Mag-log inAnastasia terdiam cukup lama setelah mendengar penjelasan Lior. Semakin banyak yang ia ketahui, semakin ia menyadari bahwa kehidupan tidak pernah benar-benar adil bagi siapa pun. Menjadi seorang prajurit ternyata tidak selalu menjanjikan kehormatan ataupun kedudukan yang layak.Para bangsawan bisa mengandalkan nama keluarga dan status untuk memperoleh jabatan, sementara rakyat biasa harus menggunakan uang dan koneksi agar mendapatkan kesempatan yang sama. Bahkan di lingkungan militer yang seharusnya mengutamakan kemampuan, masih ada orang-orang yang bisa membeli kedudukan tanpa perlu mempertaruhkan nyawa mereka sendiri.Anastasia merasa keadaan seperti itu tidak akan pernah benar-benar berubah. Selama orang-orang memiliki kepentingan masing-masing, akan selalu ada pihak yang berusaha mempertahankan keuntungan mereka, sekalipun harus mengorbankan orang lain.Ia kemudian mengalihkan pandangan kepada Lior."Kalau begitu, orang-orang seperti Anda yang memiliki terlalu banyak kekuasaan jus
"Aku—" Anastasia sempat menghentikan ucapannya. Ia menatap Lior sejenak sebelum akhirnya bertanya, "Mengapa Anda menanyakan hal itu kepada saya?""Karena aku ingin tahu pendapatmu tentang musim dingin."Anastasia sedikit terkejut dengan jawaban sederhana tersebut. Ia mengalihkan pandangan ke arah tanaman di dekat jendela dan menjawab,"Saya tidak begitu menyukai musim dingin.""Benarkah?""Benar." Anastasia memandang keluar melalui dinding kaca. "Sebenarnya, tanpa musim dingin pun tempat ini sudah cukup dingin. Apalagi ketika musim dingin tiba."Lior terdiam sesaat. Ia memperhatikan Anastasia lalu bertanya,"Apakah kau membenci tempat ini? Atau hanya musim dinginnya?"Anastasia tidak langsung menjawab. Ia sendiri tidak yakin bagaimana harus menjelaskan perasaannya. Wilayah Silas memang bukan tempat yang buruk, tetapi cuacanya selalu terasa berbeda baginya. Ia terbiasa dengan udara yang lebih hangat, sementara di sini angin dingin seolah tidak pernah benar-benar pergi.Lior akhirnya me
Jasper memperhatikan Anastasia."Sebaiknya kau mulai mematuhiku sekarang. Semua orang sudah tahu bahwa kau terlibat dalam urusan ini, Anastasia."Anastasia menoleh kepadanya."Apa maksudmu?""Jangan berpura-pura tidak mengerti. Kau sudah terlalu dekat dengan Duke. Kau juga tinggal di rumah yang sama dengannya dan selama ini ikut mengurus segala kebutuhannya. Jika sesuatu terjadi padanya, orang-orang tentu akan mulai bertanya tentang keterlibatanmu."Jasper mengatakannya dengan tenang, seolah sedang mengingatkan Anastasia akan sesuatu yang seharusnya sudah ia ketahui. Namun, ketenangan itulah yang membuat Anastasia merasa semakin muak. Pria itu seakan tidak peduli bahwa dirinya telah menyeret sang istri ke dalam rencana berbahaya tanpa pernah memberitahukan tujuan sebenarnya."Jika kau mengkhianatiku, kau akan mati," lanjut Jasper. "Dan kali ini, aku tidak bisa melindungimu."Anastasia terkekeh pelan. Ia bahkan tidak tahu apakah harus merasa marah atau justru menertawakan ucapan pria i
Anastasia membeku. Jasper tidak perlu berteriak untuk membuat ancamannya terdengar nyata. Cengkeraman kuat di lengannya dan tatapan dingin pria itu sudah cukup membuatnya sadar bahwa suaminya tidak sedang menggertak.Anastasia benar-benar takut kepada Jasper. Bukan karena kemarahannya, melainkan karena ia telah mengetahui rencana pembunuhan yang seharusnya tidak pernah sampai ke telinganya.Namun, di balik rasa takut itu, ada kekecewaan yang jauh lebih besar. Ia pernah mencintai Jasper dan percaya bahwa setidaknya mereka masih memiliki kepercayaan sebagai suami istri. Tetapi kini, pria itu bahkan mengancam akan membunuhnya demi menutupi rahasianya sendiri.Anastasia perlahan berhenti meronta. Ia sadar melawan Jasper hanya akan membuat keadaan semakin berbahaya. Ia kemudian mengangkat wajah dan menatap suaminya.“Jadi, selama ini kau memang tidak pernah memercayaiku.”Jasper tidak menjawab. Ia hanya melepaskan cengkeramannya setelah Anastasia berhenti meronta.“Jangan membuatku menyesa
Anastasia masih berdiri di depan pintu ruang kerja Jasper, berusaha menenangkan pikirannya setelah mendengar percakapan yang seharusnya tidak pernah ia ketahui. Ada begitu banyak hal yang ingin ia tanyakan, tetapi satu hal sudah jelas baginya: Jasper sengaja menyembunyikan rencananya untuk meracuni Lior, sementara dirinya diperintahkan mengawasi pria itu tanpa mengetahui apa pun.Ia seharusnya segera pergi sebelum keberadaannya diketahui. Namun, kedua kakinya seolah enggan bergerak. Ia ingin mendengar lebih banyak, ingin mengetahui siapa perempuan yang berbicara dengan Jasper dan sejauh mana keterlibatannya dalam rencana tersebut.Terlebih lagi, ia tidak bisa begitu saja mengabaikan kenyataan bahwa Lior mungkin sedang berada dalam bahaya setiap kali makanan disajikan kepadanya.Di balik pintu, percakapan itu tiba-tiba terhenti.Keheningan yang menyusul terasa berbeda. Tidak ada lagi suara Jasper maupun perempuan asing itu. Anastasia menahan napas, berharap mereka akan kembali berbicar
Malam telah larut ketika Anastasia berhenti di depan pintu ruang kerja Jasper. Ia berniat membicarakan beberapa urusan rumah tangga sebelum beristirahat, tetapi saat tangannya hendak mengetuk, suara dari dalam ruangan membuatnya terdiam.“Aku sudah melakukannya, tetapi tubuhnya sangat kuat sehingga tidak menunjukkan reaksi apa pun.”Anastasia mengenali suara itu sebagai milik Jasper. Ia mengerutkan kening, lalu menurunkan tangannya. Tidak ada suara lain selama beberapa saat. Ia sempat berpikir suaminya sedang berbicara sendiri, tetapi sebelum memutuskan untuk mengetuk, Jasper kembali bersuara.“Aku sudah membubuhkan racun ke dalam makanannya, dan dia selalu menghabiskannya.”Anastasia membeku.Racun?Ia nyaris tidak percaya pada apa yang baru saja didengarnya. Namun, sebelum sempat mencerna kalimat itu, suara seseorang menyahut dari dalam ruangan.“Kalau begitu, tidak mungkin dia baik-baik saja.”Anastasia menahan napas. Suara itu milik seorang perempuan, tetapi nadanya lebih berat da







