Share

Bab 5

Author: Anonim
Bu Ajeng terlihat muram. Meskipun dia memihak putrinya, hal semacam ini bagaimanapun sama sekali tidaklah pantas.

Namun, sebelum Bu Ajeng bisa kembali berkata-kata, Ryan sudah terlebih dahulu mengambil keputusan.

"Kamu pulang sendiri naik taksi."

Anna melirikku tanpa kentara. Senyuman mengejek tersungging di sudut bibirnya, sebelum dia menaikkan kaca jendela.

Menyaksikan mobil itu pergi, aku sama sekali tidak terkejut.

Ryan memang seperti itu. Demi menjaga perasaan Anna, dia akan membuatku terus-menerus mengalah.

Seakan mengejekku, air hujan pun mulai turun dari langit.

Tak lama kemudian, air hujan sudah menggenang di tanah.

Aku membungkuk dan meraup air itu dengan tanganku.

Rasanya sangat dingin.

Namun, dinginnya masih tidak sebanding dengan dinginnya hatiku.

Saat aku sampai di rumah, Ryan sedang sibuk membereskan pakaiannya.

Melihatku masuk, Ryan berkata tanpa menoleh, "Belakangan ini, suasana hati Anna sedang buruk. Aku akan menemaninya untuk sementara waktu. Beberapa hari ke depan, kamu naik bus untuk pergi ke kantor."

Aku tidak menghiraukannya.

Suasana hati Anna sedang buruk. Jadi, Ryan mengemasi pakaiannya dan berencana untuk menemani Anna tidur selama beberapa hari untuk menghiburnya, 'kan?

Aku tidak bertanya lebih jauh dan Ryan juga tidak berniat menjelaskan.

Setelah selesai berkemas, Ryan langsung pergi meninggalkan rumah.

Setelah itu, selama satu minggu penuh ke depannya, Ryan sama sekali tidak pulang.

Bahkan, satu pesan saja tidak dia kirimkan.

Namun, aku tahu persis apa yang dilakukan Ryan setiap harinya.

Bagaimanapun, Anna sangat senang berbagi denganku.

Baik itu video, maupun foto.

Pada saat itulah, aku baru mengetahui bahwa Ryan ternyata juga memiliki sisi seperti ini.

Ryan tahu bagaimana mencintai seseorang.

Hanya tergantung kepada siapa orang itu.

Ryan akan membuatkan berbagai macam makanan bergizi untuk Anna.

Ryan akan mengupaskan udang untuk Anna dengan tangannya sendiri dan memilihkan berbagai hadiah untuk Anna.

Ryan juga akan menemani Anna ke taman hiburan dan tempat-tempat wisata.

Semua itu adalah hal-hal yang sebelumnya pernah kuharapkan bisa kulakukan bersama Ryan. Namun, Ryan selalu menolaknya dengan alasan semua itu terlalu kekanak-kanakan.

Aku tidak terlalu memperhatikannya dan hanya menyimpan semua video dan foto yang dikirimkan Anna kepadaku.

Setelah menyelesaikan semua pekerjaanku, aku mengajukan surat pengunduran diri kepada perusahaan.

Teman-temanku terkejut saat mengetahuinya.

"Ada apa? Kenapa Kak Vania mendadak undurkan diri?"

Aku menjelaskan sambil tersenyum, "Aku sudah terlalu lama merantau. Aku ingin pulang dan mengembangkan karier di kampungku."

Seseorang bertanya kepadaku, "Lalu, apa Kak Ryan juga akan ikut pulang bersamamu?"

Semua orang tahu Ryan sudah bekerja keras selama bertahun-tahun untuk bisa mendapatkan pekerjaannya yang sekarang. Mereka tidak percaya Ryan akan rela meninggalkan segalanya untuk pulang ke kampung halamanku bersamaku.

Seorang teman menasihatiku, "Vania, baiknya kamu jangan pulang. Baru menikah, tapi sudah tinggal terpisah, itu nggak baik."

Sampai detik ini, mereka masih belum memikirkan kemungkinan terburuk.

Akan tetapi, bagaimana denganku?

Di masa lalu, demi Ryan, aku rela meninggalkan kampung halaman dan datang ke sini untuk menemaninya.

Apa aku pernah mengeluh?

Apakah hanya karena aku mencintainya, maka aku pantas terus berkorban, begitu?

Aku menggelengkan kepala.

"Nggak, kami nggak akan tinggal berjauhan."

Setelah berkata seperti itu, aku tidak menjelaskan lebih lanjut.

Masih ada banyak hal yang harus kuselesaikan. Jika mereka tidak percaya, aku juga tidak perlu memaksa mereka untuk percaya.

Setelah menyelesaikan urusan pekerjaan, aku menolak upaya bosku untuk menahanku dan pulang ke rumah.

Yang membuatku terkejut, Ryan ternyata sudah kembali dan Anna tengah duduk di sampingnya.

