LOGINDalam tiga tahun pernikahan, Kayden Farista membenci Calista Lisano selama tiga tahun penuh. Pada hari Nadia Farista pulang, Kayden akhirnya tidak tahan lagi. Dia pun berniat untuk memalsukan kematiannya, lalu kawin lari dengan Nadia. “Sebulan lagi, palsukan kematianku. Aku akan lepaskan statusku sebagai pewaris Keluarga Farista dan bersama Nadia selamanya.” Setelah mendengar percakapan Kayden di ruang operasi, Calista langsung menghubungi pengacara untuk membuatkan surat perceraian, lalu menghubungi kakaknya yang ada di luar negeri. “Kak, aku sudah nyerah soal Kayden. Aku bersedia tinggal di luar negeri bersamamu.”
View MoreSebuah kota dengan gemerlap lampu yang mampu mengubah malam menjadi terang melebihi siang.
Avernal City, kota yang tidak pernah tidur di malam hari. Kota dimana kekuasan tertinggi dimenangkan oleh dia sang pemilik Black Harbour—Byakta Dinaniyaksa Bagaspati. Pria matang berusia 30 tahun yang sudah di latih menjadi manusia berdarah dingin semenjak dia lahir. Dia terkenal dingin, tak segan menghabisi lawannya, walau tanpa menyentuh atau mengotori tangannya. Di puncak gedung Bagaspati Grup, Byakta berdiri di depan jendela kaca setinggi langit-langit. Jas hitamnya masih terpasang rapi, ekspresinya tetap datar seperti biasa. Di bawah sana, lampu-lampu kota terlihat seperti seekor kunang-kunang yang bisa ia padamkan kapanpun ia mau. Pemadangan hangat dan gemerlap yang selalu memanjakan matanya setiap malam. Byakta menghirup napas sebanyak-bayaknya, seolah sedang melepas rindu pada tempat yang sudah satu minggu ini tidak dia lihat. “Pemandangan ini memang selalu membuatku tenang,” gumamnya pelan, seraya melonggarkan dasi. Pintu terketuk pelan. Tanpa menoleh, Byakta sudah tahu siapa yang selalu berani mengganggunya disaat seperti ini. “Dia menolak, Bos,” suara Rival—asisten sekaligus sekretaris Byakta yang khas dengan baritonnya, kini sudah berdiri tegap di belakang Byakta dengan wajah yang selalu ia tundukkan. “Maafkan saya, saya gagal membawanya.” “Ulangi.” Rival mengangguk seraya menarik napas gusar. “Nona Ivanka menolak tawaran akuisi kita,” jelasnya. “Dia tidak membeli perusahaan, tapi dia mengambil alih semuanya,” Rahang Rival mengeras, kedua tangannya terkepal kuat disisi tubuh. Kegagalan ini, seperti cambuk tak kasat mata untuknya. “Maaf saya telah mengecewakan.” Byakta menyunggingkan senyum khas pemburunya. Perlahan dia berbalik untuk menatap Rival yang sudah gemetar ketakutan. Dia tahu kalau Byakta bukan tipe orang yang mau menerima kegagalan, sekalipun dia memberi penjelasan. “Maaf, tapi-tapi apa yang harus kita lakukan selanjutnya, Bos?” tanya Rival, “Apa kita biarkan saja dia? Dan mencari target lain?” Tatapan Byakta masih terlihat tenang, walau Rival sudah bisa menebak, ada sesuatu yang mulai berubah dari raut wajah sang bos. “Sejak kapan kamu jadi banyak bicara, Rival?” Rival kembali menundukkan kepalanya. “Maaf,” ucapnya pelan. “Jadwalkan ulang pertemuannya.” Rival mengangkat wajahnya ragu, keningnya berkerut beberapa saat. “U-untuk negosiasi ulang?” tanya Rival. “Ta-tapi, Bos, ini hanya akan—” “Tidak,” jawabnya dengan suara rendah. “Saya tidak suka mengulang,” lanjutnya. “Ini hanya untuk melihat dia secara langsung.” Benar saja, Byakta memang tidak pernah menerima kekelahan sekecil apapun. Tak lama, senyum simpul terbit di wajah datar Rival. Dia mengangguk pelan, lalu undur diri. Rival selalu menuruti apapun perintah Byakta, sekalipun