LOGIN
Jam di sudut kanan layar laptop menunjukkan pukul sebelas malam. Shen Yaoqing menatapnya dengan tatapan kosong selama tiga detik, lalu menghela napas panjang.
“Baiklah,” gumamnya lesu sambil mengangkat gelas kopi sachet yang sudah dingin. “Kita lanjut aja, demi cicilan dan bayar listrik. Bertahan hidup di dunia kapitalisme ini memang kejam.” Kantor sudah hampir sepenuhnya gelap. Tinggal beberapa lampu neon yang masih menyala di atas meja-meja kosong, memantulkan cahaya pucat ke lantai keramik. Pendingin ruangan berdengung malas, seolah ikut lelah menemani manusia terakhir yang belum pulang. Manusia itu, tentu saja, Shen Yaoqing. Rambutnya diikat asal, kemeja kerja sudah kusut, dan matanya berkilat karena kafein yang berlebihan. Jarinya menari cepat di atas keyboard, mulutnya tak berhenti berceloteh. “Siapa juga yang bikin deadline jam dua belas malam,” gerutunya. Ia berhenti sejenak, melirik kursi kosong di sekelilingnya, lalu menyeringai kecil. Selesai mengetik satu paragraf laporan, Shen Yaoqing menyandarkan punggungnya, meraih ponsel, dan membuka aplikasi novel. Layarnya langsung menampilkan halaman terakhir yang ia baca siang tadi, novel berlatar dinasti kuno yang sedang populer. “Baca novel dulu biar ada temennya,” gumamnya sambil mengusap mata. Ia scroll sedikit, membaca ulang adegan yang membuatnya kesal sejak tadi. Selir Mulia Shen. Perempuan pendiam, patuh, selalu menunduk, dan selalu percaya bahwa kesabaran akan membawa keselamatan. “Kesabaran apaan,” cibir Shen Yaoqing mendengus kesal. “Kesabaranmu itu tiket cepat ke liang kubur.” Ia menepuk layar ponsel dengan jari telunjuk. “Ini, nih. Ini salahmu! Kalau dari awal berani ngomel dikit aja, nggak bakal dibuang ke Istana Dingin.” Matanya menyipit saat membaca dialog Kaisar Zhao Yichen yang dingin dan kejam. Ia mendecak kesal. “Kaisar apaan, sih. Tampan doang, otak dipinjemin setan,” komentarnya tanpa dosa. “Masa istri sendiri diusir pas lagi hamil?” Ia tertawa kecil, geleng-geleng kepala. “Kalau aku jadi Selir Shen, sudah kutendang semua menteri licik itu satu-satu. Biar tahu rasa.” Shen Yaoqing meletakkan ponsel kembali ke meja dengan kesal. “Oke, satu laporan lagi. Habis ini pulang!” Ia kembali mengetik. Namun entah sejak kapan, huruf-huruf di layar mulai terlihat sedikit kabur. Shen Yaoqing mengerjap, mengucek mata yang terasa pedih seraya menarik napas panjang. “Kurang tidur, nih,” gumamnya. Ia mengangkat gelas kopi, meneguk isinya, lalu meringis. Dadanya terasa agak berat. Ia menekan telapak tangan ke sana, merasa degup jantungnya naik. Tiba-tiba layar ponselnya menyala sendiri, mungkin karena notifikasi. Halaman novel yang tadi ia baca muncul kembali. Adegan Istana Dingin, serta salju turun tanpa henti yang memaparkan Selir Shen berbaring lemah dengan darah mengalir di antara kain putih. Shen Yaoqing berhenti mengetik. “Ah,” gumamnya pelan. “Bagian ini?” Tangannya gemetar sedikit, ia mengira itu karena dingin AC. “Tenang,” katanya sambil tersenyum tipis. “Aku, kan, cuma baca, nggak hidup di sana. Ngapain ikut merinding?” Jantungnya berdegup lebih cepat, berusaha menepis rasa aneh yang merayap naik. Ia ingin meraih ponsel, tapi jarinya terasa berat. Pandangannya berputar sedikit,ampu neon di atas kepalanya tampak terlalu terang. “Eh,” bisiknya. “Kok .