分享

Yoko Marah.

作者: Deche
last update publish date: 2026-07-07 12:06:29

Yoko menghela napas panjang lalu memegang keningnya. Kepalanya terasa sakit mendengar perkataan Sari. “Maafkan saya, Pak. Saya hanya menyampaikan saja,” ucap Sari lalu ia menyelempangkan tali tas ke bahunya kemudian ia berdiri. “Sudah magrib, saya pamit pulang dulu. Terima kasih atas hidangannya yang lezat.”

Yoko mengangkat wajahnya. “Saya antar Ibu kembali ke rumah sakit.” Yoko bangun dari tempat duduk lalu ia berjalan menuju ke kasir. Sari mengikuti Yoko.

Setelah membayar makanan, mereka pun berjalan menuju ke mobil. Yoko membuka kunci mobil dengan remote, tetapi Sari tidak masuk ke mobil. “Pak, biar saya naik ojek ke rumah sakit,” kata Sari sekali lagi.

“Saya sudah janji akan mengantar Ibu kembali ke rumah sakit.” Yoko pun masuk ke mobil. Terpaksa Sari masuk ke dalam mobil.

Selama di perjalanan Yoko diam, ia fokus menyetir mobil. Sari merasa tidak enak kepada Yoko. Ia pun memutuskan untuk melihat ke samping mobil daripada melihat Yoko yang sedang marah.

.

.

Pada suatu malam ketika Sari hendak tidur, telepon selulernya berdering. Ia mengambil telepon seluler yang berada di atas nakas, rupanya ada telepon dari Yoko. ‘Ngapain Pak Yoko malam-malam nelepon?’

Sari menjawab telepon Yoko. Ia takut ada kabar penting dari Yoko. “Hallo, selamat malam.”

“Selamat malam, Bu Sari. Maaf malam-malam saya menelepon Bu Sari.” Terdengar suara Yoko  dari seberang telepon.

“Ada apa, Pak Yoko?” tanya Sari.

“Saya mau test DNA Hana. Saya minta tolong sama Bu Sari untuk mengambil sampel Pak Taufik untuk saya bawa ke laboraturium.” Sari senang mendengar ucapan Yoko. Akhirnya Yoko mau tes DNA Hana. Entah apa yang membuat Yoko merubah pendiriannya?

“Saya harus ambil sampel langsung dari suami saya,” kata Sari karena di rumah  tidak ada sampel Taufik yang bisa ia ambil.

“Kalau begitu kita ketemu di rumah sakit. Kabari saya kalau Ibu sudah mengambil sampel. Sudah, ya. Saya cuma mau membicarakan itu saja . Selamat malam.” Taufik mengakhiri pembicaraannya.

Keesokan hari Sari datang ke rumah sakit. Ia minta tolong kepada perawat untuk mengambilkan sampel Taufik. Ia menjelaskan kepada perawat untuk apa ia mengambil sample. Beruntung perawat mau mengerti dan mau mengambilkan sampel. Setelah berhasil mendapatkan sampel Sari menelepon Yoko. Mereka janjian bertemu di taman rumah sakit.

Dua puluh menit kemudian Yoko datang menghampiri Sari di taman rumah sakit. Seperti biasa ia menggunakan pakaian kerja yang rapih. Kali ini ia menggunakan kemeja lengan panjang berwarna putih dan celana berbahan wool berwarna biru gelap.

Sari memberikan sampel kepada Yoko. “Terima kasih, Bu Sari,” ucap Yoko. “Bu Sari sudah makan siang?” tanya Yoko.

“Belum, Pak,” jawab Sari.

“Kebetulan saya juga belum makan siang. Kita makan siang bareng. Tapi sebelumnya kita ke laboratorium dulu. Saya mau memberikan sampel-sampel ini.” Yoko memperlihatkan tas kain yang ia bawa.

Sari berpikir sejenak. Perutnya sudah lapar, kalau ia pulang dulu ke rumah ia pasti kelaparan di jalan. Kalau makan di luar uang yang ia miliki tinggal sedikit lagi. Ia tidak mungkin meminta Yoko yang membayarkan makanannya.

“Saya makan di rumah saja,” jawab Sari.