itu harus memenggal kepala manusia. Dia tidak peduli dengan aturan ataupun dosa, karena perintah Tuannya ada di atas segalanya. Sedangkan disudut kota lain, Ivanka masih duduk di meja kerjanya. Wajahnya lelah dengan mata sayu karena kurang tidur. Dia meremas jemarinya. Dia ingin mengumpat dan meludahi orang tua sialan yang sudah merusak bisnis almarhum ibunya dalam sekejap mata. Dengan gerakan perlahan, dia menutup laptopnya. Wajahnya menengadah menatap.langit-langit yang di terangi cahaya temaram. Tarikan napas berat, lolos dari hidungnya. “Maaf, Iva udah gagal jaga peninggalan, Mama,” gumamnya pelan. Ruang kerja kecil itu terasa semakin sesak dan sempit. Dokumen hutang menumpuk di meja. Semua tagihan hutang jatuh tempo dalam hitungan minggu. “Apa kita benar-benar menolak mereka?” seorang laki-laki setengah tua datang dengan kondisi yang sama lelahnya. Ivanka tidak bergerak. Dia juga tisak langsung menjawab. Dia memijat keningnya dengan mata terpejam, lalu mengangguk samar. “Kalau kita menerima mereka, perusahaan yang kita bangun susah payah ini bukan lagi milik kita,” ujar Ivanka ragu. Ivanka sendiri bahkan belum tahu, kalau keputusannya ini benar atau tidak, dia hanya refleks menolak Bagaspati karena tahu sisi gelap dari kepemimpinan mereka. “Mereka hanya akan menjadikan kita mainan. Dan aku tidak suka dipermainkan.” “Tapi Bagaspati bukan lawan yang kecil, Ivanka.” “Aku tahu,” Ivanka bangkit dari duduknya. Merapikan dukumen-dokumen sialan itu dengan kasar. “Bahkan semua orang juga tahu kegilaan Bagaspati seperti apa, tapi aku tetap tidak akan menyerahkan bisnis ini begitu saja.”“Dia nggak setuju!”Kayden berdiri di bawah panggung dan masih mengenakan pakaian rumah sakit. Di balik pakaiannya, terlihat luka-luka yang bersilangan. Rambutnya yang selalu tersisir rapi juga sangat berantakan. Tampangnya sangat menyedihkan, tetapi juga menakutkan.Kayden sama sekali tidak peduli pada tatapan aneh orang lain. Dia hanya menatap Calista lekat-lekat.“Pak Kayden, apa maumu?” Aciel memicingkan mata dan mengadang di depan Calista. “Kamu mau merebut tunanganku?”Kayden yang terbakar api cemburu memelototi Aciel dengan tangan terkepal erat. Namun, ketika teringat tujuannya, dia buru-buru berjalan ke depan Calista.“Calista, jangan menikah dengannya! Jangan menikah dengannya, ya? Aku sudah sadari semua kesalahanku. Aku tahu semua yang terjadi dulu adalah salahku. Tapi, aku mohon berikanlah aku sebuah kesempatan lagi. Aku pasti akan berubah. Kelak, aku akan mencintaimu dengan sepenuh hati ....”Berhubung khawatir Calista tidak percaya, Kayden mengeluarkan kotak yang disembuny
Melihat Calista tidak membantah, Vincent segera memeriksa luka di tubuh Calista. Dari dulu, dia sudah khawatir Kayden akan melukai Calista. Namun, Calista selalu membela Kayden dan tidak bersedia memberi tahu apa pun kepadanya.Begitu memikirkan bagaimana putri Keluarga Lisano yang dibesarkan dengan hati-hati itu dilukai seperti ini, Vincent langsung merasa sangat sakit hati. Dia bertukar pandang dengan Aciel dan dapat langsung membaca niat yang terpancar dari matanya. Dia pun mengangguk, lalu menyuruh pengawal untuk menyeret Kayden keluar.Vincent tinggal di vila untuk menjaga Calista. Sementara itu, Aciel mengikuti pengawal keluar. Dia menyaksikan mereka menyeret Kayden ke sebuah gang yang gelap dan sepi, lalu melemparnya ke atas lumpur dengan kuat. Setelahnya, dia memberi perintah dengan dingin, “Sayat dia 99 kali. Jangan kurang sekali pun.”Dengan kesadaran yang kabur, Kayden merasa dirinya seperti sudah kembali ke masa lalunya bersama Calista. Dia kembali ke hari di mana Nadia me
