Share

Terancam Hilang

Author: White Plum
last update Huling Na-update: 2026-01-13 14:03:02

Di Istana Phoenix Agung

Permaisuri Xiao Lianhua duduk di depan cermin perunggu. Jari-jarinya ramping, kuku-kukunya dicelup merah tua seperti darah kering.

“Belum juga mati?” tanyanya tenang.

Pelayan pribadi berlutut. “Pengawal telah dikirim, Niangniang.”

Xiao Lianhua tersenyum tipis.

“Bagus. Shen Yaoqing terlalu lama hidup.”

Ia menatap bayangannya sendiri. “Perempuan seperti itu seharusnya tahu diri.”

Ia bangkit, jubah emasnya menyapu lantai marmer.

“Ayahnya jenderal, suaminya kaisar, kandungannya calon putra mahkota.”

Ia tertawa kecil, seringai tersungging sinis. “Terlalu banyak kartu di tangannya.”

“Bagaimana jika Kaisar—”

“Zhao Yichen?” potong Xiao Lianhua. “Ia memilih negara, bukan perempuan.”

Ia mendekat ke jendela, menatap langit.

“Dan jika Selir Shen mati, besok ia hanya akan berduka sebentar. Setelah itu dunia tetap berjalan.”

Matanya berkilat.

“Lagipula,” tambahnya pelan. “Aku hanya mempercepat takdir.”

Sementara itu di aula Kekaisaran Istana Naga Langit

Zhao Yichen sedang berdiri di depan meja panjang berlapis kayu cendana hitam. Angin musim dingin menyusup di sela tiang-tiang kayu merah berukir naga, membawa hawa tajam yang membuat napas terlihat seperti asap tipis.

Di atasnya terbentang peta wilayah utara, ditahan batu giok di tiap sudut. Jari-jarinya yang panjang menekan satu titik merah, perbatasan tempat pasukan Jenderal Shen masih berperang.

Di belakangnya berdiri Pengawal Bayangan Kekaisaran, pasukan kepercayaan yang hanya bergerak atas perintah langsung Kaisar. Seragam mereka hitam pekat, tanpa lambang, pedang tergantung rendah, langkah mereka nyaris tanpa suara.

Pintu aula mendadak terbuka.

Seorang pria berpakaian hitam berlutut keras hingga lututnya menghantam lantai batu.

“Huangshang!”

Zhao Yichen tak menoleh. “Bicara.”

“Yang Mulia Permaisuri—” Napas pengawal itu tersendat. “Mengirim pengawal pribadinya ke Istana Dingin. Mereka membawa mandat eksekusi.”

Udara di aula membeku.

Batu giok di atas peta retak.

KRAK!

Zhao Yichen menoleh perlahan, sorot matanya gelap.

“Mandat siapa?” tanyanya pelan.

Pengawal itu menunduk lebih dalam. “Mereka menyebut … mandat kekaisaran.”

Untuk sesaat, aula itu sunyi, seiring rona murka merayapi raut tampan nan kejam itu.

“Berani.”

Satu kata, rendah, tetapi cukup membuat darah membeku.

Zhao Yichen meraih jubah luarnya. Jubah hitam berlapis bulu rubah putih disampirkan ke bahunya.

“Aku sudah memberi perintah,” katanya dingin. “Selir Shen hidup sampai melahirkan.”

Ia melangkah maju.

“Siapa pun yang bergerak tanpa izinku—” Tangannya mengepal. “Sedang menantang tahta.”

“Xiao An!”

Kasim kepala berlari tergesa. “Hamba di sini, Bixia!”

“Siapkan tandu. Sekarang!”

Zhao Yichen melangkah keluar aula.

Pengawal Bayangan langsung bergerak, formasi rapat mengiringi langkah Kaisar menembus salju yang semakin lebat.

***

Istana Dingin

Obor-obor bergoyang diterpa angin. Cahaya jingga memantul di dinding kayu tua yang retak, membuat bayangan bergerak liar seperti makhluk hidup. Salju menumpuk di ambang pintu, diinjak-injak sepatu besi para pengawal.

Pedang terhunus.

Dingin besinya berkilat.

Shen Yaoqing berdiri tegak di tengah aula kecil. Punggungnya lurus, dagunya terangkat, jubah tipisnya berkibar pelan. Wajahnya pucat, tetapi matanya jernih.

Qinglan berdiri setengah langkah di belakangnya, gemetar.

Pria berjubah biru melangkah maju. “Selir Shen,” katanya dingin. “Kau sudah bicara terlalu banyak.”

