Share

Hukuman Mati

Penulis: White Plum
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-13 11:59:36

“Yang Mulia Kaisar tiba ...!”

Suara kasim melengking, lalu semua bunyi seolah tersedot habis.

Shen Yaoqing berdiri refleks. Lututnya hampir gemetar, tapi ia memaksa punggungnya tetap tegak. Dalam kepalanya, alarm berbunyi bertubi-tubi.

"Oke, tarik napas. Jangan panik, jangan nangis, jangan pingsan!" batinnya pasrah.

Langkah sepatu kulit berhenti di hadapannya.

Shen menunduk, sesuai etika. Dari sudut pandangnya, yang terlihat hanya ujung jubah hitam keunguan dengan sulaman naga emas, benang-benangnya berkilau dingin di bawah cahaya lentera.

Aura Kaisar Zhao Yichen menekan tanpa perlu kata.

“Bangun,” ucapnya singkat.

Nada suaranya datar, wanita itu sontak mengangkat kepala.

Wajah pria di hadapannya persis seperti deskripsi novel. Rahang tajam, tampan, dan dingin seperti patung giok. Alisnya lurus, matanya gelap dan dalam.

"Yup. Ini dia raja gila itu," pikir Shen Yaoqing.

“Kau tampak belum mati,” ujar Zhao Yichen.

Shen berkedip.

“Terima kasih?” jawabnya refleks.

Ruangan hening.

Kasim di samping Kaisar tampak nyaris tersedak napas, wanita itu sendiri baru sadar apa yang barusan ia ucapkan.

"Astaga, mulutku kebablasan," gerutunya dalam hati.

Namun anehnya, Zhao Yichen tidak langsung murka. Ia hanya menatap Shen sedikit lebih lama, seolah sedang memastikan sesuatu.

“Selir Shen,” katanya akhirnya. “Aku datang membawa keputusan.”

Kalimat itu jatuh seperti palu.

Shen merasakan perutnya menegang. Tangannya refleks bergerak ke arah perut, terasa gerakan kecil di sana yang membuatnya mual.

Zhao Yichen melihatnya. “Jenderal Shen dan seluruh keluarganya telah ditetapkan sebagai pengkhianat. Hukuman mati telah diputuskan, tinggal menunggu pelaksanaan.”

Kata hukuman mati terdengar ringan di mulutnya. Di novel, bagian ini membuat Selir Shen pingsan sampai menangis. Setelah itu segalanya berakhir buruk.

Tidak! Bukan itu jalan yang ia inginkan.

Ia menelan saliva, memaksa suaranya tetap keluar. “Termasuk semuanya?” tanyanya pelan.

“Tidak ada pengecualian.”

Jantung Shen Yaoqing berdegup keras. Namun alih-alih menangis, ia justru tertawa kecil.

“Wow,” gumamnya. “Efisien sekali.”

Kasim itu tampak ngeri. Zhao Yichen menyipitkan mata.

“Kau menertawakan perintah kekaisaran?”

“Saya tidak berani, Kaisar,” jawab Shen Yaoqing menggeleng cepat. “Hanya ... terkejut. Ayahku berperang puluhan tahun demi Liangyun, dan akhirnya mati tanpa sempat membela diri. Dunia ini cepat sekali mengambil keputusan.”

Zhao Yichen menatapnya lebih dalam.

“Aku belum selesai,” katanya.

Shen Yaoqing mengangkat alis tipis. Masih ada? Hebat.

“Karena kau tengah mengandung darah kekaisaran, hukumanmu ditunda,” lanjutnya.

Wanita itu membeku.

“Ditunda?” ulangnya.

“Kau akan tetap hidup sampai anak itu lahir.”

Kalimat berikutnya meluncur tanpa ekspresi berlebihan, seolah kematian wanitanya tak ada artinya.

“Setelah itu, kau akan menyusul keluargamu.”

Ruangan seolah runtuh.

Kepalanya menunduk, napasnya teratur meski dadanya bergemuruh. Di kepalanya, otak modernnya bekerja liar.

Hingga ia kembali kepala perlahan.

“Yang Mulia,” katanya lembut. “Bolehkah aku bertanya satu hal?”

Zhao Yichen tampak tidak tertarik, tapi ia mengangguk singkat.

“Jika anak ini lahir dan ibunya mati karena vonis kekaisaran, apakah Langit akan menganggap darah naga itu murni?”

Kasim terbelalak.

Zhao Yichen terdiam.

Keheningan meregang.

“Di kitab kuno,” ujar Shen Yaoqing menambahkan cepat. “Bukankah tertulis bahwa ibu adalah wadah takdir? Jika wadahnya bernoda, apa isinya tetap suci?”

