Share

Siasat Bertahan Hidup

Author: White Plum
last update Last Updated: 2026-02-12 23:26:15

“Semua keluar!” seru Shen Yaoqing tajam, membuat para dayang yang baru saja menyambutnya langsung menunduk.

Qinglan berkedip. “Niangniang?”

“Kecuali Qinglan.”

Pintu Paviliun Batu Giok ditutup perlahan. Suara gesek kayu cendana terdengar berat, lalu hening menyelimuti ruangan.

Shen Yaoqing berdiri di tengah ruangan, melepas mantel bulunya dengan pelan dan berjalan menuju meja bundar dari batu giok pucat, lalu duduk perlahan.

Qinglan nampak berdiri cemas. “Niangniang, apakah ada yang salah?”

Shen Yaoqing mengangkat wajahnya.

“Kandunganku.” Ia menyentuh perutnya pelan. “Sudah empat bulan.”

Qinglan langsung tersenyum lega. “Itu kabar baik, Niangniang. Enam bulan lagi—”

“Enam bulan lag aku akan melahirkan, dan setelah itu Kaisar akan membunuhku,” potong Shen Yaoqing lembut.

Tungku perunggu mendesis pelan.

Qinglan memucat seketika. “Niangniang! Jangan—”

“Ayahku belum kembali dari perang. Tuduhan pemberontakan belum dibersihkan. Begitu aku melahirkan pewaris, aku akan menjadi beban politik.”

Sunyi jatuh berat.

Qinglan berlutut. “Tidak! Yang Mulia Kaisar tidak mungkin sekejam itu!”

Shen Yaoqing tersenyum tipis. “Kaisar bukan kejam, tapi ketegasannya memang membunuhku.”

Ia menatap keluar jendela. Di luar, dua pengawal kekaisaran berdiri tegak di gerbang paviliun, tombak berkilat di bawah cahaya siang.

“Lihat mereka,” gumamnya. “Penjagaan diperketat atas nama melindungi keturunan naga.”

Qinglan berbisik pelan, “Bukankah itu hal baik?”

“Qinglan ....” Shen Yaoqing menoleh, alisnya terangkat sedikit. “Apa bedanya ini dengan tahanan?”

Qinglan terdiam.

“Aku hanya dipindahkan dari Istana Dingin ke penjara berukir emas.”

Ia bangkit, berjalan perlahan menyusuri lantai marmer putih yang memantulkan bayangan jubahnya.

“Dalam enam bulan, aku harus menyelamatkan keluargaku yang masih ditawan dan membuktikan ayahku tidak memberontak.”

Qinglan hampir menangis. “Bagaimana caranya, Niangniang?”

Shen Yaoqing berhenti.

“Aku juga sedang memikirkannya.”

Ia menatap langit-langit, lalu mendesah ringan. “Orang lain yang masuk ke novel biasanya punya bantuan,” gumamnya. “Minimal sistem yang memberi misi harian, atau kekuatan membaca pikiran. Tapi aku? Tidak ada apa-apa. Bahkan skill bertahan hidupku cuma bisa bikin mie instan dan presentasi PowerPoint.”

Qinglan benar-benar tak mengerti, tapi melihat tuannya menggerutu dengan wajah tetap anggun membuatnya ragu apakah ia boleh tertawa.

Shen Yaoqing menatap tangannya sendiri.

“Berdagang? Modal tak ada.”

“Menjilat? Menjilat siapa? Selir Agung? Aku lebih baik menjilat dinding!”

“Melarikan diri? Dengan perut membesar dan pengawal di setiap sudut?”

Ia menekan pelipisnya pelan.

“Pusing.”

Namun, bahkan saat berkata begitu, punggungnya tetap tegak.

Qinglan memberanikan diri bersuara, “Niangniang tidak benar-benar sendirian. Yang Mulia Kaisar masih menyayangi Niangniang.”

Shen Yaoqing tersenyum samar. “Sayang?”

Ia berjalan kembali ke meja, menuang teh untuk dirinya sendiri.

“Kaisar hanya menyayangi keturunan di rahimku.”

Qinglan terdiam lagi.

“Kalau aku ingin hidup, aku tidak bisa bergantung pada belas kasihan.”

Ia menyesap teh, lalu meletakkan cangkirnya dengan mantap.

“Opsi pertama, membuktikan ayahku tidak bersalah sebelum enam bulan.”