Mendengar suara pintu terbuka, dua orang yang tadinya saling bersandar itu buru-buru memisahkan diri.

Aku pura-pura tidak melihatnya dan memeluk perlengkapan kantorku ke arah kamar tidur.

"Kenapa kamu pulang? Hari ini, kamu nggak kerja?"

Ryan berinisiatif untuk angkat bicara. Melihat perlengkapan kantor di pelukanku, keningnya tampak sedikit berkerut.

"Kamu... mengundurkan diri?"

"Hem." Aku tidak ingin menjelaskan lebih lanjut dan membawa barang-barang itu ke ruang kerja.

Ryan mengikutiku masuk. Wajahnya terlihat tidak senang.

"Kenapa tiba-tiba kamu mengundurkan diri tanpa membicarakannya lebih dulu denganku?"

Sebelum aku bisa menjawab, Anna sudah terlebih dahulu muncul di belakang Ryan.

"Kak Ryan, jangan salahkan Kak Vania. Di usianya yang sekarang, memang sudah kurang cocok untuk bersaing dengan anak-anak muda itu. Dalam persaingan yang keras, cuma yang terbaik yang bisa bertahan."

Sekilas, Anna terdengar seperti membelaku. Namun, sebenarnya dia sedang menyindir bahwa aku dipecat karena sudah tua.

Aku tidak memberikan penjelasan dan hanya menganggukkan kepalaku.

"Dasar nggak guna!"

Ryan memaki-maki dengan tidak puas. Kemarahannya baru mereda setelah ditenangkan oleh Anna.

Jika bukan karena video-video dan foto-foto yang memanas-manasiku, mungkin aku akan berterima kasih pada Anna.

Tiba-tiba saja, ponselku yang kuletakkan di atas meja berdering.

Sebelum aku bisa meraih ponselku, Anna sepertinya melihat sesuatu. Dia langsung mengambil ponselku dan berkata dengan nada yang dibuat-buat, "Wah, ini… Siapa Sayangku ini?"
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Selingkuh Berkedok Berbakti   Bab 10

    Namun, Ryan malah melakukan sesuatu yang mengejutkan semua orang.Tanpa diduga, Ryan mendorong Anna. Mengabaikan jeritan kesakitan Anna, Ryan melompat dari panggung dan mengejarku."Vania, jangan pergi!"Aku mengerutkan kening. Bukan hanya tidak menghentikan langkahku, aku malah mempercepat langkahku dan masuk ke mobil.Mobil mulai melaju. Dari kaca spion, aku melihat Ryan berlari tergopoh-gopoh mendekat dengan keadaan yang sangat menyedihkan.Matanya memerah dan dia berteriak dengan suara yang pilu juga menyayat hati, "Vania, jangan pergi! Aku tahu, aku salah!"Niko melihat kaca spion. Dia menggelengkan kepala sambil berdecak. "Ckckck, kasihan banget. Kamu nggak mau menghiburnya?"Aku menatapnya sinis, lalu bersiap membuka pintu mobil."Kalau begitu, aku benaran pergi ya?"Niko buru-buru menyingkirkan ekspresi jahilnya, menginjak pedal gas dan melaju kencang.Setelah kembali ke rumah, aku mendengar dari teman bahwa Anna mengalami keguguran.Dorongan Ryan itu sudah menggugurkan bayi di

  • Selingkuh Berkedok Berbakti   Bab 9

    Menjelang hari pernikahan, aku menerima telepon dari nomor yang tidak dikenal.Begitu aku mengangkatnya, terdengar suara Ryan yang menahan amarah."Vania, kamu di mana?!""Apa maksudmu dengan putus?"Aku melihat waktu. Ternyata sudah lebih dari setengah bulan berlalu. Baru sekarang dia terpikir untuk menghubungiku?Atau mungkin, dia baru menyadari bahwa aku tidak sedang bercanda?Aku tidak mengatakan apa-apa. Aku langsung menutup teleponnya dan memblokir nomornya.Pernikahanku dan Niko berjalan dengan lancar.Di upacara pernikahan, saat memasangkan cincin di jariku, Niko menangis seperti anak kecil.Niko mengatakan bahwa dia sudah mencintaiku selama bertahun-tahun.Niko juga mengatakan bahwa dia sudah menunggu hari ini selama bertahun-tahun.Air mata Niko bagaikan cambuk yang menghantam hatiku.Aku melangkah pelan ke depan, berjinjit dan menciumnya."Niko, tolong bimbing aku untuk sisa hidupku nanti.""Hem, aku juga memohon bimbinganmu."…Setelah upacara pernikahan selesai, aku mengam