Itu pertanyaan sederhana, tetapi berbahaya.

Zhao Yichen menatapnya lama.

“Kau berubah,” katanya pelan.

Shen Yaoqing tersenyum kecil. “Mungkin karena orang yang hampir mati jadi lebih cerewet,” jawabnya ringan. “Atau mungkin karena aku sedang hamil dan hormon sedang kacau.”

Kasim nyaris pingsan.

Namun, bibir Zhao Yichen bergerak tipis. “Kau ingin mengulur waktu,” simpulnya.

Shen mengangguk jujur. “Iya.”

Jawaban itu terlalu blak-blakan. Zhao Yichen tampak terkejut sesaat, lalu mendengus dingin.

“Berani.”

“Terima kasih,” sahut Shen Yaoqing spontan lagi. “Aku menganggap itu pujian.”

Zhao Yichen berbalik.

“Penjagaan diperketat,” perintahnya pada kasim. “Tak seorang pun boleh mendekat tanpa izin. Selir Shen akan tetap hidup untuk saat ini.”

Langkahnya berhenti di ambang pintu.

“Jangan berharap belas kasihan,” tambahnya tanpa menoleh. “Waktu tidak berpihak padamu.”

Pintu tertutup.

Hening kembali menyergap.

Shen Yaoqing terduduk perlahan, kakinya akhirnya menyerah hingga akhirnya ambruk.

Langkah kaki berlarian terdengar dari luar aula kecil Istana Dingin. Kain sepatu menyapu lantai batu dengan tergesa, disusul suara napas terengah.

“Niangniang ...!” Seorang dayang berlutut hingga tempurungnya membentur lantai.

“Tenang. Kalau kau mati kehabisan napas sebelum aku, itu memalukan,” ujar Shen Yaoqing lirih.

Dayang itu bernama Qinglan, satu-satunya yang masih setia “Pengawal istana bergerak ke arah sini. Jumlahnya banyak.”

Shen Yaoqing menghela napas panjang, lantas bangkit perlahan, menyeka debu dari lututnya. Perutnya terasa berat, bukan hanya karena kandungan, tetapi firasat buruk yang menekan dari segala arah.

“Qinglan, kalau aku mati malam ini, tolong kuburkan aku menghadap matahari. Aku nggak mau bangun lagi di dunia lain terus disuruh kerja lembur juga,” katanya tiba-tiba.

Qinglan terisak. “Niangniang—”

“Bercanda,” potong Shen cepat. “Sedikit. Tapi siaga, ya.”

Di luar, obor-obor mulai bermunculan, cahaya oranye bergetar di balik jendela kayu. Suara besi beradu terdengar jelas, pedang ditarik dari sarungnya.

Shen Yaoqing menyipitkan mata.

“Ini cepat sekali,” gumamnya. “Padahal kaisar baru saja pergi.”

Ia menoleh ke arah pintu utama tepat ketika daun pintu kayu tua itu dibuka paksa.

BRAK!

Empat pengawal bersenjata masuk lebih dulu, diikuti seorang pria bertubuh tinggi dengan jubah biru gelap. Lambang burung phoenix keemasan tersemat di dadanya.

Pengawal pribadi permaisuri.

Pria itu menatap Shen Yaoqing tanpa membungkuk. “Selir Shen!”

Nada suaranya datar, terdengar merendahkan.

“Atas perintah kekaisaran, kami datang untuk mengeksekusi semua penghuni Istana Dingin.”

Qinglan menjerit tertahan.

Shen mengangkat tangan. “Tunggu. Aku tahu ini dinasti kuno, tapi setidaknya kasih aku surat resmi atau stempel naga gitu, kek. Masa mati tanpa kuitansi?”

Salah satu pengawal mendecak kesal.

Pria berjubah biru itu menyipitkan mata. “Kau meragukan mandat Kaisar?”

“Oh, tidak,” jawab Shen Yaoqing cepat. “Aku meragukan logikanya.” Ia melangkah satu langkah ke depan. “Yang Mulia Kaisar baru saja berkata hukumanku ditunda. Kalau sekarang aku mati, berarti beliau lupa dalam waktu … lima belas menit?”

Pria itu terdiam sepersekian detik.

“Jadi, ini perintah siapa, ya? Kaisar yang sama, atau Kaisar versi lain?”

Pengawal-pengawal itu saling berpandangan.

Untuk sesaat, pegangan pedang di tangan mereka mengendur tanpa sadar.

Pria berjubah biru melirik ke arah mereka, sorot matanya mengeras.

“Cerdas. Tidak heran Permaisuri—”

Ia berhenti.

Terlambat.

