LOGINSalju yang semalam turun tebal kini mulai mencair, meninggalkan lapisan putih kusam di atap paviliun dan jalan setapak. Udara masih dingin, tapi tidak menusuk tulang seperti di Istana Dingin.
Shen Yaoqing berdiri di beranda paviliun, dibungkus jubah bulu rubah tipis berwarna pucat. Tangannya terulur, menyentuh pagar kayu yang masih lembap oleh embun salju. “Huaaa .…” Ia mengembuskan napas pelan. “Jauh lebih enakan.” Qinglan yang berdiri di sampingnya tersenyum lega. “Paviliun ini memang dirancang untuk pemulihan, Niangniang. Bahkan di musim dingin pun, tungkunya tak pernah padam.” Shen Yaoqing melangkah turun perlahan, langkahnya hati-hati. Jalan batu yang menghubungkan paviliun utama dengan taman kecil di belakang mulai tampak. Salju mencair memperlihatkan tanah gelap di bawahnya, beberapa ranting cemara basah berkilau diterpa cahaya matahari pagi. Ia berhenti, menatap sekeliling. “Aku bisa bernapas di sini,” gumamnya. “Di Istana Dingin rasanya seperti paru-paruku ikut membeku.” Qinglan menunduk, matanya berkaca. “Hamba takut sekali semalam, Niangniang. Hamba benar-benar mengira—” “Sudahlah,” potong Shen Yaoqing pelan. “Kita masih hidup. Itu sudah lebih dari cukup.” Ia tersenyum kecil, lalu berjalan lagi, menyusuri taman mini paviliun. Ada kolam dangkal yang airnya belum sepenuhnya membeku, dedaunan kering mengapung di permukaannya. Beberapa burung kecil bertengger di dahan, mencicit pelan. Shen Yaoqing menepuk perutnya sendiri tanpa sadar. “Eh?” Ia berhenti mendadak. “Kenapa nendang-nendang?” Qinglan langsung sigap. “Kenapa, Niangniang?” “Aku kayaknya lapar,” jawabnya polos. “Pengin makan mie, deh.” Qinglan berkedip. “Mie?” “Iya, mie.” Shen Yaoqing mengangguk mantap. “Mie kuah yang panas, banyak bawangnya, kalau bisa pedas.” Qinglan tampak ragu. “Makanan seperti itu tidak biasa untuk ibu mengandung.” Shen Yaoqing mengangkat bahu. “Tubuhku yang sekarang ini maunya itu.” Ia menoleh penuh harap. “Bisa?” Qinglan tersenyum kecil. “Hamba akan coba, Niangniang.” Ia memberi isyarat pada seorang pengawal yang berjaga di kejauhan. Pengawal itu mendekat, membungkuk hormat. “Sampaikan ke dapur kekaisaran,” kata Qinglan cepat. “Selir Shen ingin mie kuah.” Pengawal itu terdiam sepersekian detik, lalu mengangguk. “Hamba laksanakan.” Tak lama kemudian, Shen Yaoqing duduk di meja kecil dekat jendela paviliun. Uap hangat mengepul dari semangkuk mie yang baru disajikan. Kuahnya bening, aromanya ringan, mie-nya tebal dan pucat. Ia menatap mangkuk itu lama. “Penampilannya aneh.” Ia mengambil sumpit, mencicipi sedikit. “Hmm.” Qinglan mencondongkan tubuh. “Bagaimana rasanya, Niangniang?” Shen Yaoqing mengunyah pelan, lalu berhenti. “Ini apa?” Qinglan panik. “T-tidak enak?” “Bukan hanya tidak enak,” Shen Yaoqing menghela napas. “Sama sekali tidak ada rasa.” Ia lalu menyeruput kuahnya. “Hambar, tidak ada rasa bawang. Apa jaman ini juga belum ada penyedap?” Qinglan menahan tawa. “Niangniang—” Shen Yaoqing menatap mangkuk itu lagi, lalu mendorongnya menjauh. “Jadi kangen mie instan.” “Apa itu mie instan?” Wanita itu langsung gelagapan. “Ah, makanan enak pokoknya,” jawabnya cepat, lantas berdiri mendadak. “Aku