Share

Bab 3

Author: Anonim
Ryan tidak pernah pulang ke rumah.

Aku juga tidak berinisiatif untuk menghubunginya. Aku hanya mengetahui perkembangan mereka melalui video-video yang memanas-manasiku, yang sesekali dikirimkan oleh Anna.

Melihat tingkah mesra mereka, aku tidak merasakan apa pun di dalam hati. Aku tetap menyiapkan urusan pernikahan sesuai rencana.

Satu-satunya yang berbeda adalah, pada undangan yang kukirim, nama mempelai prianya bukan lagi Ryan, melainkan Niko.

Tak lama kemudian, aku menerima telepon dari seorang teman.

"Kak Vania, apa kamu salah menuliskan nama pengantin prianya?"

"Nggak salah kok."

Nada bicaraku tetap tenang.

"Mempelai prianya diganti di menit-menit terakhir. Niko itu kekasih masa kecilku."

Teman-temanku menjadi makin terkejut.

"Vania, kamu dan Kak Ryan… Apa kamu dan Ryan bertengkar?" Mereka bertanya dengan hati-hati.

Suara mereka terdengar tidak percaya.

Wajar saja. Aku memang tidak pernah menyembunyikan rasa cintaku pada Ryan.

Semua orang yang mengenal kami tahu bahwa aku bisa melakukan hal serendah apa pun demi Ryan.

Namun, sebagai orang yang dicintai, Ryan sama sekali tidak menyadari apa pun.

Atau lebih tepatnya, Ryan sebenarnya mengetahuinya. Hanya saja, dia tidak peduli.

Ryan tetap menjadi pria super dingin yang angkuh, yang hanya peduli pada dirinya sendiri, yang dengan acuh tak acuh melihatku berjuang sekuat tenaga untuk mencapai puncak, lalu terjatuh dan hancur berkeping-keping.

Aku tidak memberikan penjelasan lebih lanjut dan hanya tersenyum tanpa mengatakan apa-apa.

Teman-temanku merasa lega, lalu mulai menggodaku. Mereka menganggap semua ini hanya lelucon untuk menambah bumbu dalam hubungan berpasangan.

Tidak ada seorang pun yang akan percaya bahwa aku bisa melepaskan pria yang sudah kukejar mati-matian selama tiga tahun itu.

Namun, aku juga tidak bisa menyalahkan mereka.

Bahkan, aku sendiri juga sempat hilang akal saat mengatakan bahwa pengantin prianya diganti.

Aku juga tidak menyangka aku bisa melepaskan hubungan ini dengan begitu mudahnya.

Akan tetapi, ini juga bagus. Setidaknya, tidak akan ada yang akan memberitahukan lelucon kecil yang tidak ada artinya ini kepada Ryan.

Dengan begitu, aku juga punya lebih banyak waktu untuk bersiap-siap.

Sekitar seminggu kemudian, Ryan pun pulang ke rumah.

Ryan terlihat begitu lelah, seakan sudah berhari-hari tidak tidur nyenyak. Lingkaran hitam samar tampak di bawah matanya.

Aku melirik bekas cupang di lehernya dan diam-diam mengalihkan pandangan.

"Kerja keras, ya?"

Aku menunjukkan perhatian dengan sikap datar.

Ryan tidak mengatakan apa-apa. Dia mengganti sepatunya, lalu duduk di sampingku. Raut wajahnya terlihat rumit.

"Ada apa?" Aku menatapnya.

"Hem. Kita harus menunda pernikahan untuk sementara waktu. Mentorku meninggal, aku sedang berkabung. Jadi, aku nggak bisa nikah dalam waktu dekat ini."

Setelah berkata seperti itu, matanya menunjukkan sedikit permintaan maaf yang jarang terlihat.

"Maaf, Vania…"

Aku menatap Ryan dengan bingung.

Mengapa dia meminta maaf?

Apa karena Ryan tahu betul di dalam hati bahwa pernikahan ini adalah impian yang sudah lama kuidam-idamkan?

Ataukah, Ryan meminta maaf karena sebagai calon suami, dia malah berselingkuh dengan wanita lain?

Aku tidak tahu dan aku tidak peduli.

"Hem, aku tahu. Aku turut berdukacita."

Ryan menatapku. Keningnya perlahan berkerut. Tatapannya penuh selidik.

Ryan tampak benar-benar bingung, mengapa aku tetap tenang.

