MasukDi Istana Phoenix Agung
Permaisuri Xiao Lianhua duduk di depan cermin perunggu. Jari-jarinya ramping, kuku-kukunya dicelup merah tua seperti darah kering. “Belum juga mati?” tanyanya tenang. Pelayan pribadi berlutut. “Pengawal telah dikirim, Niangniang.” Xiao Lianhua tersenyum tipis. “Bagus. Shen Yaoqing terlalu lama hidup.” Ia menatap bayangannya sendiri. “Perempuan seperti itu seharusnya tahu diri.” Ia bangkit, jubah emasnya menyapu lantai marmer. “Ayahnya jenderal, suaminya kaisar, kandungannya calon putra mahkota.” Ia tertawa kecil, seringai tersungging sinis. “Terlalu banyak kartu di tangannya.” “Bagaimana jika Kaisar—” “Zhao Yichen?” potong Xiao Lianhua. “Ia memilih negara, bukan perempuan.” Ia mendekat ke jendela, menatap langit. “Dan jika Selir Shen mati, besok ia hanya akan berduka sebentar. Setelah itu dunia tetap berjalan.” Matanya berkilat. “Lagipula,” tambahnya pelan. “Aku hanya mempercepat takdir.” Sementara itu di aula Kekaisaran Istana Naga Langit Zhao Yichen sedang berdiri di depan meja panjang berlapis kayu cendana hitam. Angin musim dingin menyusup di sela tiang-tiang kayu merah berukir naga, membawa hawa tajam yang membuat napas terlihat seperti asap tipis. Di atasnya terbentang peta wilayah utara, ditahan batu giok di tiap sudut. Jari-jarinya yang panjang menekan satu titik merah, perbatasan tempat pasukan Jenderal Shen masih berperang. Di belakangnya berdiri Pengawal Bayangan Kekaisaran, pasukan kepercayaan yang hanya bergerak atas perintah langsung Kaisar. Seragam mereka hitam pekat, tanpa lambang, pedang tergantung rendah, langkah mereka nyaris tanpa suara. Pintu aula mendadak terbuka. Seorang pria berpakaian hitam berlutut keras hingga lututnya menghantam lantai batu. “Huangshang!” Zhao Yichen tak menoleh. “Bicara.” “Yang Mulia Permaisuri—” Napas pengawal itu tersendat. “Mengirim pengawal pribadinya ke Istana Dingin. Mereka membawa mandat eksekusi.” Udara di aula membeku. Batu giok di atas peta retak. KRAK! Zhao Yichen menoleh perlahan, sorot matanya gelap. “Mandat siapa?” tanyanya pelan. Pengawal itu menunduk lebih dalam. “Mereka menyebut … mandat kekaisaran.” Untuk sesaat, aula itu sunyi, seiring rona murka merayapi raut tampan nan kejam itu. “Berani.” Satu kata, rendah, tetapi cukup membuat darah membeku. Zhao Yichen meraih jubah luarnya. Jubah hitam berlapis bulu rubah putih disampirkan ke bahunya. “Aku sudah memberi perintah,” katanya dingin. “Selir Shen hidup sampai melahirkan.” Ia melangkah maju. “Siapa pun yang bergerak tanpa izinku—” Tangannya mengepal. “Sedang menantang tahta.” “Xiao An!” Kasim kepala berlari tergesa. “Hamba di sini, Bixia!” “Siapkan tandu. Sekarang!” Zhao Yichen melangkah keluar aula. Pengawal Bayangan langsung bergerak, formasi rapat mengiringi langkah Kaisar menembus salju yang semakin lebat. *** Istana Dingin Obor-obor bergoyang diterpa angin. Cahaya jingga memantul di dinding kayu tua yang retak, membuat bayangan bergerak liar seperti makhluk hidup. Salju menumpuk di ambang pintu, diinjak-injak sepatu besi para pengawal. Pedang terhunus. Dingin besinya berkilat. Shen Yaoqing berdiri tegak di tengah aula kecil. Punggungnya lurus, dagunya