Masuk“Niangniang, hari ini kita harus menghadap Ibu Suri untuk memberi salam.”
Shen Yaoqing duduk di depan meja rias, sementara Qinglan berdiri di belakangnya, jari-jarinya gemetar saat menyematkan jepit rambut giok pucat. Shen Yaoqing menguap kecil. “Hmm.” Qinglan menelan ludah. “Semua selir pasti sudah berkumpul sejak subuh. Selir Agung juga.” “Ya, wajar,” jawab Shen Yaoqing santai. “Itu ajang cari muka buat mereka” Qinglan hampir tersedak. “Niangniang .…” Ia menunduk cemas. “Hamba takut mereka akan menghina. Selir Agung terkenal pandai memelintir kata. Ibu Suri juga sering—” “Mudah terhasut?” Shen Yaoqing menoleh sambil tersenyum. “Tenang. Orang seperti itu tidak berbahaya. Yang berbahaya itu yang kelihatan diam, tapi nyimpen pisau.” Qinglan makin pucat. “T-tapi—” Shen Yaoqing berdiri, merapikan jubah luarnya. “Lagipula, aku hamil. Kalau mereka macam-macam, itu bukan aku yang kena duluan.” Ia menepuk perutnya pelan. “Bayiku adalah kartu as paling mahal di istana.” Qinglan terdiam. “Niangniang, Yang Mulia benar-benar berubah sejak—” “Bukan berubah,” potong Shen Yaoqing ringan. “Cuma mulai sadar saja kekuatan terbesarku ternyata bukan pada kekuasaan Kaisar, tapi pada diriku sendiri. Pagi ini aku akan menghadapi mereka, kamu jangan remehkan aku, ya.” Ia melangkah keluar paviliun, dua pengawal kekaisaran langsung berdiri tegak di belakangnya. “Lihat?” lanjutnya sambil berjalan. “Aku bahkan masih diawasi. Kalau ada yang nuduh aku telat sengaja, suruh saja mereka tanya pengawal ini. Masa pengawal Kaisar mau bohong?” Qinglan menahan napas. “Niangniang sangat berani.” Shen Yaoqing tersenyum, tanpa menjawab, ia berjalan lurus menuju tandu yang siap membawanya. *** Istana Ibu Suri berdiri megah di ujung kompleks utama. Atapnya masih diselimuti sisa salju, genteng hijau tua tampak berkilau basah. Pilar-pilar kayu merah berdiri kokoh, ukiran naga dan burung hong terpatri di setiap sudut. Aroma dupa lembut mengambang di udara. Saat Shen Yaoqing tiba, aula sudah penuh. Para selir duduk berbaris rapi sesuai pangkat. Jubah mereka berwarna-warni, dari merah delima, biru safir, hingga kuning pucat dengan sanggul tinggi dan perhiasan berkilau. Bisik-bisik langsung menyebar seperti angin dingin. “Dia datang.” “Selir Shen?” “Akhirnya keluar dari Istana Dingin.” Shen Yaoqing melangkah masuk dengan tenang. Ia berhenti di tengah aula, lalu menurunkan tubuh perlahan. “Hamba memberi hormat kepada Ibu Suri. Semoga Ibu Suri panjang umur dan diberkahi kesehatan.” Ibu Suri duduk di singgasana rendah, jubah ungu tua membalut tubuhnya. Wajahnya tenang, tapi matanya tajam. “Sungguh lama,” sindir Selir Agung terdengar lembut. “Kami semua sudah menunggu.” Shen Yaoqing tetap menunduk. “Hamba mohon ampun.” Selir Agung tersenyum tipis. “Atau mungkin … Selir Shen merasa kini sudah berbeda? Darah kekaisaran ada di rahimmu, jadi aturan istana boleh diabaikan?” Beberapa selir lain langsung ikut menimpali. “Benar.” “Ini istana Ibu Suri, bukan Paviliun pribadi.” “Telat tetap telat!” Shen Yaoqing mengangkat kepala perlahan. Wajahnya pucat, tapi senyumnya lembut. “Hamba tidak berniat mengabaikan aturan,” katanya tenang. “Tadi pagi hamba mual hebat. Bukankah itu wajar bagi perempuan hamil?” Selir Agung menyipitkan mata. “Alasan.” Shen Yaoqing menoleh sedikit, memberi isyarat halus ke belakang. Dua pengawal kekaisaran langsung melangkah maju setengah langkah. “Hamba datang ke sini dikawal pengawal Yang Mulia,” lanjutnya santai. “Jika Selir Agung meragukan hamba, silakan bertanya langsung. Mereka tidak mungkin berbohong.” Ruangan mendadak senyap. Selir Agung terdiam. Wajahnya menegang, sekejap saja, lalu ia tersenyum kaku. Ibu Suri mengangkat tangan. “Cukup.” Semua langsung