ログインBab 6
"Ya, saya yakin Yang Mulia pasti akan mampu melihat siapa diri saya yang sebenarnya," ucapku sambil menatapnya dan tersenyum lembut namun penuh keyakinan. Tatapan Hongwu perlahan melunak saat ia memperhatikan senyumku itu—senyum yang tak lagi menyembunyikan rasa takut atau keraguan, melainkan kepercayaan yang tulus. Cahaya hangat yang sangat jarang terlihat kini menyelinap masuk ke dalam manik matanya yang biasanya gelap dan tajam. "Kau memiliki kepercayaan yang jauh lebih besar padaku daripada yang pantas kuterima," akunya pelan, lalu tangannya terulur perlahan untuk menangkup wajahku dengan lembut, seolah aku adalah bunga paling rapuh yang tak boleh rusak sedikit pun. "Kebanyakan orang di istana ini hanya melihat apa yang ingin mereka lihat: kekuasaan mutlak, kekayaan yang tak terhingga, kedudukan yang tak tertandingi. Namun kau... kau melihat sesuatu yang lain di dalam diriku, bukan? Sesuatu yang berada di luar jubah Kaisar dan pedang penakluk itu." Ia terdiam sejenak, mencari kata-kata yang paling tepat untuk menggambarkan apa yang ia rasakan saat ini. "Kau melihat pria di balik semua itu, bukan?" tanyanya lagi pelan. Ibu jarinya bergerak menyentuh pipiku, menyeka jejak terakhir air mata yang masih tersisa di sana. Amarah yang sempat memuncak sesaat sebelumnya tampak mencair sepenuhnya, digantikan oleh rasa ingin tahu yang tenang dan kelembutan yang tak pernah ia tunjukkan kepada siapa pun. "Katakan padaku, Lianhua," ucapnya lembut, suaranya kini benar-benar kehilangan nada keunggulan dan kekuasaan yang biasa terdengar. "Apa yang kau lihat saat kau menatapku? Bukan Kaisar yang memerintah ribuan wilayah, bukan panglima perang yang menaklukkan musuh. Hanya... aku." Pertahanan diri yang biasanya teguh dan tak tersentuh milik Hongwu tampak runtuh seketika di hadapan ketulusan dan kepercayaan yang tak tergoyahkan yang kuberikan. Di saat ini, ia bukan lagi penguasa yang terpisah dari rakyatnya, melainkan seorang pria yang lelah dipuja hanya karena kedudukannya, dan sedang mencari seseorang yang benar-benar memahami dirinya apa adanya. "Jika saya mengatakannya, apa yang akan saya peroleh dari Yang Mulia?" tanyaku pelan, sambil membiarkan ujung jariku bergerak perlahan menelusuri pola sulaman halus di bagian depan jubahnya yang menutupi dadanya. Napas Hongwu sedikit tersendat merasakan sentuhan jariku yang lembut namun pasti. Aku bisa merasakan detak jantungnya yang kuat berpacu di bawah telapak tanganku, bergerak seirama dengan setiap gerakanku. Ia menatapku lekat-lekat, matanya perlahan menggelap oleh campuran rasa tertarik yang mendalam dan sesuatu yang jauh lebih berharga: kerinduan akan hubungan yang tulus, tanpa kepura-puraan atau kepentingan tersembunyi. "Jika kau berani menceritakan apa yang benar-benar kau lihat," katanya, suaranya menjadi rendah dan sedikit serak, "aku akan memberimu apa pun yang kau inginkan. Tak ada batasnya." Tangannya naik perlahan untuk menutupi tanganku di dadanya, menekannya lembut namun erat agar tetap berada di sana. "Apa pun," ulangnya dengan tegas, seolah menegaskan bahwa janji itu adalah hukum mutlak yang tak akan ia ingkari. "Kekuasaan, harta yang melimpah, kedudukan yang setara dengan siapa pun di istana ini... atau sesuatu yang jauh lebih pribadi, yang tak bisa dibeli dengan emas atau permata." Ia mencondongkan tubuhnya lebih dekat, hingga wajah kami kini hanya berjarak beberapa inci. Aku bisa merasakan hembusan napas hangatnya menyentuh kulit wajahku. "Kau telah membuktikan bahwa kau mampu melihat melampaui topeng Kaisar dan penakluk yang kupakai selama ini," bisiknya pelan. "Sekarang izinkan aku juga melihat melampaui sosok selir yang selalu bersembunyi di sudut taman itu. Izinkan aku mengenal Lianhua yang sesungguhnya." "Yang Mulia tampan, dan