Short
Kebisuan dalam Kedalaman Air

Kebisuan dalam Kedalaman Air

Por:  Burung LautCompleto
Idioma: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
7Capítulos
4visualizações
Ler
Adicionar à biblioteca

Compartilhar:  

Denunciar
Visão geral
Catálogo
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP

Aku telah bergentayangan di dasar air selama lima tahun, sebelum akhirnya tulang-belulangku tersangkut pada kail seorang pemancing dan ditarik ke daratan. Meski tim forensik telah merekonstruksi wajahku melalui tengkorak yang ditemukan, kebencian Kakak terhadapku tidak berkurang sedikit pun. "Baguslah kalau dia mati!" "Sudah kabur lima tahun, mati pun nggak bakal bisa nebus semua dosanya!" "Keluarga Manggala punya pembunuh kayak dia ... benar-benar bikin malu!" Semua orang mengira dia sangat membenciku sampai ke tulang sumsum. Akan tetapi, saat mengucapkan kata-kata itu, seluruh tubuh Kakak gemetar hebat. Siapa yang menyangka? Telepon minta tolong yang kuhubungi kepadanya lima tahun lalu, justru menjadi tangan tak terlihat yang mempercepat kematianku.

Ver mais

Capítulo 1

Bab 1

Segera setelah menerima laporan, Yoga Manggala segera bergegas ke lokasi kejadian bersama asisten barunya.

Di dalam koper berwarna merah tua yang kusam itu, selain dua bongkah batu besar yang berat, terdapat sesosok kerangka manusia yang meringkuk di dalamnya.

Tatapan mata Yoga tampak gelap dan dalam.

Dilihat dari kondisinya, kerangka ini jelas sudah meninggal setidaknya lebih dari dua tahun.

Makin lama waktu berlalu, makin sedikit jejak yang ditinggalkan pelaku.

Itu berarti makin tinggi pula tuntutan keahlian teknis dalam penyelidikannya.

Asistennya memungut salah satu batu, lalu mengambil sepotong tulang putih pendek yang diduga sebagai tulang kering dari dalam koper.

"Ini nggak mungkin tulang anak kecil, 'kan?"

Nada bicaranya yang bercanda dan meremehkan membuat ekspresi Yoga langsung tidak senang.

Yoga meliriknya dengan tajam, ekspresinya sangat serius.

"Bicaralah berdasarkan fakta!"

Wajah asisten itu merah karena malu.

Dia segera membuang pikiran isengnya dan mulai melakukan pemeriksaan dengan teliti, mengikuti arahan Yoga.

Melihat itu, perasaanku yang semula tegang perlahan mulai tenang.

Lima tahun tak berjumpa, kakakku, Yoga Manggala, masih tetap forensik yang berdedikasi dan bertanggung jawab seperti dulu.

Dengan kemampuannya, aku yakin dia akan segera mengenali identitasku, mencari tahu siapa pembunuhku.

Setelah melakukan pemeriksaan awal yang singkat, Yoga menghampiri Kapten Rusli.

"Kondisi tulangnya sudah mengalami pemutihan yang parah. Aku harus membawanya kembali ke laboratorium untuk identifikasi lebih lanjut."

"Hasilnya akan segera kulaporkan padamu dalam satu atau dua hari ini," lanjutnya dengan profesional.

Kapten Rusli mengangguk paham. "Baiklah, mohon bantuannya beberapa hari ke depan."

"Oh, iya, apa Sonia masih belum menghubungi kalian?"

Jantungku seketika mencelos.

Lima tahun telah berlalu, ternyata masih ada orang yang mengingat namaku!

Akan tetapi, raut wajah Yoga langsung berubah muram dan masam dalam sekejap.

"Emangnya dia masih punya muka buat menghubungi kami?"

"Kamu tenang saja, kalau aku tahu di mana dia, aku pasti akan langsung lapor polisi. Aku nggak akan biarkan pembunuh ini berkeliaran bebas di luar sana."

Aku mendengarkan percakapan mereka dengan bingung.

Pembunuh?

Apa mereka sedang membicarakan diriku?

Kapten Rusli mengerutkan kening. "Sonia itu masih status tersangka. Kasus tahun itu punya banyak kejanggalan, belum tentu Sonia yang melakukannya ...."

Yoga menyela dengan emosi, "Kalau bukan dia, terus siapa lagi?"

"Kalau tahu dia orang yang tega berbuat sekejam itu, dari awal aku nggak sudi jemput dia pulang ke rumah!"

Mendengar ucapan Kakak yang begitu dingin dan tanpa ampun, hatiku rasanya seperti ditusuk oleh ribuan jarum.

Lima tahun telah berlalu, ternyata dia masih membenciku sedalam itu?

Aku terpisah dari keluargaku saat usiaku masih lima tahun.

Sepuluh tahun yang lalu aku baru ditemukan dan orang yang menjemputku pulang saat itu adalah Yoga.

Seandainya dia mau memperhatikan dengan saksama, dia pasti akan menyadari sesuatu pada koper yang menjadi tempat pembuangan mayat di hadapannya ini.

Salah satu rodanya rusak, terbentur karena Yoga kurang kuat memegangnya hingga terjatuh dari tangga saat dia membantuku membawakannya pulang ke rumah dulu.

Akan tetapi, kurasa dia sudah melupakan semua detail kecil itu.

Saat tulang-belulangku dibawa kembali ke lab forensik, jiwaku pun ikut terbang mengikutinya.

Asisten forensik mulai melaporkan hasil pemeriksaan awal kepada Yoga.

"Jenis kelamin perempuan, usia tulang sekitar 20 hingga 23 tahun, dengan tinggi badan berkisar antara 164 cm sampai 168 cm."

