Masuk“Yang Mulia Kaisar tiba ...!”
Suara kasim melengking, lalu semua bunyi seolah tersedot habis. Shen Yaoqing berdiri refleks. Lututnya hampir gemetar, tapi ia memaksa punggungnya tetap tegak. Dalam kepalanya, alarm berbunyi bertubi-tubi. "Oke, tarik napas. Jangan panik, jangan nangis, jangan pingsan!" batinnya pasrah. Langkah sepatu kulit berhenti di hadapannya. Shen menunduk, sesuai etika. Dari sudut pandangnya, yang terlihat hanya ujung jubah hitam keunguan dengan sulaman naga emas, benang-benangnya berkilau dingin di bawah cahaya lentera. Aura Kaisar Zhao Yichen menekan tanpa perlu kata. “Bangun,” ucapnya singkat. Nada suaranya datar, wanita itu sontak mengangkat kepala. Wajah pria di hadapannya persis seperti deskripsi novel. Rahang tajam, tampan, dan dingin seperti patung giok. Alisnya lurus, matanya gelap dan dalam. "Yup. Ini dia raja gila itu," pikir Shen Yaoqing. “Kau tampak belum mati,” ujar Zhao Yichen. Shen berkedip. “Terima kasih?” jawabnya refleks. Ruangan hening. Kasim di samping Kaisar tampak nyaris tersedak napas, wanita itu sendiri baru sadar apa yang barusan ia ucapkan. "Astaga, mulutku kebablasan," gerutunya dalam hati. Namun anehnya, Zhao Yichen tidak langsung murka. Ia hanya menatap Shen sedikit lebih lama, seolah sedang memastikan sesuatu. “Selir Shen,” katanya akhirnya. “Aku datang membawa keputusan.” Kalimat itu jatuh seperti palu. Shen merasakan perutnya menegang. Tangannya refleks bergerak ke arah perut, terasa gerakan kecil di sana yang membuatnya mual. Zhao Yichen melihatnya. “Jenderal Shen dan seluruh keluarganya telah ditetapkan sebagai pengkhianat. Hukuman mati telah diputuskan, tinggal menunggu pelaksanaan.” Kata hukuman mati terdengar ringan di mulutnya. Di novel, bagian ini membuat Selir Shen pingsan sampai menangis. Setelah itu segalanya berakhir buruk. Tidak! Bukan itu jalan yang ia inginkan. Ia menelan saliva, memaksa suaranya tetap keluar. “Termasuk semuanya?” tanyanya pelan. “Tidak ada pengecualian.” Jantung Shen Yaoqing berdegup keras. Namun alih-alih menangis, ia justru tertawa kecil. “Wow,” gumamnya. “Efisien sekali.” Kasim itu tampak ngeri. Zhao Yichen menyipitkan mata. “Kau menertawakan perintah kekaisaran?” “Saya tidak berani, Kaisar,” jawab Shen Yaoqing menggeleng cepat. “Hanya ... terkejut. Ayahku berperang puluhan tahun demi Liangyun, dan akhirnya mati tanpa sempat membela diri. Dunia ini cepat sekali mengambil keputusan.” Zhao Yichen menatapnya lebih dalam. “Aku belum selesai,” katanya. Shen Yaoqing mengangkat alis tipis. Masih ada? Hebat. “Karena kau tengah mengandung darah kekaisaran, hukumanmu ditunda,” lanjutnya. Wanita itu membeku. “Ditunda?” ulangnya. “Kau akan tetap hidup sampai anak itu lahir.” Kalimat berikutnya meluncur tanpa ekspresi berlebihan, seolah kematian wanitanya tak ada artinya. “Setelah itu, kau akan menyusul keluargamu.” Ruangan seolah runtuh. Kepalanya menunduk, napasnya teratur meski dadanya bergemuruh. Di kepalanya, otak modernnya bekerja liar. Hingga ia kembali kepala perlahan. “Yang Mulia,” katanya lembut. “Bolehkah aku bertanya satu hal?” Zhao Yichen tampak tidak tertarik, tapi ia mengangguk singkat. “Jika anak ini lahir dan ibunya mati karena