…” Ponsel itu jatuh dari meja. Bunyi berdentum kecil terdengar di lantai. Shen Yaoqing mencoba berdiri, tapi lututnya melemas. Dunia terasa miring. Dadanya sesak, napasnya pendek. “Kayaknya ....” Ia tertawa kecil, suaranya gemetar. “Aku butuh cu—ti.” Lalu semuanya gelap. *** Dingin. Itu hal pertama yang ia rasakan. Bukan dingin AC kantor, ini dingin yang menusuk tulang, seperti salju yang merayap langsung ke dalam darah. Shen Yaoqing mengerang pelan. “Aduh, dingin banget. Rumah sakit mana ini gini banget AC-nya.” Ia membuka mata. Langit-langit di atasnya bukan putih polos dengan lampu neon. Melainkan balok kayu tua, retak di beberapa bagian. Cahaya kuning redup dari lentera bergoyang pelan, memantul di dinding kusam. Shen Yaoqing membeku. Ia menoleh perlahan, selimut yang menutupi tubuhnya terasa kasar. “Hah?!” Ia duduk tergesa, lalu langsung meringis karena pusing. Bau obat pahit menusuk hidungnya. “Tidak,” gumamnya, tertawa kecil penuh penyangkalan. “Ini pasti mimpi. Iya. Mimpi!” Ia mengangkat tangan, mencubit pipinya sendiri. Sakit. “Ah!” Shen Yaoqing menatap sekeliling lagi, kali ini dengan jantung berdegup keras. Tirai kain tebal berwarna kusam. Meja kayu rendah. Jendela tertutup rapat, tapi celah kecil memperlihatkan salju. Salju? Ia menelan saliva. “Ini di mana? Perasaan tadi terakhir baca novel, terus—” Ingatan itu menghantamnya tiba-tiba. Istana Dingin. Selir Mulia Shen, perempuan yang mati di sini. Senyumnya memudar perlahan. “Oh,” bisiknya. “Sial.” Di detik itu, Shen Yaoqing tahu satu hal dengan sangat jelas. Ia masuk dunia novel. "Nggak, nggak! Nggak mungkin aku jadi selir terbuang itu. Nama memang sama, tapi aku ... nasibku?! Nggak!" Shen Yaoqing terhuyung berdiri. Kakinya telanjang, menyentuh lantai batu yang dinginnya menusuk. Ia melangkah pelan menuju pintu kayu tua di sudut ruangan. Tangannya gemetar saat menggenggam gagang pintu yang terasa kasar dan dingin. Pintu itu berderit pelan saat didorong. Begitu terbuka, embusan udara dingin langsung menerpa wajahnya. Di hadapannya terbentang halaman luas yang diselimuti salju. Pohon-pohon tua berdiri kaku tanpa daun, rantingnya putih membeku. Bangunan-bangunan beratap melengkung berjajar rapi, ujung atapnya dihiasi ukiran naga yang tertutup es. Dinding merah kusam menjulang tinggi, warnanya pudar dimakan waktu dan cuaca. Persis seperti deskripsi dalam novel. Shen Yaoqing melangkah satu langkah ke depan. Salju itu berderak di bawah kakinya. Ia menoleh ke kiri. Koridor panjang berlapis batu membentang, lentera-lentera tergantung jarang, cahayanya redup. Di kejauhan, gerbang istana berdiri seperti mulut raksasa yang tertutup rapat. Ia menoleh ke kanan. Tembok tinggi menjulang, tanpa celah. Tak ada jalan keluar. Dadanya terasa sesak. “Ini Istana Dingin,” gumamnya lirih. “Seratus persen sama.” Bibirnya bergetar. Di novel, tempat ini adalah kuburan hidup. Tempat para selir yang tak lagi diinginkan menunggu ajal, entah karena sakit, kelaparan, atau bunuh diri. Ia mundur satu langkah. Tiba-tiba kakinya terpeleset, hampir jatuh. Shen Yaoqing tersentak dan refleks berbalik, berlari kembali ke dalam kamar, menutup pintu dengan bunyi gedebuk keras. Ia menyandarkan punggung ke pintu, napasnya terengah. Air mata akhirnya jatuh. “Gila,” isaknya pecah. “Ini gila. Aku cuma lembur sambil baca novel. Kenapa harus sejauh ini?!” Tangannya meraba wajahnya sendiri, seperti memastikan ia masih nyata. Hidungnya terasa lebih kecil, kulitnya halus dan