Namun, tidak peduli bagaimana Kayden berseru atau mengejar di belakang, mobil itu tetap melaju makin jauh tanpa mengurangi kecepatannya sedetik pun.Tiga bulan lalu, Kayden tidak pernah membayangkan bahwa ada hari di mana dirinya akan mengesampingkan harga dirinya dan melepaskan semuanya hanya demi Calista memaafkannya. Dia juga tidak menyangka bahwa setelah mengesampingkan semuanya dan mengucapkan semua hal baik, Calista tetap tidak meliriknya bahkan sekali pun.Secara berangsur-angsur, Kayden pun tertinggal jauh di belakang mobil. Dia hanya bisa menyaksikan lampu berwarna merah di belakang mobil kian menjauh. Hatinya terasa sangat hampa. Matanya dipenuhi dengan berbagai emosi. Pada akhirnya, yang paling mendominasi adalah obsesi dan keras kepala.Kayden tidak akan menyerah semudah ini. Dia pasti sudah melukai Calista terlalu dalam. Namun, tidak apa-apa. Dia harus sabar dan menemukan cara yang benar. Biar bagaimanapun, dia harus membuat Calista kembali ke sisinya.Kayden meninggalkan
“Ada orang yang cari masalah di sini dan sengaja memukul pacarku.”Mata Kayden membelalak lebih besar lagi. Dia terpaku di tempat dengan tidak percaya dan tidak dapat melontarkan sepatah kata pun untuk waktu yang sangat lama.Kayden hanya bisa melihat Calista memberi pesan kepada kepala pelayan untuk menangani urusan dengan polisi, lalu menyaksikan Calista membawa Aciel pergi tanpa meliriknya sekali pun.Hati Kayden terasa sangat sakit. Dia benar-benar tidak percaya bahwa Calista tega melakukan hal seperti ini. Di mata Calista, dirinya sudah benar-benar tidak penting lagi. Meskipun dia terluka, Calista juga sama sekali tidak peduli.Kayden dibawa pergi polisi, sedangkan Calista membawa Aciel ke rumah sakit. Lukanya tidak termasuk serius, tetapi memar yang tertinggal di tubuhnya terlihat menakutkan.Calista mengamati memar di wajah Aciel, lalu meminta dua kotak disinfektan dari staf medis dan menangani lukanya dengan hati-hati.“Aku benar-benar nggak menduga masalah hari ini. Maaf. Sete
Nadia mengangkat tangannya untuk mencengkeram lengan baju Kayden. Melihat Kayden yang tidak menepisnya, timbul lagi secercah harapan dalam sepasang matanya yang merah.“Kayden ....”Kayden memandang Nadia dengan ekspresi datar. Setelah beberapa saat, dia pun tersenyum.“Oke. Kamu mau dilamar, ‘kan?
“Mungkin saja itu kakaknya Nyonya Calista. Pak Kayden, gimana kalau kamu coba cari Pak Vincent dulu?”Mata Kayden langsung berbinar. Benar juga, kenapa dia tidak terpikirkan hal ini! Calista pasti pergi mencari kakaknya!“Pesankan tiket pesawat ke Negara Moriko.”Kayden tidak tidur sekejap pun selam
Kayden menggandeng tangan Nadia dan meninggalkan bandara. Setelah duduk di mobil, dia menatap lekat-lekat layar obrolan yang ditampilkan ponselnya. Layarnya sudah menyala dan padam belasan kali, setengah jam telah berlalu. Namun, layarnya masih tidak menunjukkan apa-apa.Kayden pun merasa ada yang t
Nadia pun jatuh ke lantai akibat tamparan tersebut. Kulitnya bergesekan dengan permukaan lantai yang kasar dan meninggalkan bekas darah yang besar. Dia menutupi wajahnya dengan bingung dan mencicipi rasa darah di tenggorokannya. Nadia benar-benar tidak mengerti apa yang sudah terjadi. Kenapa Kayden












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews