Share

Bab 6

Author: Aurora
“Untuk saat ini, kondisi janinnya masih belum stabil. Calon ibu nggak boleh melakukan aktivitas berat. Termasuk hubungan suami istri. Dua bulan ke depan sebaiknya dihentikan dulu.”

Saat Bagas dan Vania masuk ke ruang periksa yang baru saja dia tinggalkan, Melani menahan air mata dan mempercepat langkah. Dia ingin segera pergi.

Namun, saat melewati pintu, dia tanpa sengaja mendengar nasihat dokter.

“Baik, Dok. Terima kasih. Aku akan memastikan dia lebih berhati-hati.”

Nada suara Bagas terdengar lembut, penuh perhatian.

Tanpa perlu menoleh, Melani sudah bisa membayangkan bagaimana pria itu menjaga Vania dengan sikap penuh kasih.

Langkahnya makin cepat.

Namun di ujung koridor, tubuhnya tak sengaja menabrak seseorang.

Dan Bagas, yang baru keluar dari ruang periksa, langsung mengenalinya.

“Melani?”

Kening Bagas berkerut.

“Kamu ngapain ke rumah sakit?” tanyanya heran.

“Aku … aku sakit maag. Cuma periksa sebentar,” jawab Melani pelan, jemarinya mencengkeram erat hasil tes kehamilan di tangannya.

“Sakit maag?”

Vania yang berdiri di belakang Bagas maju selangkah, suaranya terdengar akrab dan penuh kepedulian.

“Aku pernah dengar dari Bagas, dulu kamu sering telat makan. Wajar sih kalau akhirnya kena maag.”

Melani hanya mengangguk pelan, tak menjawab apa pun.

Tatapannya tanpa sadar jatuh pada lembar hasil USG di tangan Vania.

Wajah Bagas seketika berubah. Dia gugup, pun buru-buru membuka mulut.

“Melani, kamu jangan salah paham. Aku bukan ....”

“Bagas!”

Vania menarik lengan bajunya, nada suaranya manja.

Bagas pun terdiam, tak melanjutkan ucapannya. Wajahnya terlihat serba salah.

Tak ingin suasana makin canggung, Melani mengarang alasan seadanya lalu pergi.

Di belakangnya, Bagas sempat mengulurkan tangan, ingin menahannya.

Namun Vania segera menariknya kembali, menatapnya dengan wajah memohon.

“Bagas, kamu sudah janji mau merahasiakan ini dulu, ‘kan?”

Langkah Bagas mengejar Melani pun terhenti seketika.

Melani keluar dari rumah sakit seorang diri.

Di dunia ini, dia tak punya siapa-siapa.

Setelah berdiri termangu di pinggir jalan cukup lama, akhirnya langkahnya berhenti di depan gerbang panti wreda.

Prof Rahardian terlihat sangat senang melihatnya. Beliau sibuk mencarikan makanan untuk Melani.

Pikirannya sudah mulai kabur, tapi masih ingat menanyakan kelulusan dan pekerjaan Melani, bahkan berniat mencarikan jalan untuknya.

Melani menolak dengan halus.

Pada akhirnya, dia tetap tak mengatakan apa pun tentang kehamilannya.

Namun justru di tempat itulah, dia menemukan alasan untuk mempertahankan anak ini.

Dia membutuhkan keluarga.

Seseorang yang memiliki darah yang sama dengannya.

Seseorang yang akan selalu berada di sisinya.

Hanya saja, jika dia memutuskan melahirkan anak ini, misi bantuan ke Lunaria kemungkinan besar harus dia lepaskan.

Melani masih memikirkan cara memberi tahu ketua tim, ketika Bagas justru muncul di depan gerbang kampus.

“Melani, besok malam kamu ada waktu? Aku sudah reservasi tempat di Restoran Pandan. Ada hal yang ingin kubicarakan.”

Restoran itu .…

Tempat yang dulu dipesan Melani untuk hari ulang tahun pernikahan mereka.

Mengingat kenangan tentang hari dia ditinggalkan sendirian, Melani hanya merasa semua itu sudah terjadi di kehidupan yang berbeda.

“Baik. Aku akan datang tepat waktu.”

Kebetulan, dia juga ingin membicarakan soal perceraian.

Jika ingin diam-diam melahirkan anak ini, maka dia tak boleh merahasiakan perceraian.

Jika tidak, suatu hari nanti Bagas bisa saja menggunakan status itu untuk merebut anaknya.

“Kamu dulu ingin sekali ke resto ini, ‘kan? Anggap saja hari ini aku menebusnya.”

Di jalan menuju restoran, Bagas berkata dengan nada bersalah.

Begitu selesai bicara, dia langsung menggenggam tangan Melani.