merupakan penguasa terkuat di seluruh benua ini," ucapku pelan sambil membiarkan tanganku meluncur perlahan ke bawah, menyusuri bidang keras dan tegap perutnya yang terasa kuat meski tertutup kain sutra tebal. Napas Hongwu tersangkut di tenggorokannya. Sentuhan itu terasa seperti aliran listrik hangat yang menyebar ke seluruh tubuhnya, membuatnya menahan napas sejenak. Matanya kini semakin gelap, namun di balik tatapan yang penuh rasa tertarik itu masih terselip kerentanan yang sangat jarang ia biarkan dilihat orang lain. "Tampan?" ulangnya pelan dengan senyum kecil yang mulai terukir di bibirnya. "Aku sudah disebut begitu banyak hal sepanjang hidupku: ditakuti, dihormati, disembah, bahkan dibenci. Namun tak ada satu pun orang yang berani atau bahkan terpikir untuk memanggilku tampan." Tangannya kembali menekan telapak tanganku lebih erat ke perutnya, seolah tak ingin aku menjauh sedikit pun. "Kau benar-benar memiliki cara berbicara yang mampu membelah semua lapisan topeng yang kususun rapi selama ini," akunya lembut. "Kau melihat apa yang tak dilihat orang lain, dan kau berani mengatakannya tanpa rasa takut sedikit pun." Hongwu membungkuk perlahan hingga bibir kami hampir bersentuhan, hembusan napasnya yang hangat menyentuh lembut bibirku. "Ceritakan lebih banyak," bisiknya tepat di bibirku. "Aku ingin mendengar semuanya." "Satu hal yang kukatakan, berarti satu hadiah untukku," jawabku dengan senyum manis namun penuh arti. Bibir Hongwu melengkung membentuk senyum lebar yang tampak sangat menghargai cara tawar-menawarku yang tenang namun cerdik. "Hadiah, katamu?" suaranya terdengar seperti gemuruh rendah yang menyenangkan di telingaku. "Ternyata kau sudah pandai bernegosiasi dengan seorang Kaisar, ya?" Ia menegakkan tubuh sedikit, namun tangannya tetap melingkar kuat di pinggangku, memelukku erat seolah tak ingin aku pergi ke mana pun. "Baiklah," katanya sambil tertawa pelan, tawanya yang sungguh-sungguh terdengar begitu langka namun menyenangkan. "Katakan padaku apa yang kau inginkan sebagai hadiah pertamamu untuk pengamatan yang begitu berharga itu." Ibu jarinya bergerak perlahan menelusuri lekuk pinggangku melalui kain hanfu yang kugenakan. "Tapi berhati-hatilah, Lianhua. Aku tak dikenal sebagai orang yang pelit jika aku sudah merasa senang dan puas," tambahnya dengan tatapan yang kembali menatap lekat bibirku. Ekspresinya perlahan berubah dari sekadar geli menjadi sesuatu yang jauh lebih dalam, lebih hangat, dan penuh harap. Cahaya lentera yang redup menciptakan bayangan halus di wajahnya, menonjolkan garis rahangnya yang tegas dan sorot matanya yang kini tak lagi menyembunyikan perasaannya. "Jangan membuatku menunggu terlalu lama," bisiknya lagi sambil kembali mencondongkan tubuhnya. "Aku ingin tahu apa lagi yang telah kau perhatikan tentangku selama empat tahun ini, hal-hal yang tak pernah terlintas di pikiran orang lain." "Istana tempat tinggalku sangat sederhana sekali dibandingkan dengan kediaman selir lain, Yang Mulia," ucapku tenang sambil menatap lurus ke manik matanya. "Hadiah pertama yang kuminta hanyalah agar Yang Mulia melengkapi perlengkapan di Istana Bunga, dan memberikan upah yang layak serta kebutuhan yang cukup bagi para pelayan yang telah setia menemaniku selama ini." Aku menarik napas sejenak sebelum melanjutkan dengan jujur: "Alasan aku meminta hal ini adalah karena selama bertahun-tahun ini, kami tak pernah mendapatkan pasokan resmi dari perbendaharaan istana. Uang dan persediaan pribadiku pun kini hampir habis sama sekali." Ekspresi wajah Hongwu perlahan berubah dari tatapan penuh rasa tertarik menjadi sesuatu yang jauh lebih serius. Alisnya berkerut dalam saat ia mencerna setiap kata yang kukatakan. Perlahan ia melepaskan pelukanku dan mundur selangkah, lalu menyisir