Beranda / Romansa / Selir Yang Terlupakan / Pelukan Yang Mengikis Dinding Kekuasaan

Share

Pelukan Yang Mengikis Dinding Kekuasaan

Penulis: Melati Lu
last update Tanggal publikasi: 2026-07-07 17:53:16

Bab 7

"Terima kasih banyak, Yang Mulia," ucapku dengan suara yang penuh ketulusan, lalu tanpa ragu sedikit pun aku melangkah maju dan memeluk tubuhnya erat-erat. "Yang Mulia sungguh dermawan hati. Tak ada kata yang pantas untuk mengungkapkan rasa syukurku."

Tubuh tegap Hongwu seketika menegang kaku di pelukanku, seolah ia sama sekali tak menyangka akan keberanianku yang tiba-tiba itu. Selama bertahun-tahun, tak ada satu pun orang—baik selir, pejabat, maupun keluarganya sendiri—yang berani memeluknya dengan cara begitu: tanpa rasa takut, tanpa pamrih tersembunyi, dan hanya murni karena rasa terima kasih. Namun kekakuan itu tak berlangsung lama. Perlahan namun pasti, lengannya yang besar dan kuat terangkat, lalu melingkar di punggungku dengan kehati-hatian yang luar biasa, membalas pelukanku semakin erat seolah ia tak ingin lagi membiarkanku merasa terasing di istananya sendiri.

"Sama-sama," gumamnya pelan, suaranya teredam di sela rambutku, terdengar jauh lebih lembut dan manusiawi daripada nada berwibawa yang biasa ia gunakan saat memerintah atau berbicara dengan orang lain. "Sebenarnya... aku seharusnya sudah memastikan kenyamanan, keamanan, dan kelayakan hidupmu sejak empat tahun lalu saat kau pertama kali masuk ke istana ini. Bukan menunggu sampai kau sendiri yang mengatakannya, bukan menunggu sampai kau nyaris kehabisan segala hal karena kelalaianku sendiri."

Ia perlahan sedikit melepaskan pelukan itu, namun tangannya tetap bertumpu lembut di bahuku, seolah takut jika ia melepaskanku sepenuhnya aku akan kembali menjauh seperti dulu. Ia menatap wajahku lekat-lekat, matanya meneliti setiap perubahan ekspresiku—terutama bagaimana mataku kini bersinar terang penuh rasa syukur dan penghargaan yang sungguh-sungguh. Pemandangan itu begitu kontras dengan tatapan yang biasa ia lihat sehari-hari: tatapan penuh rasa takut, kepura-puraan, perhitungan keuntungan, atau sekadar rasa hormat yang kaku dan berjarak.

"Kau pantas mendapatkan yang jauh lebih baik daripada apa yang selama ini diberikan padamu," ucapnya pelan, sementara ibu jarinya bergerak perlahan menyentuh tulang pipiku, mengusapnya dengan lembut. "Jauh lebih baik daripada kebohongan yang disampaikan Xiwu padaku selama ini, yang membuatku percaya bahwa kau hidup berkecukupan dan tak membutuhkan perhatianku, padahal kau justru dibiarkan menderita dalam kekurangan."

"Terima kasih, Yang Mulia," ulangku lagi, kali ini dengan senyum manis yang merekah lebar di bibirku—senyum yang tak lagi tertahan, tak lagi disembunyikan di balik sikap rendah hati yang berlebihan.

Hongwu menatap senyumku itu dalam-dalam, dan untuk waktu yang cukup lama Kaisar yang dikenal paling tegas, dingin, dan menakutkan di seluruh benua ini tampak bungkam tak mampu berkata-kata. Cahaya hangat yang terpancar dari wajahku seolah menembus lapisan demi lapisan pertahanan diri dan "baju besi" yang telah ia kenakan selama puluhan tahun—baik baju besi baja yang ia pakai di medan perang, maupun dinding pertahanan hati yang ia bangun tinggi-tinggi agar tak mudah terluka oleh orang-orang di sekitarnya.

