INICIAR SESIÓNRuangan itu terasa semakin dingin. Sarah berdiri beberapa langkah dari Raja Adrian. Matanya menatap lurus, pikirannya bekerja cepat. Ia tidak boleh gegabah. Satu kalimat yang salah di dalam ruang kerja Raja bisa berarti hukuman mati.
“Siapa yang berkata demikian, Yang Mulia?” tanya Sarah hati-hati.
Adrian tidak menjawab. Ia berjalan mendekat selangkah, lalu berhenti tepat di depan Sarah. Aroma kayu dan logam samar-samar menguar dari tubuhnya. Ada lelah di matanya, juga kewaspadaan yang tidak pernah hilang.
“Jawab pertanyaanku,” katanya.
Sarah menunduk sebentar, memberi kesan hormat, sebenarnya sedang menata kalimat yang paling aman.
“Aku hanyalah selir yang tidak pernah terlibat dalam urusan militer, Yang Mulia. Jika ada yang menganggapku tahu cara menyelamatkan pasukan di Lembah Esha, mungkin ia terlalu berbaik sangka.”
Adrian menyipitkan mata.
“Jangan berbohong padaku,” nadanya rendah, menusuk. “Aku sudah memeriksa catatan tentang keluargamu. Kau tidak seperti perempuan istana pada umumnya.”
Jantung Sarah berdetak lebih kencang. Raja memeriksa latar belakangnya. Itu berarti ia sudah memiliki alasan kuat untuk membawanya ke ruangan ini.
“Aku bertanya sekali lagi,” lanjut Adrian. “Apa yang kau ketahui tentang Lembah Esha?”
Sarah tahu ia berada di persimpangan.
Jika ia terus berpura-pura, Raja bisa saja menganggapnya tidak berguna. Seorang selir yang tidak berguna di istana akan semakin mudah disingkirkan.
Jika ia menunjukkan kemampuannya terlalu cepat, bahaya akan datang dari banyak arah. Ratu Elena, para penasihat, bahkan Raja sendiri bisa menganggapnya ancaman.
Situasi perang tidak memberinya banyak pilihan.
“Aku tahu Lembah Esha tidak cocok untuk serangan terbuka,” kata Sarah akhirnya, pelan.
Adrian mengangkat dagu. Matanya berubah sedikit. Bukan marah, melainkan tertarik.
“Lanjutkan.”
Sarah menelan ludah. Ia tahu apa yang akan ia ucapkan berikutnya tidak boleh terdengar seperti menggurui Raja. Harus ada rasa hormat, tetap menunjukkan bahwa ia paham masalah ini.
“Lembah Esha adalah cekungan berbatu. Sisi timurnya dikelilingi bukit tinggi dan kabut tebal turun menjelang pagi. Jika pasukan masuk terlalu jauh, mereka bisa dikepung dari atas. Serangan terbuka justru memperlemah barisan kita sendiri.”
Adrian terdiam beberapa detik.
Dari arah meja kerja, ia mengambil gulungan peta. Peta itu sudah terbuka sebagian, memperlihatkan gambar wilayah Lembah Esha.
“Kau tahu itu dari ayahmu?” tanyanya.
Sarah mengangguk pelan.
“Ayahku pernah ditugaskan menjaga perbatasan timur selama bertahun-tahun, Yang Mulia. Sebagian pengetahuan itu aku peroleh saat masih tinggal bersamanya.”
Adrian menatap peta, lalu kembali menatap Sarah.
“Jika kau jadi panglima, apa yang akan kau lakukan?”
Sarah tersentak kecil di dalam hatinya. Pertanyaan itu terlalu berbahaya. Seorang selir tidak seharusnya diminta menyusun strategi perang. Raja menunggu. Wajahnya tidak bercanda.
“Aku bukan panglima, Yang Mulia,” jawab Sarah.
“Kau tidak menjawab pertanyaanku.”
Sarah mengepalkan tangannya di balik lengan baju. “Jika aku jadi panglima, aku akan menarik mundur pasukan ke benteng utara malam ini juga.”