vonis kekaisaran, apakah Langit akan menganggap darah naga itu murni?” Kasim terbelalak. Zhao Yichen terdiam. Keheningan meregang. “Di kitab kuno,” ujar Shen Yaoqing menambahkan cepat. “Bukankah tertulis bahwa ibu adalah wadah takdir? Jika wadahnya bernoda, apa isinya tetap suci?” Itu pertanyaan sederhana, tetapi berbahaya. Zhao Yichen menatapnya lama. “Kau berubah,” katanya pelan. Shen Yaoqing tersenyum kecil. “Mungkin karena orang yang hampir mati jadi lebih cerewet,” jawabnya ringan. “Atau mungkin karena aku sedang hamil dan hormon sedang kacau.” Kasim nyaris pingsan. Namun, bibir Zhao Yichen bergerak tipis. “Kau ingin mengulur waktu,” simpulnya. Shen mengangguk jujur. “Iya.” Jawaban itu terlalu blak-blakan. Zhao Yichen tampak terkejut sesaat, lalu mendengus dingin. “Berani.” “Terima kasih,” sahut Shen Yaoqing spontan lagi. “Aku menganggap itu pujian.” Zhao Yichen berbalik. “Penjagaan diperketat,” perintahnya pada kasim. “Tak seorang pun boleh mendekat tanpa izin. Selir Shen akan tetap hidup untuk saat ini.” Langkahnya berhenti di ambang pintu. “Jangan berharap belas kasihan,” tambahnya tanpa menoleh. “Waktu tidak berpihak padamu.” Pintu tertutup. Hening kembali menyergap. Shen Yaoqing terduduk perlahan, kakinya akhirnya menyerah hingga akhirnya ambruk. Langkah kaki berlarian terdengar dari luar aula kecil Istana Dingin. Kain sepatu menyapu lantai batu dengan tergesa, disusul suara napas terengah. “Niangniang ...!” Seorang dayang berlutut hingga tempurungnya membentur lantai. “Tenang. Kalau kau mati kehabisan napas sebelum aku, itu memalukan,” ujar Shen Yaoqing lirih. Dayang itu bernama Qinglan, satu-satunya yang masih setia “Pengawal istana bergerak ke arah sini. Jumlahnya banyak.” Shen Yaoqing menghela napas panjang, lantas bangkit perlahan, menyeka debu dari lututnya. Perutnya terasa berat, bukan hanya karena kandungan, tetapi firasat buruk yang menekan dari segala arah. “Qinglan, kalau aku mati malam ini, tolong kuburkan aku menghadap matahari. Aku nggak mau bangun lagi di dunia lain terus disuruh kerja lembur juga,” katanya tiba-tiba. Qinglan terisak. “Niangniang—” “Bercanda,” potong Shen cepat. “Sedikit. Tapi siaga, ya.” Di luar, obor-obor mulai bermunculan, cahaya oranye bergetar di balik jendela kayu. Suara besi beradu terdengar jelas, pedang ditarik dari sarungnya. Shen Yaoqing menyipitkan mata. “Ini cepat sekali,” gumamnya. “Padahal kaisar baru saja pergi.” Ia menoleh ke arah pintu utama tepat ketika daun pintu kayu tua itu dibuka paksa. BRAK! Empat pengawal bersenjata masuk lebih dulu, diikuti seorang pria bertubuh tinggi dengan jubah biru gelap. Lambang burung phoenix keemasan tersemat di dadanya. Pengawal pribadi permaisuri. Pria itu menatap Shen Yaoqing tanpa membungkuk. “Selir Shen!” Nada suaranya datar, terdengar merendahkan. “Atas perintah kekaisaran, kami datang untuk mengeksekusi semua penghuni Istana Dingin.” Qinglan menjerit tertahan. Shen mengangkat tangan. “Tunggu. Aku tahu ini dinasti kuno, tapi setidaknya kasih aku surat resmi atau stempel naga gitu, kek. Masa mati tanpa kuitansi?” Salah satu pengawal mendecak kesal. Pria berjubah biru itu menyipitkan mata. “Kau meragukan mandat