Mag-log inBab 142
"Mereka tidak pernah menyentuh tubuhku, jadi sebenarnya tidak terlalu menjadi masalah. Jika saja mereka berani menyentuhku secara langsung... barulah itu berbeda."Mata Hongwu seketika menggelap mendengar ucapanku. Kilatan amarah yang dalam sekilas melintas di wajahnya, bercampur dengan rasa ingin melindungi yang begitu kuat hingga seakan memenuhi seluruh ruangan di antara kami. Ia menarikku mendekat, kedua tangannya melingkar dari bahuku hingga ke punggungku, meraBab 150 Sementara itu, aku duduk tenang di balik jubah berwarna biru cerah yang jatuh lembut hingga menyapu tepi kursi, seakan air yang tenang menggenang di sana. Cahaya pagi yang hangat menyelinap masuk melalui jendela sayap timur, menyinari meja kayu gelap tempat kuasku bergerak perlahan dan mantap di atas kertas. Tak ada suara gaduh, tak ada tatapan menilai. Hanya aku, tinta yang menetes, dan kesunyian yang damai di sekelilingku. Di sini tak ada siapa-siapa yang berani datang. Tak ada Xiwu yang melangkah angkuh masuk tanpa ketuk pintu, tak ada tatapan menyelidik milik Chuntao. Hanya goresan kuas yang halus dan suara samar kehidupan istana yang teredam di balik tembok tebal. Tiba-tiba ketukan pelan terdengar di pintu. "Nyonya Lianhua?" Seorang pelayan muda yang jarang terlihat di bagian dalam mengintip dengan ragu, kedua tangannya memeluk nampan kayu yang dipernis rapi. "Ada pesanan yang dikirimkan langsung dari Aula Besar." Aku me
Bab 149 Aku tertawa pelan, suara itu bergetar hangat di dadaku saat aku membiarkan tubuhnya menekan lembut ke arahku. Aku tak menarik diri. Sebaliknya, aku justru bersandar nyaman di tumpukan bantal empuk, membiarkannya menempel padanya seakan waktu di dunia ini berhenti hanya untuk kami berdua. "Kau wanita yang sungguh berbahaya..." gumamku lembut, jemariku perlahan menelusuri lengkungan halus di sepanjang lengannya yang telanjang. "Pria sepertiku seharusnya tak mudah tergoyahkan hanya oleh satu kata, satu sentuhan, atau satu senyuman darimu." Aku menunduk mencium puncak rambutnya yang harum, memejamkan mata sejenak menyerap kehangatan ini. Beban takhta, tuntutan para menteri, permainan politik yang tak ada habisnya... semuanya terasa begitu jauh, tak berarti, dan tak sanggup menyentuh kedamaian yang ada di ruangan ini. "Baiklah..." akuku pelan sambil merangkulnya lebih erat. "Beberapa saat lagi. Tapi jangan salahkan aku jika akhirnya aku mem
Bab 148 Aku mengerang pelan di sela napasku yang terengah, lalu menjawab dengan suara yang lembut namun teguh. "Ya... begitulah adanya." Tanganku perlahan merambat lembut di punggungnya, seakan ingin memeluknya sepenuhnya ke dalam diriku. Setiap kata dan setiap sentuhanku seakan menembus jauh ke dalam hatinya. Hongwu mendekat hingga tubuh kami menyatu sepenuhnya, tak tersisa jarak sedikit pun di antara kulit kami yang saling bersentuhan. "Kau sungguh luar biasa..." suaranya terdengar berat dan serak saat ia membenamkan wajahnya di lekuk leherku yang peka. Tangannya bergerak selaras dengan gerak tanganku, telapak tangannya yang lebar dan hangat menempel erat di punggungku, menarikku semakin rapat hingga kain sutra di bawah tubuh kami terlipat berkerut. Irama di antara kami perlahan semakin mendesak, semakin penuh rasa rindu yang tak tertahankan. Setiap sentuhan terasa seperti pengakuan yang tak terucapkan, setiap tarikan napas adalah rahasia ya
Bab 147 Hongwu mendengar suara lembut yang lolos dari bibirku, dan seketika seakan segala kendali yang tersisa di dalam dirinya runtuh sepenuhnya. Ia sedikit menjauh agar dapat menatap wajahku lekat-lekat. Matanya yang pekat tampak berkilauan tak menentu, dadanya naik turun berat seiring napasnya yang memburu tak beraturan. "Kau tak pernah menyadari..." suaranya terdengar begitu serak dan berat, "...apa yang sesungguhnya kaulakukan kepadaku." Ia menggeser posisinya, menekan tubuhnya sedikit lebih erat menempel pada tubuhku. Tangannya kembali melingkar dari sela rambutku hingga turun ke pinggangku, jari-jarinya meremas lembut namun penuh kepemilikan seakan sedang berusaha menambatkan dirinya agar tak pernah terpisah dariku. Bibirnya kembali turun menyapu lembut kulit tepat di belakang telingaku yang paling peka, napasnya hangat dan berdesir di sana. "Empat tahun lamanya..." bisiknya pelan di kulitku yang seketika terasa membara, "...empat tahun
Bab 146 Hongwu mengeluarkan suara rendah penuh kepuasan saat ia merasakan jemariku menyisir rambut hitamnya yang tebal. Sentuhanku seakan meruntuhkan pertahanan terakhir yang ia bangun begitu rapat selama bertahun-tahun. Tangannya melingkar semakin erat di pinggangku, menarikku menempel padanya seakan ingin menyatukan tubuh kita menjadi satu. Ciumannya perlahan berubah — dari lembut dan penasaran menjadi sesuatu yang jauh lebih mendesak, penuh kerinduan yang nyaris putus asa. Bibirnya menyusuri lembut garis bibirku, dan saat aku perlahan membukanya menyambutnya, ia membalasnya dengan rasa lapar yang begitu dalam hingga membuat seluruh tubuhku terasa lemas dan bergetar hebat. Ia sedikit menjauh sejenak, napasnya memburu dan terasa hangat menyapu pipiku yang memerah. "Kau... kau jauh lebih berbahaya daripada buku apa pun yang pernah ada..." suaranya terdengar serak, nyaris tak kukenali lagi. Tangannya meluncur lembut dari punggungku kembali ke p
Bab 145 Aku tersenyum lembut menatapnya. "Aku sungguh bersyukur mendengarnya." Hongwu mengembuskan napas panjang, seakan melepaskan segala beban yang selama bertahun-tahun ia tahan sendirian. Ketegangan yang selalu mengeras di rahangnya perlahan luruh, dan untuk sejenak, ia hanya menatapku lekat-lekat — benar-benar menatapku tanpa topeng kekuasaan sedikit pun. "Kau memang seharusnya begitu..." ucapnya pelan, senyum tulus yang tak pernah dilihat siapa pun kini tersungging lembut di sudut bibirnya. Senyum yang begitu sederhana namun hangat, seakan pemuda yang baru pertama kali jatuh cinta, bukan penguasa yang pulang dari medan perang yang penuh darah. Tangannya perlahan turun dari leherku, menyentuh pipiku lembut sebelum menyisir sehelai rambut ke belakang telingaku. "Di istana ini, hampir semua orang hanya berkata apa yang ingin kudengar..." gumamnya pelan. "Namun kau selalu berkata apa yang sungguh kau pikirkan. Dan sejujurnya... aku