"Berhentilah tersenyum seperti itu," katanya pelan, meski tak ada nada kemarahan atau ancaman sedikit pun dalam ucapannya. Bahkan aku bisa melihat rona merah samar mulai merayap naik dari lehernya hingga ke sudut pipinya yang biasanya pucat karena sering berada di bawah terik matahari medan perang. "Kau akan membuatku lupa seketika bahwa aku seharusnya menjadi penguasa yang berwibawa, tegas, dan patut ditakuti oleh semua orang."

Ia mengulurkan tangannya ke arah wajahku, sempat tampak ragu sejenak seolah takut sentuhannya akan kasar atau menyakitiku, sebelum akhirnya dengan sangat hati-hati ia menyelipkan seikat rambutku yang berantakan tertiup angin malam ke belakang telinga. Sentuhannya begitu halus, begitu lembut—hal yang tak pernah kubayangkan akan dilakukan oleh seorang pria yang menghabiskan dua tahun terakhirnya memegang gagang pedang, berjalan di tanah berlumpur, dan memimpin ribuan pasukan di medan perang yang berdarah.

"Maksudku, Lianhua," lanjutnya perlahan, nada bicaranya perlahan berubah menjadi lebih serius dan tegas, seolah sedang membuat janji mutlak yang tak akan pernah ia ingkari. "Mulai detik ini, tak ada satu pun orang di istana ini—baik itu selir, pejabat, kepala pelayan, maupun penjaga—yang berani menyakitimu, meremehkanmu, menahan hak-hakmu, atau bahkan sekadar mengabaikan keberadaanmu. Dan Xiwu... ia harus mempertanggungjawabkan setiap hari, setiap jam, dan setiap detik yang kau lalui dalam kesendirian serta kekurangan yang tak pantas kau terima di istanaku sendiri."

Ia mencondongkan tubuhnya lebih dekat lagi, hingga kami berdiri berhadapan sangat dekat. Tatapannya terkunci lekat pada mataku, penuh dengan keteguhan, ketulusan, dan rasa perlindungan yang tak tergoyahkan.

"Apakah kita hanya akan berdiri dan berbicara sepanjang malam ini, Yang Mulia?" tanyaku pelan dengan suara yang lembut, sementara tanganku perlahan bergerak naik menyentuh bahunya yang tegap dan berotot, bekas kekuatan yang ia bangun selama berperang.

Tatapan Hongwu perlahan menggelap seketika saat merasakan sentuhan jariku di bahunya. Ia tak menarik diri sedikit pun, tak berusaha menjaga jarak lagi seperti biasanya. Namun postur tubuhnya berubah seketika: kelonggaran dan kehati-hatian yang tadi tampak jelas berganti dengan ketegangan yang penuh makna, seolah ia baru saja menerima undangan yang sangat jelas dan sudah lama ia tunggu-tunggu.

"Kita takkan hanya berbicara," jawabnya, suaranya merendah menjadi gemuruh rendah yang bergetar halus di dadanya, terdengar penuh harap sekaligus ketidaksabaran yang masih ia kendalikan dengan baik.

Ia mengulurkan tangannya, menindih tanganku yang berada di bahunya dengan tangannya sendiri, menekannya lembut namun erat seolah tak ingin aku menariknya kembali. Matanya menatapku dalam, penuh perhatian dan tak berniat beralih ke mana pun.

"Aku menghabiskan dua tahun di kamp perang yang dingin, di parit berdebu, dan di tanah yang berlumuran darah," bisiknya dengan suara yang semakin mendekat. "Selama itu aku hampir tak pernah merasakan kehangatan, kelembutan, atau kedamaian seperti yang kurasakan saat ini. Maka malam ini... aku tak memiliki kesabaran untuk percakapan yang berlarut-larut tanpa akhir."

Tangan lainnya melingkar erat di pinggangku, menarikku perlahan mendekat hingga tak ada lagi jarak yang tersisa di antara tubuh kami. Aroma melati yang halus dari rambutku perlahan bercampur dengan wangi samar besi pedang, debu hutan, dan kayu cendana yang menempel di jubah sutranya—bau yang khas, wangi seorang Kaisar yang juga seorang prajurit.