Shen Yaoqing menelan Saliva gugup, ternyata gertakannya tidak mempan. Seharusnya ia sadar pengawal sudah bersumpah setia, bahkan siap mati untuk permainan. Demi nyawanya, ia malah bernegosiasi yang malah memperkeruh suasana.

Jantungnya berdegup keras, begitu keras sampai telinganya berdengung.

"Duh, gimana sekarang? Negosiasi gagal, plan A tumbang," batinnya panik.

Ia menarik napas perlahan, menenangkan tubuhnya.

“Kalau aku mati sekarang, Permaisuri benar-benar yakin Kaisar akan diam saja?!” tanyanya lantang, meski matanya bergerak liar ke sembarang arah berharap ada pertolongan datang.

Pria itu tersenyum tipis. “Huangshang mencintai Yang Mulia Permaisuri. Beliau tak akan menghukum tindakan yang demi kestabilan istana.”

Isyarat tangan terangkat.

Pedang dihunuskan lebih dekat, ujungnya menyentuh kulit leher Shen Yaoqing.

Dingin.

Qinglan menjerit tertahan.

Shen Yaoqing memejamkan mata sesaat. “Aku hamil,” katanya lirih. “Aku mengandung putra mahkota dan membunuhku sekarang dosa besar.”

Ia membuka mata kembali, menatap lurus kepala pengawal itu.

Suaranya bergetar. “Aku hanya seorang perempuan,” lanjutnya. “Kalau memang harus mati, setidaknya izinkan aku berlutut.”

Ia perlahan menurunkan tubuhnya.

Gerakan anggun, tidak memberontak. Pedang itu mengikuti geraknya, tetap menempel di lehernya.

Salju jatuh di rambutnya.

Satu serpihan mencair di pipinya, entah air salju atau air mata.

Pria berjubah biru mengerutkan kening.

“Berhenti mencari iba,” katanya kesal. “Perintahnya jelas. Bunuh!”

Pedang terangkat sedikit, Shen Yaoqing menutup mata lagi seakan pasrah pada ajalnya yang tak bisa berubah.

“YANG MULIA KAISAR TIBA ...!”

Suara kasim melengking, memecah udara seperti petir yang sontak membuatnya kembali membuka mata dengan binar harapan.

Semua pengawal berlutut serempak.

Pedang jatuh ke lantai dengan bunyi nyaring. Salju berhamburan saat langkah cepat mendekat.

Zhao Yichen berdiri di ambang gerbang.

Jubah hitamnya berkibar, matanya menyapu aula dengan kemarahan yang tak disembunyikan.

Tatapannya berhenti pada pedang di dekat leher Shen Yaoqing.

“Siapa yang memberi izin?”

Kepala pengawal Permaisuri berlutut gemetar.

“Hamba ... hamba hanya menjalankan perintah—”

“Perintah siapa?” potong Zhao Yichen.

Pengawal Bayangan bergerak.

Satu pedang terhunus, menempel di leher kepala pengawal itu dengan posisi yang sama seperti Shen Yaoqing tadi.

Keringat dingin mengalir di pelipis pria berjubah biru.

Zhao Yichen melangkah masuk mendekati wanitanya.

“Selir Shen,” katanya tanpa menoleh. “Angkat kepalamu.”

Shen Yaoqing menurut. Saat itu, ia merintih kecil. Tangannya mencengkeram perut.

“Yang Mulia,” panggilnya melemah. “Perutku sakit sekali ”

Ia terhuyung.

Zhao Yichen berbalik cepat. Shen Yaoqing jatuh ke lututnya dengan napas terengah dan wajah pucat pasi.

“Selir Mulia Shen!”

Tiba-tiba perut terasa semakin melilit, sakit luar biasa bak ada tangan tak kasat mata meremas dari dalam. Shen Yaoqing panik, keringan dingin bercucuran dan matanya berkaca.

"Alur cerita aslinya aku bakal keguguran, apa seperti ini rasanya? Apa alurnya tetap sama dan usahaku mengubahnya sia-sia?!" batinnya panik.

Noda merah perlahan merekah di bawah jubahnya, kontras dengan lantai batu Istana Dingin. Shen Yaoqing menunduk, telapak tangannya menekan perut yang nyerinya kian merajam.

“Huangshang—” Suaranya serak, nyaris tak terdengar.

Zhao Yichen berdiri menopang tubuhnya, tatapannya berhenti pada noda merah itu. Untuk sesaat, wajah Kaisar yang tak pernah goyah tampak retak.

“Panggil Tabib sekarang!” perintahnya tajam.

