Share

Bab 4

Author: Anonim
Setelah berkemas sebentar, aku pun pergi bersama Ryan.

Sudah cukup banyak orang yang datang di lokasi pemakaman.

Begitu aku dan Ryan turun dari mobil, seseorang langsung bergegas menghampiri kami dengan penuh semangat.

"Kak Ryan…"

Orang itu adalah Anna Ismawan.

Anna mengenakan pakaian sederhana. Sekuntum bunga putih tersemat di dadanya. Dia menangis dengan pilu.

Ryan bergegas mendekat untuk memeluknya. Wajahnya terlihat iba.

"Anna, turut berdukacita."

Anna bersandar di pelukan Ryan. Suaranya tercekat karena isak tangis.

"Untung ada kamu di sisiku."

Mereka berdua saling mencurahkan isi hati, seakan-akan tidak ada orang di sekelilingnya.

Orang yang tidak tahu pasti akan mengira mereka adalah pasangan sungguhan.

Sebagai anak yang berbakti, Anna tidak menemani jenazah ayahnya, tetapi malah bermesraan dengan calon suami orang di sini.

Jika hal ini terjadi di masa lalu, mungkin aku akan marah dan melontarkan sindiran.

Akan tetapi, aku hanya mengabaikan keduanya dan langsung berjalan menuju rumah duka.

Aku datang untuk memberikan penghormatan kepada almarhum, bukan untuk menyaksikan pertunjukan mereka.

Menyadari hal tersebut, raut wajah Ryan pun menjadi sedikit mengeras.

Ryan membuka mulutnya, seolah ingin mengatakan sesuatu.

"Kak Ryan, temani aku duduk sebentar, ya?"

Suara Anna mengembalikan akal sehat Ryan.

"Baik."

Ryan tersenyum lembut.

Setelah beberapa hari bersama, keduanya menjadi tidak terpisahkan.

Aku melihat mereka berdua berjalan ke sudut dan tidak menghentikannya. Aku hanya masuk ke rumah duka, ikut memberikan penghormatan bersama yang lain.

"Vania, terima kasih sudah datang."

Di sampingku, ibu Anna mengangguk ke arahku. Matanya yang dipenuhi kesedihan juga menyiratkan sedikit rasa bersalah.

"Mengenai masalah Anna dan Ryan… Awalnya aku nggak setuju. Tapi, Nak Ryan selalu menjunjung tinggi kasih sayang dan kesetiaan antarmanusia. Dia bersikeras untuk memenuhi keinginan terakhir mentornya. Ah, maaf membuatmu jadi dirugikan begini."

Dia menggelengkan kepalanya dan menghela napas. Namun, bagiku, kata-katanya seakan menekankan bahwa hubungan yang terjadi antara Ryan dan Anna merupakan wujud dari kasih sayang dan kesetiaan antarmanusia itu sendiri.

Jika aku menolak, berarti akulah yang membuat masalah tanpa alasan, bukan?

Aku tidak memberi tanggapan apa pun, hanya diam mendengarkan.

Melihat hal tersebut, ibu Anna pun tidak bisa menahan diri untuk tidak kembali angkat bicara, "Nak Ryan itu sifatnya memang dingin. Cuma di rumah kami saja, dia bisa sedikit lebih hangat. Dia memutuskan seperti ini juga semata-mata hanya karena balas budi. Tolong jangan menyalahkannya."

Mendengar hal tersebut, aku tak kuasa menahan tawa di dalam hati.

Aku ingin bertanya padanya, jika suamimu pergi menghamili wanita lain, apa kamu bisa berpura-pura seakan tidak terjadi apa-apa?

Aku tidak percaya ada wanita yang bisa menoleransi hal semacam itu.

Tentu saja, aku bahkan sudah berencana untuk mengganti mempelai prianya. Jadi, aku juga tidak ingin terlalu memusingkannya.