"Malam ini masih sangat panjang, Lianhua," gumamnya pelan, wajahnya semakin mendekat hingga bibirnya melayang hanya beberapa inci dari bibirku, hembusan napas hangatnya menyentuh lembut kulit wajahku.

"Kalau begitu, biarkan aku menemani Yang Mulia agar tak merasa sepi lagi," bisikku sebagai jawaban, lalu perlahan aku mendekatkan wajahku hingga bibirku menyentuh bibirnya dengan lembut dan penuh ketulusan.

 

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Selir Yang Terlupakan   Waktu Yang Hanya Milik Kita Berdua

    Bagian 1 Matahari baru saja merayap naik di atas atap istana Utara, menyinari halaman Sayap Timur dengan cahaya keemasan yang lembut dan hangat. Udara pagi terasa segar, beraroma bunga melati yang tumbuh subur di sepanjang pagar kayu — tanaman yang kubawa dari Selatan, yang kini berakar kuat di tanah Utara, seolah tak pernah berpindah tempat sama sekali. Embun masih menetes dari ujung daun, jatuh perlahan ke tanah basah, menciptakan bunyi halus yang menenangkan di tengah keheningan pagi.Aku duduk di meja kayu rendah di beranda, sedang menyeduh teh melati. Uap panas mengepul perlahan, membawa harum yang lembut dan menenangkan. Tangan yang tadi menyiram bunga masih sedikit basah, dan ujung rambutku yang terurai terkena embun pagi yang dingin namun menyegarkan. Tidak ada pelayan yang berdiri di sudut ruangan. Tidak ada utusan yang berjalan bergegas. Hanya aku, cangkir teh yang mengepul, dan dunia yang perlahan terbangun dalam keheningan yang damai.Belum lama, pintu terbuka pelan. Hong

  • Selir Yang Terlupakan   Story S2 - 4

    Cerita Sampingan 2 — Story 4: Warisan yang Tak Pernah Pudar Bagian 1: Musim Gugur yang Penuh Kenangan Waktu berlalu bagaikan sungai yang tenang, membawa musim demi musim tanpa henti. Tiga puluh tahun telah berlalu sejak hari gempa besar itu — tiga puluh tahun di mana tidak ada pedang yang terhunus, tidak ada tembok yang dibangun, dan tidak ada satu pun orang yang mati karena perang atau perselisihan antar-wilayah. Dua kekaisaran yang dulu saling bermusuhan kini telah menyatu sepenuhnya, menjadi satu negeri yang luas, makmur, dan damai — tempat di mana bunga melati tumbuh di setiap halaman rumah, dan nama Lianhua serta Hongwu diucapkan dengan rasa hormat dan kasih sayang oleh jutaan orang. Namun waktu tidak berhenti untuk siapa pun. Rambutku kini memutih sepenuhnya, kerutan melukis wajahku seperti peta perjalanan panjang yang telah kutempuh. Hongwu juga demikian — tubuhnya masih tegap, namun langkahnya lebih pelan, dan matanya yang dulu tajam kini penuh kelembutan dan kedamaian. K

  • Selir Yang Terlupakan   Story S2 - 3

    Cerita Sampingan 2 — Story 3: Di Bawah Langit yang SamaBagian 1: Kabar yang Menggetarkan Dua NegeriSetelah musim kemarau yang berat itu berlalu, dua kekaisaran yang bersatu tampak semakin kuat. Sawah kembali hijau, sungai mengalir jernih, dan di setiap perbatasan berdiri taman-taman bunga melati yang menjadi lambang perdamaian. Namun takdir selalu punya cara untuk menguji keteguhan hati manusia.Suatu musim semi, saat bunga-bunga bermekaran paling indah, utusan datang bergegas dari wilayah paling selatan — wilayah yang berbatasan dengan hutan belantara dan pegunungan tinggi. Wajah utusan itu pucat, napasnya memburu, dan di tangannya memegang laporan yang disegel dengan tinta merah — tanda bahaya paling mendesak.Hongwu membuka laporan itu di ruang kerja Sayap Timur. Semakin lama ia membaca, semakin dalam kerutan di dahinya. Aku berdiri di sampingnya, dan saat ia menyerahkan kertas itu, tangannya sedikit gemetar."Gempa bumi besar," katanya pelan, namun kata-katanya terasa berat sepe