masak sendiri saja, deh.” Belum sempat melangkah, dua pengawal langsung menghadang. “Tidak boleh, Niangniang,” kata salah satu tegas dan sopan. “Titah Huangshang, Selir Shen dilarang keluar atau melakukan aktivitas berat.” Shen Yaoqing menatap mereka lama. “Aku cuma mau mie.” “Hamba tidak berani melanggar.” Ia mendengus pelan. “Baiklah. Aku pasrah,” jawabnya sambil kembali duduk, mendorong mangkuk itu lebih jauh. “Ambil saja, aku tidak nafsu.” Qinglan tampak cemas. “Niangniang, setidaknya makan sedikit lagi—” “Nanti saja.” Kabar itu menyebar lebih cepat dari salju mencair. Sore harinya, seorang kasim senior berlutut di depan Zhao Yichen di ruang kerja. “Selir Shen tidak menyentuh makanan, Huangshang,” lapornya hati-hati. “Termasuk hidangan bergizi yang disiapkan khusus.” Zhao Yichen menutup dokumen di tangannya. “Apa?” Nada suaranya turun satu tingkat. “Hamba mendengar beliau menginginkan mie, tapi—” “Kau membiarkan perempuan mengandung kelaparan karena mie?” potong Zhao Yichen dingin. Kasim itu gemetar. “Hamba bersalah.” “Perintahkan juru masak terbaik,” kata Zhao Yichen cepat. “Masak makanan paling bergizi, paling enak, dan paling lembut untuk janin.” “Baik, Huangshang!” Namun, meski waktu bergulir lama, laporan berikutnya datang malah lebih buruk. “Selir Shen tetap tidak mau makan, Huangshang.” Keheningan menyelimuti ruangan. Zhao Yichen berdiri perlahan. “Siapkan kereta.” Malam turun saat Kaisar melangkah memasuki Paviliun Bunga Giok. Lampu-lampu lentera bergoyang lembut, cahaya keemasan memantul di lantai batu yang bersih. Para pelayan berlutut berderet dengan napas tertahan. Di dalam, Shen Yaoqing sedang duduk memeluk selimut, menatap keluar jendela. Ia menoleh saat suara langkah berat mendekat. Tatapan mereka bertemu. “Huangshang,” ucap Qinglan tergagap, langsung berlutut. Shen Yaoqing ikut bangkit perlahan. “Yang Mulia?” Zhao Yichen menghentikan langkahnya tepat di depannya. “Aku dengar kau tidak makan?” “Hamba tidak lapar,” jawab Shen Yaoqing jujur. “Kau bohong.” Ia mengangkat alis. “Kau ingin mie, kan?” Shen Yaoqing terdiam, lalu tertawa kecil hambar. “Yang Mulia Kaisar sampai turun sendiri hanya karena mie?” “Karena anakku,” jawab Zhao Yichen tanpa ragu. Sunyi jatuh di antara mereka. “Apa yang kau inginkan?” lanjutnya. “Sebutkan.” Shen Yaoqing terdiam lama, menyusun kata agar kalimatnya tak memancing kemarahan. “Hamba ingin makan mie kuah yang banyak rasa,” katanya pelan. “Tadi terlalu hambar.” Zhao Yichen terdiam sejenak. Tatapannya beralih ke mangkuk kosong di meja, lalu kembali ke wajah Shen Yaoqing. “Kau terlalu banyak menuntut,” katanya datar. Shen Yaoqing menegang. “Tapi—” Zhao Yichen berbalik setengah badan, suaranya kembali tegas. “Perintahkan juru masak membuat ulang. Ikuti perintah Selir Mulia.” Tak lama setelah perintah itu turun, aroma lezat merayap pelan ke Paviliun Bunga Giok. Qinglan masuk lebih dulu, diikuti dua kasim pembawa nampan kayu. Di atasnya terletak semangkuk mie kuah yang berbeda dari sebelumnya. Kuahnya lebih keruh keemasan, mengepul lembut, dengan irisan jamur cokelat dan putih yang melimpah. “Niangniang,” ucap Qinglan pelan, matanya berbinar. “Juru masak