Shen Yaoqing menggenggam lengan jubahnya, jari-jarinya dingin, gemetar. Kepalanya terasa ringan, dunia berputar perlahan.

Rasa sakit menjalar lebih dalam, membuat kakinya melemah. Ia membiarkan tubuhnya condong, bersandar pada Zhao Yichen seolah kehabisan tenaga. Dari sudut matanya, ia melihat wajah-wajah di sekelilingnya membeku pucat pasi.

“Putra mahkota tidak boleh kenapa-kenapa!” pekik Zhao Yichen, panik.

Salju di luar turun lebih lebat, menempel di ambang jendela seperti pertanda duka. Lonceng istana berdentang satu kali, pelan dan panjang.

Shen Yaoqing menutup mata.

Di antara rasa nyeri dan bau besi dari darahnya sendiri, ia berpikir, “jika darah ini jatuh malam ini, maka istana akan menulis namaku sebagai perempuan yang gagal.”

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Selir Shen: Menulis Ulang Takdir di Istana Dingin   Pion Terkuat

    “Selir Shen! Tunggu!”Suara salah satu selir pecah di belakangnya, gemetar antara takut dan tak percaya. “Kau … kau membunuh mereka dengan jepit rambut?”Shen Yaoqing berhenti sejenak, tapi tidak menoleh. Qinglan berdiri setengah melindunginya, wajahnya tampak pucat.“Kalau tidak begitu, yang mati mungkin kita,” jawab Shen Yaoqing tenang.Tak ada yang berani membalas.Ia melangkah meninggalkan Taman Seribu Musim. Salju tipis sudah mulai mencair, matahari sore memantul pada genangan air di sela batu. Aroma darah perlahan tergantikan wangi plum yang tertiup angin hangat.Musim memang hampir berganti.Di belakangnya, Zhao Yichen masih berdiri memandang punggung wanita itu.“Xiao An.”Seorang kasim muda berwajah pucat segera berlutut. “Hamba di sini, Yang Mulia.”“Bawa tabib kerajaan ke Paviliun Batu Giok. Periksa Selir Mulia Shen. Jangan sampai ada luka tersembunyi.”Xiao An tertegun sepersekian detik. “Segera, Yang Mulia.”Nada itu terdengar biasa saja, tetapi para pengawal pribadi Kais

  • Selir Shen: Menulis Ulang Takdir di Istana Dingin   Pembunuh Bayaran

    Rong Guifei tersenyum manis, menatap rangkaian bunga Shen Yaoqing dengan alis terangkat tipis. “Selir Shen memang pandai menyusun kata. Namun pesta bunga bukan sekadar simbol, melainkan juga hiburan.”Beberapa selir menunduk, menyembunyikan senyum.Ibu Suri menggeser pandangannya perlahan ke arah Rong Guifei. “Menurutmu, simbol tidak penting?”Rong Guifei langsung menunduk. “Tentu penting, Ibu Suri. Hanya saja … hamba khawatir Selir Shen terlalu memaksakan diri.”Shen Yaoqing tersenyum lembut. “Terima kasih atas perhatian Selir Agung Rong Guifei. Namun hamba masih mampu berdiri tanpa dipapah.”Nada itu halus, tapi seperti sutra yang membelit leher. Kaisar Zhao Yichen tidak berkata apa-apa. Ia hanya menyesap araknya, mata gelapnya mengamati percakapan dua wanita itu tanpa ekspresi.Acara berlanjut dengan pelayan yang membawa nampan-nampan kayu berukir, di atasnya tersaji kue bunga osmanthus, bola ketan isi pasta kacang merah, daging bebek panggang berlapis madu, dan sup sarang burung d

  • Selir Shen: Menulis Ulang Takdir di Istana Dingin   Pesta Bunga

    “Niangniang, waktunya berangkat.”Qinglan berlutut di depan cermin perunggu, jemarinya merapikan lipatan terakhir jubah biru pucat yang mengalir seperti air musim semi.Shen Yaoqing menatap bayangannya.Gaun itu sederhana, tanpa emas mencolok dan tanpa bordir naga berlebihan. Hanya bunga plum putih keperakan yang dijahit halus di ujung lengan dan bagian bawah rok. Rambutnya disanggul rendah, disematkan satu jepit giok berbentuk kelopak.“Apakah terlalu sederhana?” tanya Qinglan pelan.Shen Yaoqing tersenyum samar. “Hari ini aku bukan datang untuk bersaing dalam kemewahan.”“Lalu untuk apa, Niangniang?”“Sudah, lihat saja nanti.”***Taman Seribu Musim diselimuti salju tipis pada bebatuan dan jembatan lengkung, tapi taman tetap hidup oleh ribuan bunga musim dingin seperti plum merah, krisan putih, kamelia merah tua, dan dahan cemara yang dibentuk melengkung artistik. Lentera-lentera sutra digantung di pohon, kain tipis berwarna pastel membentang di antara pilar kayu berukir.Aula terb

