangat bahagia.

"Joel, padahal aku cuma ngomong asal saja. Masa kamu benar-benar terbang ke Kota Nala cuma buat beli ini?"

Aku menyaksikan semuanya dari balik pintu ruang rawat.

Sementara botol yang diberikan kepadaku bahkan tak lebih besar dari kemasan sampel.

Empat tahun kami berpacaran.

Joel mengingat ucapan Olivia yang hanya sekali terlontar, tetapi lupa bahwa aku alergi terhadap madu.

Mataku terasa panas. Tanpa ragu, kulempar botol madu itu ke tempat sampah.

"Joel, kita putus."

Tangan Joel yang sedang melepas jas langsung terhenti. Raut kesal kembali memenuhi wajahnya.

"Fiona, bisa nggak kamu berhenti bersikap kekanak-kanakan?"

"Urusan perusahaan saja sudah bikin aku pusing. Aku nggak punya waktu buat terus menebak-nebak apa yang bikin kamu marah."

"Kenapa kamu nggak bisa belajar dari Olivia? Dia jauh lebih pengertian."

Saat emosi, orang memang paling mudah mengucapkan isi hatinya.

Begitu kata-kata itu keluar, dia sendiri langsung terdiam dan menghela napas pelan.

Ini pertama kalinya aku mendengar dia memuji Olivia. Padahal selama ini mereka selalu bertolak belakang.

Mungkin karena itulah aku tak pernah benar-benar mencurigai semua kejanggalan yang ada.

Setelah menenangkan diri, Joel berjongkok di depanku dan mengusap pelan kepalaku.

"Sudahlah, Fiona. Jangan marah lagi. Aku salah, oke? Maafin aku."

"Minggu depan, begitu proyek Grup Gutama resmi berjalan, aku ajak kamu liburan."

Bukan karena dia sadar telah menyakitiku, melainkan karena takut proyek yang hampir digenggamnya lepas begitu saja.

Malam itu aku pindah ke kamar tamu, membereskan barang-barangku, dan mulai bersiap berangkat ke kantor cabang minggu depan.

Menjelang tengah malam, sakit lambungku kembali kambuh.

Seperti biasanya, aku menahannya sendirian. Bahkan tanpa sempat memakai sandal, aku berjalan ke ruang tamu untuk mengambil air dan menelan obat pereda nyeri.

Penyakit ini sudah lama menemaniku. Sejak dulu, saat Joel baru merintis usahanya dan hampir setiap malam harus menghadiri jamuan bisnis, dia selalu pulang dalam keadaan mabuk berat.

Aku tak tega melihatnya, jadi aku ikut menemaninya menghadiri jamuan dan menggantikan dia minum.

Lama-kelamaan, lambungku pun rusak.

Pernah suatu malam rasa sakitnya begitu hebat hingga aku tak sanggup bangun dari tempat tidur.

Aku membangunkan Joel dan memintanya mengambilkan obat, tetapi dia bahkan tak membuka mata.

"Tahan saja. Besok aku masih kerja."

Malam itu aku menggigil menahan nyeri, bercucuran keringat dingin hingga pagi menjelang.

Saat akhirnya dilarikan ke IGD, aku sudah pingsan karena tak kuat menahan sakit.

Ruang tamu hanya diterangi lampu redup. Sekilas kulihat sandal Joel tergeletak sembarangan di dekat pintu.

Sepertinya dia baru saja pergi dengan terburu-buru.

Setelah kembali ke kamar, rasa kantukku benar-benar hilang.

Aku membuka ponselku dan melihat unggahan terbaru Olivia.

[Tengah malam lapar. Untung ada orang baik yang nganterin makanan. Enak banget.]

Di fotonya tersaji semeja penuh makanan dari berbagai penjuru kota.

Aku memeluk lututku sendiri sambil tersenyum getir.