"Nggak apa-apa, Bibi. Aku mengerti."

Bu Ajeng sepertinya tidak menyangka aku akan begitu berbesar hati. Dia tertegun untuk sesaat, kemudian terlihat lega.

"Baguslah kalau kamu bisa mengerti. Sebenarnya, kamu nggak perlu terlalu memikirkannya. Di dalam hatinya, orang yang dicintai Ryan tetap dirimu."

Ryan mencintaiku?

Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak menggelengkan kepala.

Jika hal ini terjadi di masa lalu, mungkin aku akan merasa senang di dalam hati mendengar kata-kata seperti itu.

Namun, sekarang, aku merasa hal tersebut sangatlah konyol.

Jika Ryan benar-benar mencintaiku, bagaimana mungkin dia akan menyetujui permintaan yang begitu gila seperti itu?

Jika Ryan benar-benar mencintaiku, apakah dia akan memikirkanku saat dia tengah meniduri wanita lain?

Jika Ryan benar-benar mencintaiku, mengapa dia tidak mau menikahiku setelah bertahun-tahun bersama?

Aku seperti seekor anjing yang selalu mengejarnya. Hanya ketika Ryan sedang senang, barulah dia akan berhenti dan memberiku kesempatan untuk mendekatinya.

Bu Ajeng terus saja mengoceh di telingaku. Dia memuji Ryan yang pengertian dan memuji Anna sebagai anak yang berbakti pada orang tua.

Bu Ajeng bahkan menceritakan kisah lucu tentang mereka berdua di masa lalu.

Dia seakan lupa aku ini tunangan Ryan.

Hubungan kami hancur karena campur tangan putrinya.

Harusnya, dia merasa bersalah atas semua itu.

Sampai pemakaman selesai, Ryan tetap berada di sisi Anna.

Sepertinya, Ryan sudah menganggap dirinya sebagai menantu Keluarga Ismawan.

Setelah para tamu berangsur-angsur pergi, aku juga bermaksud untuk pulang.

Namun, tepat di saat aku sampai di dekat mobil, jendela kursi penumpang depan diturunkan. Anna duduk di sana. Dia tersenyum meminta maaf kepadaku.

"Maaf Kak Vania, aku masih ingin pergi melihat makam, untuk memastikan semuanya benar-benar nggak ada masalah."

Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak mengangkat alis.

Dia ingin pergi memilih lahan pemakaman untuk ayahnya adalah hal yang wajar.

Namun, mengapa dia harus meminta maaf kepadaku?

Bu Ajeng masuk ke mobil dengan santai. Jika dibandingkan, mereka bertiga terlihat seperti satu keluarga. Sementara, aku adalah orang luar.

Aku pun hendak duduk di bangku belakang dengan wajah datar. Tepat di saat aku hendak membuka pintu mobil untuk duduk, terdengar suara "klik."

Pintu mobil terkunci.

Aku mengerutkan kening.

"Apa maksudnya?"

Anna menghela napas. Dia tidak menatapku. Anna malah menggenggam tangan Ryan. Raut wajahnya penuh rasa sayang.

"Kak Ryan, aku… Aku harap di momen sepenting ini, cuma ada kita berdua dan ibuku saja. Boleh, 'kan?"

Sebelum Ryan bisa berbicara, Bu Ajeng cepat-cepat memotongnya, "Apa yang kamu bicarakan? Ryan itu tunangan Vania."

"Terus kenapa?!"

Anna tiba-tiba menangis, merasa diperlakukan tidak adil.

