LOGINSarah berdiri terpaku beberapa detik, menatap kepulan asap hitam yang mulai membubung dari arah dapur selatan. Suara panik para pelayan terdengar dari berbagai arah, bercampur bunyi ember yang dihentakkan dan langkah kaki yang berlarian. Mira memegangi lengan Sarah erat, wajahnya pucat oleh cemas.
“Kita harus menjauh, Nona. Dapur selatan tidak jauh dari koridor ini.”
Sarah menoleh ke arah ujung lorong. Dapur selatan memang dekat, hanya terpisah satu bangunan dari gud
Sarah tidak menunggu pagi. Begitu Lady Mira melaporkan bahwa Adrian yang lain hilang, ia langsung menuju kamar lelaki itu. Pintu kamar terbuka. Dua penjaga yang seharusnya berjaga sudah dipindahkan ke ruang tabib. Salah satunya masih belum sadar. Satunya lagi duduk di lantai, kepalanya diperban, matanya masih berkunang-kunang.Sarah berjongkok di depannya. "Apa yang kau lihat?"Penjaga itu menelan ludah. "Aku tidak melihat siapa-siapa, Nona. Aku hanya merasa ada yang memukul belakang kepalaku. Lalu gelap.""Kau tidak mendengar suara langkah?""Tidak. Tidak ada suara. Seperti... seperti orang yang sudah hafal tempat ini."Sarah berdiri, menatap Adrian. "Orang dalam. Lagi."Adrian mengangguk. Ia memeriksa kamar. Tempat tidur berantakan, tidak ada tanda perkelahian. Jendela tertutup rapat. Tidak ada jejak kaki di lantai. Lelaki muda itu pergi dengan tenang, atau dibawa oleh seseorang yang ia percaya.Barra masuk, wajahnya t
Lelaki tinggi itu menerjang lebih dulu. Pedangnya menyambar ke arah leher Adrian. Adrian menangkis, bunyinya keras di udara malam. Mereka beradu pedang, mendorong satu sama lain. Lelaki itu kuat, terlatih. Adrian mundur selangkah, lalu membalas dengan tebasan cepat. Lelaki itu menghindar, lalu menendang perut Adrian. Adrian tersandung, tidak jatuh.Sarah menerjang ke arah dua penyerang yang mencoba mengepung dari samping. Belatinya menusuk lengan satu orang. Orang itu menjerit, tidak mundur. Penyerang kedua menebas ke arah kepala Sarah. Sarah menunduk, lalu menendang lututnya. Penyerang itu jatuh, cepat bangkit.Mira menghadapi satu penyerang dengan pedang pendek. Lengannya masih sakit, ia masih cepat. Ia menangkis, berputar, lalu menusuk perut lawan. Lawan itu jatuh. Mira tidak menunggu. Ia menarik pedangnya, lalu berbalik menghadapi penyerang berikutnya.Barra bertarung dengan dua orang sekaligus. Pedangnya bergerak cepat, efisien. Ia menangkis tebasan pertama
Mereka berangkat sebelum matahari terbit. Kali ini hanya Sarah, Adrian, Barra, dan Mira. Lelaki muda itu tinggal di istana, dikawal Lady Mira dan dua penjaga. Sarah tidak ingin membawanya. Terlalu berisiko. Terlalu banyak yang bisa terjadi jika ia bertemu Dasco.Mereka berkuda ke timur, melewati jalanan berdebu yang berkelok di antara perbukitan rendah. Matahari naik perlahan, membakar udara. Sarah menutupi wajahnya dengan kerudung tipis. Adrian berkuda di sampingnya, tidak banyak bicara. Barra memimpin, matanya terus mengawasi sekitar. Mira di belakang, lengannya masih dibalut.Mereka tiba di pelabuhan timur saat matahari sudah tinggi. Pelabuhan itu lebih kecil dari pelabuhan selatan. Hanya beberapa kapal yang berlabuh. Dermaganya kayu, sudah lapuk di beberapa bagian. Bau ikan asin dan garam memenuhi udara. Para nelayan sibuk memperbaiki jala, beberapa pedagang menawarkan barang dagangan.Sarah turun dari kudanya. "Di mana pengintai melihatnya?"Barra me