“Ibu tidak usah khawatir. Saya yang akan bayar makan siang Ibu karena Ibu sudah membantu saya mendapatkan sampel untuk tes DNA,” ujar Yoko seolah ia tahu kerisauan Sari.

Tanpa berpikir panjang akhirnya Sari menjawab, “Baiklah.”

Mereka meninggalkan taman menuju ke laboratorium. Rumah sakit tempat Taufik dirawat memiliki fasilitas laboratorium yang lengkap dan tenaga medis yang berpengalaman sehingga menjadi salah satu rumah sakit terbaik untuk test DNA.

“Kita cari restoran di luar saja,” ujar Yoko setelah dari laboratorium.

“Saya ambil motor saya dulu. Tempat parkirnya ada di belakang sana.” Sari menunjuk ke arah belakang rumah sakit.

“Kalau begitu kita ketemu di pintu depan,” ujar Yoko.

“Baik, Pak.” Sari pun berjalan menuju tempat parkir motor.

Setelah mengambil motor, Sari mengendarai motornya menuju ke pintu depan rumah sakit. Ia melihat mobil Yoko sudah berada di dekat pintu rumah sakit. Sari turun dari motor lalu menghampiri Yoko. Di dalam mobil Yoko sedang fokus ke telepon seluler.

Sari mengetuk jendela mobil, Yoko menoleh ke jendela mobil  lalu membuka jendela mobil. “Kita makan di restoran di jalan sungai Citarum. Saya sudah kirim lokasinya, takut nanti kita terpisah di jalan,” ujar Yoko.

“Baik, Pak.” Sari pun kembali ke motor. Mobil Yoko bergerak maju, Sari menjalankan motornya mengikuti mobil Yoko. Sepanjang jalan Yoko tidak mengemudikan mobil dengan mengebut, agar Sari bisa mengikutinya. Hingga akhirnya mereka sampai di restoran yang mereka tuju, yaitu rumah makan Sunda.

Setelah memarkirkan motor, Sari menghampiri Yoko yang baru turun dari mobil. “Ayo kita masuk.” Yoko berjalan menuju ke restoran. Sari mengikuti Yoko. Ia berjalan sambil menoleh ke kanan dan ke kiri. ‘Aduh, bagaimana kalau sampai ada yang kenalku? Mereka pasti menyangka aku sedang selingkuh,’ kata Sari di dalam hati. Akhirnya ia memutuskan jalan sambil menunduk agar wajahnya tidak terlihat oleh orang lain.

Mereka memutuskan untuk duduk di tempat lesehan. Kanan dan kiri tempat itu di tutupi dengan bilik sehingga pengunjung yang di sebelah tidak bisa melihat ke tempat duduk mereka.

Seorang pelayan datang lalu memberikan buku menu dan kertas kosong untuk menulis pesanan. Yoko menyuruh Sari untuk lebih dahulu memilih makanan. Setelah mereka selesai pesan makanan, pelayan meninggalkan tempat duduk mereka. “Ibu pernah makan di sini?” tanya Yoko.

Sari menjawab dengan menggelengkan kepala. Yoko terlihat terkejut melihat jawaban Sari. “Suami saya nggak pernah mengajak makan di luar, bahkan mengajak makan di kaki lima pun tidak pernah,” jawab Sari. “Kalau saya protes, pasti ada jawabannya yang masuk di akal sehingga saya tidak protes lagi.”

“Mungkin suami Ibu lebih suka mengajak makan perempuan lain,” ujar Yoko.

“Saya juga nggak tau, Pak,” jawab Sari. ‘Yang jelas dia sering mengajak istri Bapak,’ kata Sari di dalam hati. ‘Tapi mengapa Pak Yoko tidak pernah tahu istrinya pergi dengan laki-laki lain? Apa Pak Yoko bucin ke Ibu Nena? Sampai begitu percaya kepada Ibu Nena?’

Sari dan Yoko tidak melanjutkan pembicaraan mereka, mereka sibuk dengan telepon selulernya masing. Yoko berkali-kali menelepon kantornya, ia memberi perintah kepada karyawan melalui telepon.