terangkat, jubah tipisnya berkibar pelan. Wajahnya pucat, tetapi matanya jernih. Qinglan berdiri setengah langkah di belakangnya, gemetar. Pria berjubah biru melangkah maju. “Selir Shen,” katanya dingin. “Kau sudah bicara terlalu banyak.” Shen Yaoqing menelan Saliva gugup, ternyata gertakannya tidak mempan. Seharusnya ia sadar pengawal sudah bersumpah setia, bahkan siap mati untuk permainan. Demi nyawanya, ia malah bernegosiasi yang malah memperkeruh suasana. Jantungnya berdegup keras, begitu keras sampai telinganya berdengung. "Duh, gimana sekarang? Negosiasi gagal, plan A tumbang," batinnya panik. Ia menarik napas perlahan, menenangkan tubuhnya. “Kalau aku mati sekarang, Permaisuri benar-benar yakin Kaisar akan diam saja?!” tanyanya lantang, meski matanya bergerak liar ke sembarang arah berharap ada pertolongan datang. Pria itu tersenyum tipis. “Huangshang mencintai Yang Mulia Permaisuri. Beliau tak akan menghukum tindakan yang demi kestabilan istana.” Isyarat tangan terangkat. Pedang dihunuskan lebih dekat, ujungnya menyentuh kulit leher Shen Yaoqing. Dingin. Qinglan menjerit tertahan. Shen Yaoqing memejamkan mata sesaat. “Aku hamil,” katanya lirih. “Aku mengandung putra mahkota dan membunuhku sekarang dosa besar.” Ia membuka mata kembali, menatap lurus kepala pengawal itu. Suaranya bergetar. “Aku hanya seorang perempuan,” lanjutnya. “Kalau memang harus mati, setidaknya izinkan aku berlutut.” Ia perlahan menurunkan tubuhnya. Gerakan anggun, tidak memberontak. Pedang itu mengikuti geraknya, tetap menempel di lehernya. Salju jatuh di rambutnya. Satu serpihan mencair di pipinya, entah air salju atau air mata. Pria berjubah biru mengerutkan kening. “Berhenti mencari iba,” katanya kesal. “Perintahnya jelas. Bunuh!” Pedang terangkat sedikit, Shen Yaoqing menutup mata lagi seakan pasrah pada ajalnya yang tak bisa berubah. “YANG MULIA KAISAR TIBA ...!” Suara kasim melengking, memecah udara seperti petir yang sontak membuatnya kembali membuka mata dengan binar harapan. Semua pengawal berlutut serempak. Pedang jatuh ke lantai dengan bunyi nyaring. Salju berhamburan saat langkah cepat mendekat. Zhao Yichen berdiri di ambang gerbang. Jubah hitamnya berkibar, matanya menyapu aula dengan kemarahan yang tak disembunyikan. Tatapannya berhenti pada pedang di dekat leher Shen Yaoqing. “Siapa yang memberi izin?” Kepala pengawal Permaisuri berlutut gemetar. “Hamba ... hamba hanya menjalankan perintah—” “Perintah siapa?” potong Zhao Yichen. Pengawal Bayangan bergerak. Satu pedang terhunus, menempel di leher kepala pengawal itu dengan posisi yang sama seperti Shen Yaoqing tadi. Keringat dingin mengalir di pelipis pria berjubah biru. Zhao Yichen melangkah masuk mendekati wanitanya. “Selir Shen,” katanya tanpa menoleh. “Angkat kepalamu.” Shen Yaoqing menurut. Saat itu, ia merintih kecil. Tangannya mencengkeram perut. “Yang Mulia,” panggilnya melemah. “Perutku sakit sekali ” Ia terhuyung. Zhao Yichen berbalik cepat. Shen Yaoqing jatuh ke lututnya dengan napas terengah dan wajah pucat pasi. “Selir Mulia Shen!” Tiba-tiba perut terasa semakin melilit, sakit luar biasa bak ada tangan tak kasat mata meremas dari dalam. Shen