menunduk. “Aku juga pernah hamil,” lanjut Ibu Suri perlahan. “Aku tahu bagaimana rasanya mual sampai lemas. Selir Shen tidak perlu dihukum.” Shen Yaoqing segera menunduk lagi. “Terima kasih atas pengertian Ibu Suri.” Ibu Suri lama. “Kau terlihat lebih baik,” katanya kemudian. “Paviliun itu cocok untukmu.” “Hamba berterima kasih atas kemurahan hati Ibu Suri.” Beberapa selir tampak tidak puas, tapi tak ada yang berani bicara lagi. Shen Yaoqing melangkah mundur, kembali ke tempatnya. Qinglan yang berdiri di belakang hampir menangis lega. Dalam diam, Shen Yaoqing menurunkan pandangannya. Ibu Suri memang adil, pikirnya. Tapi mudah digiring. Ia tersenyum kecil. "Tak apa, tinggal pintar-pintar memutar kata," batinnya. Aula kembali hening setelah salam selesai. Para selir duduk tegak, seolah punggung mereka ditarik benang tak kasatmata. Hanya suara dupa yang terbakar pelan terdengar. Shen Yaoqing menyesap teh yang disajikan kasim kecil. Hangatnya menenangkan perutnya yang sejak pagi memang belum sepenuhnya bersahabat. Teh jahe encer. Tidak diracun, simpulnya cepat. Selir Agung terlalu pengecut untuk metode langsung. Ia melirik sekilas ke arah Selir Agung. Perempuan itu duduk anggun, tangannya memutar cincin giok di jari telunjuk. Seolah sedang menghitung. “Selir Shen. ” Suara Selir Agung terdengar lagi, nadanya tetap manis. “Karena Permaisuri masih menjalani hukuman, urusan rumah tangga istana sementara dibantu oleh para selir berpangkat tinggi.” Shen Yaoqing menunduk sopan. “Hamba paham.” “Beberapa hari ke depan, akan ada perhitungan dapur istana,” lanjut Selir Agung. “Untuk memastikan makanan Yang Mulia dan anak dalam kandungan Selir Shen aman.” Qinglan refleks menegang. Shen Yaoqing justru mengangguk ringan. “Itu ide yang sangat baik.” Selir Agung sedikit terkejut. “Selir Shen tidak keberatan?” tanya Selir Agung, alisnya terangkat. Shen Yaoqing tersenyum lembut. “Justru hamba merasa tenang. Kalau ada yang salah, akan cepat ketahuan.” Beberapa selir saling pandang. Selir Agung tertawa kecil. “Kau memang berbeda sekarang.” “Orang berubah kalau hampir mati sekali,” jawab Shen Yaoqing santai. Suasana mendadak canggung. Ibu Suri berdeham pelan. “Baiklah. Setelah ini, masing-masing kembali. Selir Shen—” “Ya, Ibu Suri?” “Kau boleh kembali lebih dulu. Kondisimu tidak cocok duduk lama.” Shen Yaoqing menunduk hormat. “Hamba berterima kasih.” Ia bangkit perlahan. Saat berbalik, matanya bertemu dengan tatapan Selir Agung, sekilas saja, cukup untuk melihat senyum kesal di bibir merah itu. Begitu keluar dari aula, Qinglan langsung mendekat. “Niangniang, perhitungan dapur itu bahaya tidak?” “Tidak,” jawab Shen Yaoqing sambil melangkah santai. “Justru ini kesempatan.” Qinglan terdiam. “Kesempatan?” Shen Yaoqing berhenti sejenak, lalu menoleh. “Kalau dia ingin cari gara-gara, aku akan pastikan dia tersandung oleh gara-gara yang dia buat sendiri.” Qinglan menelan ludah. “Sekarang, ayo ke dapur.” “Eh? Kita tidak boleh ke sana. Bagaimana kalau Yang Mulia Kaisar—” “Hsst! Aku lapar. Kita mengendap-endap saja biar tidak ketahuan pengawal, pokoknya aman kalau kamu tutup mulut.” Qinglan hampir tersedak udara, tetapi akhirnya hanya bisa menurut dan mengendap-endap berjalan menuju arah dapur menghindari pengawal. *** Dapur istana ramai oleh aktivitas memasak, para juru masak membeku saat Shen Yaoqing masuk. “Hamba memberi hormat, Niangniang!” “Tidak perlu terlalu kaku,” katanya lembut. “Aku hanya ingin makan bubur.” Juru masak tersenyum. “Hamba akan siapkan yang terbaik.” Shen Yaoqing memperhatikan tangannya. Tangan kiri gemetar, karena terburu-buru. “Qinglan, ingat juru masak yang menyajikan mie untukku kemarin?” Qinglan berpikir cepat. “Ah, Juru Masak Liu?” “Panggil