“Bu Sari.” Yoko memanggil Sari usai menelepon kantor.

Sari mengangkat wajanya. “Ada apa, Pak Yoko?”

“Bagaimana kalau kita membalas perbuatan mereka?” Yoko menatap wajah Sari dengan serius.

在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP

最新章節

  • Selingkuh Dibalas Selingkuh.   Menyerah.

    Yoko mengeluarkan sejumlah uang dari dalam pouch. Jumlahnya lumayan banyak. Ia memberikan uang itu kepada Sari. “Ini uang untukmu selama kamu di Ancol.” Namun, Sari tidak mengambil uang itu. “Saya masih ada uang yang diberikan Kang Yoko beri minggu kemarin, “ kata Sari.“Sayang, uang itu untuk keperluan kamu. Kalau uang ini untuk kamu senang-senang selama kamu berada di Ancol, “ ujar Yoko. “Di sini serba mahal. Bagaimana kalau uang kamu sampai habis? Nanti kamu nggak punya uang.“Sari berpikir sejenak. Benar juga apa yang dikatakan Yoko, nanti pulang dari Ancol dia makan dengan apa? Sari mengambil uang itu dari tangan Yoko dengan ragu-ragu. “Jumlahnya 3 juta rupiah. Kalau kurang kamu minta lagi ke aku, “ ujar Yoko.Sari terkejut mendengar perkataan Yoko. “Banyak sekali, “ kata Sari.Yoko tersenyum mendengar perkataan Sari. “Nggak apa-apa. Yang penting kamu senang, “ ujar Yoko sambil mengusap kerudung Sari. “Kita turun, yuk. “ Yoko mematikan mesin mobil.Sari turun dari mobil, ia m

  • Selingkuh Dibalas Selingkuh.   Sarapan.

    Sari memperhatikan apa yang dilakukan oleh Yoko. Yoko mendekati Sari, tanpa mengatakan apa-apa ia mengecup bibir Sari dengan lembut . Sari terkejut ketika Yoko tiba-tiba mengecup bibirnya. Namun, Yoko melakukannya tidak lama-lama. “Udah, ah. Jangan lama-lama, nanti nggak jadi pergi ke Jakarta.” Yoko mengecup kening Sari lalu kembali ke posisi semula. Ia memakai sabuk pengaman lalu menjalankan mobilnya. Sari sempat melongo dengan apa yang dilakukan Yoko. Namun, ia menundukkan kepala lalu tersenyum. Ia senang Yoko menciumnya.Pukul 6.30 mereka sudah sampai di Ancol. “Kita cari sarapan dulu,” kata Yoko usai membayar tiket masuk.“Tidak usah cari sarapan. Saya sudah siapkan makanan untuk sarapan kita berdua,” kata Sari.Yoko langsung menoleh ke Sari. “Kamu masak?” tanya Yoko. Sari tersenyum lalu mengangguk.“Kapan masaknya?” tanya Yoko sambil menyetir mobil.“Kemarin sore, Kang,” jawab Sari.“Kenapa masak? Padahal kita beli sarapan saja,” ujar Yoko.“Saya ingin masak untuk Yoko,” jawab Sar

  • Selingkuh Dibalas Selingkuh.   Pergi ke Jakarta.

    Yoko menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah bercat putih. Ia menatap rumah yang berukuran minimalis itu. Nomor rumah yang menempel di tembok pagar sesuai dengan petunjuk yang diberikan oleh pemiliknya. Yoko pun menelepon pemilik rumah itu.Tanpa menunggu beberapa lama, pemilik rumah itu pun menjawab telepon Yoko. “Hallo.” Terdengar suara merdu Sari di seberang telepon. Rumah yang di datangi Yoko adalah rumah Sari.“Hallo, Sayang. Aku sudah sampai di depan rumah kamu,” sapa Yoko.“Baiklah, Kang. Saya akan segera keluar,” kata Sari lalu menutup telepon.Yoko menaruh telepon di bagian ticket holder di dasboard. Ia memperhatikan ke sekeliling rumah Sari yang terlihat masih sepi, tidak ada satu orang pun yang lewat. Ini pertama kalinya ia datang ke rumah Sari. Sebuah perumahan yang terletak di pinggiran kota Bandung. Jaraknya lumayan jauh dari rumah Yoko.Yoko kembali menoleh ke rumah Sari. Ia melihat Sari sudah berada di depan rumah, ia sedang mengunci pintu rumah. Yoko turun dari mob

