LOGIN
Malam di Istana Arshaka selalu terasa sama bagi Sarah. Dingin, sunyi, dan penuh bisikan yang tidak pernah benar-benar peduli padanya.
Ia duduk di depan cermin perunggu di sudut kamarnya, menatap wajah yang disebut banyak orang cantik. Rambut hitamnya terurai panjang melewati bahu. Kulitnya bersih, matanya tajam.
Namun, semua itu tidak berarti apa-apa di dalam tembok istana yang luas ini. Sarah sudah tiga bulan menjadi selir Raja Adrian. Tiga bulan penuh ia menjalani hari-hari yang nyaris tidak berbeda: bangun, makan, berdiam diri, lalu tidur.
Ia tidak pernah dipanggil menghadap raja. Ia tidak pernah diundang ke jamuan istana. Bahkan namanya hampir tidak pernah disebut, kecuali oleh pelayan tua yang mengurus keperluannya.
Statusnya sebagai selir memang sah. Namun, di mata banyak orang, ia tak lebih dari perempuan simpanan yang terbuang.
Dulu, keluarga Sarah adalah salah satu keluarga bangsawan terpandang di perbatasan timur. Ayahnya, Lord Arman, adalah panglima yang dihormati. Namun, semua berubah ketika pengkhianatan besar mengguncang kerajaan, dan nama keluarga Arman ikut terseret.
Sarah dipaksa masuk ke istana sebagai bagian dari kesepakatan politik yang tidak pernah ia inginkan. Ia menjadi selir bukan karena cinta, bukan karena keinginan raja, tetapi karena dianggap sebagai alat untuk menjaga sisa-sisa kehormatan keluarganya.
“Nona Sarah, sebaiknya Anda beristirahat. Sudah larut malam,” suara Dayang Mira memecah lamunannya.
Sarah menoleh. Wanita paruh baya itu berdiri di dekat pintu, membawa nampan berisi teh hangat. Senyumnya tulus, satu-satunya yang membuat Sarah merasa masih dianggap sebagai manusia di tempat ini.
“Aku tidak mengantuk, Mira,” jawab Sarah pelan.
Dayang Mira meletakkan nampan di meja kecil, lalu mendekat. “Jika Nona ingin tetap di istana, Nona harus menjaga kesehatan. Di sini, penyakit bisa menjadi senjata bagi musuh.”
Sarah tersenyum tipis. Ia tahu itu benar. Istana adalah panggung pertarungan yang halus. Bukan pedang yang membunuh, melainkan racun, gosip, dan senyuman palsu.
“Apakah ada kabar dari perbatasan?” tanya Sarah tiba-tiba.
Mira terdiam sejenak. “Tidak ada kabar baik, Nona. Pasukan kerajaan terdesak di Lembah Esha. Para penasihat raja mulai cemas.”
Sarah menegakkan punggungnya. Matanya yang tadi tampak lesu berubah serius. “Terdesak? Bukankah seharusnya mereka bertahan di benteng utara?”
“Itulah masalahnya. Panglima Dasco memilih menyerang terbuka. Banyak prajurit tumbang.”
Sarah menahan napas. Nama Lembah Esha tidak asing baginya. Ayahnya dulu pernah bercerita panjang tentang wilayah itu. Tempat berbatu dengan kabut tebal di pagi hari, berbahaya untuk pasukan bergerak cepat.
Jika pasukan kerajaan masuk terlalu jauh, mereka akan dikepung dari atas bukit.
“Siapa yang memberi perintah menyerang?” tanya Sarah lebih tajam.
“Panglima Dasco sendiri, Nona.”
Sarah mengatupkan bibir. Ia tahu betul nama itu. Panglima Dasco adalah orang yang naik menggantikan posisi ayahnya setelah skandal pengkhianatan keluarganya mencuat.
Pria itu ambisius dan tidak sabar. Jika ia memimpin pasukan di medan yang tidak ia kenal, maka kerugian bukan sekadar kemungkinan, melainkan kepastian.
