登入Sari menatap wajah Yoko dengan mulut terbuka seperti orang bego. Ia tidak percaya orang seperti Yoko hendak balas dendam kepada istrinya sendiri. Padahal istrinya dalam keadaan koma.
“Apa maksud Pak Yoko dengan balas dendam?” tanya Sari.
“Saya ingin membuat mereka kapok. Jika mereka sadar nanti, mereka menyesal karena sudah selingkuh,” jawab Yoko dengan tegas.
Sari merasa Yoko sedang tidak main-main. “Apa Pak Yoko mau mencabut alat bantu yang menempel pada Bu Nena?” tanya Sari dengan pelan-pelan.
“Bukan!” jawab Yoko. “Kalau dengan cara seperti itu nanti saya dipenjara.”
“Lantas, dengan cara apa, dong?” Sari penasaran dengan rencana balas dendam Yoko.
“Kita balas mereka dengan selingkuh juga,” jawab Yoko.
Sari terkejut mendengar ucapan Yoko. “Saya tidak mau. Pak Yoko saja yang selingkung dengan perempuan lain!” seru Sari. “Saya masih mencintai suami saya.”
“Loh, kok, saya harus selingkuh dengan orang lain? Ibu kan istri Pak Taufik. Jadi mestinya saya selingkuh dengan Bu Sari,” ujar Yoko.
Namun, ada dua orang pelayan datang menghampiri meja mereka. Mereka menghentikan percakapan mereka. Kedua pelayan itu menyajikan makanan di atas meja.
“Kita makan dulu,” ujar Yoko setelah kedua pelayan itu pergi.
Setelah mereka selesai makan, Yoko tidak menyinggung lagi tentang balas dendam. Mereka langsung pulang.
.
.
Setelah pertemuan terakhir Yoko tidak pernah lagi menghubungi Sari. Dua minggu kemudian Yoko menelepon Sari. “Bu Sari, apakah kita bisa bertemu? Ada yang ingin saya bicarakan dengan Bu Sari.”
“Tentang apa?” tanya Sari.
Sari mendengar suara Yoko menghela napas panjang. Sepertinya ada sesuatu hal penting yang akan Yoko sampaikan. “Ini mengenai hasil tes DNA Hana,” jawab Yoko.
“Kita ketemu di mana?” tanya Sari.
“Kita ketemu di restoran di jalan Banda. Saya kirim alamatnya. Kalau Bu Sari datang duluan, langsung pesan makanan!” ujar Yoko.
“Baik, Pak Yoko.” Yoko mengakhiri percakapannya.
.
.
Sari mengemudikan motornya menuju ke restoran di jalan Banda. Ketika ia sampai di restoran, ia tidak melihat Yoko. Ia pun memutuskan untuk mencari tempat duduk. Sari memilih duduk di lantai dua.
Seorang pelayan restoran menghampiri meja Sari lalu memberikan buku menu kepada Sari. Sari membaca daftar menu, ternyata restoran itu menyajikan makanan barat. Menu-menu makanan yang tertulis buku menu terdengar asing untuknya. Walaupun, ia mengerti bahasa Inggris, tetapi ia belum pernah makan makanan barat. Sari berasal dari keluarga sederhana. Restoran yang paling mewah ia kunjungi adalah rumah makan sunda.
Sari tersadar kalau pelayan restoran masih berdiri di sampingnya, menunggunya untuk pesan minuman dan makanan. “Teh, saya pesannya nanti saja. Nunggu teman saya datang.” Sari menutup buku menu lalu ia letakan di atas meja.
“Baik, Bu.” Pelayan restoran meninggalkan meja Sari.
Sari duduk sambil bengong, ia tidak tahu apa yag harus ia lakukan. Ia tidak berani memesan makanan karena ia takut Yoko tidak jadi datang. Ia tidak memiliki uang untuk membeli makanan di restoran. Pandangan Sari tertuju pada tangga menuju lantai satu, ia berharap Yoko segera datang.