Kaisar?” “Oh, tidak,” jawab Shen Yaoqing cepat. “Aku meragukan logikanya.” Ia melangkah satu langkah ke depan. “Yang Mulia Kaisar baru saja berkata hukumanku ditunda. Kalau sekarang aku mati, berarti beliau lupa dalam waktu … lima belas menit?” Pria itu terdiam sepersekian detik. “Jadi, ini perintah siapa, ya? Kaisar yang sama, atau Kaisar versi lain?” Pengawal-pengawal itu saling berpandangan. Untuk sesaat, pegangan pedang di tangan mereka mengendur tanpa sadar. Pria berjubah biru melirik ke arah mereka, sorot matanya mengeras. “Cerdas. Tidak heran Permaisuri—” Ia berhenti. Terlambat. “Ooh,” ujar Shen Yaoqing pelan. “Jadi, ini dari Permaisuri?” Ia mengangguk-angguk seolah baru mengingat sesuatu. “Masuk akal. Wanita yang paling takut kehilangan tahta memang biasanya paling rajin menyuruh orang membunuh.” “Kurang ajar!” bentak pengawal lain. Shen Yaoqing menoleh. “Aku hamil, jadi emosional. Tolong maklum.” Pria berjubah biru mengangkat tangan. “Cukup!” Ia menatap Shen Yaoqing dengan sorot dingin. “Perintahnya jelas. Mandat Kaisar atau Permaisuri, apa bedanya? Kau tetap akan mati.” Shen Yaoqing tersenyum, ada kilat tajam di balik matanya. “Beda,” katanya. “Bedanya besar sekali.” Ia menepuk perutnya pelan, mengangkat kepala meski jantung bertalu keras. “Jika darah naga mati karena perintah palsu, maka maka Mandat Langit akan berbalik.. Dan orang pertama yang diseret ke hadapan takdir adalah Permaisuri!”Salju yang semalam turun tebal kini mulai mencair, meninggalkan lapisan putih kusam di atap paviliun dan jalan setapak. Udara masih dingin, tapi tidak menusuk tulang seperti di Istana Dingin. Shen Yaoqing berdiri di beranda paviliun, dibungkus jubah bulu rubah tipis berwarna pucat. Tangannya terulur, menyentuh pagar kayu yang masih lembap oleh embun salju.“Huaaa .…” Ia mengembuskan napas pelan. “Jauh lebih enakan.”Qinglan yang berdiri di sampingnya tersenyum lega. “Paviliun ini memang dirancang untuk pemulihan, Niangniang. Bahkan di musim dingin pun, tungkunya tak pernah padam.”Shen Yaoqing melangkah turun perlahan, langkahnya hati-hati. Jalan batu yang menghubungkan paviliun utama dengan taman kecil di belakang mulai tampak. Salju mencair memperlihatkan tanah gelap di bawahnya, beberapa ranting cemara basah berkilau diterpa cahaya matahari pagi.Ia berhenti, menatap sekeliling.“Aku bisa bernapas di sini,” gumamnya. “Di Istana Dingin rasanya seperti paru-paruku ikut membeku.”Qin
“Angkat!” Perintah Zhao Yichen singkat.Pengawal Bayangan bergerak cepat. Dua orang menopang tubuh Shen Yaoqing, sementara Qinglan menangis tertahan, tangannya gemetar hendak membantu, tapi tak berani mendekat.“Pelan-pelan,” gumam Shen Yaoqing, suaranya nyaris tak terdengar.Zhao Yichen meliriknya sekilas. Tatapannya datar, dingin, tapi tangannya terangkat memberi isyarat agar mereka berhenti sejenak.“Jangan diguncang,” katanya. “Jika janin itu kenapa-kenapa, kalian ikut dikubur.”Ancaman itu membuat langkah para pengawal langsung lebih berhati-hati.Tak lama kemudian, suara langkah tergesa memecah kesunyian.“Tabib kekaisaran telah tiba!”Seorang pria tua berjubah hijau tua masuk tergopoh-gopoh, napasnya terengah. Begitu melihat Zhao Yichen, ia langsung menjatuhkan diri berlutut begitu dalam hingga dahinya menyentuh lantai batu.“Hamba tabib istana, Wei Shun, menghadap Huangshang!”“Periksa Selir Mulia Shen!” Wei Shun mengangkat kepala. Begitu matanya menangkap noda darah di lanta