“Aku butuh peta wilayah,” kata Sarah pelan.
Mira terkejut. “Nona, jika ada yang mendengar…”
“Aku hanya ingin melihat. Tidak lebih.”
Mira memandang Sarah sejenak. Ia tahu perempuan muda di hadapannya bukan selir biasa. Dulu, sebelum masuk istana, Sarah tumbuh di bawah didikan langsung Lord Arman.
Ia belajar membaca medan, mempelajari logistik perang, bahkan turut menyusun strategi kecil untuk pertahanan wilayah. Sekarang, semua itu harus disembunyikan.
“Baiklah,” kata Mira akhirnya. “Aku akan coba mencarikan peta tua dari perpustakaan bawah. Nona harus bersabar.”
Sarah mengangguk. “Hati-hati.”
Mira beringsut keluar, menutup pintu perlahan. Sarah menatap lilin di meja yang nyalanya bergetar tertiup angin dari jendela. Jantungnya berdetak lebih cepat.
Ia tahu ini berbahaya. Seorang selir yang dianggap tidak berguna seharusnya tidak memikirkan peta perang.
Namun, ia juga tidak bisa tinggal diam karena Lembah Esha adalah wilayah yang pernah menjadi benteng pertahanan ayahnya. Jika pasukan kerajaan kalah di sana, bukan hanya prajurit yang mati, tetapi nama baik ayahnya bisa kembali diinjak.
Malam itu Sarah tidak tidur.
Saat fajar hampir menyentuh langit, pintu kamarnya tiba-tiba diketuk tiga kali. Cepat. Kasar. Sarah langsung berdiri. Itu bukan ketukan Mira.
Pintu terbuka sebelum ia sempat menjawab.
Seorang perwira istana berdiri di ambang pintu, wajahnya tegang. Di belakangnya, dua penjaga membawa lentera.
“Selir Sarah?” tanya perwira itu dengan nada dingin.
“Ya,” jawab Sarah, tetap tenang.
“Raja Adrian memanggilmu. Sekarang.”
Jantung Sarah berhenti sejenak.
Raja memanggilnya? Setelah tiga bulan tidak pernah sekali pun menoleh?
“Aku harus segera bersiap,” kata Sarah.
“Tidak perlu. Ikutlah.”
Sarah merasakan hawa aneh dari kalimat itu. Panggilan mendadak di saat fajar, tanpa pemberitahuan, tanpa waktu berdandan, adalah hal yang tidak biasa. Itu bisa berarti raja mulai mengingatnya atau justru ingin menyingkirkannya.
Ia menarik napas panjang, lalu melangkah keluar.
Langkahnya di sepanjang koridor istana terasa dingin. Dinding-dinding batu tingg. Cahaya obor menyala redup, membuat bayangan mereka tampak menyeramkan.
Mereka berhenti di depan sebuah pintu besar berukir naga emas. Ruang kerja pribadi Raja Adrian.
“Masuk,” perintah perwira itu.
Sarah menatap pintu itu sejenak. Di baliknya, ada seorang raja muda yang tidak pernah ia ajak bicara bahkan sekali pun. Seseorang yang kabarnya dingin, kejam, dan tidak mudah percaya pada siapa saja.
Ia mendorong pintu perlahan.
Di dalam, cahaya lampu minyak menyala terang. Ruang kerja itu dipenuhi tumpukan gulungan surat, peta, dan segel kerajaan. Di tengahnya, seorang pria duduk di kursi besar dari kayu hitam.
Raja Adrian. Matanya menatap Sarah dari ujung ruangan. Tajam. Dingin. Tidak ada senyum, tidak ada sapaan.
“Kau,” suaranya terdengar rendah dan berat, “adalah putri Lord Arman.”
Itu bukan pertanyaan. Itu pernyataan.
Sarah merasakan hatinya berdesir. Setelah tiga bulan dilupakan, nama ayahnya tiba-tiba disebut oleh raja.
