Share

Membalaskan Sakit

Penulis: White Plum
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-13 17:34:09

Salju yang semalam turun tebal kini mulai mencair, meninggalkan lapisan putih kusam di atap paviliun dan jalan setapak. Udara masih dingin, tapi tidak menusuk tulang seperti di Istana Dingin.

Shen Yaoqing berdiri di beranda paviliun, dibungkus jubah bulu rubah tipis berwarna pucat. Tangannya terulur, menyentuh pagar kayu yang masih lembap oleh embun salju.

“Huaaa .…” Ia mengembuskan napas pelan. “Jauh lebih enakan.”

Qinglan yang berdiri di sampingnya tersenyum lega. “Paviliun ini memang dirancang untuk pemulihan, Niangniang. Bahkan di musim dingin pun, tungkunya tak pernah padam.”

Shen Yaoqing melangkah turun perlahan, langkahnya hati-hati. Jalan batu yang menghubungkan paviliun utama dengan taman kecil di belakang mulai tampak. Salju mencair memperlihatkan tanah gelap di bawahnya, beberapa ranting cemara basah berkilau diterpa cahaya matahari pagi.

Ia berhenti, menatap sekeliling.

“Aku bisa bernapas di sini,” gumamnya. “Di Istana Dingin rasanya seperti paru-paruku ikut membeku.”

Qinglan menunduk, matanya berkaca. “Hamba takut sekali semalam, Niangniang. Hamba benar-benar mengira—”

“Sudahlah,” potong Shen Yaoqing pelan. “Kita masih hidup. Itu sudah lebih dari cukup.”

Ia tersenyum kecil, lalu berjalan lagi, menyusuri taman mini paviliun. Ada kolam dangkal yang airnya belum sepenuhnya membeku, dedaunan kering mengapung di permukaannya. Beberapa burung kecil bertengger di dahan, mencicit pelan.

Shen Yaoqing menepuk perutnya sendiri tanpa sadar.

“Eh?” Ia berhenti mendadak. “Kenapa nendang-nendang?”

Qinglan langsung sigap. “Kenapa, Niangniang?”

“Aku kayaknya lapar,” jawabnya polos. “Pengin makan mie, deh.”

Qinglan berkedip. “Mie?”

“Iya, mie.” Shen Yaoqing mengangguk mantap. “Mie kuah yang panas, banyak bawangnya, kalau bisa pedas.”

Qinglan tampak ragu. “Makanan seperti itu tidak biasa untuk ibu mengandung.”

Shen Yaoqing mengangkat bahu. “Tubuhku yang sekarang ini maunya itu.” Ia menoleh penuh harap. “Bisa?”

Qinglan tersenyum kecil. “Hamba akan coba, Niangniang.”

Ia memberi isyarat pada seorang pengawal yang berjaga di kejauhan. Pengawal itu mendekat, membungkuk hormat.

“Sampaikan ke dapur kekaisaran,” kata Qinglan cepat. “Selir Shen ingin mie kuah.”

Pengawal itu terdiam sepersekian detik, lalu mengangguk. “Hamba laksanakan.”

Tak lama kemudian, Shen Yaoqing duduk di meja kecil dekat jendela paviliun. Uap hangat mengepul dari semangkuk mie yang baru disajikan. Kuahnya bening, aromanya ringan, mie-nya tebal dan pucat.

Ia menatap mangkuk itu lama.

“Penampilannya aneh.” Ia mengambil sumpit, mencicipi sedikit. “Hmm.”

Qinglan mencondongkan tubuh. “Bagaimana rasanya, Niangniang?”

Shen Yaoqing mengunyah pelan, lalu berhenti.

“Ini apa?”

Qinglan panik. “T-tidak enak?”

“Bukan hanya tidak enak,” Shen Yaoqing menghela napas. “Sama sekali tidak ada rasa.”

Ia lalu menyeruput kuahnya.

“Hambar, tidak ada rasa bawang. Apa jaman ini juga belum ada penyedap?”