Yaoqing panik, keringan dingin bercucuran dan matanya berkaca. "Alur cerita aslinya aku bakal keguguran, apa seperti ini rasanya? Apa alurnya tetap sama dan usahaku mengubahnya sia-sia?!" batinnya panik. Noda merah perlahan merekah di bawah jubahnya, kontras dengan lantai batu Istana Dingin. Shen Yaoqing menunduk, telapak tangannya menekan perut yang nyerinya kian merajam. “Huangshang—” Suaranya serak, nyaris tak terdengar. Zhao Yichen berdiri menopang tubuhnya, tatapannya berhenti pada noda merah itu. Untuk sesaat, wajah Kaisar yang tak pernah goyah tampak retak. “Panggil Tabib sekarang!” perintahnya tajam. Shen Yaoqing menggenggam lengan jubahnya, jari-jarinya dingin, gemetar. Kepalanya terasa ringan, dunia berputar perlahan. Rasa sakit menjalar lebih dalam, membuat kakinya melemah. Ia membiarkan tubuhnya condong, bersandar pada Zhao Yichen seolah kehabisan tenaga. Dari sudut matanya, ia melihat wajah-wajah di sekelilingnya membeku pucat pasi. “Putra mahkota tidak boleh kenapa-kenapa!” pekik Zhao Yichen, panik. Salju di luar turun lebih lebat, menempel di ambang jendela seperti pertanda duka. Lonceng istana berdentang satu kali, pelan dan panjang. Shen Yaoqing menutup mata. Di antara rasa nyeri dan bau besi dari darahnya sendiri, ia berpikir, “jika darah ini jatuh malam ini, maka istana akan menulis namaku sebagai perempuan yang gagal.”Salju yang semalam turun tebal kini mulai mencair, meninggalkan lapisan putih kusam di atap paviliun dan jalan setapak. Udara masih dingin, tapi tidak menusuk tulang seperti di Istana Dingin. Shen Yaoqing berdiri di beranda paviliun, dibungkus jubah bulu rubah tipis berwarna pucat. Tangannya terulur, menyentuh pagar kayu yang masih lembap oleh embun salju.“Huaaa .…” Ia mengembuskan napas pelan. “Jauh lebih enakan.”Qinglan yang berdiri di sampingnya tersenyum lega. “Paviliun ini memang dirancang untuk pemulihan, Niangniang. Bahkan di musim dingin pun, tungkunya tak pernah padam.”Shen Yaoqing melangkah turun perlahan, langkahnya hati-hati. Jalan batu yang menghubungkan paviliun utama dengan taman kecil di belakang mulai tampak. Salju mencair memperlihatkan tanah gelap di bawahnya, beberapa ranting cemara basah berkilau diterpa cahaya matahari pagi.Ia berhenti, menatap sekeliling.“Aku bisa bernapas di sini,” gumamnya. “Di Istana Dingin rasanya seperti paru-paruku ikut membeku.”Qin
“Angkat!” Perintah Zhao Yichen singkat.Pengawal Bayangan bergerak cepat. Dua orang menopang tubuh Shen Yaoqing, sementara Qinglan menangis tertahan, tangannya gemetar hendak membantu, tapi tak berani mendekat.“Pelan-pelan,” gumam Shen Yaoqing, suaranya nyaris tak terdengar.Zhao Yichen meliriknya sekilas. Tatapannya datar, dingin, tapi tangannya terangkat memberi isyarat agar mereka berhenti sejenak.“Jangan diguncang,” katanya. “Jika janin itu kenapa-kenapa, kalian ikut dikubur.”Ancaman itu membuat langkah para pengawal langsung lebih berhati-hati.Tak lama kemudian, suara langkah tergesa memecah kesunyian.“Tabib kekaisaran telah tiba!”Seorang pria tua berjubah hijau tua masuk tergopoh-gopoh, napasnya terengah. Begitu melihat Zhao Yichen, ia langsung menjatuhkan diri berlutut begitu dalam hingga dahinya menyentuh lantai batu.“Hamba tabib istana, Wei Shun, menghadap Huangshang!”“Periksa Selir Mulia Shen!” Wei Shun mengangkat kepala. Begitu matanya menangkap noda darah di lanta