  • Selir Shen: Menulis Ulang Takdir di Istana Dingin   Siasat Bertahan Hidup

    “Semua keluar!” seru Shen Yaoqing tajam, membuat para dayang yang baru saja menyambutnya langsung menunduk.Qinglan berkedip. “Niangniang?”“Kecuali Qinglan.”Pintu Paviliun Batu Giok ditutup perlahan. Suara gesek kayu cendana terdengar berat, lalu hening menyelimuti ruangan.Shen Yaoqing berdiri di tengah ruangan, melepas mantel bulunya dengan pelan dan berjalan menuju meja bundar dari batu giok pucat, lalu duduk perlahan.Qinglan nampak berdiri cemas. “Niangniang, apakah ada yang salah?”Shen Yaoqing mengangkat wajahnya.“Kandunganku.” Ia menyentuh perutnya pelan. “Sudah empat bulan.”Qinglan langsung tersenyum lega. “Itu kabar baik, Niangniang. Enam bulan lagi—”“Enam bulan lag aku akan melahirkan, dan setelah itu Kaisar akan membunuhku,” potong Shen Yaoqing lembut.Tungku perunggu mendesis pelan.Qinglan memucat seketika. “Niangniang! Jangan—” “Ayahku belum kembali dari perang. Tuduhan pemberontakan belum dibersihkan. Begitu aku melahirkan pewaris, aku akan menjadi beban politi

  • Selir Shen: Menulis Ulang Takdir di Istana Dingin   Apakah Alur Berubah?

    “Niangniang, hari ini kita harus menghadap Ibu Suri untuk memberi salam.”Shen Yaoqing duduk di depan meja rias, sementara Qinglan berdiri di belakangnya, jari-jarinya gemetar saat menyematkan jepit rambut giok pucat.Shen Yaoqing menguap kecil. “Hmm.”Qinglan menelan ludah. “Semua selir pasti sudah berkumpul sejak subuh. Selir Agung juga.”“Ya, wajar,” jawab Shen Yaoqing santai. “Itu ajang cari muka buat mereka”Qinglan hampir tersedak.“Niangniang .…” Ia menunduk cemas. “Hamba takut mereka akan menghina. Selir Agung terkenal pandai memelintir kata. Ibu Suri juga sering—”“Mudah terhasut?” Shen Yaoqing menoleh sambil tersenyum. “Tenang. Orang seperti itu tidak berbahaya. Yang berbahaya itu yang kelihatan diam, tapi nyimpen pisau.”Qinglan makin pucat. “T-tapi—”Shen Yaoqing berdiri, merapikan jubah luarnya. “Lagipula, aku hamil. Kalau mereka macam-macam, itu bukan aku yang kena duluan.”Ia menepuk perutnya pelan. “Bayiku adalah kartu as paling mahal di istana.”Qinglan terdiam.“Nian

  • Selir Shen: Menulis Ulang Takdir di Istana Dingin   Membalaskan Sakit

    Salju yang semalam turun tebal kini mulai mencair, meninggalkan lapisan putih kusam di atap paviliun dan jalan setapak. Udara masih dingin, tapi tidak menusuk tulang seperti di Istana Dingin. Shen Yaoqing berdiri di beranda paviliun, dibungkus jubah bulu rubah tipis berwarna pucat. Tangannya terulur, menyentuh pagar kayu yang masih lembap oleh embun salju.“Huaaa .…” Ia mengembuskan napas pelan. “Jauh lebih enakan.”Qinglan yang berdiri di sampingnya tersenyum lega. “Paviliun ini memang dirancang untuk pemulihan, Niangniang. Bahkan di musim dingin pun, tungkunya tak pernah padam.”Shen Yaoqing melangkah turun perlahan, langkahnya hati-hati. Jalan batu yang menghubungkan paviliun utama dengan taman kecil di belakang mulai tampak. Salju mencair memperlihatkan tanah gelap di bawahnya, beberapa ranting cemara basah berkilau diterpa cahaya matahari pagi.Ia berhenti, menatap sekeliling.“Aku bisa bernapas di sini,” gumamnya. “Di Istana Dingin rasanya seperti paru-paruku ikut membeku.”Qin

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status