LOGINJujur Doni tidak siap dan sedikit salah tingkah. Tidak mengira diajak kenalan di saat posisi yang tidak tepat seperti saat ini. Doni melihat Erna di depan ini sebaya dengannya. Dia segera mengelap tangan ke celana, beberapa kali.
“Eeh..saya Doni mbak. Penghuni unit 03. Berarti kamar mbak yang ujung kanan ya?” katanya sedikit gugup, namun tetap mengulurkan tangan, menjabat tangan berkulit putih tersebut.
Erna tersenyum, “gak apa-apa mas. Ngapain di lap sih tangannya. Itu, mas siapa tadi namanya?”
“Doni mbak. “ sahut Doni mempertegas.
“Aah iya, maaf. Masih susah ingat nih kalau baru bertemu mas. Mas Doni, sudah makan belum? Saya bawa makanan banyak tadi dari kerjaan. Sayang kalau gak dimakan. Sekalian bantu antar ke tetangga unit lainnya ya?” Pinta Erna.
Doni terperanjat. Bingung antara mengiyakan atau menolak. Namun dia memang belum makan. Hanya tawaran untuk bagi-bagi makanan di waktu yang mendekati pukul 21.00 itu terasa sudah kemalaman.
“Apa gak besok saja mbak? Takut ganggu yang sudah tidur.” Balas Doni. Lalu disahut bunyi perutnya yang terdengar nyaring meminta hak untuk menggiling.
“Tuh kan, masnya lapar. Ayo ah,” kata Erna lalu menarik tangan Doni begitu saja tanpa persetujuan.
Di unit kamar Erna memang tampak satu tumpuk kotak makanan. Kotak berwarna merah dengan logo kepala botak berjanggut. Jelas itu adalah nasi dengan ayam goreng dan sambal kekinian.
“Ayam geprek ya mbak?” Tanya Doni tanpa basa-basi.
“Iya mungkin mas. Aku juga belum sempat buka. Tadi di tempat kerja ada acara, banyak banget makanan yang tersisa. Sayang banget kan, jadi aku bawa pulang satu kardus,” Jelas Erna. Dia mulai mengikat rambut rambut hitamnya dengan seutas tali yang entah darimana sudah ada di tangan, “mas Doni mau makan dulu atau bantu saya ngantar ke tetangga?”
Sejujurnya, Doni ingin makan terlebih dahulu. Namun, rasa gengsi membuatnya menahan rasa lapar. “Ayo kita antar ke tetangga dulu saja mbak. Keburu malam, malah gak kemakan.”
“Beneran? Disini para penghuninya baru tidur jam 00 mas. Jam segini mah banyak yang baru pulang.” Jelas Erna.
Doni segera mengangkat satu wadah plastik besar yang berisi makanan berat tersebut. Dia mengikuti Erna naik ke lantai tiga. Selama mau satu minggu di apartemen tersebut, baru kali ini dia naik ke lantai atas.
“Mas Doni, masih kuliah atau sudah kerja?” tanya Erna, mereka mulai berbelok ke arah unit yang ada orang menempati.
Erna mengetuk pintu.
“Masih kuliah mbak. Semester 6 mau 7, tugas akhir.” Jawab Doni pelan. Dia mulai menurunkan kotak makanan itu ke lantai. Terbungkus plastik merah, jadi masih tetap aman.
Tidak lama kemudian, pintu unit bernomor 11 tersebut terbuka. Tampak seorang perempuan yang berkisar umur 30an membuka.
Erna menyapa orang itu, lalu mengobrol sebentar. Doni juga memperkenalkan diri. Dari orang tersebut kemudian diketahui kalau unit di lantai 3 sementara hanya ada dia saja. Yang lainnya belum kembali dan belum terisi.
“Terima Kasih ya mbak Erna dan suami.” Kata perempuan bernama Sandra dari unit 11 tersebut.
Erna dan Doni saling beradu pandang. Lalu buru-buru mengklarifikasi,” bukan.” Jawab mereka hampir di waktu serempak.
“Aiish, serasi sekali.“ kata Sandra.
“Bukan mbak, dia ini penghuni kamar 03, di bawah. Tetangga kita juga. Masih kuliah. “ jelas Erna.
“Ohalah, saya kira suami mbak Erna. Serasi loh kalian.” Sandra mencoba mengompori. Sesekali mengangkat alis.
“Aduh mbak Sandra bisa saja. Dimana mas Bayu?”
“Tuh, sudah terlelap.” Jawab Sandra sambil menunjuk seorang laki-laki di dalam ruangan yang memang sudah terlelap meski sebuah TV dengan acara kontes bernyanyi masih berlangsung.