Di Istana Phoenix AgungPermaisuri Xiao Lianhua duduk di depan cermin perunggu. Jari-jarinya ramping, kuku-kukunya dicelup merah tua seperti darah kering.“Belum juga mati?” tanyanya tenang.Pelayan pribadi berlutut. “Pengawal telah dikirim, Niangniang.”Xiao Lianhua tersenyum tipis.“Bagus. Shen Yaoqing terlalu lama hidup.”Ia menatap bayangannya sendiri. “Perempuan seperti itu seharusnya tahu diri.”Ia bangkit, jubah emasnya menyapu lantai marmer.“Ayahnya jenderal, suaminya kaisar, kandungannya calon putra mahkota.”Ia tertawa kecil, seringai tersungging sinis. “Terlalu banyak kartu di tangannya.”“Bagaimana jika Kaisar—”“Zhao Yichen?” potong Xiao Lianhua. “Ia memilih negara, bukan perempuan.”Ia mendekat ke jendela, menatap langit.“Dan jika Selir Shen mati, besok ia hanya akan berduka sebentar. Setelah itu dunia tetap berjalan.”Matanya berkilat.“Lagipula,” tambahnya pelan. “Aku hanya mempercepat takdir.”Sementara itu di aula Kekaisaran Istana Naga LangitZhao Yichen sedang be
“Yang Mulia Kaisar tiba ...!”Suara kasim melengking, lalu semua bunyi seolah tersedot habis.Shen Yaoqing berdiri refleks. Lututnya hampir gemetar, tapi ia memaksa punggungnya tetap tegak. Dalam kepalanya, alarm berbunyi bertubi-tubi."Oke, tarik napas. Jangan panik, jangan nangis, jangan pingsan!" batinnya pasrah.Langkah sepatu kulit berhenti di hadapannya.Shen menunduk, sesuai etika. Dari sudut pandangnya, yang terlihat hanya ujung jubah hitam keunguan dengan sulaman naga emas, benang-benangnya berkilau dingin di bawah cahaya lentera.Aura Kaisar Zhao Yichen menekan tanpa perlu kata.“Bangun,” ucapnya singkat.Nada suaranya datar, wanita itu sontak mengangkat kepala.Wajah pria di hadapannya persis seperti deskripsi novel. Rahang tajam, tampan, dan dingin seperti patung giok. Alisnya lurus, matanya gelap dan dalam."Yup. Ini dia raja gila itu," pikir Shen Yaoqing.“Kau tampak belum mati,” ujar Zhao Yichen.Shen berkedip.“Terima kasih?” jawabnya refleks.Ruangan hening.Kasim di
Jam di sudut kanan layar laptop menunjukkan pukul sebelas malam. Shen Yaoqing menatapnya dengan tatapan kosong selama tiga detik, lalu menghela napas panjang. “Baiklah,” gumamnya lesu sambil mengangkat gelas kopi sachet yang sudah dingin. “Kita lanjut aja, demi cicilan dan bayar listrik. Bertahan hidup di dunia kapitalisme ini memang kejam.” Kantor sudah hampir sepenuhnya gelap. Tinggal beberapa lampu neon yang masih menyala di atas meja-meja kosong, memantulkan cahaya pucat ke lantai keramik. Pendingin ruangan berdengung malas, seolah ikut lelah menemani manusia terakhir yang belum pulang. Manusia itu, tentu saja, Shen Yaoqing. Rambutnya diikat asal, kemeja kerja sudah kusut, dan matanya berkilat karena kafein yang berlebihan. Jarinya menari cepat di atas keyboard, mulutnya tak berhenti berceloteh. “Siapa juga yang bikin deadline jam dua belas malam,” gerutunya. Ia berhenti sejenak, melirik kursi kosong di sekelilingnya, lalu menyeringai kecil. Selesai mengetik satu paragraf l