“Bagaimana caranya?” tanya Qinglan cepat.

“Aku butuh akses dokumen militer. Butuh orang dalam dan surat dari medan perang.” Ia tersenyum tipis. “Opsi kedua, kabur sebelum melahirkan.”

Qinglan hampir menjerit. “Kabur? Itu hukuman mati bagi seluruh keluarga!”

“Benar.” Shen Yaoqing mengangguk ringan. “Terlalu berisiko.”

“Opsi ketiga?” bisik Qinglan.

Shen Yaoqing terdiam cukup lama.

Angin menggesek tirai, menciptakan bayangan bergerak di dinding.

“Opsi ketiga ...,” gumamnya perlahan. “Membuat Kaisar tidak bisa membunuhku.”

Qinglan mengangkat kepala.

“Bagaimana caranya?”

Shen Yaoqing menatap perutnya. “Kalau aku hanya ibu dari seorang pangeran, aku bisa disingkirkan,” lanjutnya. “Tapi kalau aku adalah kunci stabilitas politik, cerita akan berbeda.”

Qinglan mengerutkan kening. “Niangniang ingin ikut campur politik?”

“Aku sudah terjebak di dalamnya sejak lahir. Entah bagaimanapun caranya, aku harus ikut campur,” jawab Shen Yaoqing ringan.

Ia berjalan ke rak buku kecil di sudut ruangan. Tangannya menyentuh peta wilayah kekaisaran yang tergulung rapi.

“Ayahku adalah Jenderal Shen. Tuduhan pemberontakan muncul setelah ia memindahkan pasukan tanpa dekret resmi.”

Qinglan mengangguk pelan.

“Kalau itu fitnah, maka pasti ada pihak yang diuntungkan.” Ia tersenyum tipis. “Dan orang yang diuntungkan biasanya ceroboh saat terlalu percaya diri.”

Qinglan menatapnya kagum. “Niangniang sudah punya rencana?”

“Belum,” jawabnya jujur. Ia menoleh ke arah jendela lagi, pengawal tetap berdiri tegak. “Penjagaan ketat ini bukan hanya untuk mengawasi. Ini juga simbol, Kaisar ingin semua orang tahu bahwa aku berada di bawah perlindungannya.”

Qinglan perlahan mengerti. “Kalau Niangniang tiba-tiba mati … orang akan curiga?”

“Persis.” Shen Yaoqing tersenyum kecil, menarik napas dalam. “Baiklah. Mulai hari ini, kita tidak akan panik.”

Qinglan mengangguk cepat.

“Kita kumpulkan informasi dari dapur, kasim, bahkan juga dari pelayan. Sedikit demi sedikit tanpa menimbulkan kecurigaan,”

Qinglan mengangguk cepat. “Baik, Niangniang. Hamba akan mulai dari dapur dan ruang cuci. Biasanya gosip paling cepat menyebar di sana.”

“Jangan terlalu cepat.” Shen Yaoqing mengingatkan halus. “Kalau kau terlihat terlalu rajin, justru mencurigakan.”

“Hamba mengerti.”

Ujung jemari lentik itu mengetuk meja giok pelan. Wajahnya tenang, tapi pikirannya bergerak cepat menghitung kemungkinan dan memetakan risiko.

Jika benar ada pihak yang diuntungkan dari tuduhan ayahnya, maka orang itu pasti masih berada di istana.

Belum sempat ia merangkai benang pikiran lebih jauh, suara terompet kecil kasim terdengar dari luar paviliun, disusul teriakan nyaring yang memecah ketenangan halaman.

“Selir Agung Rong Guifei datang—!”

Qinglan membeku. “Niangniang!”

Dalam satu detik, ekspresi Shen Yaoqing berubah.

Wajahnya melembut. Ia berdiri perlahan, menarik napas panjang, lalu berjalan menuju pintu utama.

“Buka.”

Angin dingin masuk bersama rombongan berbusana merah marun dan emas.

Selir Agung Rong Guifei melangkah masuk dengan anggun. Jubahnya berlapis-lapis sutra merah delima, bordir burung hong emas membentang megah di punggungnya. Sanggulnya tinggi menjulang, dihiasi mahkota kecil bertatah mutiara.

Di belakangnya, dua dayang membawa kotak kayu ukir, dan seorang kasim kurus bermata sipit berdiri setengah langkah di sisi kirinya.

Shen Yaoqing langsung menunduk hormat.