“Pak guru kecapekan ya mbak. Ya sudah kami undur diri dulu. “ Pamit Erna lalu dia segera turun ke lantai berikutnya.
Dari penjelasan Erna kemudian diketahui bahwa Sandra dan suami termasuk penghuni awal apartemen tersebut. Suaminya, Bayu adalah guru honorer di salah satu SD negeri di kecamatan sebelah. Sedangkan Erna sehari-hari bekerja di laundry.
Krucuuk
Perut Doni kembali berbunyi. Kali ini lebih keras sehingga terdengar oleh Erna yang berjalan di depan.
Erna tertawa, menutupi gigi putihnya dengan telapak tangan. “Mas Doni makan dulu saja. Mana sisanya biar Erna antar sendiri.”
“Eeh jangan mbak. Ayo kita selesaikan. Seperti kata Damkar, pantang pulang sebelum padam.” Namun perut Doni kembali berbunyi. Dia benar- benar lapar setelah terakhir makan di jam 13 siang.
“Sudah. Mas Doni silakan makan dulu. Mau di kamar saya boleh, mau dibawa ke kamar mas Doni juga boleh.” Kata Erna lalu segera membawa sisa kotakan makanan lain menjauh dari Doni.
Doni berusaha cuek. Memang dia lapar benar. Maka, dia segera membawa makanan tersebut ke unitnya. Dan langsung memakan dengan lahap ayam goreng dan sambal tersebut untuk menjawab protes dari lambung.
Saat tengah konsentrasi mengunyah ayam tepung kremes tersebut, suara desahan kembali terdengar dari kamar sebelah.
“Bukankah suaminya sudah berangkat barusan?” katanya pelan.
Doni menutup pintu depan. Lalu kembali mendekat ke tembok tetangga itu. Kali ini bukan telinganya yang mendekat. Dia sengaja membuka lakban hitam yang beberapa hari lalu sengaja dia tempelkan saat awal menempati unit.
Betapa terkejutnya Doni, dibalik celah itu terlihat dengan jelas. Penghuni kamar sebelah sedang melakukan hal yang membuat bola mata mau keluar.
Malam itu seharusnya menjadi waktu istirahat setelah presentasi yang melelahkan. Namun bagi Doni, malam itu justru menjadi awal dari kekacauan baru.Sylvi memencet pintu kamar hotel, sejak kejadian sebelumnya Doni memang sengaja mengunci pintu.Setelah membuka pintu, Doni kembali ke dalam dengan wajah tegang sambil membawa laptop.“Don, kita harus revisi materi untuk besok. Investor yang datang beda dari rundown awal. Kita perlu menyesuaikan beberapa poin.”Doni melihat ke jari Sylvi, tidak ada cincin. Lalu dia segera mengangguk lemas. “Oke, Bu Sylvi, Sini.”Mereka duduk di meja kecil dekat jendela, laptop terbuka, suara ombak Bali terdengar jauh. Membuat suasana khas yang sangat nyaman untuk berpikir dan mencari ketenangan. Baik sekadar liburan atau bekerja. Namun ketenangan alam itu tidak mampu menjinakkan badai di kepala Doni.Ketika Sylvi membuka draft materi yang Doni kerjakan sore tadi, ia langsung mengerutkan dahi.“Don… ini salah semua. Bagian data keuangan tidak jeli. ”Doni
Venue itu mewah, tempat perusahaan besar dan pemilik modal berkumpul. Bisa sekadar untuk mendengar proposal kerja sama baru, ataupun guna menggugurkan kewajiban undangan wajib dari pemerintah.Sylvi tampil rapi, rambut terikat, seragam kantor menyatu dengan aura profesionalismenya. Sementara Doni… hanya berusaha terlihat seperti orang yang tidak sedang hancur.“Don,” panggil Sylvi pelan begitu mereka masuk lift. “Kamu baik-baik aja? Sejak tadi diam banget.”“Oh, iya. Aku… cuma kurang tidur.”Sylvi menatapnya dalam, seolah mencari celah dari kebohongan kecilnya.“Kamu yakin?”Doni mengangguk cepat.Tapi bagaimanapun, ketidaktenangan itu tidak bisa ditutupi. Matanya sembab, konsentrasinya buyar, bahkan ia salah menekan tombol lift.Juga berbagai kesalahan kecil lain. Apakah itu semua pertanda akan kejadian lain hari?Ruangan besar itu dipenuhi para petinggi perusahaan. Projector menyala. Slide pertama muncul. Sylvi berdiri di samping Doni dan memberi anggukan kecil.“Tenang ya, Don. Kit
Lampu lalu lintas berubah hijau. Nadia mundur sambil menatap Doni.“Mas… jangan hilang lagi, ya.”Doni mengangguk lemah.Mobil melaju, meninggalkan Nadia yang berdiri di trotoar dengan bahu bergetar, mencoba menahan air mata yang sudah terlalu lelah untuk jatuh.“ Maafkan aku ya Nad. Kamu pasti bisa melalui ini semua. “Gumam Doni pelan. Sesampainya di bandara, panggilan terakhir penumpang pesawat sudah didengungkan. Dengan tergesa-gesa Doni segera melakukan prosedur awal pendaftaran penerbangan dan langsung masuk pesawat. … . Doni tiba di Bali sore hari. Di pintu kedatangan, Sylvi sudah menunggunya.“Doni! Akhirnya kamu datang.”Sylvi tersenyum cerah, langit Bali tampak memantulkan cahaya di matanya.“Aku akan selalu menemani bidadari perusahaan kita kemanapun dibutuhkan, bukanlah begitu tuan putri? “ Ucap Doni berusaha menghibur Sylvi. “Itu yang aku suka darimu. Selalu cepat dan bisa diandalkan. ““Dan aku akan selalu suka menemanimu kemanapun. Akan kemana kita? Langsung kerja?