Jelas-jelas aku marah dan gelisah saat mengetahui dia akan memberikan anak kepada Anna.

Akan tetapi, Ryan tidak terlalu memedulikannya dan kembali angkat bicara.

"Hari ini pemakaman mentorku. Ikutlah denganku."

Nada suaranya terdengar memerintah, tanpa ada niat untuk mendiskusikannya denganku.

Akan tetapi, aku juga tidak menolaknya.

Meskipun mentor yang disebut-sebut itu bisa mengambil keputusan meminta tunangan orang memberikan anak untuk putrinya, tapi sekarang dia sudah meninggal. Aku juga tidak terlalu menyimpan dendam kepadanya.

Sebaliknya, aku sedikit berterima kasih kepadanya. Itu karena dia sudah membantuku melihat jelas siapa sebenarnya orang yang ada di dekatku ini.
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Selingkuh Berkedok Berbakti   Bab 10

    Namun, Ryan malah melakukan sesuatu yang mengejutkan semua orang.Tanpa diduga, Ryan mendorong Anna. Mengabaikan jeritan kesakitan Anna, Ryan melompat dari panggung dan mengejarku."Vania, jangan pergi!"Aku mengerutkan kening. Bukan hanya tidak menghentikan langkahku, aku malah mempercepat langkahku dan masuk ke mobil.Mobil mulai melaju. Dari kaca spion, aku melihat Ryan berlari tergopoh-gopoh mendekat dengan keadaan yang sangat menyedihkan.Matanya memerah dan dia berteriak dengan suara yang pilu juga menyayat hati, "Vania, jangan pergi! Aku tahu, aku salah!"Niko melihat kaca spion. Dia menggelengkan kepala sambil berdecak. "Ckckck, kasihan banget. Kamu nggak mau menghiburnya?"Aku menatapnya sinis, lalu bersiap membuka pintu mobil."Kalau begitu, aku benaran pergi ya?"Niko buru-buru menyingkirkan ekspresi jahilnya, menginjak pedal gas dan melaju kencang.Setelah kembali ke rumah, aku mendengar dari teman bahwa Anna mengalami keguguran.Dorongan Ryan itu sudah menggugurkan bayi di

  • Selingkuh Berkedok Berbakti   Bab 9

    Menjelang hari pernikahan, aku menerima telepon dari nomor yang tidak dikenal.Begitu aku mengangkatnya, terdengar suara Ryan yang menahan amarah."Vania, kamu di mana?!""Apa maksudmu dengan putus?"Aku melihat waktu. Ternyata sudah lebih dari setengah bulan berlalu. Baru sekarang dia terpikir untuk menghubungiku?Atau mungkin, dia baru menyadari bahwa aku tidak sedang bercanda?Aku tidak mengatakan apa-apa. Aku langsung menutup teleponnya dan memblokir nomornya.Pernikahanku dan Niko berjalan dengan lancar.Di upacara pernikahan, saat memasangkan cincin di jariku, Niko menangis seperti anak kecil.Niko mengatakan bahwa dia sudah mencintaiku selama bertahun-tahun.Niko juga mengatakan bahwa dia sudah menunggu hari ini selama bertahun-tahun.Air mata Niko bagaikan cambuk yang menghantam hatiku.Aku melangkah pelan ke depan, berjinjit dan menciumnya."Niko, tolong bimbing aku untuk sisa hidupku nanti.""Hem, aku juga memohon bimbinganmu."…Setelah upacara pernikahan selesai, aku mengam

  • Selingkuh Berkedok Berbakti   Bab 8

    Aku tidak tahu apa yang akan dipikirkan Ryan setelah melihat pesan itu.Setelah mengirimkannya, aku langsung memblokir dan menghapusnya, lalu naik pesawat untuk pulang ke rumah.Begitu keluar dari bandara, aku langsung melihat Niko yang tengah menunggu di pinggir jalan.Niko hampir sama sekali tidak berubah. Dia mengenakan jaket hitam. Garis wajahnya yang tegas tertutup kacamata hitam, sehingga menunjukkan kepribadiannya yang kuat.Setiap wanita yang lewat, pasti tidak akan bisa menahan diri untuk tidak meliriknya.Niko memang begitu menawan.Begitu melihatku, dia langsung melambaikan tangan dengan antusias dan bergegas menghampiriku.Sebelum aku bisa berkata-kata, Niko langsung merentangkan tangannya dan memelukku erat-erat. "Vania!"Terkejut dengan tindakannya yang tiba-tiba, aku pun buru-buru menepuk bahunya.Niko langsung melepaskan pelukannya dan aku menatapnya dengan kesal."Tolonglah, apa kamu nggak tahu kalau pria dan wanita nggak boleh saling bersentuhan?""Cih, kamu kan bukan

