Home / Historical / Selir Sang Jenderal / 4. Sehina Itukah Dirinya?

Share

4. Sehina Itukah Dirinya?

Author: Yuyun Batalia
last update publish date: 2026-10-07 11:54:19

Athena menghabiskan satu kue yang ia beli tadi, sementara sisa kue yang ia miliki tadi ia berikan pada anak pengemis yang ada di pinggir jalan.

Ia juga membeli beberapa kue lagi lalu dibagikan ke beberapa pengemis lainnya. Saat Athena kekurangan ia masih bisa berbagi, dan sekarang saat ia memiliki uang ia berbagi lebih banyak lagi.

Setelahnya Athena kembali menjelajahi tempat itu. Ia tidak pergi ke kedai tempatnya bekerja dulu. Ia hanya memperhatikan tempat itu dari jauh. Meski tempat itu tidak terlalu ramai, tapi setiap hari akan selalu ada orang yang datang.

Tempat itu tidak memberikannya cukup uang untuk keperluannya, tapi dengan bekerja di sana setidaknya ia bisa membeli obat untuk ibunya. Athena sangat berterima kasih pada pemilik kedai ini karena teah memberinya pekerjaan.

Setelah memandangi kedai dari jarak yang cukup jauh, Athena kembali melangkah. Sekarang wanita itu berdiri di atas jembatan, wanita itu menatap jauh ke depan. Dari sana, pemandangan di pusat perdagangan ibu kota terlihat begitu hidup.

Keributan terjadi di bawah, seorang anak kecil terjatuh ke aliran sungai. Beberapa orang melihat, tapi tidak tergerak untuk menolong anak itu.

"Seseorang tercebur! Cepat tolong!" Seorang wanita berteriak, lalu disusul dengan teriakan wanita lainnya.

"Hanya seorang pengemis, nyawanya tidak begitu berarti." Seorang pria di dekat Athena berkata dengan dingin.

Dada Athena seperti terhimpit, benar, nyawa seorang pengemis, pelayan dan kaum rendah lainnya selalu tidak dianggap begitu penting.

Tanpa memikirkan apapun, Athena melepaskan jubah yang ia kenakan lalu kemudian melompat ke sungai. Ia berenang, perlahan mendekat ke anak kecil yang sedang putus asa tidak jauh di depannya.

Athena meraih anak kecil itu, mendekapnya lalu kemudian membawanya ketepian. Wanita itu meletakan anak yang ia selamatkan ke lantai.

"Nyonya!" Sopia sangat cemas ketika ia melihat Athena melompat ke sungai tanpa ragu sedikitpun. Ia tidak akan bisa menghadapi majikan utamanya jika terjadi hal buruk pada Athena.

"Adik kecil! Adik kecil!" Athena memanggil anak laki-laki itu, tapi tidak ada jawaban.

Athena segera melakukan resustasi jantung paru, ia membeirkan napas buatan untuk menyelamatkan nyawa anak kecil itu.

Sebelumnya Athena hanya mempelajari ini dari seorang tabib. Ia sering membawa ibunya ke sebuah klinik kecil karena penyakit ibunya. Untuk mempelajari sedikit tentang penanganan orang sakit, Athena bekerja di klinik itu secara sukarela.

Setelah hampir satu tahun bekerja di sana, ia sedikit memahami tentang pengobatan.

Beberapa orang mengerumuni, melihat apa yang dilakukan oleh Athena.

Beberapa orang berpikir bahwa Athena melakukan sesuatu yang sia-sia. Terlebih anak yang diselamatkan Athena hanyalah seorang pengemis.

Namun, Athena tidak menyerah, sampai akhirnya anak kecil itu memuntahkan air dari mulutnya. Athena duduk, ia merasa sangat lega.

Beberapa orang lain di sana juga merasa lega, beberapa lainnya merasa biasa saja lalu pergi.