Qinglan menahan tawa. “Niangniang—”

Shen Yaoqing menatap mangkuk itu lagi, lalu mendorongnya menjauh. “Jadi kangen mie instan.”

“Apa itu mie instan?”

Wanita itu langsung gelagapan. “Ah, makanan enak pokoknya,” jawabnya cepat, lantas berdiri mendadak. “Aku masak sendiri saja, deh.”

Belum sempat melangkah, dua pengawal langsung menghadang.

“Tidak boleh, Niangniang,” kata salah satu tegas dan sopan. “Titah Huangshang, Selir Shen dilarang keluar atau melakukan aktivitas berat.”

Shen Yaoqing menatap mereka lama.

“Aku cuma mau mie.”

“Hamba tidak berani melanggar.”

Ia mendengus pelan. “Baiklah. Aku pasrah,” jawabnya sambil kembali duduk, mendorong mangkuk itu lebih jauh. “Ambil saja, aku tidak nafsu.”

Qinglan tampak cemas. “Niangniang, setidaknya makan sedikit lagi—”

“Nanti saja.”

Kabar itu menyebar lebih cepat dari salju mencair. Sore harinya, seorang kasim senior berlutut di depan Zhao Yichen di ruang kerja.

“Selir Shen tidak menyentuh makanan, Huangshang,” lapornya hati-hati. “Termasuk hidangan bergizi yang disiapkan khusus.”

Zhao Yichen menutup dokumen di tangannya.

“Apa?” Nada suaranya turun satu tingkat.

“Hamba mendengar beliau menginginkan mie, tapi—”

“Kau membiarkan perempuan mengandung kelaparan karena mie?” potong Zhao Yichen dingin.

Kasim itu gemetar. “Hamba bersalah.”

“Perintahkan juru masak terbaik,” kata Zhao Yichen cepat. “Masak makanan paling bergizi, paling enak, dan paling lembut untuk janin.”

“Baik, Huangshang!”

Namun, meski waktu bergulir lama, laporan berikutnya datang malah lebih buruk.

“Selir Shen tetap tidak mau makan, Huangshang.”

Keheningan menyelimuti ruangan.

Zhao Yichen berdiri perlahan.

“Siapkan kereta.”

Malam turun saat Kaisar melangkah memasuki Paviliun Bunga Giok.

Lampu-lampu lentera bergoyang lembut, cahaya keemasan memantul di lantai batu yang bersih. Para pelayan berlutut berderet dengan napas tertahan.

Di dalam, Shen Yaoqing sedang duduk memeluk selimut, menatap keluar jendela. Ia menoleh saat suara langkah berat mendekat.

Tatapan mereka bertemu.

“Huangshang,” ucap Qinglan tergagap, langsung berlutut.

Shen Yaoqing ikut bangkit perlahan. “Yang Mulia?”

Zhao Yichen menghentikan langkahnya tepat di depannya.

“Aku dengar kau tidak makan?”

“Hamba tidak lapar,” jawab Shen Yaoqing jujur.

“Kau bohong.” Ia mengangkat alis. “Kau ingin mie, kan?”

Shen Yaoqing terdiam, lalu tertawa kecil hambar. “Yang Mulia Kaisar sampai turun sendiri hanya karena mie?”

“Karena anakku,” jawab Zhao Yichen tanpa ragu.

Sunyi jatuh di antara mereka.

“Apa yang kau inginkan?” lanjutnya. “Sebutkan.”

Shen Yaoqing terdiam lama, menyusun kata agar kalimatnya tak memancing kemarahan.

“Hamba ingin makan mie kuah yang banyak rasa,” katanya pelan. “Tadi terlalu hambar.”

Zhao Yichen terdiam sejenak.

Tatapannya beralih ke mangkuk kosong di meja, lalu kembali ke wajah Shen Yaoqing.

“Kau terlalu banyak menuntut,” katanya datar.

Shen Yaoqing menegang.

“Tapi—” Zhao Yichen berbalik setengah badan, suaranya kembali tegas. “Perintahkan juru masak membuat ulang. Ikuti perintah Selir Mulia.”