Kalau seseorang benar-benar peduli, dia akan mengerti tanpa perlu diberi tahu.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Selamat Tinggal, Mimpi Lama   Bab 9

    Begitu keluar dari bandara, Joel langsung menuju kantorku.Dia menunggu hingga malam. Saat aku dan Dennis keluar dari gedung perusahaan, barulah akhirnya dia melihat kami.Kami masih berjalan berdampingan sambil tertawa dan berdebat soal rencana kerja hari itu.Begitu melewati pintu keluar, langkah Dennis tiba-tiba terhenti.Aku mengikuti arah pandangannya dan melihat sosok yang begitu kukenal.Joel berdiri di bawah lampu jalan, menatapku tanpa berkedip.Refleks aku hendak berbalik ke arah lain. Namun Joel berlari menghampiri, bahkan nyaris tertabrak mobil yang melintas.Dia mencengkeram pergelangan tanganku begitu erat hingga terasa nyeri."Joel! Apa sebenarnya maumu?""Bukannya kamu sendiri yang nyuruh aku pergi? Aku sudah pergi. Lalu sekarang kenapa kamu malah datang nyari aku?"Matanya merah karena kelelahan. Tatapannya dipenuhi kepanikan.Dia buru-buru menggeleng. "Fiona, jangan begini. Aku tahu aku salah.""Pulanglah sama aku. Aku janji semua ini nggak akan terulang lagi. Olivia

  • Selamat Tinggal, Mimpi Lama   Bab 8

    Joel terdiam selama beberapa detik, seolah sengaja menungguku bertanya lebih banyak.Entah sejak kapan, dia mulai merindukan suaraku.Hanya mendengarnya sebentar saja sudah membuat hatinya merasa lebih tenang."Fiona, jangan marah lagi, ya. Cepat pulang.""Sekarang aku benar-benar butuh kamu."Aku hanya tertawa sinis. Di matanya, rupanya aku tak lebih dari seseorang yang bisa dipanggil kapan pun dia mau.Begitu dia merasa membutuhkan, aku harus selalu ada di sisinya.Keheninganku malah disalahartikan oleh Joel. Dengan suara yang jarang sekali selembut itu, dia kembali berkata, "Fiona, setelah semua ini selesai, aku akan menebus semuanya. Soal foto pernikahan yang dulu kamu inginkan, mau konsep tradisional ataupun gaya Barat, terserah kamu.""Atau kita ...."Aku sudah muak mendengarnya dan langsung menyela."Sudah cukup, Joel.""Kamu terlalu merasa dirimu penting. Memang, dulu aku pernah mencintaimu sepenuh hati selama bertahun-tahun. Tapi sejak tahu kamu mengkhianatiku, semuanya sudah

  • Selamat Tinggal, Mimpi Lama   Bab 7

    Menyadari Olivia sedang marah, Joel menghela napas panjang.Dia meraih Olivia ke dalam pelukannya dan memeluknya erat."Sudahlah, jangan bicara begitu hanya karena emosi. Kamu 'kan tahu, orang yang paling aku cinta tetap kamu. Fiona cuma sedang ngambek. Tunggu dua hari lagi, begitu amarahnya reda, dia pasti pulang. Aku tinggal minta maaf dan mengalah sedikit. Dia pasti akan dengan senang hati ngasih aku proyek yang lebih besar."….Setibanya di di Kota Losanya, aku beristirahat selama dua hari.Setelah itu, aku langsung mulai menyesuaikan diri dengan pekerjaan di kantor cabang.Orang yang ikut berangkat bersamaku adalah Dennis Saputra, putra tunggal Pak Fredy, Presiden Direktur Grup Saputra.Ayah bilang, begitu Pak Fredy mendengar aku akan dikirim ke luar negeri untuk menimba pengalaman,beliau langsung memutuskan mengirim Dennis agar ikut ditempa.Yang masih membuatku heran, Keluarga Saputra memiliki begitu banyak perusahaan sendiri. Kenapa justru dia dikirim berlatih di perusahaan mi