"Nyonya, apakah Anda baik-baik saja?" tanya Sopia. Wanita itu memakaikan jubah ke tubuh Athena yang basah.

"Aku baik-baik saja," jawab Athena. "Sopia, tolong panggilkan tabib untuk memeriksanya." Athena memberi perintah pada Sopia. Ia telah melakukan pertolongan pertama, dan selanjutnya ia hanya bisa menyerahkannya pada tabib yang lebih mengerti daripada dirinya.

"Baik, Nyonya."

Di lantai dua tempat hiburan yang tidak jauh dari posisi Athena saat ini ada Altherr yang memperhatikan. Ia sudah melihat Athena sejak Athena berdiri di atas jembatan.

Pria ini sedang melakukan tugas untuk menyelidiki tentang para pemberontak. Ada mata-mata yang menyamar sebagai salah satu pelacur di rumah bordil, jadi ia datang ke rumah bordil untuk memeriksanya sendiri.

Altherr tidak mengatakan apapun, pria itu hanya melihat beberapa waktu lalu kemudian pergi.

Tabib segera memeriksa anak kecil yang tenggelam tadi sementara Athena telah pergi ke toko pakaian dan mengganti pakaiannya yang basah dengan pakaian kering.

Sekarang wanita itu sedang dalam perjalanan kembali ke kediaman Jenderal Agung.

"Yang Mulia, kenapa Anda menyelamatkan anak kecil tadi?"

"Karena setiap nyawa berharga, meskipun itu adalah seorang pengemis sekalipun."

Sekarang Sopia mengerti kenapa majikannya memilih Athena sebagai istri kedua suaminya. Athena memiliki hati yang penuh kasih.

**

Altherr kembali ke paviliunnya, pria itu telah bekerja sampai malam hari. Ia juga minum cukup banyak malam ini.

Saat ia memasuki ruang istirahatnya, seorang wanita memunggunginya. Itu terlihat seperti istri tercintanya. Altherr melangkah mendekat, lalu kemudian memeluk wanita itu dari belakang. Pria itu menghirup aroma tubuh yang memang persis sama seperti aroma tubuh Lucianne.

"Aku sangat merindukanmu, Istriku." Altherr marah pada Lucianne yang meninggalkannya, tapi rasa rindunya jauh lebih besar dari kemarahannya.

Athena berbalik, detik selanjutnya ia didorong dengan kuat hingga terduduk ke lantai.

"Berani sekali kau meniru Lucianne!" bengis Altherr.

"Yang Mulia, saya tidak meniru Kakak Lucianne. Saya hanya menggunakan barang-barang yang telah disiapkan oleh Kakak untuk saya."

Atlherr mendekat, pria itu kemudian mencekik Athena dengan kuat. Niat membunuh tampak begitu kuat dalam tatapannya.

"Kau benar-benar menggunakan segala cara untuk merayuku!"

"Yang Mulia, saya datang ke sini untuk melahirkan anak untuk Anda dan Kakak. Jika saya tidak mengambil langkah, maka itu akan menunda kehamilan saya."

"Jangan mengira aku tidak tahu bahwa kau memiliki maksud lain. Jika kau pikir kau bisa menggunakan anak itu untuk mengamankan posisimu di istana ini maka kau hanya bermimpi! Aku akan membuangmu setelah kau melahirkan anak untukku dan Lucianne."

Kata-kata Altherr menyakitkan, pria ini menganggapnya sebagai seorang pemanjat sosial. Namun, ia tidak akan menyalahkan Altherr karena berpikiran seperti itu karena kebanyakan wanita dari kelas rendah lebih dari sebagian memang memikirkan hal itu.

"Yang Mulia, tenang saja, tanpa dibuang saya pasti akan pergi setelah saya melahirkan."

Altherr tidak akan percaya pada kalimat yang diucapkan oleh Athena, wanita ini bersedia menjadi seorang selir, jadi sudah pasti Athena memiliki harapan lebih.