“Hamba memberi salam pada Selir Agung. Angin apa yang membawa Selir Agung berkenan datang ke Paviliun Batu Giok?”

Rong Guifei tersenyum tipis. “Angin musim dingin tentu terlalu kasar untuk tempat sehalus ini,” katanya lembut. “Aku hanya singgah sebentar.”

Tatapannya menyapu ruangan, berhenti sejenak pada tungku, lalu pada perut Shen Yaoqing.

“Paviliun ini memang berbeda dari Istana Dingin,” lanjutnya ringan. “Nyaman, hangat, dan ... terjaga.”

Sindiran halus.

Shen Yaoqing tetap menunduk. “Semua berkat kemurahan hati Yang Mulia dan perhatian Selir Agung.”

Rong Guifei tertawa kecil. “Kau masih pandai berkata-kata.”

Ia duduk tanpa dipersilakan, seolah-olah tempat itu memang miliknya. Qinglan menahan napas, tapi Shen Yaoqing hanya berdiri tenang.

“Aku datang membawa undangan,” ujar Rong Guifei.

Kasim di belakangnya maju setengah langkah, membuka gulungan sutra merah.

“Tiga hari lagi akan diadakan Jamuan Pesta Bunga di Taman Seribu Musim,” jelas Rong Guifei. “Kau tentu tahu itu kesukaan Ibu Suri.”

Shen Yaoqing mengangguk pelan. “Hamba pernah mendengar.”

“Permaisuri masih menjalani hukuman,” lanjut Rong Guifei dengan nada ringan. “Sebagai Selir Agung, tentu akulah yang harus mengatur semuanya.”

Ia menatap Shen Yaoqing lagi.

“Dan memastikan semua orang datang.”

Hening sesaat.

“Termasuk … tahanan,” tambahnya lembut.

Qinglan refleks menegang.

Sementara Shen Yaoqing tetap tersenyum sopan. “Hamba tidak menyadari Paviliun Batu Giok termasuk ruang tahanan.”

Rong Guifei memiringkan kepala. “Oh? Bukankah penjaga di gerbang itu bukan sekadar hiasan?”

“Tapi ...,” lanjutnya cepat sebelum ada yang menyela. “Kau masih menyandang gelar Selir Mulia. Meski—” Tatapannya turun lagi ke perut Shen Yaoqing. “Kalau dipikir-pikir, keberuntunganmu sungguh besar. Dalam keadaan seperti ini, dengan keluarga tertuduh memberontak, kau masih hidup nyaman.”

Ia tersenyum.

“Hanya karena janin itu.”

Qinglan hampir tak mampu menahan diri, tapi Shen Yaoqing lebih cepat menjawab, “Hamba bersyukur pada anugerah langit.”

“Ya.” Rong Guifei mengangguk perlahan. “Tanpa darah kekaisaran di rahimmu, status Selir Mulia mungkin sudah lama dicabut.”

Seringai senyumnya terukir lembut, kontras dengan kata-kata tajamnya.

“Karena itu, jamuan ini penting. Semua mata akan tertuju pada keluarga kekaisaran. Jangan sampai ada yang berpikir istana ini menyembunyikan sesuatu.”

Wanita cantik itu berdiri. “Datanglah. Jangan membuat malu.”

Shen Yaoqing menunduk dalam. “Hamba akan hadir.”

Rong Guifei berhenti di ambang pintu, menoleh setengah.

“Jamuan ini bertema bunga musim dingin. Jangan sampai kau memilih rangkaian yang layu.”

Lalu ia pergi, rombongannya menghilang di balik tirai salju tipis halaman.

Begitu pintu tertutup, Qinglan langsung bergegas mendekat.

“Niangniang!”

Ia membantu Shen Yaoqing duduk kembali. Tangan tuannya terasa dingin.

“Apakah Niangniang baik-baik saja?”

Shen Yaoqing menarik napas perlahan. Wajahnya tetap tenang.

“Aku baik.”

“Tadi dia jelas-jelas menghina Niangniang!”

“Ya,” jawabnya ringan. “Dia ingin aku marah.”

“Di dunia asalku, aku pernah magang di toko florist. Rangkaian bunga untuk pernikahan, pesta, bahkan duka aku ahlinya,” batinnya menahan tawa.

Ia berjalan ke jendela. Di halaman, pohon plum musim dingin mulai berbunga, kelopak merah muda menembus salju.