Tak lama setelah perintah itu turun, aroma lezat merayap pelan ke Paviliun Bunga Giok.

Qinglan masuk lebih dulu, diikuti dua kasim pembawa nampan kayu. Di atasnya terletak semangkuk mie kuah yang berbeda dari sebelumnya. Kuahnya lebih keruh keemasan, mengepul lembut, dengan irisan jamur cokelat dan putih yang melimpah.

“Niangniang,” ucap Qinglan pelan, matanya berbinar. “Juru masak bilang ini sesuai permintaan Yang Mulia.”

Shen Yaoqing menatap mangkuk itu. Kali ini, ia tidak ragu.

“Bau jamur,” gumamnya. “Akhirnya ada bau makanan enak.”

Ia duduk kembali, mengangkat sumpit. Uap panas menyentuh wajahnya, membuat matanya menghangat. Ia meniup pelan, lalu menyeruput sedikit kuahnya.

“Ooh.”

Qinglan menahan napas. “Bagaimana?”

Shen Yaoqing menyeruput lagi, sumpitnya bergerak cepat, mengambil mie, lalu jamur.

“Ini enak,” katanya jujur. “Gurihnya keluar. Jamurnya banyak, jadi ada rasa.”

Ia menatap jamur di sumpitnya. “Kalau ini di zamanku, bisa laku mahal.”

Qinglan terkekeh lega. “Syukurlah.”

Shen Yaoqing makan perlahan, setiap suapan terasa lebih nikmat dari sebelumnya.

Di seberang meja, Zhao Yichen duduk diam.

Ia tidak menyentuh teh di hadapannya. Pandangannya tertuju pada Shen Yaoqing, pada cara bahu perempuan itu sedikit mengendur, pada napasnya yang akhirnya teratur, dan pada warna pucat di wajahnya yang perlahan tergantikan rona merah.

Untuk pertama kalinya sejak nama Jenderal Shen disebut dalam ruang sidang dengan tuduhan pengkhianatan, ia duduk di hadapan putri keluarga itu tanpa amarah dan jarak.

Shen Yaoqing menyadari tatapan itu di suapan ketiga. Ia mengangkat kepala, mata mereka bertemu.

“Yang Mulia tidak makan?” tanyanya ragu.

“Aku sudah makan,” jawab Zhao Yichen singkat.

Ia tidak berkata bahwa perutnya sejak tadi terasa sesak, bahwa melihatnya makan jauh lebih penting daripada sekadar mengisi perut sendiri.

Shen Yaoqing mengangguk pelan dan kembali menunduk. Ia menghabiskan mie itu sampai kuahnya tersisa setengah, lalu berhenti.

“Sudah cukup,” katanya lirih. “Kalau terlalu kenyang, nanti mual.”

Zhao Yichen mengangguk kecil. “Bagus.”

Sunyi menyelinap lagi.

Shen Yaoqing menatap mangkuk kosong di depannya, lalu jari-jarinya mencengkeram tepi meja. Dadanya terasa aneh, tiba-tiba saja bak ada beban berat di sana.

Sedih.

"Perasaan ini milik tubuh asli, ya?" batinnya.

Pemilik tubuh ini, perempuan yang pernah berdiri di aula yang sama, mencintai pria yang sama dengan sepenuh hati. Perempuan yang percaya bahwa kesetiaan cukup untuk bertahan di istana, bahwa kebenaran akan menang, dan Kaisar akan mendengarnya.

Nyatanya, ia dibuang.

Dikirim ke Istana Dingin tanpa sempat membela diri, tanpa satu kalimat pembelaan dari pria yang ia cinta, dan tanpa satu tatapan pun yang percaya.

Shen Yaoqing menunduk, jemarinya gemetar halus.

"Kalau aku tidak masuk ke tubuhmu, kau mungkin sudah mati membeku di sana."

Napasnya tercekat.

Zhao Yichen melihat perubahan itu. “Ada apa?” tanyanya datar, tapi suaranya lebih rendah.

“Tidak apa-apa,” jawab Shen Yaoqing cepat.