dia.” Juru masak kepala tampak menegang. “Niangniang, Liu hanya tukang potong—” “Justru itu,” sahut cepat Shen Yaoqing. “Orang yang dianggap remeh biasanya lebih jujur.” Beberapa kasim saling pandang. Tak lama, Juru Masak Liu datang, tubuhnya kurus dan wajahnya lugu. Shen Yaoqing mengedarkan pandangan, senyum tipisnya membuat semua pasang mata gemetar. "Tinggalkan kamu bertiga." Para juru masak lain tampak saling pandang, tetapi hanya bisa mengangguk pasrah memberi hormat sembari mundur menjauh. Setelahnya, Shen Yaoqing mendekati Juru Masak Liu yang masih menundukkan tubuhnya. “Mulai hari ini, kau yang mencicipi semua makanan sebelum aku makan,” katanya. Liu terdiam sesaat. “T-tapi hamba—” “Ini perintah, tentu kau akan mendapatkan bayaran dariku. Aku harap, kau setia demi keturunan Kaisar.” Liu meneguk salivanya dengan susah, tubuhnya gemetar kala menganggukkan kepala. "Hamba akan berhati-hati, Yang Mulia. Keamanan Niangniang dan Putra Mahkota akan Hamba pastikan dengan nyawa Hamba sendi." Shen Yaoqing akhirnya duduk, mengangguk puas dan meminta Qinglan memberikan emas kepada Liu. "Di novel asli, Selir Agung menyuap juru masak dan memberiku racun setelah aku keguguran. Tubuhku lemah, lalu aku mati di istana dingin. Tapi sekarang alurnya sedikit berubah, aku sudah keluar dari Istana dingin dan ada orang kepercayaanku di sini. Tapi aku tidak bisa menjamin, apakah Selir Agung akan tetap meracuniku?" tanyanya kalut dalam hati.“Selir Shen! Tunggu!”Suara salah satu selir pecah di belakangnya, gemetar antara takut dan tak percaya. “Kau … kau membunuh mereka dengan jepit rambut?”Shen Yaoqing berhenti sejenak, tapi tidak menoleh. Qinglan berdiri setengah melindunginya, wajahnya tampak pucat.“Kalau tidak begitu, yang mati mungkin kita,” jawab Shen Yaoqing tenang.Tak ada yang berani membalas.Ia melangkah meninggalkan Taman Seribu Musim. Salju tipis sudah mulai mencair, matahari sore memantul pada genangan air di sela batu. Aroma darah perlahan tergantikan wangi plum yang tertiup angin hangat.Musim memang hampir berganti.Di belakangnya, Zhao Yichen masih berdiri memandang punggung wanita itu.“Xiao An.”Seorang kasim muda berwajah pucat segera berlutut. “Hamba di sini, Yang Mulia.”“Bawa tabib kerajaan ke Paviliun Batu Giok. Periksa Selir Mulia Shen. Jangan sampai ada luka tersembunyi.”Xiao An tertegun sepersekian detik. “Segera, Yang Mulia.”Nada itu terdengar biasa saja, tetapi para pengawal pribadi Kais
Rong Guifei tersenyum manis, menatap rangkaian bunga Shen Yaoqing dengan alis terangkat tipis. “Selir Shen memang pandai menyusun kata. Namun pesta bunga bukan sekadar simbol, melainkan juga hiburan.”Beberapa selir menunduk, menyembunyikan senyum.Ibu Suri menggeser pandangannya perlahan ke arah Rong Guifei. “Menurutmu, simbol tidak penting?”Rong Guifei langsung menunduk. “Tentu penting, Ibu Suri. Hanya saja … hamba khawatir Selir Shen terlalu memaksakan diri.”Shen Yaoqing tersenyum lembut. “Terima kasih atas perhatian Selir Agung Rong Guifei. Namun hamba masih mampu berdiri tanpa dipapah.”Nada itu halus, tapi seperti sutra yang membelit leher. Kaisar Zhao Yichen tidak berkata apa-apa. Ia hanya menyesap araknya, mata gelapnya mengamati percakapan dua wanita itu tanpa ekspresi.Acara berlanjut dengan pelayan yang membawa nampan-nampan kayu berukir, di atasnya tersaji kue bunga osmanthus, bola ketan isi pasta kacang merah, daging bebek panggang berlapis madu, dan sup sarang burung d
