Share

Bab 7

Author: Aurora
“Pasien mengalami keguguran! Perdarahan hebat! Butuh donor darah segera!”

“Stok bank darah golongan A kosong!”

“Kalau nggak segera ditangani, nyawa pasien terancam!”

Melani kehilangan terlalu banyak darah. Kesadarannya mengabur. Dia hanya bisa merasakan tubuhnya dipindahkan ke sana kemari, sementara suara hiruk-pikuk tim medis terdengar putus-putus di telinganya.

“Ambil darahku! Golongan darahku A!”

Suara yang jernih tiba-tiba menerobos masuk ke telinganya.

Melani mengerahkan sisa tenaganya untuk membuka mata, melihat jelas sosok pemilik suara itu. Wajah itu terasa familier … tapi untuk sesaat, dia tak mampu mengingat namanya.

Lalu ingatan itu muncul.

Saat Melani hendak mengucapkan terima kasih, seluruh tenaganya sudah terkuras habis. Dia pingsan.

Saat dia terbangun kembali, hari sudah berganti.

Melani menatap botol infus di samping ranjang cukup lama, sampai akhirnya dia merasakan suhu tubuhnya perlahan kembali normal. Namun, sensasi kosong di dalam tubuhnya begitu jelas, seolah ada sesuatu yang telah direnggut pergi.

Dua perawat masuk untuk mengganti perban. Mereka tak menyadari Melani sudah sadar, dan tetap asyik mengobrol, menggosip.

“Kamu tahu nggak? Seluruh bangsal VIP lantai atas diborong Pak Bagas.”

“Aku tahu. Katanya cewek itu penulis, cantik juga. Tapi dengar-dengar sudah pernah bercerai dan baru pulang dari luar negeri.”

“Terus kenapa? Kalau Pak Bagas suka, siapa yang bisa ngelarang. Katanya si cewek sempat mau bunuh diri, cuma menggores pergelangan tangan sedikit, tapi Pak Bagas langsung panik setengah mati dan buru-buru datang.”

Perawat itu lalu menurunkan suaranya lebih pelan lagi.

“Info A1 … katanya si cewek juga sudah hamil.”

Perawat satunya terkejut.

“Pantas saja pagi tadi aku lihat Pak Bagas beli belasan macam sarapan buat dia pilih.”

Melani perlahan menyentuh perutnya.

Di sana … detak kehidupan itu sudah tak ada.

Mungkin bayi itu sudah tahu.

Bahwa nasibnya akan sama dengannya. Sama-sama tak diinginkan oleh ayah kandungnya sendiri.

Itulah sebabnya, dia memilih pergi.

“Eh … kenapa Ibu menangis?”

Perawat akhirnya menyadari Melani sudah terbangun.

Salah satu dari mereka menghapus air mata di sudut matanya, lalu menghiburnya dengan lembut, “Jangan sedih. Ibu masih muda. Sekarang yang terpenting memulihkan kondisi Ibu. Mau kami hubungi keluarga Ibu?”

Melani menggeleng pelan.

“Orang yang kemarin mendonorkan darah untukku … di mana dia?”

“Oh, dia dokter magang di rumah sakit ini. Demi menyelamatkanmu, dia mendonorkan delapan ratus mililiter darah. Beberapa hari ini sepertinya harus banyak istirahat di rumah.”

Perawat lain ikut menimpali, “Aku belum pernah lihat orang se-nekat itu demi pasien. Nanti kalau Ibu sudah keluar rumah sakit, jangan lupa ucapkan terima kasih padanya.”

Sembilan hari kemudian, Melani keluar dari rumah sakit.

Selama dirawat, hampir setiap hari dia mendengar kisah cinta antara Bagas dan kekasihnya dari mulut orang lain.

Untuk menghindari pertemuan dengannya, Melani sebisa mungkin tak keluar dari bangsal.

Namun demi mengurus administrasi kepulangan, dia tak punya pilihan.

“Melani!”

“Iya .…”

Begitu mendengar namanya dipanggil, Melani segera berjalan ke loket pembayaran.

Di koridor, Bagas yang sedang menaiki tangga bersama Vania mendadak tertegun.

“Kenapa barusan aku seperti mendengar nama Melani?”

“Nggak mungkin.” Vania menepuk bahunya. “Ini ‘kan rumah sakit, sementara Melani di kampus. Nggak mungkin dia dirawat di sini.”

“Benar juga.” Bagas melanjutkan langkahnya.

Pada saat mereka berbelok, Melani telah selesai membayar.

Dia keluar membawa sekantong obat dan turun ke lantai bawah.

Teman sekamarnya sudah menunggu, sambil membawa dua lembar akta cerai yang baru diurus.