“Bunga bisa berbicara tanpa suara. Simbol kesetiaan, keteguhan juga kesedihan, serta harapan.”

Ia menoleh pada dayang kesayangannya. “Kalau aku bisa membuat Ibu Suri tersentuh, maka ....”

“Niangniang akan mendapat dukungan,” sambung Qinglan perlahan.

Shen Yaoqing mengangguk.

“Siapkan pakaian terbaikku. Yang warna biru dengan bordir bunga plum.”

“Baik.”

“Dan minta izin pada pengawas taman. Katakan aku ingin memilih bunga segar sendiri.”

Qinglan tersenyum lebar. “Hamba mengerti.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Selir Shen: Menulis Ulang Takdir di Istana Dingin   Pion Terkuat

    “Selir Shen! Tunggu!”Suara salah satu selir pecah di belakangnya, gemetar antara takut dan tak percaya. “Kau … kau membunuh mereka dengan jepit rambut?”Shen Yaoqing berhenti sejenak, tapi tidak menoleh. Qinglan berdiri setengah melindunginya, wajahnya tampak pucat.“Kalau tidak begitu, yang mati mungkin kita,” jawab Shen Yaoqing tenang.Tak ada yang berani membalas.Ia melangkah meninggalkan Taman Seribu Musim. Salju tipis sudah mulai mencair, matahari sore memantul pada genangan air di sela batu. Aroma darah perlahan tergantikan wangi plum yang tertiup angin hangat.Musim memang hampir berganti.Di belakangnya, Zhao Yichen masih berdiri memandang punggung wanita itu.“Xiao An.”Seorang kasim muda berwajah pucat segera berlutut. “Hamba di sini, Yang Mulia.”“Bawa tabib kerajaan ke Paviliun Batu Giok. Periksa Selir Mulia Shen. Jangan sampai ada luka tersembunyi.”Xiao An tertegun sepersekian detik. “Segera, Yang Mulia.”Nada itu terdengar biasa saja, tetapi para pengawal pribadi Kais

  • Selir Shen: Menulis Ulang Takdir di Istana Dingin   Pembunuh Bayaran

    Rong Guifei tersenyum manis, menatap rangkaian bunga Shen Yaoqing dengan alis terangkat tipis. “Selir Shen memang pandai menyusun kata. Namun pesta bunga bukan sekadar simbol, melainkan juga hiburan.”Beberapa selir menunduk, menyembunyikan senyum.Ibu Suri menggeser pandangannya perlahan ke arah Rong Guifei. “Menurutmu, simbol tidak penting?”Rong Guifei langsung menunduk. “Tentu penting, Ibu Suri. Hanya saja … hamba khawatir Selir Shen terlalu memaksakan diri.”Shen Yaoqing tersenyum lembut. “Terima kasih atas perhatian Selir Agung Rong Guifei. Namun hamba masih mampu berdiri tanpa dipapah.”Nada itu halus, tapi seperti sutra yang membelit leher. Kaisar Zhao Yichen tidak berkata apa-apa. Ia hanya menyesap araknya, mata gelapnya mengamati percakapan dua wanita itu tanpa ekspresi.Acara berlanjut dengan pelayan yang membawa nampan-nampan kayu berukir, di atasnya tersaji kue bunga osmanthus, bola ketan isi pasta kacang merah, daging bebek panggang berlapis madu, dan sup sarang burung d

  • Selir Shen: Menulis Ulang Takdir di Istana Dingin   Pesta Bunga

    “Niangniang, waktunya berangkat.”Qinglan berlutut di depan cermin perunggu, jemarinya merapikan lipatan terakhir jubah biru pucat yang mengalir seperti air musim semi.Shen Yaoqing menatap bayangannya.Gaun itu sederhana, tanpa emas mencolok dan tanpa bordir naga berlebihan. Hanya bunga plum putih keperakan yang dijahit halus di ujung lengan dan bagian bawah rok. Rambutnya disanggul rendah, disematkan satu jepit giok berbentuk kelopak.“Apakah terlalu sederhana?” tanya Qinglan pelan.Shen Yaoqing tersenyum samar. “Hari ini aku bukan datang untuk bersaing dalam kemewahan.”“Lalu untuk apa, Niangniang?”“Sudah, lihat saja nanti.”***Taman Seribu Musim diselimuti salju tipis pada bebatuan dan jembatan lengkung, tapi taman tetap hidup oleh ribuan bunga musim dingin seperti plum merah, krisan putih, kamelia merah tua, dan dahan cemara yang dibentuk melengkung artistik. Lentera-lentera sutra digantung di pohon, kain tipis berwarna pastel membentang di antara pilar kayu berukir.Aula terb