  • Selingkuh Berkedok Berbakti   Bab 8

    Aku tidak tahu apa yang akan dipikirkan Ryan setelah melihat pesan itu.Setelah mengirimkannya, aku langsung memblokir dan menghapusnya, lalu naik pesawat untuk pulang ke rumah.Begitu keluar dari bandara, aku langsung melihat Niko yang tengah menunggu di pinggir jalan.Niko hampir sama sekali tidak berubah. Dia mengenakan jaket hitam. Garis wajahnya yang tegas tertutup kacamata hitam, sehingga menunjukkan kepribadiannya yang kuat.Setiap wanita yang lewat, pasti tidak akan bisa menahan diri untuk tidak meliriknya.Niko memang begitu menawan.Begitu melihatku, dia langsung melambaikan tangan dengan antusias dan bergegas menghampiriku.Sebelum aku bisa berkata-kata, Niko langsung merentangkan tangannya dan memelukku erat-erat. "Vania!"Terkejut dengan tindakannya yang tiba-tiba, aku pun buru-buru menepuk bahunya.Niko langsung melepaskan pelukannya dan aku menatapnya dengan kesal."Tolonglah, apa kamu nggak tahu kalau pria dan wanita nggak boleh saling bersentuhan?""Cih, kamu kan bukan

  • Selingkuh Berkedok Berbakti   Bab 7

    Aku mengobrol dengan Niko di balkon selama sekitar setengah jam, sebelum kembali ke kamar.Anna masih belum pergi. Dia malah duduk di sofa dan sedang membicarakan sesuatu dengan Ryan.Ketika melihatku, senyum di wajah Ryan menghilang, digantikan oleh sikapnya yang dingin."Kamu nggak berniat menjelaskan apa pun padaku?"Aku menatap Ryan sambil mengerutkan kening."Menjelaskan apa?""Kenapa kamu menyimpan kontak pria itu dengan nama seperti itu?"Nada bicara Ryan menuntut penjelasan dan rasa tidak puas yang begitu kuat.Aku melirik Ryan dengan agak terkejut.Dari posisi apa dia merasa berhak menanyaiku seperti itu?Bukankah punya anak dengan orang lain merupakan masalah yang lebih serius dibanding mengubah nama kontak orang?Namun, aku tidak berniat berdebat dengannya. Oleh karena itu, aku hanya menjawab sekenanya, "Cuma lelucon."Raut wajah Ryan masih terlihat muram. Kemudian, dia memberi perintah, "Cepat ganti! Apa yang akan dipikirkan orang kalau melihatnya?"Aku menganggukkan kepala

  • Selingkuh Berkedok Berbakti   Bab 6

    Wajah Ryan langsung berubah. Dia merebut ponsel itu dan melihatnya sekilas. Wajahnya langsung menjadi pucat."Vania, siapa ini?"Aku tidak menjelaskan. Sebaliknya, aku memperhatikan ekspresi Ryan itu dengan sedikit terkejut.Apakah Ryan marah? Apa dia cemburu?Selama bertahun-tahun, ini pertama kalinya aku melihat ekspresi seperti itu di wajah Ryan.Aku selalu berpikir bahwa Ryan bisa bersikap dingin terhadap segala sesuatu, bahwa tidak ada sesuatu pun yang benar-benar dipedulikan Ryan.Akan tetapi, sekarang sepertinya tidak demikian.Namun, mengapa?Bukankah dia tidak peduli?Di masa lalu, saat aku masih bersamanya, aku pernah menerima pernyataan cinta dari seorang kakak kelas.Ryan menangkap basah kejadian itu.Namun, bukan hanya tidak marah, Ryan justru sangat tenang dan tetap sedingin biasanya.Pada saat itu, samar-samar aku mulai menyadari bahwa sebenarnya Ryan tidak begitu peduli padaku.Atau mungkin, wataknya memang acuh tak acuh seperti itu.Ryan tidak akan cemburu. Dia juga ti

  • Selingkuh Berkedok Berbakti   Bab 5

    Bu Ajeng terlihat muram. Meskipun dia memihak putrinya, hal semacam ini bagaimanapun sama sekali tidaklah pantas.Namun, sebelum Bu Ajeng bisa kembali berkata-kata, Ryan sudah terlebih dahulu mengambil keputusan."Kamu pulang sendiri naik taksi."Anna melirikku tanpa kentara. Senyuman mengejek tersungging di sudut bibirnya, sebelum dia menaikkan kaca jendela.Menyaksikan mobil itu pergi, aku sama sekali tidak terkejut.Ryan memang seperti itu. Demi menjaga perasaan Anna, dia akan membuatku terus-menerus mengalah.Seakan mengejekku, air hujan pun mulai turun dari langit.Tak lama kemudian, air hujan sudah menggenang di tanah.Aku membungkuk dan meraup air itu dengan tanganku.Rasanya sangat dingin.Namun, dinginnya masih tidak sebanding dengan dinginnya hatiku.Saat aku sampai di rumah, Ryan sedang sibuk membereskan pakaiannya.Melihatku masuk, Ryan berkata tanpa menoleh, "Belakangan ini, suasana hati Anna sedang buruk. Aku akan menemaninya untuk sementara waktu. Beberapa hari ke depan,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status