Melani hanya mengambil satu yang menjadi miliknya.

Dia lalu merogoh saku, menyerahkan sejumlah uang receh pada temannya.

“Yang satu lagi … tolong kirimkan padanya.”

Anaknya dengan Bagas telah tiada.

Kini, akta cerai pun sudah di tangan.

Tak ada lagi ikatan apa pun di antara mereka.

Dan anehnya, Melani justru merasa lega.

Ketua tim misi bantuan ke Lunaria semula mengizinkan Melani memulihkan tubuh di dalam negeri sebelum berangkat. Namun Melani menolak.

“Aku masih muda. Tubuhku kuat. Aku nggak mau jadi beban tim.”

Meski begitu, di hari keberangkatan, rekan-rekannya tetap memperlakukannya dengan penuh perhatian. Mereka membantu membawa seluruh barang bawaannya, bahkan membayar biaya tambahan agar dia bisa naik pesawat lebih awal.

“Ini perangko lokal. Kalau sudah sampai nanti, kamu bisa pakai untuk menulis surat ke keluarga.”

Ketua tim menyerahkan perangko itu pada Melani.

Melani menerimanya … lalu tanpa ragu membuangnya ke tempat sampah.

“Kamu nggak mau menghubungi keluarga atau temanmu?”

Melani menggeleng.

Dia menoleh ke luar jendela, menatap Kota Lagos yang perlahan menjauh.

Bagas ….

Dalam hidup ini, kita tak akan pernah bertemu lagi.
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Semoga Cinta Kita Tetap Suci dan Tenang   Bab 25

    Tiga tahun kemudian .…Bagas kembali menginjakkan kaki di daratan Lunaria.Kali ini, dia datang sebagai tamu kehormatan dalam peresmian markas baru tim medis misi bantuan Lunaria. Selama tiga tahun terakhir, dia rutin menyalurkan donasi atas nama perusahaannya. “Pak Bagas, dalam tiga tahun ini kondisi tim medis kami jauh membaik. Kami juga berhasil memberi kontribusi besar bagi dunia medis setempat. Semua ini tak lepas dari bantuan Anda,” ucap pimpinan tim saat menjemput Bagas di bandara.“Tidak juga. Justru para dokterlah yang paling berjasa. Aku hanya melakukan apa yang seharusnya.”Sesampainya di markas, dari kejauhan Bagas menangkap sosok ramping yang berdiri di dekat pintu masuk.Tiga tahun tak bertemu, Melani kini memanjangkan rambutnya. Helaian panjang melambai tertiup angin, membentuk pemandangan bak sebuah lukisan.Bagas tanpa sadar terdiam menatapnya.Namun, seorang pria yang menggendong seorang anak tiba-tiba masuk menyusup ke dalam lukisan itu.Alis Bagas sedikit berkerut.

  • Semoga Cinta Kita Tetap Suci dan Tenang   Bab 24

    Melani hanya mengajukan cuti satu minggu pada timnya.Begitu kembali ke hotel usai menghadiri pemakaman Prof Rahardian, dia langsung mengambil kertas dan pena, menuliskan artikel balasan.Satu per satu.Kejadian demi kejadian.Semua dia susun dengan teliti dan runtut.Kemampuan menulis Melani memang tak pernah diragukan. Dia merangkai seluruh bukti yang dimilikinya menjadi sebuah artikel panjang.Lalu keesokan paginya langsung mengirimkannya ke redaksi majalah.Tak disangka, Paman Arga dari panti wreda juga menerbitkan sebuah artikel yang secara terbuka membela Melani.[Melani adalah anak yang baik dan berhati lembut. Dia satu-satunya menantu yang pernah diakui oleh Prof Rahardian dan istrinya. Sayangnya, para netizen diprovokasi oleh pihak-pihak yang tak bertanggung jawab. Bukan hanya melukai Melani, tapi juga secara tak langsung menyebabkan kematian mendadak Prof Rahardian.]Begitu artikel Paman Arga terbit, isu ini langsung naik ke tingkat yang sama sekali berbeda.Paman Arga adalah