Beberapa menit kemudian telepon seluler Sari berdering, Sari cepat-cepat mengambil telepon seluler dari dalam tas. Ternyata ada telepon dari Yoko. Sari langsung menjawab telepon Yoko. “Hallo.”
“Hallo Bu Sari. Bu Sari di mana? Saya sudah sampai di restoran. Tapi Bu Sari tidak ada.” Suara Yoko terdengar seperti orang cemas.
“Saya sudah sampai, Pak Yoko. Saya ada di lantai dua, Pak,” jawab Sari dengan sabar.
“Ya sudah, saya ke sana sekarang.” Yoko menutup telepon.
Tak lama Yoko muncul di lantai dua. Sari menarik napas lega ketika melihat Yoko. Yoko menghampiri Sari. Ia meletakkan amplop berwarna putih di atas meja. “Sudah pesan makanan?” tanya Yoko sambil duduk di kursi.
“Belum,” jawab Sari.
Yoko mengerut kening. “Loh, kenapa?” tanya Yoko. “Saya kan suruh Bu Sari pesan makanan duluan.”
Sari menutup mulut sebelah kiri dengan telapak tangan. “Menu-menunya aneh semua. Saya nggak kenal sama nama makannya,” jawab Sari dengan suara pelan agar tidak terdengar oleh pelayan dan pengunjung restoran.
“Coba saya lihat menunya.” Yoko meminta buku menu kepada Sari. Sari memberi buku menu kepada Yoko, Yoko membuka buku menu lalu membaca daftar menu satu persatu. Setelah ia membaca daftar menu, tidak heran kalau Sari tidak mengerti dengan menu yang ada.
Yoko bangun dari kursi ia duduk lalu ia memindahkan kursi ke sebelah Sari. Sari cuma melongo melihat yang Yoko lakukan. Yoko duduk di sebelah Sari lalu buku menu di buka di tengah-tengah mereka. Yoko membacakan menu satu persatu sambil menerangkan kepada Sari. Ia memberi gambaran masing-masing menu, terbuat dari apa dan rasa makanan tersebut. Awalnya Sari merasa cangguh berada begitu dekat dengan Yoko, tapi akhirnya ia pun mengerti mengapa Yoko melakukan demikian.
Sari mendengarkan ketika Yoko menerangkan. Lama kelamaan rasa cangguh Sari berkurang, ia merasa nyaman ketika mendengarkan Yoko membaca buku menu.
Akhirnya mereka memesan makanan yang mereka ingin kan dan pelayan restoran pergi meninggalkan meja mereka. Namun, Yoko masih diposisi sekarang, ia belum merubah tempat duduknya.
“Bagaimana dengan hasil tes DNA Hana?” tanya Sari. Tujuan mereka datang ke restoran adalah untuk membicarakan hasil DNA Hana.
“Oh, iya. Saya lupa.” Yoko bangun dari tempat duduk lalu mengambil amplop putih yang tadi ia letakkan di atas meja. Setelah itu, ia kembali duduk di sebelah Sari.
“Ini hasilnya. Bu Sari baca sendiri.” Yoko memberi amplop putih kepada Sari. Sari mengeluarkan kertas yang berada di dalam amplop.
Sebelum ia membaca hasil tes DNA, ia menoleh ke Yoko. “Pak Yoko nggak kembali duduk di tempat semula?” Sari menunjuk ke tempat yang kosong yang berada hadapannya.
“Nanti saja, makanannya belum datang,” jawab Yoko dengan santai.
Akhirnya Sari membiarkan Yoko duduk di sebelahnya. Ia memutuskan untuk membaca hasil test DNA. Di lembaran itu ada tabel yang bertuliskan huruf dan angka yang tidak ia mengerti. Matanya tertuju pada tulisan yang berada di bawah tabel.