Ia menggenggam kain jubahnya. "Kau mencintainya dengan tulus, tapi dia membuangmu hanya karena bisikan orang lain," pikirnya sendu.

Dadanya berdenyut nyeri.

"Tenanglah. Aku di sini untuk membalaskan sakitmu," batinnya lagi.

Jika cinta tulus hanya akan dihancurkan, maka ia akan menggunakan cinta sebagai senjata.

Ia bersumpah dalam diam, akan membalas semuanya untuk pemilik tubuh asli.

Jika berhasil membuat pria sekejam itu jatuh cinta lagi, maka ia akan mencintainya sampai tak mampu berpaling, lalu meninggalkannya dengan cara paling pedih agar tahu rasanya dicampakkan.

Katanya luka hati lebih perih daripada luka fisik. Dan jika kekuasaan istana ini mengekangnya, maka ia akan menghancurkannya dari dalam.

Dengan satu hal yang bahkan Kaisar tak mampu kendalikan, yaitu hatinya sendiri.

Tatapan Shen Yaoqing menggelap, tapi bibirnya tetap tersenyum lembut.

"Apakah itu sepadan, Huangshang?"

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Selir Shen: Menulis Ulang Takdir di Istana Dingin   Membalaskan Sakit

    Salju yang semalam turun tebal kini mulai mencair, meninggalkan lapisan putih kusam di atap paviliun dan jalan setapak. Udara masih dingin, tapi tidak menusuk tulang seperti di Istana Dingin. Shen Yaoqing berdiri di beranda paviliun, dibungkus jubah bulu rubah tipis berwarna pucat. Tangannya terulur, menyentuh pagar kayu yang masih lembap oleh embun salju.“Huaaa .…” Ia mengembuskan napas pelan. “Jauh lebih enakan.”Qinglan yang berdiri di sampingnya tersenyum lega. “Paviliun ini memang dirancang untuk pemulihan, Niangniang. Bahkan di musim dingin pun, tungkunya tak pernah padam.”Shen Yaoqing melangkah turun perlahan, langkahnya hati-hati. Jalan batu yang menghubungkan paviliun utama dengan taman kecil di belakang mulai tampak. Salju mencair memperlihatkan tanah gelap di bawahnya, beberapa ranting cemara basah berkilau diterpa cahaya matahari pagi.Ia berhenti, menatap sekeliling.“Aku bisa bernapas di sini,” gumamnya. “Di Istana Dingin rasanya seperti paru-paruku ikut membeku.”Qin

  • Selir Shen: Menulis Ulang Takdir di Istana Dingin   Nyawa Darah Naga

    “Angkat!” Perintah Zhao Yichen singkat.Pengawal Bayangan bergerak cepat. Dua orang menopang tubuh Shen Yaoqing, sementara Qinglan menangis tertahan, tangannya gemetar hendak membantu, tapi tak berani mendekat.“Pelan-pelan,” gumam Shen Yaoqing, suaranya nyaris tak terdengar.Zhao Yichen meliriknya sekilas. Tatapannya datar, dingin, tapi tangannya terangkat memberi isyarat agar mereka berhenti sejenak.“Jangan diguncang,” katanya. “Jika janin itu kenapa-kenapa, kalian ikut dikubur.”Ancaman itu membuat langkah para pengawal langsung lebih berhati-hati.Tak lama kemudian, suara langkah tergesa memecah kesunyian.“Tabib kekaisaran telah tiba!”Seorang pria tua berjubah hijau tua masuk tergopoh-gopoh, napasnya terengah. Begitu melihat Zhao Yichen, ia langsung menjatuhkan diri berlutut begitu dalam hingga dahinya menyentuh lantai batu.“Hamba tabib istana, Wei Shun, menghadap Huangshang!”“Periksa Selir Mulia Shen!” Wei Shun mengangkat kepala. Begitu matanya menangkap noda darah di lanta