bilang ini sesuai permintaan Yang Mulia.” Shen Yaoqing menatap mangkuk itu. Kali ini, ia tidak ragu. “Bau jamur,” gumamnya. “Akhirnya ada bau makanan enak.” Ia duduk kembali, mengangkat sumpit. Uap panas menyentuh wajahnya, membuat matanya menghangat. Ia meniup pelan, lalu menyeruput sedikit kuahnya. “Ooh.” Qinglan menahan napas. “Bagaimana?” Shen Yaoqing menyeruput lagi, sumpitnya bergerak cepat, mengambil mie, lalu jamur. “Ini enak,” katanya jujur. “Gurihnya keluar. Jamurnya banyak, jadi ada rasa.” Ia menatap jamur di sumpitnya. “Kalau ini di zamanku, bisa laku mahal.” Qinglan terkekeh lega. “Syukurlah.” Shen Yaoqing makan perlahan, setiap suapan terasa lebih nikmat dari sebelumnya. Di seberang meja, Zhao Yichen duduk diam. Ia tidak menyentuh teh di hadapannya. Pandangannya tertuju pada Shen Yaoqing, pada cara bahu perempuan itu sedikit mengendur, pada napasnya yang akhirnya teratur, dan pada warna pucat di wajahnya yang perlahan tergantikan rona merah. Untuk pertama kalinya sejak nama Jenderal Shen disebut dalam ruang sidang dengan tuduhan pengkhianatan, ia duduk di hadapan putri keluarga itu tanpa amarah dan jarak. Shen Yaoqing menyadari tatapan itu di suapan ketiga. Ia mengangkat kepala, mata mereka bertemu. “Yang Mulia tidak makan?” tanyanya ragu. “Aku sudah makan,” jawab Zhao Yichen singkat. Ia tidak berkata bahwa perutnya sejak tadi terasa sesak, bahwa melihatnya makan jauh lebih penting daripada sekadar mengisi perut sendiri. Shen Yaoqing mengangguk pelan dan kembali menunduk. Ia menghabiskan mie itu sampai kuahnya tersisa setengah, lalu berhenti. “Sudah cukup,” katanya lirih. “Kalau terlalu kenyang, nanti mual.” Zhao Yichen mengangguk kecil. “Bagus.” Sunyi menyelinap lagi. Shen Yaoqing menatap mangkuk kosong di depannya, lalu jari-jarinya mencengkeram tepi meja. Dadanya terasa aneh, tiba-tiba saja bak ada beban berat di sana. Sedih. "Perasaan ini milik tubuh asli, ya?" batinnya. Pemilik tubuh ini, perempuan yang pernah berdiri di aula yang sama, mencintai pria yang sama dengan sepenuh hati. Perempuan yang percaya bahwa kesetiaan cukup untuk bertahan di istana, bahwa kebenaran akan menang, dan Kaisar akan mendengarnya. Nyatanya, ia dibuang. Dikirim ke Istana Dingin tanpa sempat membela diri, tanpa satu kalimat pembelaan dari pria yang ia cinta, dan tanpa satu tatapan pun yang percaya. Shen Yaoqing menunduk, jemarinya gemetar halus. "Kalau aku tidak masuk ke tubuhmu, kau mungkin sudah mati membeku di sana." Napasnya tercekat. Zhao Yichen melihat perubahan itu. “Ada apa?” tanyanya datar, tapi suaranya lebih rendah. “Tidak apa-apa,” jawab Shen Yaoqing cepat. Ia menggenggam kain jubahnya. "Kau mencintainya dengan tulus, tapi dia membuangmu hanya karena bisikan orang lain," pikirnya sendu. Dadanya berdenyut nyeri. "Tenanglah. Aku di sini untuk membalaskan sakitmu," batinnya lagi. Jika cinta tulus hanya akan dihancurkan, maka ia akan menggunakan cinta sebagai senjata. Ia bersumpah dalam diam, akan membalas semuanya untuk pemilik tubuh asli. Jika berhasil membuat pria sekejam itu jatuh cinta lagi, maka ia akan mencintainya sampai tak mampu berpaling, lalu meninggalkannya dengan cara paling pedih agar tahu rasanya dicampakkan. Katanya luka hati lebih perih daripada luka fisik. Dan jika kekuasaan istana ini mengekangnya, maka ia akan menghancurkannya dari dalam. Dengan satu hal yang bahkan Kaisar tak mampu kendalikan, yaitu hatinya sendiri. Tatapan Shen Yaoqing menggelap, tapi bibirnya tetap tersenyum lembut. "Apakah itu sepadan, Huangshang?"