Hallo, assalamualaikum. Perkenalkan saya Deche penulis baru di GoodNovel. Semoga teman-teman suka dengan cerita saya.
Yoko mengeluarkan sejumlah uang dari dalam pouch. Jumlahnya lumayan banyak. Ia memberikan uang itu kepada Sari. “Ini uang untukmu selama kamu di Ancol.” Namun, Sari tidak mengambil uang itu. “Saya masih ada uang yang diberikan Kang Yoko beri minggu kemarin, “ kata Sari.“Sayang, uang itu untuk keperluan kamu. Kalau uang ini untuk kamu senang-senang selama kamu berada di Ancol, “ ujar Yoko. “Di sini serba mahal. Bagaimana kalau uang kamu sampai habis? Nanti kamu nggak punya uang.“Sari berpikir sejenak. Benar juga apa yang dikatakan Yoko, nanti pulang dari Ancol dia makan dengan apa? Sari mengambil uang itu dari tangan Yoko dengan ragu-ragu. “Jumlahnya 3 juta rupiah. Kalau kurang kamu minta lagi ke aku, “ ujar Yoko.Sari terkejut mendengar perkataan Yoko. “Banyak sekali, “ kata Sari.Yoko tersenyum mendengar perkataan Sari. “Nggak apa-apa. Yang penting kamu senang, “ ujar Yoko sambil mengusap kerudung Sari. “Kita turun, yuk. “ Yoko mematikan mesin mobil.Sari turun dari mobil, ia m
Sari memperhatikan apa yang dilakukan oleh Yoko. Yoko mendekati Sari, tanpa mengatakan apa-apa ia mengecup bibir Sari dengan lembut . Sari terkejut ketika Yoko tiba-tiba mengecup bibirnya. Namun, Yoko melakukannya tidak lama-lama. “Udah, ah. Jangan lama-lama, nanti nggak jadi pergi ke Jakarta.” Yoko mengecup kening Sari lalu kembali ke posisi semula. Ia memakai sabuk pengaman lalu menjalankan mobilnya. Sari sempat melongo dengan apa yang dilakukan Yoko. Namun, ia menundukkan kepala lalu tersenyum. Ia senang Yoko menciumnya.Pukul 6.30 mereka sudah sampai di Ancol. “Kita cari sarapan dulu,” kata Yoko usai membayar tiket masuk.“Tidak usah cari sarapan. Saya sudah siapkan makanan untuk sarapan kita berdua,” kata Sari.Yoko langsung menoleh ke Sari. “Kamu masak?” tanya Yoko. Sari tersenyum lalu mengangguk.“Kapan masaknya?” tanya Yoko sambil menyetir mobil.“Kemarin sore, Kang,” jawab Sari.“Kenapa masak? Padahal kita beli sarapan saja,” ujar Yoko.“Saya ingin masak untuk Yoko,” jawab Sar
Yoko menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah bercat putih. Ia menatap rumah yang berukuran minimalis itu. Nomor rumah yang menempel di tembok pagar sesuai dengan petunjuk yang diberikan oleh pemiliknya. Yoko pun menelepon pemilik rumah itu.Tanpa menunggu beberapa lama, pemilik rumah itu pun menjawab telepon Yoko. “Hallo.” Terdengar suara merdu Sari di seberang telepon. Rumah yang di datangi Yoko adalah rumah Sari.“Hallo, Sayang. Aku sudah sampai di depan rumah kamu,” sapa Yoko.“Baiklah, Kang. Saya akan segera keluar,” kata Sari lalu menutup telepon.Yoko menaruh telepon di bagian ticket holder di dasboard. Ia memperhatikan ke sekeliling rumah Sari yang terlihat masih sepi, tidak ada satu orang pun yang lewat. Ini pertama kalinya ia datang ke rumah Sari. Sebuah perumahan yang terletak di pinggiran kota Bandung. Jaraknya lumayan jauh dari rumah Yoko.Yoko kembali menoleh ke rumah Sari. Ia melihat Sari sudah berada di depan rumah, ia sedang mengunci pintu rumah. Yoko turun dari mob