  • Selir Shen: Menulis Ulang Takdir di Istana Dingin   Terancam Hilang

    Di Istana Phoenix AgungPermaisuri Xiao Lianhua duduk di depan cermin perunggu. Jari-jarinya ramping, kuku-kukunya dicelup merah tua seperti darah kering.“Belum juga mati?” tanyanya tenang.Pelayan pribadi berlutut. “Pengawal telah dikirim, Niangniang.”Xiao Lianhua tersenyum tipis.“Bagus. Shen Yaoqing terlalu lama hidup.”Ia menatap bayangannya sendiri. “Perempuan seperti itu seharusnya tahu diri.”Ia bangkit, jubah emasnya menyapu lantai marmer.“Ayahnya jenderal, suaminya kaisar, kandungannya calon putra mahkota.”Ia tertawa kecil, seringai tersungging sinis. “Terlalu banyak kartu di tangannya.”“Bagaimana jika Kaisar—”“Zhao Yichen?” potong Xiao Lianhua. “Ia memilih negara, bukan perempuan.”Ia mendekat ke jendela, menatap langit.“Dan jika Selir Shen mati, besok ia hanya akan berduka sebentar. Setelah itu dunia tetap berjalan.”Matanya berkilat.“Lagipula,” tambahnya pelan. “Aku hanya mempercepat takdir.”Sementara itu di aula Kekaisaran Istana Naga LangitZhao Yichen sedang be

  • Selir Shen: Menulis Ulang Takdir di Istana Dingin   Hukuman Mati

    “Yang Mulia Kaisar tiba ...!”Suara kasim melengking, lalu semua bunyi seolah tersedot habis.Shen Yaoqing berdiri refleks. Lututnya hampir gemetar, tapi ia memaksa punggungnya tetap tegak. Dalam kepalanya, alarm berbunyi bertubi-tubi."Oke, tarik napas. Jangan panik, jangan nangis, jangan pingsan!" batinnya pasrah.Langkah sepatu kulit berhenti di hadapannya.Shen menunduk, sesuai etika. Dari sudut pandangnya, yang terlihat hanya ujung jubah hitam keunguan dengan sulaman naga emas, benang-benangnya berkilau dingin di bawah cahaya lentera.Aura Kaisar Zhao Yichen menekan tanpa perlu kata.“Bangun,” ucapnya singkat.Nada suaranya datar, wanita itu sontak mengangkat kepala.Wajah pria di hadapannya persis seperti deskripsi novel. Rahang tajam, tampan, dan dingin seperti patung giok. Alisnya lurus, matanya gelap dan dalam."Yup. Ini dia raja gila itu," pikir Shen Yaoqing.“Kau tampak belum mati,” ujar Zhao Yichen.Shen berkedip.“Terima kasih?” jawabnya refleks.Ruangan hening.Kasim di

  • Selir Shen: Menulis Ulang Takdir di Istana Dingin   Masuk Dunia Novel

    Jam di sudut kanan layar laptop menunjukkan pukul sebelas malam. Shen Yaoqing menatapnya dengan tatapan kosong selama tiga detik, lalu menghela napas panjang. “Baiklah,” gumamnya lesu sambil mengangkat gelas kopi sachet yang sudah dingin. “Kita lanjut aja, demi cicilan dan bayar listrik. Bertahan hidup di dunia kapitalisme ini memang kejam.” Kantor sudah hampir sepenuhnya gelap. Tinggal beberapa lampu neon yang masih menyala di atas meja-meja kosong, memantulkan cahaya pucat ke lantai keramik. Pendingin ruangan berdengung malas, seolah ikut lelah menemani manusia terakhir yang belum pulang. Manusia itu, tentu saja, Shen Yaoqing. Rambutnya diikat asal, kemeja kerja sudah kusut, dan matanya berkilat karena kafein yang berlebihan. Jarinya menari cepat di atas keyboard, mulutnya tak berhenti berceloteh. “Siapa juga yang bikin deadline jam dua belas malam,” gerutunya. Ia berhenti sejenak, melirik kursi kosong di sekelilingnya, lalu menyeringai kecil. Selesai mengetik satu paragraf l

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status