pucat. Ia menggeleng keras. “Nggak. Aku nggak mau!” Pandangan matanya menyapu ruangan, panik, mencari sesuatu yang bisa mengembalikannya ke dunia asalnya. “Kaca,” gumamnya. “Aku butuh kaca!” Ia menemukan sebuah meja kayu kecil di sudut ruangan. Di atasnya terletak sebuah cermin perunggu buram, permukaannya menguning, memantulkan bayangan samar. Shen Yaoqing mengangkatnya dengan tangan gemetar. Alis hitam melengkung rapi. Mata besar dengan sudut lembut, tetapi kini dipenuhi kepanikan. Bibir merah muda pucat, kering, sedikit pecah karena dingin. Rambut hitam panjang tergerai hingga pinggang, tebal dan halus, terikat setengah dengan pita sederhana. Cermin itu hampir terlepas dari tangannya. “Nggak,” bisiknya parau. “Ini bukan aku.” Ia menggeleng keras, air mata mengalir deras. “Ini visual Selir Shen, persis seperti ilustrasi di novel.” Dadanya naik turun cepat. “Gimana caranya keluar dari sini?” Ia menoleh ke sekeliling, seperti berharap ada pintu darurat bertuliskan EXIT. “Halo? Admin dunia? Sistem? Tuhan? Penulis? Siapa pun tolong aku!” Tak ada jawaban. Bayangan adegan keguguran di novel terlintas jelas di kepalanya, refleks menutup wajahnya dengan kedua tangan. “Nggak,” katanya tegas di sela tangis. “Aku nggak mau mati sia-sia. Aku nggak mau jadi korban plot!” Ia mengangkat kepala, matanya memerah, tapi ada kilat keras di dalamnya. “Aku nggak peduli ini dunia apa. Aku harus hidup, aku harus keluar dari alur ini.” Tiba-tiba, suara tajam dari luar membuat tubuhnya menegang. “Yang Mulia datang ....” Langkah kaki terdengar mendekat, cepat dan tergesa. “Yang Mulia Selir Shen, hamba membawa perintah!” Shen Yaoqing menelan ludah. Jantungnya berdegup keras, hampir meledak. “Datang terlalu cepat,” bisiknya panik. "Apa raja gila itu mau membunuhku sekarang?"Salju yang semalam turun tebal kini mulai mencair, meninggalkan lapisan putih kusam di atap paviliun dan jalan setapak. Udara masih dingin, tapi tidak menusuk tulang seperti di Istana Dingin. Shen Yaoqing berdiri di beranda paviliun, dibungkus jubah bulu rubah tipis berwarna pucat. Tangannya terulur, menyentuh pagar kayu yang masih lembap oleh embun salju.“Huaaa .…” Ia mengembuskan napas pelan. “Jauh lebih enakan.”Qinglan yang berdiri di sampingnya tersenyum lega. “Paviliun ini memang dirancang untuk pemulihan, Niangniang. Bahkan di musim dingin pun, tungkunya tak pernah padam.”Shen Yaoqing melangkah turun perlahan, langkahnya hati-hati. Jalan batu yang menghubungkan paviliun utama dengan taman kecil di belakang mulai tampak. Salju mencair memperlihatkan tanah gelap di bawahnya, beberapa ranting cemara basah berkilau diterpa cahaya matahari pagi.Ia berhenti, menatap sekeliling.“Aku bisa bernapas di sini,” gumamnya. “Di Istana Dingin rasanya seperti paru-paruku ikut membeku.”Qin
“Angkat!” Perintah Zhao Yichen singkat.Pengawal Bayangan bergerak cepat. Dua orang menopang tubuh Shen Yaoqing, sementara Qinglan menangis tertahan, tangannya gemetar hendak membantu, tapi tak berani mendekat.“Pelan-pelan,” gumam Shen Yaoqing, suaranya nyaris tak terdengar.Zhao Yichen meliriknya sekilas. Tatapannya datar, dingin, tapi tangannya terangkat memberi isyarat agar mereka berhenti sejenak.“Jangan diguncang,” katanya. “Jika janin itu kenapa-kenapa, kalian ikut dikubur.”Ancaman itu membuat langkah para pengawal langsung lebih berhati-hati.Tak lama kemudian, suara langkah tergesa memecah kesunyian.“Tabib kekaisaran telah tiba!”Seorang pria tua berjubah hijau tua masuk tergopoh-gopoh, napasnya terengah. Begitu melihat Zhao Yichen, ia langsung menjatuhkan diri berlutut begitu dalam hingga dahinya menyentuh lantai batu.“Hamba tabib istana, Wei Shun, menghadap Huangshang!”“Periksa Selir Mulia Shen!” Wei Shun mengangkat kepala. Begitu matanya menangkap noda darah di lanta