  • Selamat Tinggal, Mimpi Lama   Bab 6

    Langkah Joel langsung terhenti.Dengan wajah tak percaya, dia menatap Ayah yang berdiri di atas panggung, seolah tak yakin dengan apa yang baru saja didengarnya.Dari berbagai penjuru ruangan terdengar tawa-tawa kecil yang menyakitkan, cukup jelas hingga menusuk telinganya.Perwakilan Grup Saputra berjalan melewatinya, sengaja menyenggol bahunya hingga dia terdorong ke samping.Tatapan pria itu penuh ejekan."Maaf ya, Pak Joel. Kesempatan kali ini jatuh ke tangan kami.""Proyek sebesar ini memang bukan perkara mudah. Mungkin Pak Andre khawatir Anda yang terbiasa hidup nyaman belum sanggup menanganinya."Selama ini Joel selalu diperlakukan bak tamu kehormatan. Penghinaan di depan banyak orang itu benar-benar membuat harga dirinya hancur.Dia terpaku di tempat, wajahnya memerah karena marah sekaligus malu.Begitu melihat kedua pihak hendak menandatangani kontrak dan membubuhkan stempel, dia langsung menerobos ke depan seperti kehilangan akal."Jangan! Kontrak itu nggak boleh ditandatanga

  • Selamat Tinggal, Mimpi Lama   Bab 5

    Tak lama setelah aku pergi, Joel membuka kembali pintu rumah.Olivia keluar dari dapur sambil membawa sepiring buah yang baru selesai dicuci.Gerak-geriknya begitu santai, seolah rumah itu memang sudah lama menjadi miliknya."Lagi lihat apa?"Joel menoleh ke arah luar, tetapi aku sudah tak terlihat lagi.Entah mengapa, hatinya mendadak diliputi kegelisahan."Nggak ... cuma buang sampah."Olivia duduk di sofa lalu langsung membongkar kebohongannya."Tempat sampahnya masih penuh.""Joel, kalau kamu benar-benar cinta sama Fiona, aku akan gugurkan kandungan ini. Jangan pakai sandiwara murahan begini untuk mempermainkan kami berdua."Joel menghela napas, lalu berjongkok di atas karpet.Tangannya mengusap lembut perut Olivia sambil membujuknya dengan suara pelan."Olivia, jangan ngomong begitu. Nanti bayinya kaget.""Sudah kubilang, perusahaan sangat butuh proyek dari Grup Winata. Aku cuma khawatir Fiona pulang dalam keadaan marah lalu dia minta ayahnya batalin semuanya."Joel menunduk dan m

  • Selamat Tinggal, Mimpi Lama   Bab 4

    Setelah semua barang selesai kukemas dan kukirim, seluruh tenagaku seolah ikut terkuras. Aku terduduk lemas di sofa.Aku mengirim beberapa pesan kepada Nadya, tetapi tak satu pun dibalas.Baru menjelang sore, dia meneleponku lewat panggilan video.Begitu kuangkat, pemandangan di layar terasa begitu familier.Dia berada di kantor Ayah, tempat aku tumbuh besar.Ibu meninggal saat aku masih kecil. Sejak itu Ayah tak pernah menikah lagi dan membesarkanku seorang diri.Karena tak ingin aku kesepian di rumah, ke mana pun pergi Ayah selalu membawaku."Nadya, kenapa kamu ada di Grup Winata?"Nadya menoleh ke sekeliling, lalu mengamati ruangan itu."Tante ngomong apa, sih? Ini kantor Papa, kok.""Sekarang ini perusahaan Papa. Grup Winata sudah lama nggak ada."Dadaku seolah ditusuk ribuan jarum hingga terasa sesak."Nadya, kamu anak pintar, 'kan? Kamu tahu apa yang sebenarnya terjadi?"Mendengar pujian itu, dia langsung bercerita tanpa curiga."Tahu dong. Papa pernah cerita semuanya. Kakek dari

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status