"Berdasarkan tingkat pembusukan jasad dan kondisi lingkungan di dasar air, diperkirakan korban telah meninggal setidaknya lebih dari tiga tahun yang lalu."

"Tapi, ada yang aneh."

Yoga mendongak, menatap asistennya dengan tajam.

"Katakan."

"Semua tulang-belulangnya cukup utuh, tapi cuma tangan kirinya saja yang hilang."

"Kalau dilihat dari bekas potongan pada permukaan tulangnya, tangan ini sepertinya dipotong paksa tepat di bagian pergelangan dengan menggunakan alat tajam."

Yoga mengangguk puas.

Setelah itu, dia mulai memeriksa kerangkaku dengan sangat teliti.

"Luka mematikannya ada pada tulang ubun-ubun. Ada cekungan yang sangat jelas di sini. Dilihat dari luka robek dan retakan di sekitar tulang, tinggi badan pelaku jelas jauh lebih tinggi daripada korban."

"Tapi, nggak menutup kemungkinan juga kalau korban saat itu sedang dalam posisi jongkok atau duduk sehingga pelaku melakukan serangan mendadak dari arah belakang."

Setelah mengatakan itu, Yoga sengaja melirik asistennya, seolah sedang memberinya pelajaran lapangan secara langsung.

Suaranya terdengar menyindir, "Sekarang, coba lihat lagi anak kecil ini."

Si asisten menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Aduh, Guru, jangan meledekku terus, dong."

Yoga tak lagi menggodanya. Sambil tersenyum tipis, dia mengalihkan pandangannya kembali ke arah objek tersebut. "Ini tulang seekor anjing."

"Penilaian awal menunjukkan ini seekor anjing jenis pudel berusia sekitar tiga tahun."

Begitu menyebutkan jenis anjing itu, tatapan mata Yoga mendadak membeku sesaat.

Hidungku terasa perih, menahan tangis yang tak akan pernah bisa tumpah.

Seharusnya, dia ingat.

Anjing pudel itu adalah hadiah darinya untuk ulang tahun pertamaku sejak aku kembali ke Keluarga Manggala.

"Kakak!"

Sebuah teriakan dari luar pintu seketika membuyarkan lamunan Yoga.

Suara yang sangat kukenal itu menusuk telingaku.

Seluruh tubuhku membeku saat aku menoleh ke arah sumber suara.

Kilasan memori dari detik-detik sebelum kematianku berputar cepat di kepala seperti film rusak.

Dia.

Dialah yang membunuhku!

Yoga menatap Aulia Manggala yang menjulurkan kepalanya dari balik celah pintu.

Yoga pun menegur dengan nada menyalahkan, "Nggak sopan! Siapa yang izinkan kamu masuk ke sini?"

Aulia menjulurkan lidahnya dengan manja. "Pak Dokter Forensik Yoga yang hebat, kamu sudah dua hari dua malam nggak pulang ke rumah."

Sang asisten tertawa sambil mendorong bahu Yoga ke arah pintu.

"Guru, sisanya serahkan padaku saja. Begitu ada hasilnya, aku akan langsung mengabarimu."

Yoga memberikan beberapa instruksi tambahan sebelum akhirnya melangkah keluar dari lab forensik.

Sepasang mata Aulia sempat melirik sekilas ke dalam ruangan itu.

Seolah tidak sengaja, Aulia bertanya, "Ada kasus baru lagi, ya?"

Yoga menanggalkan jubah lab dan sarung tangannya, lalu mendorong dahi Aulia dengan jari telunjuk agar gadis itu mundur ke luar.

"Jangan tanya-tanya yang bukan urusanmu."

Aulia memanyunkan bibirnya, tampak tak puas. "Kalau begitu, Pak Dokter Forensik yang hebat, apa kamu tahu hari ini hari apa?"

Yoga mencubit pipi Aulia dengan penuh kasih sayang. "Hari peringatan kematian Nenek, aku ingat."

"Hmph! Baguslah kalau Kakak masih punya hati. Kakak sudah dua hari nggak pulang, aku takut Kakak lupa, makanya aku sengaja datang menjemputmu."

Raut wajah Yoga berubah serius. "Besok-besok kalau mau ke sini, kabari dulu lewat pesan. Atau tunggu saja di ruanganku."

"Di sini aturannya ketat, orang luar nggak boleh sembarangan masuk."

"Iya, aku tahu. Kakak sudah bilang begitu berkali-kali."

"Sudah dibilang berkali-kali, tapi kamu tetap nggak ingat juga!"

Jiwaku terus mengekor di belakang mereka saat mereka berjalan keluar.

Kebencian yang meluap di sekujur tubuhku terasa sia-sia karena aku tak bisa berbuat apa-apa.

Jiwaku hanya bisa menembus raga musuhku, tanpa bisa menyakitinya sedikit pun.

Lihatlah dua orang di hadapanku ini.

Yang satu adalah kakak yang paling kuhormati.

Yang satu lagi adalah pembunuh yang merenggut nyawaku.

Selama lima tahun aku menghilang, hubungan Yoga dan Aulia tampaknya menjadi jauh lebih akrab daripada sebelumnya.

Seluruh tubuhku gemetar hebat saat kenangan mengerikan tentang momen terakhir ketika Aulia menghabisiku kembali terbayang.

Ekspresi Aulia tampak mengerikan saat dia mencekik leherku dengan kuat.

"Sonia, kenapa kamu harus kembali?"

"Kenapa kamu harus menghancurkan kebahagiaanku?"

"Kenapa saat kamu kembali, aku harus dikirim lagi ke panti asuhan?"

"Aku nggak mau kembali lagi ke tempat terkutuk itu!"

Expandir
Próximo capítulo
Baixar

Último capítulo

Mais capítulos

Para os leitores

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Sem comentários
7 Capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status