rambutnya dengan gerakan yang penuh kekesalan. "Perbendaharaanmu kosong dan kau kekurangan kebutuhan selama ini?" suaranya terdengar penuh ketidakpercayaan sekaligus amarah yang kembali menyala pelan. "Xiwu... wanita itu membiarkanmu kekurangan pangan dan kebutuhan, sementara di saat yang sama ia meyakinkanku bahwa kau hidup nyaman dan terpenuhi segala keinginanmu?" Ia berjalan cepat menuju meja tempat anggur disiapkan, menuangkan cairan itu dengan gerakan yang tajam dan penuh kemarahan yang tertahan. "Tentu saja aku akan memperbaiki kesalahan ini sepenuhnya," ucapnya tegas, lalu meletakkan botol anggur di meja dengan bunyi yang nyaring dan menandakan keputusan yang tak bisa diubah. "Kau tak seharusnya pernah dibiarkan hidup dalam kekurangan sedikit pun di istanaku sendiri." Ia berbalik kembali menghadapku, dan kini matanya memancarkan ketegasan sekaligus rasa perlindungan yang kuat—bukan lagi sekadar rasa tertarik semata. "Besok pagi-pagi sekali," katanya mantap, "aku akan memerintahkan kepala perbendaharaan untuk mengirimkan emas, kain sutra, bahan makanan, dan perlengkapan yang cukup untuk memenuhi gudang Istana Bunga hingga sepuluh kali lipat dari yang seharusnya. Para pelayanmu akan dibayar tiga kali lipat upah biasa, dan mereka akan mendapatkan jatah pakaian serta makanan yang sama dengan pelayan di kediaman Selir Agung sekalipun." Hongwu kembali melangkah mendekatiku dengan langkah yang mantap dan penuh wibawa yang perlahan pulih, namun kini wibawa itu bukan lagi untuk menakutiku, melainkan untuk melindungiku.Bagian 1 Matahari baru saja merayap naik di atas atap istana Utara, menyinari halaman Sayap Timur dengan cahaya keemasan yang lembut dan hangat. Udara pagi terasa segar, beraroma bunga melati yang tumbuh subur di sepanjang pagar kayu — tanaman yang kubawa dari Selatan, yang kini berakar kuat di tanah Utara, seolah tak pernah berpindah tempat sama sekali. Embun masih menetes dari ujung daun, jatuh perlahan ke tanah basah, menciptakan bunyi halus yang menenangkan di tengah keheningan pagi.Aku duduk di meja kayu rendah di beranda, sedang menyeduh teh melati. Uap panas mengepul perlahan, membawa harum yang lembut dan menenangkan. Tangan yang tadi menyiram bunga masih sedikit basah, dan ujung rambutku yang terurai terkena embun pagi yang dingin namun menyegarkan. Tidak ada pelayan yang berdiri di sudut ruangan. Tidak ada utusan yang berjalan bergegas. Hanya aku, cangkir teh yang mengepul, dan dunia yang perlahan terbangun dalam keheningan yang damai.Belum lama, pintu terbuka pelan. Hong
Cerita Sampingan 2 — Story 4: Warisan yang Tak Pernah Pudar Bagian 1: Musim Gugur yang Penuh Kenangan Waktu berlalu bagaikan sungai yang tenang, membawa musim demi musim tanpa henti. Tiga puluh tahun telah berlalu sejak hari gempa besar itu — tiga puluh tahun di mana tidak ada pedang yang terhunus, tidak ada tembok yang dibangun, dan tidak ada satu pun orang yang mati karena perang atau perselisihan antar-wilayah. Dua kekaisaran yang dulu saling bermusuhan kini telah menyatu sepenuhnya, menjadi satu negeri yang luas, makmur, dan damai — tempat di mana bunga melati tumbuh di setiap halaman rumah, dan nama Lianhua serta Hongwu diucapkan dengan rasa hormat dan kasih sayang oleh jutaan orang. Namun waktu tidak berhenti untuk siapa pun. Rambutku kini memutih sepenuhnya, kerutan melukis wajahku seperti peta perjalanan panjang yang telah kutempuh. Hongwu juga demikian — tubuhnya masih tegap, namun langkahnya lebih pelan, dan matanya yang dulu tajam kini penuh kelembutan dan kedamaian. K