"Sejak masuk kuliah, Kak Ryan sudah seperti keluarga kita. Sekarang, Ayah sudah meninggal. Aku nggak mau orang luar terlibat dalam urusan memilih makam seperti ini. Apa itu salah?"
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Selingkuh Berkedok Berbakti   Bab 10

    Namun, Ryan malah melakukan sesuatu yang mengejutkan semua orang.Tanpa diduga, Ryan mendorong Anna. Mengabaikan jeritan kesakitan Anna, Ryan melompat dari panggung dan mengejarku."Vania, jangan pergi!"Aku mengerutkan kening. Bukan hanya tidak menghentikan langkahku, aku malah mempercepat langkahku dan masuk ke mobil.Mobil mulai melaju. Dari kaca spion, aku melihat Ryan berlari tergopoh-gopoh mendekat dengan keadaan yang sangat menyedihkan.Matanya memerah dan dia berteriak dengan suara yang pilu juga menyayat hati, "Vania, jangan pergi! Aku tahu, aku salah!"Niko melihat kaca spion. Dia menggelengkan kepala sambil berdecak. "Ckckck, kasihan banget. Kamu nggak mau menghiburnya?"Aku menatapnya sinis, lalu bersiap membuka pintu mobil."Kalau begitu, aku benaran pergi ya?"Niko buru-buru menyingkirkan ekspresi jahilnya, menginjak pedal gas dan melaju kencang.Setelah kembali ke rumah, aku mendengar dari teman bahwa Anna mengalami keguguran.Dorongan Ryan itu sudah menggugurkan bayi di

  • Selingkuh Berkedok Berbakti   Bab 9

    Menjelang hari pernikahan, aku menerima telepon dari nomor yang tidak dikenal.Begitu aku mengangkatnya, terdengar suara Ryan yang menahan amarah."Vania, kamu di mana?!""Apa maksudmu dengan putus?"Aku melihat waktu. Ternyata sudah lebih dari setengah bulan berlalu. Baru sekarang dia terpikir untuk menghubungiku?Atau mungkin, dia baru menyadari bahwa aku tidak sedang bercanda?Aku tidak mengatakan apa-apa. Aku langsung menutup teleponnya dan memblokir nomornya.Pernikahanku dan Niko berjalan dengan lancar.Di upacara pernikahan, saat memasangkan cincin di jariku, Niko menangis seperti anak kecil.Niko mengatakan bahwa dia sudah mencintaiku selama bertahun-tahun.Niko juga mengatakan bahwa dia sudah menunggu hari ini selama bertahun-tahun.Air mata Niko bagaikan cambuk yang menghantam hatiku.Aku melangkah pelan ke depan, berjinjit dan menciumnya."Niko, tolong bimbing aku untuk sisa hidupku nanti.""Hem, aku juga memohon bimbinganmu."…Setelah upacara pernikahan selesai, aku mengam

  • Selingkuh Berkedok Berbakti   Bab 8

    Aku tidak tahu apa yang akan dipikirkan Ryan setelah melihat pesan itu.Setelah mengirimkannya, aku langsung memblokir dan menghapusnya, lalu naik pesawat untuk pulang ke rumah.Begitu keluar dari bandara, aku langsung melihat Niko yang tengah menunggu di pinggir jalan.Niko hampir sama sekali tidak berubah. Dia mengenakan jaket hitam. Garis wajahnya yang tegas tertutup kacamata hitam, sehingga menunjukkan kepribadiannya yang kuat.Setiap wanita yang lewat, pasti tidak akan bisa menahan diri untuk tidak meliriknya.Niko memang begitu menawan.Begitu melihatku, dia langsung melambaikan tangan dengan antusias dan bergegas menghampiriku.Sebelum aku bisa berkata-kata, Niko langsung merentangkan tangannya dan memelukku erat-erat. "Vania!"Terkejut dengan tindakannya yang tiba-tiba, aku pun buru-buru menepuk bahunya.Niko langsung melepaskan pelukannya dan aku menatapnya dengan kesal."Tolonglah, apa kamu nggak tahu kalau pria dan wanita nggak boleh saling bersentuhan?""Cih, kamu kan bukan