Adrian mengernyit. “Menarik mundur adalah tanda kalah.”
“Tidak jika penarikan itu terencana,” kata Sarah cepat. “Pasukan kita bisa mundur lewat jalur barat yang lebih sempit. Jalur itu tidak terlihat dari atas bukit karena tertutup hutan. Setelah sampai di benteng utara, kita bisa memotong jalur logistik musuh tanpa perlu perang terbuka.”
Adrian memandangnya lama sekali. Sarah tidak tahu apa yang sedang dipikirkan Raja. Hanya ada hening yang panjang di antara mereka.
“Apa kau tahu Panglima Dasco bersikeras tidak mundur?” tanya Adrian akhirnya.
“Aku dengar dari beberapa kabar, Yang Mulia.”
“Kau tahu apa artinya jika aku menarik pasukan di bawah komandonya tanpa persetujuannya?”
Sarah memilih kata-kata dengan hati-hati. “Itu artinya Yang Mulia harus bertindak sebagai Raja, bukan sebagai teman bagi panglima.”
Adrian tertawa pendek. Dingin. Bukan karena lucu, karena kalimat itu menohok sesuatu di dalam dirinya.
“Kau berani sekali bicara seperti itu,” katanya.
“Maafkan aku, Yang Mulia. Aku hanya menjawab pertanyaan.”
Adrian berbalik menuju meja kerjanya. Ia berdiri menghadap jendela besar yang mulai diterangi cahaya fajar. Dari sana, puncak menara istana terlihat samar-samar.
“Aku akan memanggilmu lagi,” katanya tanpa menoleh. “Jangan beri tahu siapa pun tentang percakapan ini.”
Sarah menunduk hormat. “Baik, Yang Mulia.”
Ia melangkah mundur perlahan, lalu keluar dari ruangan.
Begitu pintu tertutup, Sarah baru merasakan betapa kencang jantungnya berdetak. Tangannya dingin. Ia tidak tahu apakah yang baru saja terjadi adalah keberuntungan atau malapetaka.
Di luar, perwira yang tadi mengantarnya masih menunggu. Ia memandang Sarah dengan ragu, tidak bertanya apa pun.
Sarah kembali ke kamarnya dengan langkah cepat.
Begitu masuk, ia mendapati Dayang Mira sudah menunggu dengan wajah cemas.
“Nona, apa yang terjadi? Kenapa Raja memanggil Anda?” tanya Mira pelan.
“Dia bertanya tentang Lembah Esha,” jawab Sarah jujur.
Mira terbelalak. “Bagaimana mungkin? Siapa yang memberitahunya?”
“Itu yang aku sendiri belum tahu.”
Mira mendekati Sarah, menggenggam tangannya. “Nona, jika ini diketahui Ratu Elena, nyawa Anda bisa berbahaya.”
Sarah tersenyum tipis. “Justru karena itu kita harus tahu siapa yang membocorkan rahasiaku.”
Ia duduk di tepi tempat tidur, menatap cahaya fajar yang mulai masuk dari celah jendela. Ada banyak hal yang harus dipikirkan. Satu hal yang paling mengganggunya bukan tentang perang, bukan tentang Raja, melainkan satu pertanyaan yang terus berputar di kepalanya.
Mengapa Raja Adrian memanggilnya secara diam-diam saat fajar?
Jika ia benar-benar ingin meminta pendapat, seharusnya ia memanggil penasihat militer. Bukan selir yang tiga bulan tidak pernah dianggap.
Kecuali satu hal. Raja Adrian tidak mempercayai orang-orang di sekelilingnya.
Secara tidak sadar, Sarah baru saja masuk ke dalam lingkaran kepercayaan Raja—di saat yang sama juga masuk ke dalam pusaran intrik paling berbahaya di Istana Arshaka.
Malam harinya, saat Sarah hendak beristirahat, sebuah benda kecil dilemparkan dari arah jendela kamarnya. Benda itu jatuh di lantai dengan bunyi pelan.
Sarah membeku. Ia menoleh perlahan. Sebuah gulungan kertas tergeletak di lantai, diikat pita hitam. Tidak ada siapa pun di luar.