  • Selir Shen: Menulis Ulang Takdir di Istana Dingin   Siasat Bertahan Hidup

    “Semua keluar!” seru Shen Yaoqing tajam, membuat para dayang yang baru saja menyambutnya langsung menunduk.Qinglan berkedip. “Niangniang?”“Kecuali Qinglan.”Pintu Paviliun Batu Giok ditutup perlahan. Suara gesek kayu cendana terdengar berat, lalu hening menyelimuti ruangan.Shen Yaoqing berdiri di tengah ruangan, melepas mantel bulunya dengan pelan dan berjalan menuju meja bundar dari batu giok pucat, lalu duduk perlahan.Qinglan nampak berdiri cemas. “Niangniang, apakah ada yang salah?”Shen Yaoqing mengangkat wajahnya.“Kandunganku.” Ia menyentuh perutnya pelan. “Sudah empat bulan.”Qinglan langsung tersenyum lega. “Itu kabar baik, Niangniang. Enam bulan lagi—”“Enam bulan lag aku akan melahirkan, dan setelah itu Kaisar akan membunuhku,” potong Shen Yaoqing lembut.Tungku perunggu mendesis pelan.Qinglan memucat seketika. “Niangniang! Jangan—” “Ayahku belum kembali dari perang. Tuduhan pemberontakan belum dibersihkan. Begitu aku melahirkan pewaris, aku akan menjadi beban politi

  • Selir Shen: Menulis Ulang Takdir di Istana Dingin   Apakah Alur Berubah?

    “Niangniang, hari ini kita harus menghadap Ibu Suri untuk memberi salam.”Shen Yaoqing duduk di depan meja rias, sementara Qinglan berdiri di belakangnya, jari-jarinya gemetar saat menyematkan jepit rambut giok pucat.Shen Yaoqing menguap kecil. “Hmm.”Qinglan menelan ludah. “Semua selir pasti sudah berkumpul sejak subuh. Selir Agung juga.”“Ya, wajar,” jawab Shen Yaoqing santai. “Itu ajang cari muka buat mereka”Qinglan hampir tersedak.“Niangniang .…” Ia menunduk cemas. “Hamba takut mereka akan menghina. Selir Agung terkenal pandai memelintir kata. Ibu Suri juga sering—”“Mudah terhasut?” Shen Yaoqing menoleh sambil tersenyum. “Tenang. Orang seperti itu tidak berbahaya. Yang berbahaya itu yang kelihatan diam, tapi nyimpen pisau.”Qinglan makin pucat. “T-tapi—”Shen Yaoqing berdiri, merapikan jubah luarnya. “Lagipula, aku hamil. Kalau mereka macam-macam, itu bukan aku yang kena duluan.”Ia menepuk perutnya pelan. “Bayiku adalah kartu as paling mahal di istana.”Qinglan terdiam.“Nian

  • Selir Shen: Menulis Ulang Takdir di Istana Dingin   Membalaskan Sakit

    Salju yang semalam turun tebal kini mulai mencair, meninggalkan lapisan putih kusam di atap paviliun dan jalan setapak. Udara masih dingin, tapi tidak menusuk tulang seperti di Istana Dingin. Shen Yaoqing berdiri di beranda paviliun, dibungkus jubah bulu rubah tipis berwarna pucat. Tangannya terulur, menyentuh pagar kayu yang masih lembap oleh embun salju.“Huaaa .…” Ia mengembuskan napas pelan. “Jauh lebih enakan.”Qinglan yang berdiri di sampingnya tersenyum lega. “Paviliun ini memang dirancang untuk pemulihan, Niangniang. Bahkan di musim dingin pun, tungkunya tak pernah padam.”Shen Yaoqing melangkah turun perlahan, langkahnya hati-hati. Jalan batu yang menghubungkan paviliun utama dengan taman kecil di belakang mulai tampak. Salju mencair memperlihatkan tanah gelap di bawahnya, beberapa ranting cemara basah berkilau diterpa cahaya matahari pagi.Ia berhenti, menatap sekeliling.“Aku bisa bernapas di sini,” gumamnya. “Di Istana Dingin rasanya seperti paru-paruku ikut membeku.”Qin

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status