“Selir Shen! Tunggu!”Suara salah satu selir pecah di belakangnya, gemetar antara takut dan tak percaya. “Kau … kau membunuh mereka dengan jepit rambut?”Shen Yaoqing berhenti sejenak, tapi tidak menoleh. Qinglan berdiri setengah melindunginya, wajahnya tampak pucat.“Kalau tidak begitu, yang mati mungkin kita,” jawab Shen Yaoqing tenang.Tak ada yang berani membalas.Ia melangkah meninggalkan Taman Seribu Musim. Salju tipis sudah mulai mencair, matahari sore memantul pada genangan air di sela batu. Aroma darah perlahan tergantikan wangi plum yang tertiup angin hangat.Musim memang hampir berganti.Di belakangnya, Zhao Yichen masih berdiri memandang punggung wanita itu.“Xiao An.”Seorang kasim muda berwajah pucat segera berlutut. “Hamba di sini, Yang Mulia.”“Bawa tabib kerajaan ke Paviliun Batu Giok. Periksa Selir Mulia Shen. Jangan sampai ada luka tersembunyi.”Xiao An tertegun sepersekian detik. “Segera, Yang Mulia.”Nada itu terdengar biasa saja, tetapi para pengawal pribadi Kais
Rong Guifei tersenyum manis, menatap rangkaian bunga Shen Yaoqing dengan alis terangkat tipis. “Selir Shen memang pandai menyusun kata. Namun pesta bunga bukan sekadar simbol, melainkan juga hiburan.”Beberapa selir menunduk, menyembunyikan senyum.Ibu Suri menggeser pandangannya perlahan ke arah Rong Guifei. “Menurutmu, simbol tidak penting?”Rong Guifei langsung menunduk. “Tentu penting, Ibu Suri. Hanya saja … hamba khawatir Selir Shen terlalu memaksakan diri.”Shen Yaoqing tersenyum lembut. “Terima kasih atas perhatian Selir Agung Rong Guifei. Namun hamba masih mampu berdiri tanpa dipapah.”Nada itu halus, tapi seperti sutra yang membelit leher. Kaisar Zhao Yichen tidak berkata apa-apa. Ia hanya menyesap araknya, mata gelapnya mengamati percakapan dua wanita itu tanpa ekspresi.Acara berlanjut dengan pelayan yang membawa nampan-nampan kayu berukir, di atasnya tersaji kue bunga osmanthus, bola ketan isi pasta kacang merah, daging bebek panggang berlapis madu, dan sup sarang burung d
“Niangniang, waktunya berangkat.”Qinglan berlutut di depan cermin perunggu, jemarinya merapikan lipatan terakhir jubah biru pucat yang mengalir seperti air musim semi.Shen Yaoqing menatap bayangannya.Gaun itu sederhana, tanpa emas mencolok dan tanpa bordir naga berlebihan. Hanya bunga plum putih keperakan yang dijahit halus di ujung lengan dan bagian bawah rok. Rambutnya disanggul rendah, disematkan satu jepit giok berbentuk kelopak.“Apakah terlalu sederhana?” tanya Qinglan pelan.Shen Yaoqing tersenyum samar. “Hari ini aku bukan datang untuk bersaing dalam kemewahan.”“Lalu untuk apa, Niangniang?”“Sudah, lihat saja nanti.”***Taman Seribu Musim diselimuti salju tipis pada bebatuan dan jembatan lengkung, tapi taman tetap hidup oleh ribuan bunga musim dingin seperti plum merah, krisan putih, kamelia merah tua, dan dahan cemara yang dibentuk melengkung artistik. Lentera-lentera sutra digantung di pohon, kain tipis berwarna pastel membentang di antara pilar kayu berukir.Aula terb