Sarah menunggu beberapa detik sebelum berani mengambilnya. Ia membuka gulungan itu dengan hati-hati.
Hanya ada satu kalimat tertulis di dalamnya.
“Kau tidak sendiri. Musuhmu tidak hanya di istana.”
Sarah menelan ludah. Ia baru saja dipanggil Raja, dan kini seseorang mengiriminya pesan rahasia.
Istana yang selama ini ia anggap sunyi ternyata jauh lebih hidup dari yang ia kira. Bahaya baru saja dimulai.
Gelap. Ruangan itu mendadak seperti terkunci dari dunia luar. Suara langkah kaki semakin mendekat, bercampur dengan teriakan yang masih menggema di telinga Sarah.“Tangkap selir itu!”Sarah tidak panik. Ia justru menahan napas, memaksa dirinya untuk berpikir jernih. Di depannya, Sari merintih pelan. Suara kursi terdorong. Kemungkinan besar pelayan itu berusaha merangkak mundur ke dinding.“Kau tidak akan selamat…” bisik Sari sekali lagi, kali ini hampir seperti ramalan.Sarah tidak menjawab. Ia meraba tepi meja, mencari sesuatu yang bisa melindungi dirinya. Sebelum sempat berbuat banyak, pintu ruangan terbuka lebar. Cahaya obor dari luar masuk menyilaukan. Beberapa penjaga berdiri di ambang pintu dengan wajah tegang.“Ada apa ini?!” suara Raja Adrian tiba-tiba memotong.Sarah menoleh. Adrian muncul dari balik pintu samping—dari ruang pengawasan tempat ia mendengarkan percakapan tadi. Wajahnya
Sarah tidak bisa terus menunggu. Pesan terakhir yang diletakkan di meja riasnya membuat satu hal menjadi jelas: musuh sudah terlalu dekat.Mereka bisa masuk ke kamarnya kapan saja, mengambil barang miliknya, bahkan meninggalkan ancaman tanpa takut ketahuan. Jika ia tidak segera bergerak, jerat ini akan mengikat lehernya sendiri.Pagi itu, setelah memastikan tidak ada yang mengawasi, Sarah memanggil Dayang Mira dan menyampaikan rencana sederhana."Aku ingin melihat sendiri siapa pelayan linen yang datang kemarin. Bawa aku ke tempat biasa para pelayan gudang bekerja."Mira tampak ragu. "Nona, itu daerah pelayan. Seorang selir jarang sekali turun ke sana. Bisa menimbulkan kecurigaan.""Justru karena jarang, tidak akan ada yang menduga," jawab Sarah. "Kita tidak perlu lama. Aku hanya ingin melihat wajahnya."Mira mengangguk pelan.Mereka berangkat lewat jalur belakang yang biasa dipakai para pelayan. Koridornya lebih sempit, langit-langitnya rendah, dan udaranya lembap. Sarah tidak peduli.