Altherr meraih tangan Athena, menariknya ke ranjang. Pria itu mencabik-cabik gaun tidur yang dikenakan oleh Athena. Ia mendekatkan kepalanya ke bahu Athena lalu kemudian menggigit dengan keras di sana.

Tubuh Athena menegang karena rasa sakit di bahunya. Cengkramannya pada sprei menguat. Erangan sakit lolos dari bibir mungilnya.

Benda-benda mati di sekitar sana menjadi saksi seberapa dinginnya Altherr memperlakukan Athena di atas ranjang itu.

Altherr selesai, pria itu berpakaian lalu kemudian melangkah keluar dari kamar.

"Ganti semua barang-barang yang telah disentuh oleh wanita itu!" Altherr memberi perintah pada Colton.

"Baik, Jenderal Agung."

Colton segera menjalankan perintah dari Altherr. Di kamar, Athena telah merapikan dirinya.

"Selir Athena, silahkan kembali ke paviliun Anda." Colton berkata dengan sopan pada Athena.

"Baik, Colton." Athena kemudian meninggalkan pavilun utama.

Athena menarik napas, bagian bawahnya sakit, tapi hatinya jauh lebih sakit. Altherr memerintahkan pelayan mengganti semua yang sudah ia sentuh, sehina itukah dirinya?

Tak ada ruang bagi Athena untuk mengeluh. Ia harus menahan semuanya sampai

Athena menyentuh perutnya.

Tolong segera hadir di perutku. Wanita itu berdoa di dalam hatinya.

**

Setiap harinya Athena tidak menyerah mendatangi Atherr, ia telah hapal jadwal Atlherr, tidak peduli seberapa muak Altherr padanya ia tetap mengunjungi pria itu.

Hampir setiap pagi Altherr akan latihan beladiri, Athena berdiri dari jarak yang tidak terlalu jauh untuk mengamati.

Athena tidak pernah mengagumi pria mana pun selama hampir dua puluh tahun ia hidup. Namun, dihadapkan terus menerus dengan Altherr, ia mulai mengagumi pria gagah berparas tampan itu.

Hanya saja, Athena tahu batasnya. Memiliki perasaan yang lebih terhadap Altherr hanya akan memberikannya lebih banyak rasa sakit.

Setelah selesai latihan Altherr pergi ke tempat pemandian untuk membersihkan tubuhnya.

Athena sengaja tidak masuk saat Altherr sedang mandi, ia menunggu beberapa saat sampai akhirnya ia mulai bergerak.

"Yang Mulia, mari aku bantu." Athena hendak membantu Altherr mengenakan pakaiannya.

Altherr meraih tangan Athena yang hendak menyentuhnya, tatapan tajam pria itu menyapu wajah Athena. "Kau hanya dibutuhkan di atas ranjang, selebihnya jangan melewati batasanmu!" Setelahnya Altherr menghempaskan tangan Athena dengan kasar.

Pria itu mengenakan pakaiannya sendiri, lalu pergi meninggalkan Athena.

Hampir satu bulan berlalu, tidak ada kemajuan antara dirinya dan Altherr. Ia sangat memuji kesetiaan Altherr terhadap Lucianne, pria seperti Altherr yang memiliki segalanya terlebih dia adalah seorang pangeran, sangat sedikit yang hanya setia pada satu wanita.

"Kakak, sepertinya aku harus mengecewakanmu. Suamimu terlalu mencintaimu, dia bahkan tidak sudi melihatku." Athena menghela napas. Setelah berbagai usaha dengan merendahkan dirinya, ia masih tetap gagal membangun hubungan yang baik dengan Altherr.