“Benar, Yang Mulia,” jawab Sarah pelan.
Raja Adrian berdiri, lalu berjalan mendekat. Tingginya menjulang, membuat ruangan ini tiba-tiba terasa lebih sempit.
“Aku kehilangan banyak prajurit di Lembah Esha,” katanya datar. “Dan ada yang mengatakan kepadaku bahwa kau tahu cara menyelamatkan sisanya.”
Sarah menahan napas. Seseorang telah membocorkan rahasianya.
Sekarang, di depan raja yang berbahaya, ia harus memilih: tetap berpura-pura bodoh, atau menunjukkan kecerdasan yang selama ini ia sembunyikan.
Malam itu Sarah naik ke atap menara barat. Tempat itu jarang dikunjungi siapa pun. Hanya batu, angin, dan langit yang terbuka lebar. Ia membawa selimut tebal dan sebuah lentera kecil yang ia letakkan di sudut, dekat tembok.Adrian belum kembali dari ruang kerja, jadi ia menunggu sendirian, menatap bintang-bintang yang terang tanpa awan. Dari ketinggian ini, kota terlihat kecil. Lampu-lampu rumah berkelip seperti bintang yang jatuh ke bumi, dan sungai memantulkan cahaya bulan seperti pita perak.Pintu besi berderit. Adrian muncul dengan dua cangkir teh mengepul. Ia tidak bertanya kenapa Sarah memilih tempat ini. Ia hanya duduk di sampingnya, menyerahkan satu cangkir, lalu ikut menatap ke atas. Uap teh mengambang sebentar sebelum hilang dibawa angin.“Aku tidak pernah memperhatikan bintang,” katanya akhirnya.“Kau selalu sibuk.”“Peta, laporan, perang. Tidak pernah ada waktu untuk melihat ke atas.”Sarah meletakkan cangkirnya. Ia berdiri dan berjalan ke tepi atap, tempat langit terasa l
Sarah duduk di balkon kamarnya sore itu. Angin membawa bau melati dari taman bawah. Di pangkuannya, sebuah buku panduan merangkai bunga, halaman-halamannya sudah menguning. Ia membuka lemari kecil di sudut balkon, tempat ia menyimpan gunting, tali, dan keranjang anyaman. Ia ingin membuat karangan bunga untuk Adrian. Sesuatu yang belum pernah ia lakukan. Sesuatu yang sederhana.Ia memilih bunga dari taman: mawar merah, aster putih, dan beberapa tangkai daun eucalyptus. Ia meletakkannya di meja besi. Satu per satu. Rapi. Lalu ia mulai memotong tangkai. Tidak beraturan. Terlalu panjang. Terlalu pendek. Durinya menusuk jarinya. Ia mengerutkan kening, terus mencoba.Adrian muncul di ambang pintu balkon. Ia baru kembali dari ruang rapat. Ia melihat Sarah dengan gunting di tangan, bunga berserakan di lantai, dan seutas tali melingkar di pergelangan tangannya. Ia tersenyum.“Kau membuat apa?”“Karangan bunga. Untukmu.”Adrian melang
Sarah duduk di bangku besi putih di rumah kaca istana. Sebuah buku puisi lama terbuka di pangkuannya. Puisi tentang laut, angin, dan cinta. Ia membaca pelan, menikmati setiap kata. Cahaya siang menembus kaca, hangat tanpa menyengat. Udara berbau tanah, daun, dan air.Adrian datang dari arah istana membawa keranjang kecil. Isinya anggur, apel, dan pir. Ia duduk di samping Sarah tanpa bicara, hanya tersenyum. Sarah menoleh, lalu mengambil setangkai anggur. Manis dan segar. Mereka makan buah berdua di bangku itu, memandang tanaman-tanaman tinggi yang tumbuh di dalam rumah kaca.“Bacakan satu,” kata Adrian.Sarah membuka halaman. Suaranya pelan, lembut, seperti air mengalir. “Aku mencintaimu seperti laut mencintai pantai. Tak henti. Tak putus. Tak berujung.”Adrian mendengarkan dengan mata setengah tertutup. “Ayahku dulu punya buku seperti itu. Di perpustakaan. Aku sering membacanya sendirian karena tidak punya teman.”