  • Selingkuh Berkedok Berbakti   Bab 7

    Aku mengobrol dengan Niko di balkon selama sekitar setengah jam, sebelum kembali ke kamar.Anna masih belum pergi. Dia malah duduk di sofa dan sedang membicarakan sesuatu dengan Ryan.Ketika melihatku, senyum di wajah Ryan menghilang, digantikan oleh sikapnya yang dingin."Kamu nggak berniat menjelaskan apa pun padaku?"Aku menatap Ryan sambil mengerutkan kening."Menjelaskan apa?""Kenapa kamu menyimpan kontak pria itu dengan nama seperti itu?"Nada bicara Ryan menuntut penjelasan dan rasa tidak puas yang begitu kuat.Aku melirik Ryan dengan agak terkejut.Dari posisi apa dia merasa berhak menanyaiku seperti itu?Bukankah punya anak dengan orang lain merupakan masalah yang lebih serius dibanding mengubah nama kontak orang?Namun, aku tidak berniat berdebat dengannya. Oleh karena itu, aku hanya menjawab sekenanya, "Cuma lelucon."Raut wajah Ryan masih terlihat muram. Kemudian, dia memberi perintah, "Cepat ganti! Apa yang akan dipikirkan orang kalau melihatnya?"Aku menganggukkan kepala

  • Selingkuh Berkedok Berbakti   Bab 6

    Wajah Ryan langsung berubah. Dia merebut ponsel itu dan melihatnya sekilas. Wajahnya langsung menjadi pucat."Vania, siapa ini?"Aku tidak menjelaskan. Sebaliknya, aku memperhatikan ekspresi Ryan itu dengan sedikit terkejut.Apakah Ryan marah? Apa dia cemburu?Selama bertahun-tahun, ini pertama kalinya aku melihat ekspresi seperti itu di wajah Ryan.Aku selalu berpikir bahwa Ryan bisa bersikap dingin terhadap segala sesuatu, bahwa tidak ada sesuatu pun yang benar-benar dipedulikan Ryan.Akan tetapi, sekarang sepertinya tidak demikian.Namun, mengapa?Bukankah dia tidak peduli?Di masa lalu, saat aku masih bersamanya, aku pernah menerima pernyataan cinta dari seorang kakak kelas.Ryan menangkap basah kejadian itu.Namun, bukan hanya tidak marah, Ryan justru sangat tenang dan tetap sedingin biasanya.Pada saat itu, samar-samar aku mulai menyadari bahwa sebenarnya Ryan tidak begitu peduli padaku.Atau mungkin, wataknya memang acuh tak acuh seperti itu.Ryan tidak akan cemburu. Dia juga ti

  • Selingkuh Berkedok Berbakti   Bab 5

    Bu Ajeng terlihat muram. Meskipun dia memihak putrinya, hal semacam ini bagaimanapun sama sekali tidaklah pantas.Namun, sebelum Bu Ajeng bisa kembali berkata-kata, Ryan sudah terlebih dahulu mengambil keputusan."Kamu pulang sendiri naik taksi."Anna melirikku tanpa kentara. Senyuman mengejek tersungging di sudut bibirnya, sebelum dia menaikkan kaca jendela.Menyaksikan mobil itu pergi, aku sama sekali tidak terkejut.Ryan memang seperti itu. Demi menjaga perasaan Anna, dia akan membuatku terus-menerus mengalah.Seakan mengejekku, air hujan pun mulai turun dari langit.Tak lama kemudian, air hujan sudah menggenang di tanah.Aku membungkuk dan meraup air itu dengan tanganku.Rasanya sangat dingin.Namun, dinginnya masih tidak sebanding dengan dinginnya hatiku.Saat aku sampai di rumah, Ryan sedang sibuk membereskan pakaiannya.Melihatku masuk, Ryan berkata tanpa menoleh, "Belakangan ini, suasana hati Anna sedang buruk. Aku akan menemaninya untuk sementara waktu. Beberapa hari ke depan,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status