  • Semoga Cinta Kita Tetap Suci dan Tenang   Bab 23

    “Gelang itu peninggalan Ibu. Sekarang Melani sudah pergi meninggalkanku. Aku akan mengambilnya kembali dan menguburkannya bersama ayah.”Penyesalan di hati Bagas terasa seperti gunung besar, menekan dadanya hingga membuatnya hampir tak bisa bernapas.Pikirannya kacau. Saat berniat mencari Vania untuk mengambil kembali gelang itu, Bagas justru mendapat kabar Vania mengalami insiden, jatuh dari gedung dan kini terbaring di ruang ICU.Serangkaian kejadian tak terduga itu menguras seluruh tenaganya. Dalam keadaan terombang-ambing, Bagas tetap membantu menyiapkan pemakaman sang ayah.Tiga hari kemudian, asistennya datang membawa gelang giok yang telah hancur berkeping-keping....Di hari pemakaman.Dengan wajah mati rasa, Bagas mengantar satu per satu tamu yang datang melayat.Semua orang mengatakan hal yang sama. Masa lalu tak bisa diubah, dia harus belajar melangkah ke depan.Namun Bagas tak mampu melakukannya.Setelah semua tamu pergi, dia bersandar pada foto mendiang ayahnya. Tubuhnya s

  • Semoga Cinta Kita Tetap Suci dan Tenang   Bab 22

    Vania tak percaya Bagas benar-benar akan mengabaikan hidup dan matinya.Namun Bagas bahkan tak menoleh sedikit pun.“Aku sudah bilang. Mulai sekarang, urusanmu nggak ada hubungannya lagi denganku,” ucap Bagas dingin.“Bagas!”Dalam sekejap, Vania panik bukan main. Dia ingin bergegas mengejar pria yang sudah melangkah pergi itu.Namun besi pagar tua yang sudah lama tak terawat di bawah kakinya tiba-tiba tak sanggup menahan beban tubuhnya.Krak!“Ah ...!”Vania menjerit saat tubuhnya terjatuh ke bawah.Dia sebenarnya hanya ingin menakut-nakuti Bagas.Dia sama sekali tak berniat melompat sungguhan.Saat tubuhnya terjun bebas, penyesalan memenuhi hatinya. Air mata jatuh tak terkendali.Bagas yang sudah masuk ke lorong mendengar teriakan itu. Dia sempat ingin menoleh dan melihat apa yang terjadi.Namun tepat saat itu, sebuah panggilan masuk dari panti wreda, membuatnya tak lagi memedulikan Vania.Prof Rahardian … sudah meninggal.Saat Bagas tiba di panti wreda dalam kondisi linglung, para s

  • Semoga Cinta Kita Tetap Suci dan Tenang   Bab 21

    Di Kota Lagos, Bagas sedang meluapkan amarahnya pada sekretaris.“Kenapa di majalah kita berani memuat gosip palsu tentang Melani?”Sekretaris itu menunduk, menjawab dengan hati-hati, “Pak Bagas … artikel itu ditulis oleh editor yang dekat dengan Nona Vania.”Bagas mengepalkan tangannya begitu kuat.“Kalau begitu, aku sendiri yang akan turun tangan untuk klarifikasi. Aku dan Melani adalah pasangan sah, resmi menikah.”“Tapi Pak, kalau Anda melakukan itu, citra Anda dan Nona Vania … kemungkinan besar akan terdampak.”“Nggak ada pilihan lain!”Bagas mengusap keningnya. Dia tak berani membayangkan betapa sakitnya perasaan Melani saat melihat opini publik di internet terus bergulir liar.“Atur jadwal keberangkatanku ke Parta, Lunaria secepatnya!” perintah Bagas pada sekretaris.Dalam situasi seperti ini, dia harus berada di sisi Melani.Vania… ternyata benar Vania!Bagas tak menyangka akan ada hari di mana dia bertemu dengan Vania di atap gedung.Di tengah angin yang menderu, Vania mengena

  • Semoga Cinta Kita Tetap Suci dan Tenang   Bab 20

    Melani menghubungi redaksi majalah di dalam negeri. Dari sanalah duduk perkara akhirnya terungkap dengan jelas.Ternyata, seseorang telah menempelkan foto dirinya bersama Bagas di depan gedung kantor majalah.Selama ini, semua pemberitaan di majalah dan surat kabar selalu menggambarkan Melani sebagai gadis yatim piatu dari desa miskin. Namun kini, sosok “mahasiswi miskin” itu justru terlihat memiliki hubungan dekat dengan pemilik majalah, bahkan keluar-masuk vila asing yang mewah.Hal itu sontak memicu spekulasi liar.Belum lagi para netizen bermata tajam yang segera membongkar fakta lain. Bagas ternyata pria yang dulu pernah dipamerkan Vania secara tersirat.Dalam sekejap, Melani dicap sebagai pelakor murahan di mata publik.[Aku kerja di rumah sakit. Aku bisa bersaksi! Beberapa waktu lalu, saat Nona Vania dirawat, Pak Bagas sendiri yang setia menemani dan merawatnya!][Pantas saja Vania sampai ingin bunuh diri. Ternyata ada orang ketiga yang menyusup ke hubungan mereka!][Aku juga da

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status