Melani terkejut.

Dalam empat tahun pernikahan mereka, ini adalah pertama kalinya Bagas berinisiatif menggenggam tangannya.

Melani tak terbiasa. Refleks, dia hendak menarik tangannya kembali.

Namun saat itu juga, sosok yang familier muncul dari arah berlawanan.

“Bagas! Kenapa kamu masih di sini?”

Masayu, sahabat Vania, menatapnya panik.

“Kamu belum tahu? Vania bilang dia mau bunuh diri! Aku lagi menuju ke sana sekarang!”

“Apa katamu!”

Fokus Bagas langsung buyar.

“Awas!”

Sebuah mobil melaju kencang di tikungan.

Bagas masih berdiri terpaku, pikirannya kosong.

Melani menariknya sekuat tenaga ke belakang.

Tubuhnya sendiri justru terserempet mobil dan terhempas ke aspal.

“Melani!”

Bagas akhirnya tersadar.

Dia menatap Melani yang terjatuh, lalu menoleh ke arah Masayu yang wajahnya penuh kecemasan.

Hanya sesaat dia ragu.

Kemudian Bagas mengibaskan lengan bajunya.

“Melani, Vania dalam keadaan darurat. Aku harus ke sana!”

Melani tergeletak di pinggir jalan.

Di tengah hiruk-pikuk kendaraan dan lautan manusia, dia menatap punggung Bagas yang pergi tergesa-gesa.

Dia berusaha bangkit.

Namun rasa nyeri hebat tiba-tiba menjalar dari perut bagian bawah.

Saat dia menunduk … darah merah segar telah membasahi celananya.
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Semoga Cinta Kita Tetap Suci dan Tenang   Bab 25

    Tiga tahun kemudian .…Bagas kembali menginjakkan kaki di daratan Lunaria.Kali ini, dia datang sebagai tamu kehormatan dalam peresmian markas baru tim medis misi bantuan Lunaria. Selama tiga tahun terakhir, dia rutin menyalurkan donasi atas nama perusahaannya. “Pak Bagas, dalam tiga tahun ini kondisi tim medis kami jauh membaik. Kami juga berhasil memberi kontribusi besar bagi dunia medis setempat. Semua ini tak lepas dari bantuan Anda,” ucap pimpinan tim saat menjemput Bagas di bandara.“Tidak juga. Justru para dokterlah yang paling berjasa. Aku hanya melakukan apa yang seharusnya.”Sesampainya di markas, dari kejauhan Bagas menangkap sosok ramping yang berdiri di dekat pintu masuk.Tiga tahun tak bertemu, Melani kini memanjangkan rambutnya. Helaian panjang melambai tertiup angin, membentuk pemandangan bak sebuah lukisan.Bagas tanpa sadar terdiam menatapnya.Namun, seorang pria yang menggendong seorang anak tiba-tiba masuk menyusup ke dalam lukisan itu.Alis Bagas sedikit berkerut.

  • Semoga Cinta Kita Tetap Suci dan Tenang   Bab 24

    Melani hanya mengajukan cuti satu minggu pada timnya.Begitu kembali ke hotel usai menghadiri pemakaman Prof Rahardian, dia langsung mengambil kertas dan pena, menuliskan artikel balasan.Satu per satu.Kejadian demi kejadian.Semua dia susun dengan teliti dan runtut.Kemampuan menulis Melani memang tak pernah diragukan. Dia merangkai seluruh bukti yang dimilikinya menjadi sebuah artikel panjang.Lalu keesokan paginya langsung mengirimkannya ke redaksi majalah.Tak disangka, Paman Arga dari panti wreda juga menerbitkan sebuah artikel yang secara terbuka membela Melani.[Melani adalah anak yang baik dan berhati lembut. Dia satu-satunya menantu yang pernah diakui oleh Prof Rahardian dan istrinya. Sayangnya, para netizen diprovokasi oleh pihak-pihak yang tak bertanggung jawab. Bukan hanya melukai Melani, tapi juga secara tak langsung menyebabkan kematian mendadak Prof Rahardian.]Begitu artikel Paman Arga terbit, isu ini langsung naik ke tingkat yang sama sekali berbeda.Paman Arga adalah