Sudahlah, seperti yang dikatakan oleh Altherr tadi ia hanya dibutuhkan di atas ranjang, jadi ia tidak perlu melakukan apapun untuk menyenangkan Altherr karena ia tahu apapun yang ia lakukan ia pasti tidak akan bisa menyenangkan hati pria itu.

tbc

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
mandasia70
ayooo up up up
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Selir Sang Jenderal   15. Tiga Bulan

    Hari ini adalah hari ulang tahun Menteri Kehakiman. Altherr, Lucianne dan Athena datang ke perayaan ulang tahun orang penting di Luminastra itu.Setelah memberi salam dan hadiah pada Menteri Kehakiman, Athena membawa Lucianne berkumpul dengan para wanita, sementara Altherr, pria itu saat ini sedang mengobrol dengan beberapa petinggi kerajaan yang juga hadir di sana.Athena merasa tidak nyaman di lingkaran orang-orang kelas atas.“Kakak, aku akan keluar untuk mencari udara segar.”“Ya, Sopia akan menemanimu.”“Baik, Kakak.”Athena segera keluar dari tempat itu. Ia berjalan-jalan ke sekitar taman.“Sopia, aku meninggalkan kipasku. Bisakah kau mengambilkannya?”“Baik, Yang Mulia.”Sopia pergi, Athena kembali melangkah. Wanita itu berhenti hendak menuju ke jembatan lengkung, tapi langkahnya terhenti ketika ia melihat sepasang pria dan wanita sedang bercumbu penuh nafsu di balik pohon.Athena tidak memiliki keinginan untuk mengintip, tapi jika ia melanjutkan langkahnya maka ia akan menggan

  • Selir Sang Jenderal   14. Mawar Liar

    “Ada apa ini? Apakah sesuatu yang baik terjadi?” Lucianne melihat ke meja makan yang dipenuhi oleh berbagai jenis hidangan yang tampaknya sangat menggugah selera.“Hari ini Ibu sudah sadarkan diri. Semua makanan ini adalah ungkapan terima kasihku pada Kakak karena telah membantuku.”Lucianne mengerti kenapa saat ini Athena tampak bahagia.“Itu adalah kabar yang sangat baik. Aku turut bahagia untukmu.”“Terima kasih, Kakak.”Lucianne membalas ucapan terima kasih itu dengan senyuman ringan.Altherr datang, pria itu melihat Lucianne dan Athena yang tampak akur.“Suamiku, kau sudah datang.” Lucianne segera menyambut suaminya.“Ya, Istriku.”“Ayo duduklah!”Altherr segera duduk. Meja makan yang dulunya hanya ada dua tempat duduk itu kini telah menambahkan tempat duduk yang baru.Lucianne ingin ia, Altherr dan Athena setiap harinya makan bersama.Altherr melihat ke meja makan, cukup banyak hidangan di sana dan Altherr yakin bukan Lucianne yang memasaknya, karena menu masakan itu baru ia lih

  • Selir Sang Jenderal   13. Mengambil Keputusan Yang Tepat

    Keesokan harinya Ean menemui Altherr, pria itu telah menyelidiki mengenai identitas Athena.Athena berasal dari sebuah desa kecil, wanita itu awalnya tinggal bersama dengan paman dan juga ibunya. Pamannya adalah seorang prajurit yang saat ini sudah gugur saat desa tempat tinggal mereka diserang olah para pemberontak beberapa tahun lalu.Setelah itu Athena pindah ke beberapa tempat bersama dengan ibunya dan akhirnya menetap di ibukota. Ibu Athena menderita penyakit serius hingga membuat wanita itu hanya bisa terbaring di ranjang. Setelah ibunya sakit, Athena yang saat itu masih berusia enam belas tahun mulai bekerja untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya dan ibunya juga untuk biaya pengobatan ibunya.Athena bekerja di sebuah kedai mie di pusat ibu kota, selain itu dia juga bekerja paruh waktu di sebuah klinik kecil, tempat tabib yang biasa mengobati ibunya membuka usaha.“Saat ini ibu Selir Athena dirawat di rumah sakit kerajaan.” Ean mengakhiri laporannya.Di luar, Athena berdiri. Di