Sarah terbangun sebelum matahari terbit. Kebiasaan lama yang sulit hilang. Di sampingnya, Adrian tidur tenang—tanpa kerutan di kening, tanpa beban di pundak. Sarah menyentuh pipinya perlahan, ujung jarinya menyusuri rahang. Adrian bergerak, membuka mata, lalu tersenyum.“Kau menatapku lagi.”Sarah tersipu dan menyembunyikan wajah di bantal. Adrian tertawa pelan. “Aku bisa merasakannya bahkan dalam tidur.”Sarah melempar bantal ke wajahnya. Adrian menangkap bantal itu, menarik Sarah ke pelukannya. Mereka tertawa seperti anak-anak—bukan raja dan ratu.“Aku mimpi tentang danau dan rumah kecil,” kata Adrian. “Kau duduk di teras, menyulam. Aku membaca peta. Tidak ada yang lain.”Sarah tersenyum. “Aku mimpi tentang dapur. Roti gosong. Kau mencoba memotong sayur. Kita tertawa. Hal-hal kecil.”“Hal-hal kecil?”“Yang dulu tidak pernah aku punya. Sekarang justru itu yang paling kurindukan.”Adrian mencium dahinya. “Kita punya banyak hal kecil. Setiap hari. Selamanya.”Matahari naik. Mereka turu
Mereka duduk di balkon. Malam cerah, bintang-bintang tersebar, angin sejuk. Sarah menyandarkan kepala di bahu Adrian, dan Adrian menggenggam tangannya. Tidak ada yang perlu dikatakan.“Dulu aku tidak pernah membayangkan ini,” kata Sarah. “Rumah, danau, kau, malam-malam seperti ini. Aku hanya ingin bertahan. Aku tidak berani bermimpi karena mimpi hanya membuat kecewa.”Adrian menoleh. “Sekarang?”“Sekarang aku bermimpi. Tentang besok, tentang lusa, tentang tahun depan. Tentang kita.”Adrian tersenyum. “Aku juga. Setiap malam sebelum tidur, aku menatap langit-langit dan membayangkan kau di sampingku. Selamanya.”Sarah menatapnya, mata berkaca. “Kau tidak pernah bilang.”“Kau juga tidak.”Mereka tersenyum, lalu tertawa pelan, hangat, seperti dua orang yang baru berbagi rahasia. Adrian berdiri dan mengulurkan tangan. “Menari?”“Tid
Mereka tiba di istana saat matahari condong ke barat. Barra menyambut di gerbang, Mira menunggu di halaman. Keduanya hanya tersenyum dan menunduk, tidak bertanya. Sarah menggandeng tangan Adrian melewati koridor. Pelayan menunduk, penjaga memberi hormat. Tidak ada suara selain langkah, sentuhan jari, dan debar jantung.Sarah membuka pintu kamar, masuk, lalu menutup dan mengunci. Adrian berdiri di tengah ruangan. Lilin menyala redup, bayangan mereka memanjang di dinding. Adrian melangkah mendekat tanpa tergesa, berhenti tepat di depan Sarah. Aroma kayu, logam, dan keringat memenuhi jarak di antara mereka.Ia menyentuh wajah Sarah, ujung jari menyusuri rahang. Sarah menutup mata. Adrian mencium dahi, hidung, pipi, lalu bibirnya. Ciuman pertama lembut, lalu Sarah membalas lebih dalam. Adrian menggigit bibir bawahnya; Sarah mendesah. Lidah mereka bertemu, menari tanpa kata.Adrian mencium sudut bibir, dagu, leher, tulang selangka. Sarah mencengkeram jubahnya. Adrian