Sari cepat-cepat mengumpet di balik tembok agar tidak terlihat oleh Yoko. Ia memperhatikan Yoko dari balik tembok. Wajah Yoko terlihat ceria ketika hendak menjenguk istrinya. Entah mengapa Sari merasa sedih ketika melihat Yoko yang hendak menjenguk Nena. Yoko yang ceria seolah Yoko senang karena hendak bertemu dengan istrinya. Sari cuma bisa menatap Yoko dari balik tembok dengan wajah sedih.Setelah Yoko terlihat jauh barulah Sari keluar dari tempat persembunyiannya. Air matanya menggenang di pelupuk mata. ‘Mengapa Nena bisa mendapatkan cinta dari Taufik dan Yoko? Sedangkan dia, tidak ada satu laki-laki yang mau mencintainya.’Tak terasa air matanya mengalir di pipi. Ia mengusap air mata lalu berjalan gontai meninggalkan rumah sakit. Semenjak pertemuan terakhir dengan Yoko, Yoko belum meneleponnya. Ia merasa Yoko sudah melupakannya dan kembali kepada istrinya. Sari hanya bisa pasrah pada kenyataan yang ia hadapi...Sari baru saja selesai solat. Ia membuka mukenah yang ia pakai lal
Yoko sedang berbaring di tempat tidur, tubuhnya di tutupi oleh selimut. Ia menoleh ke samping, Sari sedang tidur dengan nyenyak. Perempuan itu letih karena mereka baru selesai bercinta. Mereka bercinta sebanyak 2 kali. Pertama di kamar mandi ketika mereka mandi bareng, yang kedua di ketika mereka hendak tidur.Yoko tahu apa yang mereka lakukan salah, tapi ia mengajak Sari melakukannya karena ia ingin balas dendam kepada istrinya. Ia dan Sari sama-sama menjadi korban permainan cinta Nena dan Taufik. Namun, dalam hal ini yang benar-benar dirugikan adalah Sari. Ketika mereka sedang bercinta Yoko tidak memakai pengaman, padahal Sari sudah mengingatkannya berkali-kali. Namun, ia tetap dengan pendiriannya. Alasannya balas dendam yang mereka lakukan harus setimpal dengan apa yang dilakukan oleh Nena dan Taufik. Jika Nena dan Taufik memiliki anak dari hasil selingkuh, maka ia dan Sari harus memiliki anak dari hasil selingkuh. Ia berjanji kepada Sari, ia akan bertanggung jawab jika Sari sampai
Sari merebahkan diri di kursi santai sambil menikmati langit senja yang mula tenggelam. Ia baru saja selesai menghabiskan beberapa potong qroquette dan segelas minuman tropical mango mojito. Suasana di kolam renang sudah mulai sepi, hanya tinggal Yoko dan beberapa orang yang masih berenang. Sari heran melihat Yoko masih kuat berenang, padahal udara sudah mulai dingin. Sari membiarkan Yoko berenang sampai puas, ia melanjutkan scroll media sosial. Baru 5 menit Sari menikmati postingan di media sosial, ia mendengar suara Yoko memanggilnya. Sari mengalihan pandangannya dari telepon seluler. Ia melihat Yoko yang berada di pinggir kolam renang sambil memandang ke arahnya. Ternyata kolam renang sudah sepi tinggal Yoko sendiri yang berada di kolam renang. “Sari.” Yoko sekali lagi memanggil Sari. Sari meletakkan telepon seluler di atas meja lalu menghampiri Yoko. “Ada apa, Pak?” tanya Sari. “Tolong ambilkan handuk!” ujar Yoko. Sari kembali ke tempat duduk lalu mengambil hand