“Ooh,” ujar Shen Yaoqing pelan. “Jadi, ini dari Permaisuri?”

Ia mengangguk-angguk seolah baru mengingat sesuatu. “Masuk akal. Wanita yang paling takut kehilangan tahta memang biasanya paling rajin menyuruh orang membunuh.”

“Kurang ajar!” bentak pengawal lain.

Shen Yaoqing menoleh. “Aku hamil, jadi emosional. Tolong maklum.”

Pria berjubah biru mengangkat tangan. “Cukup!”

Ia menatap Shen Yaoqing dengan sorot dingin. “Perintahnya jelas. Mandat Kaisar atau Permaisuri, apa bedanya? Kau tetap akan mati.”

Shen Yaoqing tersenyum, ada kilat tajam di balik matanya.

“Beda,” katanya. “Bedanya besar sekali.”

Ia menepuk perutnya pelan, mengangkat kepala meski jantung bertalu keras. “Jika darah naga mati karena perintah palsu, maka maka Mandat Langit akan berbalik.. Dan orang pertama yang diseret ke hadapan takdir adalah Permaisuri!”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Selir Shen: Menulis Ulang Takdir di Istana Dingin   Pion Terkuat

    “Selir Shen! Tunggu!”Suara salah satu selir pecah di belakangnya, gemetar antara takut dan tak percaya. “Kau … kau membunuh mereka dengan jepit rambut?”Shen Yaoqing berhenti sejenak, tapi tidak menoleh. Qinglan berdiri setengah melindunginya, wajahnya tampak pucat.“Kalau tidak begitu, yang mati mungkin kita,” jawab Shen Yaoqing tenang.Tak ada yang berani membalas.Ia melangkah meninggalkan Taman Seribu Musim. Salju tipis sudah mulai mencair, matahari sore memantul pada genangan air di sela batu. Aroma darah perlahan tergantikan wangi plum yang tertiup angin hangat.Musim memang hampir berganti.Di belakangnya, Zhao Yichen masih berdiri memandang punggung wanita itu.“Xiao An.”Seorang kasim muda berwajah pucat segera berlutut. “Hamba di sini, Yang Mulia.”“Bawa tabib kerajaan ke Paviliun Batu Giok. Periksa Selir Mulia Shen. Jangan sampai ada luka tersembunyi.”Xiao An tertegun sepersekian detik. “Segera, Yang Mulia.”Nada itu terdengar biasa saja, tetapi para pengawal pribadi Kais

  • Selir Shen: Menulis Ulang Takdir di Istana Dingin   Pembunuh Bayaran

    Rong Guifei tersenyum manis, menatap rangkaian bunga Shen Yaoqing dengan alis terangkat tipis. “Selir Shen memang pandai menyusun kata. Namun pesta bunga bukan sekadar simbol, melainkan juga hiburan.”Beberapa selir menunduk, menyembunyikan senyum.Ibu Suri menggeser pandangannya perlahan ke arah Rong Guifei. “Menurutmu, simbol tidak penting?”Rong Guifei langsung menunduk. “Tentu penting, Ibu Suri. Hanya saja … hamba khawatir Selir Shen terlalu memaksakan diri.”Shen Yaoqing tersenyum lembut. “Terima kasih atas perhatian Selir Agung Rong Guifei. Namun hamba masih mampu berdiri tanpa dipapah.”Nada itu halus, tapi seperti sutra yang membelit leher. Kaisar Zhao Yichen tidak berkata apa-apa. Ia hanya menyesap araknya, mata gelapnya mengamati percakapan dua wanita itu tanpa ekspresi.Acara berlanjut dengan pelayan yang membawa nampan-nampan kayu berukir, di atasnya tersaji kue bunga osmanthus, bola ketan isi pasta kacang merah, daging bebek panggang berlapis madu, dan sup sarang burung d

  • Selir Shen: Menulis Ulang Takdir di Istana Dingin   Pesta Bunga

    “Niangniang, waktunya berangkat.”Qinglan berlutut di depan cermin perunggu, jemarinya merapikan lipatan terakhir jubah biru pucat yang mengalir seperti air musim semi.Shen Yaoqing menatap bayangannya.Gaun itu sederhana, tanpa emas mencolok dan tanpa bordir naga berlebihan. Hanya bunga plum putih keperakan yang dijahit halus di ujung lengan dan bagian bawah rok. Rambutnya disanggul rendah, disematkan satu jepit giok berbentuk kelopak.“Apakah terlalu sederhana?” tanya Qinglan pelan.Shen Yaoqing tersenyum samar. “Hari ini aku bukan datang untuk bersaing dalam kemewahan.”“Lalu untuk apa, Niangniang?”“Sudah, lihat saja nanti.”***Taman Seribu Musim diselimuti salju tipis pada bebatuan dan jembatan lengkung, tapi taman tetap hidup oleh ribuan bunga musim dingin seperti plum merah, krisan putih, kamelia merah tua, dan dahan cemara yang dibentuk melengkung artistik. Lentera-lentera sutra digantung di pohon, kain tipis berwarna pastel membentang di antara pilar kayu berukir.Aula terb