Di Istana Phoenix AgungPermaisuri Xiao Lianhua duduk di depan cermin perunggu. Jari-jarinya ramping, kuku-kukunya dicelup merah tua seperti darah kering.“Belum juga mati?” tanyanya tenang.Pelayan pribadi berlutut. “Pengawal telah dikirim, Niangniang.”Xiao Lianhua tersenyum tipis.“Bagus. Shen Yaoqing terlalu lama hidup.”Ia menatap bayangannya sendiri. “Perempuan seperti itu seharusnya tahu diri.”Ia bangkit, jubah emasnya menyapu lantai marmer.“Ayahnya jenderal, suaminya kaisar, kandungannya calon putra mahkota.”Ia tertawa kecil, seringai tersungging sinis. “Terlalu banyak kartu di tangannya.”“Bagaimana jika Kaisar—”“Zhao Yichen?” potong Xiao Lianhua. “Ia memilih negara, bukan perempuan.”Ia mendekat ke jendela, menatap langit.“Dan jika Selir Shen mati, besok ia hanya akan berduka sebentar. Setelah itu dunia tetap berjalan.”Matanya berkilat.“Lagipula,” tambahnya pelan. “Aku hanya mempercepat takdir.”Sementara itu di aula Kekaisaran Istana Naga LangitZhao Yichen sedang be
“Yang Mulia Kaisar tiba ...!”Suara kasim melengking, lalu semua bunyi seolah tersedot habis.Shen Yaoqing berdiri refleks. Lututnya hampir gemetar, tapi ia memaksa punggungnya tetap tegak. Dalam kepalanya, alarm berbunyi bertubi-tubi."Oke, tarik napas. Jangan panik, jangan nangis, jangan pingsan!" batinnya pasrah.Langkah sepatu kulit berhenti di hadapannya.Shen menunduk, sesuai etika. Dari sudut pandangnya, yang terlihat hanya ujung jubah hitam keunguan dengan sulaman naga emas, benang-benangnya berkilau dingin di bawah cahaya lentera.Aura Kaisar Zhao Yichen menekan tanpa perlu kata.“Bangun,” ucapnya singkat.Nada suaranya datar, wanita itu sontak mengangkat kepala.Wajah pria di hadapannya persis seperti deskripsi novel. Rahang tajam, tampan, dan dingin seperti patung giok. Alisnya lurus, matanya gelap dan dalam."Yup. Ini dia raja gila itu," pikir Shen Yaoqing.“Kau tampak belum mati,” ujar Zhao Yichen.Shen berkedip.“Terima kasih?” jawabnya refleks.Ruangan hening.Kasim di
Jam di sudut kanan layar laptop menunjukkan pukul sebelas malam. Shen Yaoqing menatapnya dengan tatapan kosong selama tiga detik, lalu menghela napas panjang. “Baiklah,” gumamnya lesu sambil mengangkat gelas kopi sachet yang sudah dingin. “Kita lanjut aja, demi cicilan dan bayar listrik. Bertahan hidup di dunia kapitalisme ini memang kejam.” Kantor sudah hampir sepenuhnya gelap. Tinggal beberapa lampu neon yang masih menyala di atas meja-meja kosong, memantulkan cahaya pucat ke lantai keramik. Pendingin ruangan berdengung malas, seolah ikut lelah menemani manusia terakhir yang belum pulang. Manusia itu, tentu saja, Shen Yaoqing. Rambutnya diikat asal, kemeja kerja sudah kusut, dan matanya berkilat karena kafein yang berlebihan. Jarinya menari cepat di atas keyboard, mulutnya tak berhenti berceloteh. “Siapa juga yang bikin deadline jam dua belas malam,” gerutunya. Ia berhenti sejenak, melirik kursi kosong di sekelilingnya, lalu menyeringai kecil. Selesai mengetik satu paragraf l