  • Selir Sang Jenderal   12. Kita Bertemu Lagi

    Athena sedang memberi makan seekor anak kucing di taman. Wanita itu menyukai kucing, tapi dia tidak pernah memiliki kesempatan untuk memiliki hewan peliharaan karena dia terlalu sibuk.Athena bisa saja mengambil kucing liar dan membawanya ke rumah, tapi dia tahu menelantarkan kucing di rumahnya adalah tindakan tidak bertanggung jawab.Beberapa langkah tidak jauh dari Athena saat ini ada Declan. Pria itu tersenyum misterius lalu kemudian melangkah menuju Athena.Saat ini Athena dan anak kucing itu terlihat sangat manis, tapi Declan benar-benar tahu bahwa Athena jelas bukan kucing yang manis melainkan kucing liar yang memiliki cakar tajam.“Salam, Tuan Declan.” Sopia segera memberi salam pada Declan.Athena yang tadinya berjongkok segera berdiri, wanita itu kini menatap Declan.“Nona, kita bertemu lagi.” Declan tersenyum pada Athena.Athena hanya membalas dengan anggukan singkat.“Apakah Nona berasal dari kediaman Adipati Miles?”“Tuan, ini adalah Selir Athena, Selir Jenderal Agung.” So

  • Selir Sang Jenderal   11. Sebuah Transaksi

    Altherr pergi ke tenda tempat para bandit yang tertangkap di siksa.“Apakah mereka bicara?” Altherr bertanya pada Ean.“Ya, Tuan.” Ean menggunakan metode penyiksaan yang paling kejam untuk membuat beberapa bandit bicara, tapi beberapa yang lainnya memilih tetap bungkam meski sangat tersiksa. “Pasukan berpakaian hitam tidak berasal dari kelompok bandit. Mereka berasal dari organisasi Elang Hitam.”“Organisasi Elang Hitam?”“Benar, Jenderal Agung. Saya mencoba mencari tahu lebih banyak lagi tentang organisasi ini dari para bandit, tapi mereka tidak mengetahui apapun, bahkan mereka juga baru bertemu dengan orang-orang itu hari ini. Tampaknya yang berhubungan dengan orang-orang dari oganisasi itu adalah pemimpin para bandit langsung.”Altherr tidak puas dengan hal ini, jika tidak ada informasi tentang organisasi itu maka dia tidak bisa menangkap pria yang melukai istrinya.“Apakah mereka menyebutkan tentang tempat persembunyian mereka?”“Saya telah menggambar peta tempat mereka tinggal, Y

  • Selir Sang Jenderal   10. Sebuah Keberuntungan

    Upaya penyergapan itu gagal, beberapa bandit berhasil melarikan diri begitu juga dengan Declan dan pasukan rahasianya yang tersisa.Altherr memerintahkan para pasukannya untuk mengejar bandit yang melarikan diri.Setelahnya ia juga memerintahkan pasukannya untuk mengumpulkan mayat para bandit untuk digantung di benteng kota Azure. Pria itu menunjukan bahwa siapapun yang mencoba untuk mencelakai Luminastra hanya akan berakhir dengan tragis.Altherr kembali ke kereta, ia masuk ke dalam sana dan tabib baru saja selesai menangani Lucianne.“Bagaimana keadaan Istriku, Tabib?”“Luka yang dialami oleh Putri Lucianne cukup dalam, tapi itu tidak mengancam nyawanya. Saat ini Putri Lucianne sedang tidur karena pengaruh obat. Dalam beberapa jam ke depan Putri Lucianne akan sadarkan diri.”Altherr lega mendengarnya. Untung saja tidak terjadi hal yang buruk pada istrinya.Di luar kereta, Athena juga mendengar apa yang dikatakan oleh tabib. Wanita itu juga merasa lega.Perjalanan dihentikan sementar

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status