Pagi itu istana terasa berbeda. Sarah merasakannya begitu ia keluar dari kamar. Para pelayan berjalan lebih cepat, suara mereka lebih pelan. Beberapa menunduk saat berpapasan, tidak ada yang berani menatap lama. Berita tentang lelaki muda itu sudah menyebar. Adrian yang lain. Saudara raja. Bayangan yang selama ini disembunyikan.Sarah menemui Adrian di ruang kerja. Raja itu sudah duduk di mejanya, ditemani Barra dan Lady Mira. Di sudut ruangan, lelaki muda itu berdiri dekat jendela, menatap halaman. Ia memakai pakaian bersih yang dipinjamkan dari gudang istana. Wajahnya masih pucat, matanya masih sayu, ia tidak lagi terlihat seperti orang yang siap menyerang."Kau sudah makan?" tanya Sarah.Lelaki muda itu menoleh. "Sedikit."Adrian berdiri. "Kita akan bicara di balai dewan. Kau harus hadir. Aku ingin kau mendengar apa yang akan kukatakan."Lelaki muda itu menatap Adrian. "Aku bukan bagian dari dewan.""Hari ini kau bagian dari dewan. Kau sa
Lelaki muda itu menyerang lebih dulu. Pedangnya menyambar ke arah leher Adrian. Adrian menangkis, bunyinya keras di ruangan sempit. Mereka beradu pedang, mendorong satu sama lain. Kekuatan mereka seimbang. Gerakan mereka mirip. Seperti bercermin.Sarah menerjang ke arah Lord Bara. Ia memotong tali di pergelangan tangan pria tua itu. "Keluar. Sekarang."Lord Bara bangkit, ia tidak lari. Ia justru berdiri di sudut, menatap pertarungan itu dengan mata yang sulit dibaca. Mira menarik lengannya, memaksa ia keluar dari pondok. Barra dan dua prajurit sudah menghadang jalan keluar, bersiap menyerang jika ada yang mencoba kabur.Di dalam pondok, dua Adrian masih bertarung. Pedang mereka beradu cepat. Tebasan demi tebasan. Mereka tidak bicara. Hanya napas dan bunyi logam. Sarah berdiri di dekat pintu, belatinya siap. Ia ingin membantu, ia tahu ini bukan pertarungannya. Ini pertarungan antara dua saudara.Lelaki muda itu mundur selangkah, menatap Adrian dengan mata
Sarah bangun sebelum matahari terbit. Ia sudah memutuskan tidak akan menunggu lebih lama. Lord Bara hilang, dan setiap jam yang mereka habiskan untuk beristirahat adalah satu jam yang diberikan kepada musuh untuk bergerak lebih jauh. Ia mengenakan pakaian gelap, menyelipkan belati, lalu menuju ruang kerja Adrian.Adrian sudah bangun. Ia berdiri di depan peta istana yang terbentang di meja, ditemani Barra dan Lady Mira. Wajah mereka tegang. Sarah masuk tanpa mengetuk."Kita harus bergerak," kata Sarah.Adrian menoleh. "Aku tahu. Barra sudah memeriksa sel bawah. Tidak ada jejak. Penjaga yang pingsan masih belum sadar. Tidak ada saksi.""Berarti orang dalam. Lagi.""Iya." Adrian menunjuk peta. "Ada tiga jalur keluar dari sel bawah. Satu menuju halaman belakang. Satu menuju gudang penyimpanan. Satu lagi menuju lorong pelayan. Kita tidak tahu yang mana yang dipakai."Sarah menatap peta. "Kalau Lord Bara dibawa keluar, dia tidak mungkin lewat hala