Cerita Sampingan 2 — Story 3: Di Bawah Langit yang SamaBagian 1: Kabar yang Menggetarkan Dua NegeriSetelah musim kemarau yang berat itu berlalu, dua kekaisaran yang bersatu tampak semakin kuat. Sawah kembali hijau, sungai mengalir jernih, dan di setiap perbatasan berdiri taman-taman bunga melati yang menjadi lambang perdamaian. Namun takdir selalu punya cara untuk menguji keteguhan hati manusia.Suatu musim semi, saat bunga-bunga bermekaran paling indah, utusan datang bergegas dari wilayah paling selatan — wilayah yang berbatasan dengan hutan belantara dan pegunungan tinggi. Wajah utusan itu pucat, napasnya memburu, dan di tangannya memegang laporan yang disegel dengan tinta merah — tanda bahaya paling mendesak.Hongwu membuka laporan itu di ruang kerja Sayap Timur. Semakin lama ia membaca, semakin dalam kerutan di dahinya. Aku berdiri di sampingnya, dan saat ia menyerahkan kertas itu, tangannya sedikit gemetar."Gempa bumi besar," katanya pelan, namun kata-katanya terasa berat sepe
Cerita Sampingan 2 — Story 2: Cahaya yang Menembus KabutBagian 1: Musim Kemarau yang Tak Kunjung UsaiTiga tahun telah berlalu sejak perjalanan kami ke Selatan — hari di mana Xiao Yu dengan polosnya berkata bahwa ia punya “dua rumah, tapi satu hati”. Kata-kata itu kini menjadi nyata dalam setiap sendi kehidupan dua kekaisaran yang bersatu. Perdagangan mengalir bebas, jalan-jalan diperlebar, sekolah-sekolah dibangun di perbatasan, dan setiap musim panen dirayakan bersama-sama, tanpa melihat dari mana asal seseorang. Namun takdir sering kali menguji kebahagiaan yang paling utuh sekalipun.Musim kemarau tahun itu datang lebih awal dan lebih ganas dari yang pernah ada. Bulan demi bulan berlalu tanpa setetes pun hujan turun. Sungai yang biasanya jernih dan deras perlahan menyusut, memperlihatkan bebatuan di dasarnya yang retak dan kering. Sawah-sawah hijau berubah menjadi kuning cokelat, lalu menjadi debu yang beterbangan saat angin bertiup. Waduk yang dulu mampu menampung air untuk satu
Cerita Sampingan 2 — Story 1: Jejak Kecil di Dua NegeriTahun-tahun berlalu bagaikan air sungai yang mengalir tenang, membawa serta musim demi musim yang penuh kehangatan. Xiao Yu kini berusia tujuh tahun — anak laki-laki yang cerah, berani, dan selalu penuh rasa ingin tahu. Matanya yang gelap sering kali menatap jauh ke luar jendela, seakan ada sesuatu yang memanggilnya dari kejauhan.Suatu pagi, saat kami sedang sarapan bersama di beranda Sayap Timur, Xiao Yu tiba-tiba meletakkan sendoknya dan menatap kami berdua dengan tatapan serius yang lucu."Ibu, Ayah," katanya dengan suara yang berusaha terdengar dewasa. "Kemarin Kakek Lian Cheng bercerita tentang rumahnya di Selatan. Tentang sungai yang airnya jernih seperti giok, dan gunung yang selalu tertutup kabut putih. Bisakah kita pergi ke sana? Aku ingin melihatnya sendiri."Hongwu menatapku, lalu tersenyum lebar — senyum yang kini selalu menghiasi wajahnya. "Kenapa tidak? Dulu perjalanan itu penuh bahaya dan penjagaan ketat. Sekarang
Cerita Sampingan 4: Kembalinya Cahaya di Balik KabutDua puluh tahun telah berlalu sejak hari perdamaian itu ditandatangani. Dua puluh tahun di mana tidak ada pedang yang terhunus, tidak ada pesan rahasia yang dikirim di tengah malam, dan tidak ada lagi anak-anak yang tumbuh di bawah bayang-bayang perang. Xiao Yu kini telah resmi menjadi Kaisar — bukan Kaisar Utara maupun Selatan, melainkan Kaisar dari Kekaisaran Bersatu, sebuah negeri yang membentang dari pegunungan utara hingga pantai selatan, di mana bendera bunga melati berkibar di setiap menara kota.Aku dan Hongwu kini hidup sederhana di Sayap Timur — bukan lagi sebagai penguasa yang memegang kendali pemerintahan, melainkan sebagai orang tua yang bangga melihat buah perjuangan mereka tumbuh menjadi pohon yang menaungi jutaan orang. Rambut kami mulai memutih, kerutan muncul di wajah kami, namun di mata kami berdua, cahaya itu tidak pernah pudar — cahaya ketenangan yang tak ternilai harganya.Surat dari PegununganSuatu pagi musim