  • Selingkuh Dibalas Selingkuh.   Rindu

    Sari cepat-cepat mengumpet di balik tembok agar tidak terlihat oleh Yoko. Ia memperhatikan Yoko dari balik tembok. Wajah Yoko terlihat ceria ketika hendak menjenguk istrinya. Entah mengapa Sari merasa sedih ketika melihat Yoko yang hendak menjenguk Nena. Yoko yang ceria seolah Yoko senang karena hendak bertemu dengan istrinya. Sari cuma bisa menatap Yoko dari balik tembok dengan wajah sedih.Setelah Yoko terlihat jauh barulah Sari keluar dari tempat persembunyiannya. Air matanya menggenang di pelupuk mata. ‘Mengapa Nena bisa mendapatkan cinta dari Taufik dan Yoko? Sedangkan dia, tidak ada satu laki-laki yang mau mencintainya.’Tak terasa air matanya mengalir di pipi. Ia mengusap air mata lalu berjalan gontai meninggalkan rumah sakit. Semenjak pertemuan terakhir dengan Yoko, Yoko belum meneleponnya. Ia merasa Yoko sudah melupakannya dan kembali kepada istrinya. Sari hanya bisa pasrah pada kenyataan yang ia hadapi...Sari baru saja selesai solat. Ia membuka mukenah yang ia pakai lal

  • Selingkuh Dibalas Selingkuh.   Check Out

    Yoko sedang berbaring di tempat tidur, tubuhnya di tutupi oleh selimut. Ia menoleh ke samping, Sari sedang tidur dengan nyenyak. Perempuan itu letih karena mereka baru selesai bercinta. Mereka bercinta sebanyak 2 kali. Pertama di kamar mandi ketika mereka mandi bareng, yang kedua di ketika mereka hendak tidur.Yoko tahu apa yang mereka lakukan salah, tapi ia mengajak Sari melakukannya karena ia ingin balas dendam kepada istrinya. Ia dan Sari sama-sama menjadi korban permainan cinta Nena dan Taufik. Namun, dalam hal ini yang benar-benar dirugikan adalah Sari. Ketika mereka sedang bercinta Yoko tidak memakai pengaman, padahal Sari sudah mengingatkannya berkali-kali. Namun, ia tetap dengan pendiriannya. Alasannya balas dendam yang mereka lakukan harus setimpal dengan apa yang dilakukan oleh Nena dan Taufik. Jika Nena dan Taufik memiliki anak dari hasil selingkuh, maka ia dan Sari harus memiliki anak dari hasil selingkuh. Ia berjanji kepada Sari, ia akan bertanggung jawab jika Sari sampai

  • Selingkuh Dibalas Selingkuh.   Kolam Renang.

    Sari merebahkan diri di kursi santai sambil menikmati langit senja yang mula tenggelam. Ia baru saja selesai menghabiskan beberapa potong qroquette dan segelas minuman tropical mango mojito. Suasana di kolam renang sudah mulai sepi, hanya tinggal Yoko dan beberapa orang yang masih berenang. Sari heran melihat Yoko masih kuat berenang, padahal udara sudah mulai dingin. Sari membiarkan Yoko berenang sampai puas, ia melanjutkan scroll media sosial. Baru 5 menit Sari menikmati postingan di media sosial, ia mendengar suara Yoko memanggilnya. Sari mengalihan pandangannya dari telepon seluler. Ia melihat Yoko yang berada di pinggir kolam renang sambil memandang ke arahnya. Ternyata kolam renang sudah sepi tinggal Yoko sendiri yang berada di kolam renang. “Sari.” Yoko sekali lagi memanggil Sari. Sari meletakkan telepon seluler di atas meja lalu menghampiri Yoko. “Ada apa, Pak?” tanya Sari. “Tolong ambilkan handuk!” ujar Yoko. Sari kembali ke tempat duduk lalu mengambil hand

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status