  • Selingkuh Berkedok Berbakti   Bab 7

    Aku mengobrol dengan Niko di balkon selama sekitar setengah jam, sebelum kembali ke kamar.Anna masih belum pergi. Dia malah duduk di sofa dan sedang membicarakan sesuatu dengan Ryan.Ketika melihatku, senyum di wajah Ryan menghilang, digantikan oleh sikapnya yang dingin."Kamu nggak berniat menjelaskan apa pun padaku?"Aku menatap Ryan sambil mengerutkan kening."Menjelaskan apa?""Kenapa kamu menyimpan kontak pria itu dengan nama seperti itu?"Nada bicara Ryan menuntut penjelasan dan rasa tidak puas yang begitu kuat.Aku melirik Ryan dengan agak terkejut.Dari posisi apa dia merasa berhak menanyaiku seperti itu?Bukankah punya anak dengan orang lain merupakan masalah yang lebih serius dibanding mengubah nama kontak orang?Namun, aku tidak berniat berdebat dengannya. Oleh karena itu, aku hanya menjawab sekenanya, "Cuma lelucon."Raut wajah Ryan masih terlihat muram. Kemudian, dia memberi perintah, "Cepat ganti! Apa yang akan dipikirkan orang kalau melihatnya?"Aku menganggukkan kepala

  • Selingkuh Berkedok Berbakti   Bab 6

    Wajah Ryan langsung berubah. Dia merebut ponsel itu dan melihatnya sekilas. Wajahnya langsung menjadi pucat."Vania, siapa ini?"Aku tidak menjelaskan. Sebaliknya, aku memperhatikan ekspresi Ryan itu dengan sedikit terkejut.Apakah Ryan marah? Apa dia cemburu?Selama bertahun-tahun, ini pertama kalinya aku melihat ekspresi seperti itu di wajah Ryan.Aku selalu berpikir bahwa Ryan bisa bersikap dingin terhadap segala sesuatu, bahwa tidak ada sesuatu pun yang benar-benar dipedulikan Ryan.Akan tetapi, sekarang sepertinya tidak demikian.Namun, mengapa?Bukankah dia tidak peduli?Di masa lalu, saat aku masih bersamanya, aku pernah menerima pernyataan cinta dari seorang kakak kelas.Ryan menangkap basah kejadian itu.Namun, bukan hanya tidak marah, Ryan justru sangat tenang dan tetap sedingin biasanya.Pada saat itu, samar-samar aku mulai menyadari bahwa sebenarnya Ryan tidak begitu peduli padaku.Atau mungkin, wataknya memang acuh tak acuh seperti itu.Ryan tidak akan cemburu. Dia juga ti

  • Selingkuh Berkedok Berbakti   Bab 5

    Bu Ajeng terlihat muram. Meskipun dia memihak putrinya, hal semacam ini bagaimanapun sama sekali tidaklah pantas.Namun, sebelum Bu Ajeng bisa kembali berkata-kata, Ryan sudah terlebih dahulu mengambil keputusan."Kamu pulang sendiri naik taksi."Anna melirikku tanpa kentara. Senyuman mengejek tersungging di sudut bibirnya, sebelum dia menaikkan kaca jendela.Menyaksikan mobil itu pergi, aku sama sekali tidak terkejut.Ryan memang seperti itu. Demi menjaga perasaan Anna, dia akan membuatku terus-menerus mengalah.Seakan mengejekku, air hujan pun mulai turun dari langit.Tak lama kemudian, air hujan sudah menggenang di tanah.Aku membungkuk dan meraup air itu dengan tanganku.Rasanya sangat dingin.Namun, dinginnya masih tidak sebanding dengan dinginnya hatiku.Saat aku sampai di rumah, Ryan sedang sibuk membereskan pakaiannya.Melihatku masuk, Ryan berkata tanpa menoleh, "Belakangan ini, suasana hati Anna sedang buruk. Aku akan menemaninya untuk sementara waktu. Beberapa hari ke depan,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status