  • Selir Shen: Menulis Ulang Takdir di Istana Dingin   Siasat Bertahan Hidup

    “Semua keluar!” seru Shen Yaoqing tajam, membuat para dayang yang baru saja menyambutnya langsung menunduk.Qinglan berkedip. “Niangniang?”“Kecuali Qinglan.”Pintu Paviliun Batu Giok ditutup perlahan. Suara gesek kayu cendana terdengar berat, lalu hening menyelimuti ruangan.Shen Yaoqing berdiri di tengah ruangan, melepas mantel bulunya dengan pelan dan berjalan menuju meja bundar dari batu giok pucat, lalu duduk perlahan.Qinglan nampak berdiri cemas. “Niangniang, apakah ada yang salah?”Shen Yaoqing mengangkat wajahnya.“Kandunganku.” Ia menyentuh perutnya pelan. “Sudah empat bulan.”Qinglan langsung tersenyum lega. “Itu kabar baik, Niangniang. Enam bulan lagi—”“Enam bulan lag aku akan melahirkan, dan setelah itu Kaisar akan membunuhku,” potong Shen Yaoqing lembut.Tungku perunggu mendesis pelan.Qinglan memucat seketika. “Niangniang! Jangan—” “Ayahku belum kembali dari perang. Tuduhan pemberontakan belum dibersihkan. Begitu aku melahirkan pewaris, aku akan menjadi beban politi

  • Selir Shen: Menulis Ulang Takdir di Istana Dingin   Apakah Alur Berubah?

    “Niangniang, hari ini kita harus menghadap Ibu Suri untuk memberi salam.”Shen Yaoqing duduk di depan meja rias, sementara Qinglan berdiri di belakangnya, jari-jarinya gemetar saat menyematkan jepit rambut giok pucat.Shen Yaoqing menguap kecil. “Hmm.”Qinglan menelan ludah. “Semua selir pasti sudah berkumpul sejak subuh. Selir Agung juga.”“Ya, wajar,” jawab Shen Yaoqing santai. “Itu ajang cari muka buat mereka”Qinglan hampir tersedak.“Niangniang .…” Ia menunduk cemas. “Hamba takut mereka akan menghina. Selir Agung terkenal pandai memelintir kata. Ibu Suri juga sering—”“Mudah terhasut?” Shen Yaoqing menoleh sambil tersenyum. “Tenang. Orang seperti itu tidak berbahaya. Yang berbahaya itu yang kelihatan diam, tapi nyimpen pisau.”Qinglan makin pucat. “T-tapi—”Shen Yaoqing berdiri, merapikan jubah luarnya. “Lagipula, aku hamil. Kalau mereka macam-macam, itu bukan aku yang kena duluan.”Ia menepuk perutnya pelan. “Bayiku adalah kartu as paling mahal di istana.”Qinglan terdiam.“Nian

  • Selir Shen: Menulis Ulang Takdir di Istana Dingin   Membalaskan Sakit

    Salju yang semalam turun tebal kini mulai mencair, meninggalkan lapisan putih kusam di atap paviliun dan jalan setapak. Udara masih dingin, tapi tidak menusuk tulang seperti di Istana Dingin. Shen Yaoqing berdiri di beranda paviliun, dibungkus jubah bulu rubah tipis berwarna pucat. Tangannya terulur, menyentuh pagar kayu yang masih lembap oleh embun salju.“Huaaa .…” Ia mengembuskan napas pelan. “Jauh lebih enakan.”Qinglan yang berdiri di sampingnya tersenyum lega. “Paviliun ini memang dirancang untuk pemulihan, Niangniang. Bahkan di musim dingin pun, tungkunya tak pernah padam.”Shen Yaoqing melangkah turun perlahan, langkahnya hati-hati. Jalan batu yang menghubungkan paviliun utama dengan taman kecil di belakang mulai tampak. Salju mencair memperlihatkan tanah gelap di bawahnya, beberapa ranting cemara basah berkilau diterpa cahaya matahari pagi.Ia berhenti, menatap sekeliling.“Aku bisa bernapas di sini,” gumamnya. “Di Istana Dingin rasanya seperti paru-paruku ikut membeku.”Qin

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status