Di Istana Phoenix AgungPermaisuri Xiao Lianhua duduk di depan cermin perunggu. Jari-jarinya ramping, kuku-kukunya dicelup merah tua seperti darah kering.“Belum juga mati?” tanyanya tenang.Pelayan pribadi berlutut. “Pengawal telah dikirim, Niangniang.”Xiao Lianhua tersenyum tipis.“Bagus. Shen Yaoqing terlalu lama hidup.”Ia menatap bayangannya sendiri. “Perempuan seperti itu seharusnya tahu diri.”Ia bangkit, jubah emasnya menyapu lantai marmer.“Ayahnya jenderal, suaminya kaisar, kandungannya calon putra mahkota.”Ia tertawa kecil, seringai tersungging sinis. “Terlalu banyak kartu di tangannya.”“Bagaimana jika Kaisar—”“Zhao Yichen?” potong Xiao Lianhua. “Ia memilih negara, bukan perempuan.”Ia mendekat ke jendela, menatap langit.“Dan jika Selir Shen mati, besok ia hanya akan berduka sebentar. Setelah itu dunia tetap berjalan.”Matanya berkilat.“Lagipula,” tambahnya pelan. “Aku hanya mempercepat takdir.”Sementara itu di aula Kekaisaran Istana Naga LangitZhao Yichen sedang be
“Yang Mulia Kaisar tiba ...!”Suara kasim melengking, lalu semua bunyi seolah tersedot habis.Shen Yaoqing berdiri refleks. Lututnya hampir gemetar, tapi ia memaksa punggungnya tetap tegak. Dalam kepalanya, alarm berbunyi bertubi-tubi."Oke, tarik napas. Jangan panik, jangan nangis, jangan pingsan!" batinnya pasrah.Langkah sepatu kulit berhenti di hadapannya.Shen menunduk, sesuai etika. Dari sudut pandangnya, yang terlihat hanya ujung jubah hitam keunguan dengan sulaman naga emas, benang-benangnya berkilau dingin di bawah cahaya lentera.Aura Kaisar Zhao Yichen menekan tanpa perlu kata.“Bangun,” ucapnya singkat.Nada suaranya datar, wanita itu sontak mengangkat kepala.Wajah pria di hadapannya persis seperti deskripsi novel. Rahang tajam, tampan, dan dingin seperti patung giok. Alisnya lurus, matanya gelap dan dalam."Yup. Ini dia raja gila itu," pikir Shen Yaoqing.“Kau tampak belum mati,” ujar Zhao Yichen.Shen berkedip.“Terima kasih?” jawabnya refleks.Ruangan hening.Kasim di
Jam di sudut kanan layar laptop menunjukkan pukul sebelas malam. Shen Yaoqing menatapnya dengan tatapan kosong selama tiga detik, lalu menghela napas panjang. “Baiklah,” gumamnya lesu sambil mengangkat gelas kopi sachet yang sudah dingin. “Kita lanjut aja, demi cicilan dan bayar listrik. Bertahan hidup di dunia kapitalisme ini memang kejam.” Kantor sudah hampir sepenuhnya gelap. Tinggal beberapa lampu neon yang masih menyala di atas meja-meja kosong, memantulkan cahaya pucat ke lantai keramik. Pendingin ruangan berdengung malas, seolah ikut lelah menemani manusia terakhir yang belum pulang. Manusia itu, tentu saja, Shen Yaoqing. Rambutnya diikat asal, kemeja kerja sudah kusut, dan matanya berkilat karena kafein yang berlebihan. Jarinya menari cepat di atas keyboard, mulutnya tak berhenti berceloteh. “Siapa juga yang bikin deadline jam dua belas malam,” gerutunya. Ia berhenti sejenak, melirik kursi kosong di sekelilingnya, lalu menyeringai kecil. Selesai mengetik satu paragraf l