“Niangniang, waktunya berangkat.”Qinglan berlutut di depan cermin perunggu, jemarinya merapikan lipatan terakhir jubah biru pucat yang mengalir seperti air musim semi.Shen Yaoqing menatap bayangannya.Gaun itu sederhana, tanpa emas mencolok dan tanpa bordir naga berlebihan. Hanya bunga plum putih keperakan yang dijahit halus di ujung lengan dan bagian bawah rok. Rambutnya disanggul rendah, disematkan satu jepit giok berbentuk kelopak.“Apakah terlalu sederhana?” tanya Qinglan pelan.Shen Yaoqing tersenyum samar. “Hari ini aku bukan datang untuk bersaing dalam kemewahan.”“Lalu untuk apa, Niangniang?”“Sudah, lihat saja nanti.”***Taman Seribu Musim diselimuti salju tipis pada bebatuan dan jembatan lengkung, tapi taman tetap hidup oleh ribuan bunga musim dingin seperti plum merah, krisan putih, kamelia merah tua, dan dahan cemara yang dibentuk melengkung artistik. Lentera-lentera sutra digantung di pohon, kain tipis berwarna pastel membentang di antara pilar kayu berukir.Aula terb
“Semua keluar!” seru Shen Yaoqing tajam, membuat para dayang yang baru saja menyambutnya langsung menunduk.Qinglan berkedip. “Niangniang?”“Kecuali Qinglan.”Pintu Paviliun Batu Giok ditutup perlahan. Suara gesek kayu cendana terdengar berat, lalu hening menyelimuti ruangan.Shen Yaoqing berdiri di tengah ruangan, melepas mantel bulunya dengan pelan dan berjalan menuju meja bundar dari batu giok pucat, lalu duduk perlahan.Qinglan nampak berdiri cemas. “Niangniang, apakah ada yang salah?”Shen Yaoqing mengangkat wajahnya.“Kandunganku.” Ia menyentuh perutnya pelan. “Sudah empat bulan.”Qinglan langsung tersenyum lega. “Itu kabar baik, Niangniang. Enam bulan lagi—”“Enam bulan lag aku akan melahirkan, dan setelah itu Kaisar akan membunuhku,” potong Shen Yaoqing lembut.Tungku perunggu mendesis pelan.Qinglan memucat seketika. “Niangniang! Jangan—” “Ayahku belum kembali dari perang. Tuduhan pemberontakan belum dibersihkan. Begitu aku melahirkan pewaris, aku akan menjadi beban politi
“Niangniang, hari ini kita harus menghadap Ibu Suri untuk memberi salam.”Shen Yaoqing duduk di depan meja rias, sementara Qinglan berdiri di belakangnya, jari-jarinya gemetar saat menyematkan jepit rambut giok pucat.Shen Yaoqing menguap kecil. “Hmm.”Qinglan menelan ludah. “Semua selir pasti sudah berkumpul sejak subuh. Selir Agung juga.”“Ya, wajar,” jawab Shen Yaoqing santai. “Itu ajang cari muka buat mereka”Qinglan hampir tersedak.“Niangniang .…” Ia menunduk cemas. “Hamba takut mereka akan menghina. Selir Agung terkenal pandai memelintir kata. Ibu Suri juga sering—”“Mudah terhasut?” Shen Yaoqing menoleh sambil tersenyum. “Tenang. Orang seperti itu tidak berbahaya. Yang berbahaya itu yang kelihatan diam, tapi nyimpen pisau.”Qinglan makin pucat. “T-tapi—”Shen Yaoqing berdiri, merapikan jubah luarnya. “Lagipula, aku hamil. Kalau mereka macam-macam, itu bukan aku yang kena duluan.”Ia menepuk perutnya pelan. “Bayiku adalah kartu as paling mahal di istana.”Qinglan terdiam.“Nian
Salju yang semalam turun tebal kini mulai mencair, meninggalkan lapisan putih kusam di atap paviliun dan jalan setapak. Udara masih dingin, tapi tidak menusuk tulang seperti di Istana Dingin. Shen Yaoqing berdiri di beranda paviliun, dibungkus jubah bulu rubah tipis berwarna pucat. Tangannya terulur, menyentuh pagar kayu yang masih lembap oleh embun salju.“Huaaa .…” Ia mengembuskan napas pelan. “Jauh lebih enakan.”Qinglan yang berdiri di sampingnya tersenyum lega. “Paviliun ini memang dirancang untuk pemulihan, Niangniang. Bahkan di musim dingin pun, tungkunya tak pernah padam.”Shen Yaoqing melangkah turun perlahan, langkahnya hati-hati. Jalan batu yang menghubungkan paviliun utama dengan taman kecil di belakang mulai tampak. Salju mencair memperlihatkan tanah gelap di bawahnya, beberapa ranting cemara basah berkilau diterpa cahaya matahari pagi.Ia berhenti, menatap sekeliling.“Aku bisa bernapas di sini,” gumamnya. “Di Istana Dingin rasanya seperti paru-paruku ikut membeku.”Qin