  • Semoga Cinta Kita Tetap Suci dan Tenang   Bab 23

    “Gelang itu peninggalan Ibu. Sekarang Melani sudah pergi meninggalkanku. Aku akan mengambilnya kembali dan menguburkannya bersama ayah.”Penyesalan di hati Bagas terasa seperti gunung besar, menekan dadanya hingga membuatnya hampir tak bisa bernapas.Pikirannya kacau. Saat berniat mencari Vania untuk mengambil kembali gelang itu, Bagas justru mendapat kabar Vania mengalami insiden, jatuh dari gedung dan kini terbaring di ruang ICU.Serangkaian kejadian tak terduga itu menguras seluruh tenaganya. Dalam keadaan terombang-ambing, Bagas tetap membantu menyiapkan pemakaman sang ayah.Tiga hari kemudian, asistennya datang membawa gelang giok yang telah hancur berkeping-keping....Di hari pemakaman.Dengan wajah mati rasa, Bagas mengantar satu per satu tamu yang datang melayat.Semua orang mengatakan hal yang sama. Masa lalu tak bisa diubah, dia harus belajar melangkah ke depan.Namun Bagas tak mampu melakukannya.Setelah semua tamu pergi, dia bersandar pada foto mendiang ayahnya. Tubuhnya s

  • Semoga Cinta Kita Tetap Suci dan Tenang   Bab 22

    Vania tak percaya Bagas benar-benar akan mengabaikan hidup dan matinya.Namun Bagas bahkan tak menoleh sedikit pun.“Aku sudah bilang. Mulai sekarang, urusanmu nggak ada hubungannya lagi denganku,” ucap Bagas dingin.“Bagas!”Dalam sekejap, Vania panik bukan main. Dia ingin bergegas mengejar pria yang sudah melangkah pergi itu.Namun besi pagar tua yang sudah lama tak terawat di bawah kakinya tiba-tiba tak sanggup menahan beban tubuhnya.Krak!“Ah ...!”Vania menjerit saat tubuhnya terjatuh ke bawah.Dia sebenarnya hanya ingin menakut-nakuti Bagas.Dia sama sekali tak berniat melompat sungguhan.Saat tubuhnya terjun bebas, penyesalan memenuhi hatinya. Air mata jatuh tak terkendali.Bagas yang sudah masuk ke lorong mendengar teriakan itu. Dia sempat ingin menoleh dan melihat apa yang terjadi.Namun tepat saat itu, sebuah panggilan masuk dari panti wreda, membuatnya tak lagi memedulikan Vania.Prof Rahardian … sudah meninggal.Saat Bagas tiba di panti wreda dalam kondisi linglung, para s

  • Semoga Cinta Kita Tetap Suci dan Tenang   Bab 21

    Di Kota Lagos, Bagas sedang meluapkan amarahnya pada sekretaris.“Kenapa di majalah kita berani memuat gosip palsu tentang Melani?”Sekretaris itu menunduk, menjawab dengan hati-hati, “Pak Bagas … artikel itu ditulis oleh editor yang dekat dengan Nona Vania.”Bagas mengepalkan tangannya begitu kuat.“Kalau begitu, aku sendiri yang akan turun tangan untuk klarifikasi. Aku dan Melani adalah pasangan sah, resmi menikah.”“Tapi Pak, kalau Anda melakukan itu, citra Anda dan Nona Vania … kemungkinan besar akan terdampak.”“Nggak ada pilihan lain!”Bagas mengusap keningnya. Dia tak berani membayangkan betapa sakitnya perasaan Melani saat melihat opini publik di internet terus bergulir liar.“Atur jadwal keberangkatanku ke Parta, Lunaria secepatnya!” perintah Bagas pada sekretaris.Dalam situasi seperti ini, dia harus berada di sisi Melani.Vania… ternyata benar Vania!Bagas tak menyangka akan ada hari di mana dia bertemu dengan Vania di atap gedung.Di tengah angin yang menderu, Vania mengena

  • Semoga Cinta Kita Tetap Suci dan Tenang   Bab 20

    Melani menghubungi redaksi majalah di dalam negeri. Dari sanalah duduk perkara akhirnya terungkap dengan jelas.Ternyata, seseorang telah menempelkan foto dirinya bersama Bagas di depan gedung kantor majalah.Selama ini, semua pemberitaan di majalah dan surat kabar selalu menggambarkan Melani sebagai gadis yatim piatu dari desa miskin. Namun kini, sosok “mahasiswi miskin” itu justru terlihat memiliki hubungan dekat dengan pemilik majalah, bahkan keluar-masuk vila asing yang mewah.Hal itu sontak memicu spekulasi liar.Belum lagi para netizen bermata tajam yang segera membongkar fakta lain. Bagas ternyata pria yang dulu pernah dipamerkan Vania secara tersirat.Dalam sekejap, Melani dicap sebagai pelakor murahan di mata publik.[Aku kerja di rumah sakit. Aku bisa bersaksi! Beberapa waktu lalu, saat Nona Vania dirawat, Pak Bagas sendiri yang setia menemani dan merawatnya!][Pantas saja Vania sampai ingin bunuh diri. Ternyata ada orang ketiga yang menyusup ke hubungan mereka!][Aku juga da

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status