Mag-log inAnastasia langsung menegang.Ia menatap Lior, memastikan dirinya tidak salah mendengar. Namun, pria itu sama sekali tidak menunjukkan keinginan untuk mengubah ucapannya."Ke kamar Anda?""Ya.""Yang Mulia...""Ada yang keberatan?"Anastasia terdiam sesaat. Tentu saja ia keberatan. Mereka berada di kediaman Silas, dan Lior adalah seorang pria yang telah memiliki tunangan. Sementara dirinya adalah istri Jasper. Jika seseorang melihat mereka memasuki kamar Lior pada malam hari, tidak akan ada penjelasan yang cukup untuk menghindari gosip."Ini bukan tempat yang tepat untuk membawa saya," katanya akhirnya."Aku tahu.""Kalau begitu, mengapa Anda masih melakukannya?"Lior tidak menjawab. Ia hanya menunduk sedikit untuk melihat wajah Anastasia, lalu kembali mengarahkan pandangannya ke depan. Sikapnya yang begitu tenang justru membuat Anastasia semakin sulit memahami apa yang ada di pikirannya.Tidak lama kemudian, mereka tiba di paviliun barat. Beberapa lampu masih menyala di sepanjang kori
Lior tidak langsung menjawab. Ia hanya memandang Anastasia, seolah menunggu perempuan itu melanjutkan pertanyaannya.Anastasia mengepalkan jemarinya perlahan. Ia teringat percakapannya dengan Jasper di ruang kerja malam itu. Pria tersebut mengatakan bahwa racun telah dibubuhkan ke dalam makanan Lior dan bahwa tubuh sang Duke terlalu kuat untuk menunjukkan reaksi. Jasper juga menyebutkan bahwa makanan itu selalu dihabiskan, seolah tidak ada yang mencurigakan.Namun, sekarang Anastasia tahu bahwa Lior tidak pernah benar-benar memakannya."Apakah Anda tahu siapa yang melakukannya?" tanyanya.Tatapan Lior tidak berubah."Kau sudah mengetahui sesuatu?"Anastasia terdiam. Ia menyadari bahwa pertanyaan itu justru berbalik kepadanya. Lior tampaknya belum mengetahui bahwa dirinya telah mendengar percakapan Jasper, atau setidaknya belum mengetahui seberapa banyak yang sudah ia ketahui.Anastasia mengalihkan pandangan sejenak. Ia harus memutuskan seberapa jauh ia bisa mempercayai pria di hadapan
Anastasia terdiam cukup lama setelah mendengar penjelasan Lior. Semakin banyak yang ia ketahui, semakin ia menyadari bahwa kehidupan tidak pernah benar-benar adil bagi siapa pun. Menjadi seorang prajurit ternyata tidak selalu menjanjikan kehormatan ataupun kedudukan yang layak.Para bangsawan bisa mengandalkan nama keluarga dan status untuk memperoleh jabatan, sementara rakyat biasa harus menggunakan uang dan koneksi agar mendapatkan kesempatan yang sama. Bahkan di lingkungan militer yang seharusnya mengutamakan kemampuan, masih ada orang-orang yang bisa membeli kedudukan tanpa perlu mempertaruhkan nyawa mereka sendiri.Anastasia merasa keadaan seperti itu tidak akan pernah benar-benar berubah. Selama orang-orang memiliki kepentingan masing-masing, akan selalu ada pihak yang berusaha mempertahankan keuntungan mereka, sekalipun harus mengorbankan orang lain.Ia kemudian mengalihkan pandangan kepada Lior."Kalau begitu, orang-orang seperti Anda yang memiliki terlalu banyak kekuasaan jus
"Aku—" Anastasia sempat menghentikan ucapannya. Ia menatap Lior sejenak sebelum akhirnya bertanya, "Mengapa Anda menanyakan hal itu kepada saya?""Karena aku ingin tahu pendapatmu tentang musim dingin."Anastasia sedikit terkejut dengan jawaban sederhana tersebut. Ia mengalihkan pandangan ke arah tanaman di dekat jendela dan menjawab,"Saya tidak begitu menyukai musim dingin.""Benarkah?""Benar." Anastasia memandang keluar melalui dinding kaca. "Sebenarnya, tanpa musim dingin pun tempat ini sudah cukup dingin. Apalagi ketika musim dingin tiba."Lior terdiam sesaat. Ia memperhatikan Anastasia lalu bertanya,"Apakah kau membenci tempat ini? Atau hanya musim dinginnya?"Anastasia tidak langsung menjawab. Ia sendiri tidak yakin bagaimana harus menjelaskan perasaannya. Wilayah Silas memang bukan tempat yang buruk, tetapi cuacanya selalu terasa berbeda baginya. Ia terbiasa dengan udara yang lebih hangat, sementara di sini angin dingin seolah tidak pernah benar-benar pergi.Lior akhirnya me
Jasper memperhatikan Anastasia."Sebaiknya kau mulai mematuhiku sekarang. Semua orang sudah tahu bahwa kau terlibat dalam urusan ini, Anastasia."Anastasia menoleh kepadanya."Apa maksudmu?""Jangan berpura-pura tidak mengerti. Kau sudah terlalu dekat dengan Duke. Kau juga tinggal di rumah yang sama dengannya dan selama ini ikut mengurus segala kebutuhannya. Jika sesuatu terjadi padanya, orang-orang tentu akan mulai bertanya tentang keterlibatanmu."Jasper mengatakannya dengan tenang, seolah sedang mengingatkan Anastasia akan sesuatu yang seharusnya sudah ia ketahui. Namun, ketenangan itulah yang membuat Anastasia merasa semakin muak. Pria itu seakan tidak peduli bahwa dirinya telah menyeret sang istri ke dalam rencana berbahaya tanpa pernah memberitahukan tujuan sebenarnya."Jika kau mengkhianatiku, kau akan mati," lanjut Jasper. "Dan kali ini, aku tidak bisa melindungimu."Anastasia terkekeh pelan. Ia bahkan tidak tahu apakah harus merasa marah atau justru menertawakan ucapan pria i
Anastasia membeku. Jasper tidak perlu berteriak untuk membuat ancamannya terdengar nyata. Cengkeraman kuat di lengannya dan tatapan dingin pria itu sudah cukup membuatnya sadar bahwa suaminya tidak sedang menggertak.Anastasia benar-benar takut kepada Jasper. Bukan karena kemarahannya, melainkan karena ia telah mengetahui rencana pembunuhan yang seharusnya tidak pernah sampai ke telinganya.Namun, di balik rasa takut itu, ada kekecewaan yang jauh lebih besar. Ia pernah mencintai Jasper dan percaya bahwa setidaknya mereka masih memiliki kepercayaan sebagai suami istri. Tetapi kini, pria itu bahkan mengancam akan membunuhnya demi menutupi rahasianya sendiri.Anastasia perlahan berhenti meronta. Ia sadar melawan Jasper hanya akan membuat keadaan semakin berbahaya. Ia kemudian mengangkat wajah dan menatap suaminya.“Jadi, selama ini kau memang tidak pernah memercayaiku.”Jasper tidak menjawab. Ia hanya melepaskan cengkeramannya setelah Anastasia berhenti meronta.“Jangan membuatku menyesa