  • Selir Yang Terlupakan   Story S2- 2

    Cerita Sampingan 2 — Story 2: Cahaya yang Menembus KabutBagian 1: Musim Kemarau yang Tak Kunjung UsaiTiga tahun telah berlalu sejak perjalanan kami ke Selatan — hari di mana Xiao Yu dengan polosnya berkata bahwa ia punya “dua rumah, tapi satu hati”. Kata-kata itu kini menjadi nyata dalam setiap sendi kehidupan dua kekaisaran yang bersatu. Perdagangan mengalir bebas, jalan-jalan diperlebar, sekolah-sekolah dibangun di perbatasan, dan setiap musim panen dirayakan bersama-sama, tanpa melihat dari mana asal seseorang. Namun takdir sering kali menguji kebahagiaan yang paling utuh sekalipun.Musim kemarau tahun itu datang lebih awal dan lebih ganas dari yang pernah ada. Bulan demi bulan berlalu tanpa setetes pun hujan turun. Sungai yang biasanya jernih dan deras perlahan menyusut, memperlihatkan bebatuan di dasarnya yang retak dan kering. Sawah-sawah hijau berubah menjadi kuning cokelat, lalu menjadi debu yang beterbangan saat angin bertiup. Waduk yang dulu mampu menampung air untuk satu

  • Selir Yang Terlupakan   Story S2 - 1

    Cerita Sampingan 2 — Story 1: Jejak Kecil di Dua NegeriTahun-tahun berlalu bagaikan air sungai yang mengalir tenang, membawa serta musim demi musim yang penuh kehangatan. Xiao Yu kini berusia tujuh tahun — anak laki-laki yang cerah, berani, dan selalu penuh rasa ingin tahu. Matanya yang gelap sering kali menatap jauh ke luar jendela, seakan ada sesuatu yang memanggilnya dari kejauhan.Suatu pagi, saat kami sedang sarapan bersama di beranda Sayap Timur, Xiao Yu tiba-tiba meletakkan sendoknya dan menatap kami berdua dengan tatapan serius yang lucu."Ibu, Ayah," katanya dengan suara yang berusaha terdengar dewasa. "Kemarin Kakek Lian Cheng bercerita tentang rumahnya di Selatan. Tentang sungai yang airnya jernih seperti giok, dan gunung yang selalu tertutup kabut putih. Bisakah kita pergi ke sana? Aku ingin melihatnya sendiri."Hongwu menatapku, lalu tersenyum lebar — senyum yang kini selalu menghiasi wajahnya. "Kenapa tidak? Dulu perjalanan itu penuh bahaya dan penjagaan ketat. Sekarang

  • Selir Yang Terlupakan   Story 4

    Cerita Sampingan 4: Kembalinya Cahaya di Balik KabutDua puluh tahun telah berlalu sejak hari perdamaian itu ditandatangani. Dua puluh tahun di mana tidak ada pedang yang terhunus, tidak ada pesan rahasia yang dikirim di tengah malam, dan tidak ada lagi anak-anak yang tumbuh di bawah bayang-bayang perang. Xiao Yu kini telah resmi menjadi Kaisar — bukan Kaisar Utara maupun Selatan, melainkan Kaisar dari Kekaisaran Bersatu, sebuah negeri yang membentang dari pegunungan utara hingga pantai selatan, di mana bendera bunga melati berkibar di setiap menara kota.Aku dan Hongwu kini hidup sederhana di Sayap Timur — bukan lagi sebagai penguasa yang memegang kendali pemerintahan, melainkan sebagai orang tua yang bangga melihat buah perjuangan mereka tumbuh menjadi pohon yang menaungi jutaan orang. Rambut kami mulai memutih, kerutan muncul di wajah kami, namun di mata kami berdua, cahaya itu tidak pernah pudar — cahaya ketenangan yang tak ternilai harganya.Surat dari PegununganSuatu pagi musim

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status