“Semua keluar!” seru Shen Yaoqing tajam, membuat para dayang yang baru saja menyambutnya langsung menunduk.Qinglan berkedip. “Niangniang?”“Kecuali Qinglan.”Pintu Paviliun Batu Giok ditutup perlahan. Suara gesek kayu cendana terdengar berat, lalu hening menyelimuti ruangan.Shen Yaoqing berdiri di tengah ruangan, melepas mantel bulunya dengan pelan dan berjalan menuju meja bundar dari batu giok pucat, lalu duduk perlahan.Qinglan nampak berdiri cemas. “Niangniang, apakah ada yang salah?”Shen Yaoqing mengangkat wajahnya.“Kandunganku.” Ia menyentuh perutnya pelan. “Sudah empat bulan.”Qinglan langsung tersenyum lega. “Itu kabar baik, Niangniang. Enam bulan lagi—”“Enam bulan lag aku akan melahirkan, dan setelah itu Kaisar akan membunuhku,” potong Shen Yaoqing lembut.Tungku perunggu mendesis pelan.Qinglan memucat seketika. “Niangniang! Jangan—” “Ayahku belum kembali dari perang. Tuduhan pemberontakan belum dibersihkan. Begitu aku melahirkan pewaris, aku akan menjadi beban politi
“Niangniang, hari ini kita harus menghadap Ibu Suri untuk memberi salam.”Shen Yaoqing duduk di depan meja rias, sementara Qinglan berdiri di belakangnya, jari-jarinya gemetar saat menyematkan jepit rambut giok pucat.Shen Yaoqing menguap kecil. “Hmm.”Qinglan menelan ludah. “Semua selir pasti sudah berkumpul sejak subuh. Selir Agung juga.”“Ya, wajar,” jawab Shen Yaoqing santai. “Itu ajang cari muka buat mereka”Qinglan hampir tersedak.“Niangniang .…” Ia menunduk cemas. “Hamba takut mereka akan menghina. Selir Agung terkenal pandai memelintir kata. Ibu Suri juga sering—”“Mudah terhasut?” Shen Yaoqing menoleh sambil tersenyum. “Tenang. Orang seperti itu tidak berbahaya. Yang berbahaya itu yang kelihatan diam, tapi nyimpen pisau.”Qinglan makin pucat. “T-tapi—”Shen Yaoqing berdiri, merapikan jubah luarnya. “Lagipula, aku hamil. Kalau mereka macam-macam, itu bukan aku yang kena duluan.”Ia menepuk perutnya pelan. “Bayiku adalah kartu as paling mahal di istana.”Qinglan terdiam.“Nian
Salju yang semalam turun tebal kini mulai mencair, meninggalkan lapisan putih kusam di atap paviliun dan jalan setapak. Udara masih dingin, tapi tidak menusuk tulang seperti di Istana Dingin. Shen Yaoqing berdiri di beranda paviliun, dibungkus jubah bulu rubah tipis berwarna pucat. Tangannya terulur, menyentuh pagar kayu yang masih lembap oleh embun salju.“Huaaa .…” Ia mengembuskan napas pelan. “Jauh lebih enakan.”Qinglan yang berdiri di sampingnya tersenyum lega. “Paviliun ini memang dirancang untuk pemulihan, Niangniang. Bahkan di musim dingin pun, tungkunya tak pernah padam.”Shen Yaoqing melangkah turun perlahan, langkahnya hati-hati. Jalan batu yang menghubungkan paviliun utama dengan taman kecil di belakang mulai tampak. Salju mencair memperlihatkan tanah gelap di bawahnya, beberapa ranting cemara basah berkilau diterpa cahaya matahari pagi.Ia berhenti, menatap sekeliling.“Aku bisa bernapas di sini,” gumamnya. “Di Istana Dingin rasanya seperti paru-paruku ikut membeku.”Qin