Sarah tidak langsung menjawab. Ia menatap sapu tangan itu, lalu menatap wajah Raja Adrian. Di bawah cahaya obor, mata Raja tampak dingin, tidak sedang menuduh, tidak seperti hakim yang siap menjatuhkan hukuman.“Itu memang milikku,” kata Sarah akhirnya.Adrian tidak bereaksi.“Aku tidak pernah ke hutan barat,” lanjutnya. “Aku tidak tahu kurirmu bernama siapa, apalagi di mana dia dibunuh.”Adrian memandang sapu tangan itu sekali lagi, lalu mengepalkannya.“Aku tahu,” katanya.Sarah terkejut. “Kau tahu?”“Jika kau yang membunuhnya, kau tidak akan sebodoh itu meninggalkan barang pribadimu di dekat jasad,” jawab Adrian. “Lagi pula, kau tidak mungkin berada di dua tempat dalam satu malam. Tadi malam kau ada di kamarmu, dan aku bisa memastikan itu.”Sarah merasa dadanya sedikit lapang.“Masalahnya,” lanjut Adrian, “Bukti ini tidak akan dilihat oleh banyak orang dengan cara yang sama. Jika urusan ini sampai ke pengadilan istana, sapu tangan ini cukup untuk menjeratmu.”“Dari mana mereka menda
Ruang di puncak Menara Utara terasa mencekam. Angin yang masuk dari celah jendela tidak mampu menghapus ketegangan di antara mereka.Sarah masih berdiri di tempatnya, menatap Raja Adrian yang sejak tadi tidak mengeluarkan satu patah kata pun.“Apa yang akan kau lakukan, Yang Mulia?” tanya Sarah akhirnya.Adrian menoleh perlahan. Wajahnya keras seperti batu.“Aku akan mencari siapa yang membocorkan rencana itu,” jawabnya dingin.“Jika begitu, mulailah dari orang yang tahu kau mengirim kurir malam ini,” usul Sarah.Adrian menggeleng pelan. “Terlalu banyak. Pelayan, penjaga menara, petugas arsip, bahkan para penasihat militer yang mendengar perintahku secara samar. Mereka tidak tahu isi lengkapnya, bisa saja membaca gerak-gerikku.”Sarah menatap lantai. Ia sadar, di istana seperti ini, rahasia bisa bocor lewat hal-hal kecil. Sekali Raja mengirim kurir diam-diam, pasti ada yang menangkap gelagat itu.“Aku bisa membantu,” kata Sarah.Adrian menoleh. “Membantu bagaimana?”“Biarkan aku yang m
Sarah tidak tidur semalaman. Belati kecil itu masih tergeletak di atas meja, terbungkus kain hitam. Pesan terakhir itu terus terngiang di kepalanya.“Terakhir kali kuperingatkan.”Itu bukan sekadar gertakan. Orang itu masuk ke area selir, mendekati jendela kamar, dan melemparkan belati dengan akurasi tinggi. Jika ia mau, Sarah bisa saja sudah terbunuh malam ini.Mereka ingin menakut-nakutinya dulu, menekan mentalnya sebelum menjatuhkan pukulan besar.Sarah bangkit dari tempat tidur saat fajar mulai muncul. Ia melihat bekas tancapan belati di kayu dekat meja rias. Sempit dan dalam. Itu berarti pelemparnya punya tenaga terlatih.Prajurit? Ataukah pembunuh bayaran yang disewa diam-diam?Ia menyembunyikan belati itu di balik papan longgar di bawah tempat tidur. Bukti ini penting. Belum saatnya menunjukkan kepada siapa pun.Ketika Dayang Mira masuk membawa sarapan, wajahnya langsung berubah.“Nona, wajahmu sangat pucat. Kau tidak tidur lagi?”Sarah menggeleng pelan. “Kau sudah bertanya kepa
Sarah tidak menunjukkan surat ancaman itu kepada siapa pun, bahkan kepada Dayang Mira yang sejak pagi sudah menatapnya dengan curiga. Sarah hanya tersenyum kecil, lalu melanjutkan sarapannya seperti biasa.Bubur hangat, teh melati, dan beberapa potong buah segar. Semuanya terasa hambar di lidahnya.“Nona,” panggil Mira pelan setelah membereskan nampan. “Apakah ada yang terjadi?”“Tidak ada,” jawab Sarah.“Wajahmu pucat.”Sarah berhenti mengunyah. Ia menoleh ke arah jendela. Dari balik tirai tipis, ia bisa melihat sebagian kecil langit pagi yang kelabu.“Mira,” katanya tiba-tiba. “Apakah ada orang istana yang dekat denganmu? Seseorang yang bisa kau percaya sepenuhnya?”Mira tampak berpikir sejenak. “Tidak banyak, Nona. Ada satu dua orang yang dulu pernah bekerja di rumah Lord Arman. Mereka tidak akan berkhianat.”Sarah menatapnya. “Aku ingin kau mengirim pesan kepada salah satu dari mereka. Secara lisan, bukan tulisan.”Mira mengangguk pelan.“Tanyakan siapa di istana ini yang mengawasi