“Apalagi ini, Tuhan? apa semua balasan dari akumulasi dosaku selama ini?” ucap Doni pelan.Perlahan, para peserta yang sebelumnya berniat menjadi audience seminar hasil Doni menjauhi ruangan. Donipun berjalan pelan keluar ruangan.Doni berdiri mematung di depan ruang sidang seminar hasil. Ruangan itu kini juga telah kosong, hanya tersisa papan tulis yang masih ada sisa-sisa coretan metodologi miliknya. Peluh dingin membasahi tengkuknya. Hatinya terasa retak, nyaris remuk. Hasil akhir sidangnya hanya berujung pada satu kalimat dari Prof. Anas yang terus terngiang:"Tidak layak. Metode yang kau pakai tidak sesuai kaidah ilmiah yang saya arahkan."Prof.Anas yang terkenal kalem dan pembimbing yang tenang, itu menjadi seperti singa podium yang langsung menghancurkan semua perjuangan Doni selama tiga bulan ini.Doni tidak bisa berkata apa-apa. Ia tahu sudah berusaha, ia tahu Bu Dyah yang selama lima bulan menggantikan pembimbing utama sudah memoles semuanya semampu mungkin. Tentu dengan pen
Dikejar para perempuan juga disandera para wanita. Banyak wanita juga banyak masalah yang muncul begitu saja. Begitu mudah Doni berada, begitu pula tantangan hidup berasal. Dan itulah Doni dan hidup. Hidup, bagi Doni, terasa seperti rangkaian ujian yang anehnya begitu rapi, begitu terstruktur, seakan-akan ada tangan tak terlihat yang mengatur agar semuanya jatuh menimpanya dalam waktu yang sama. Mira yang tetap tak bisa dihubungi. Nadia yang terus mencarinya lewat pesan dan panggilan, namun harus ia abaikan demi syarat Rani yang entah apa maksudnya. Ditambah kejadian di kampus yang menguras energinya, membuatnya seperti berjalan dengan tas ransel berisi batu.“Cobaan apa gak bosan kamu mengikuti ku? Pindahlah ke orang lain. Aku saja sudah bosan denganmu! “ lirih Doni bermonolog. Gr.. Gr… gr… Beberapa saat kemudian sebuah pesan masuk. Dari orang yang baru saja dia pikirkan. Rani: [Jangan sampai melanggar janji. ]Doni : [ Iya. Aku tahu]Beberapa detik kemudianRani: [Dan jangan lup
Doni berjalan mondar-mandir di depan IGD, langkahnya tidak teratur. Setiap beberapa detik ia berhenti, menatap pintu itu seperti ingin menembusnya dengan tatapan—seolah jika ia cukup kuat, pintu itu akan terbuka dan membiarkan dia masuk.Tapi tidak.Pintu itu tetap menjadi tembok antara Doni dan kenyataan pahit yang sedang terjadi pada Nadia.Rika duduk di kursi tunggu, memeluk tas kecilnya. Suaranya masih serak ketika ia memanggil Doni.“Mas Doni… duduk sebentar. Mas kelihatan lelah sekali, seperti mau pingsan.”Doni menggeleng keras. “Aku nggak bisa duduk, Rika. Kalau aku duduk… pikiran aku makin kacau.”Rika menatapnya lama, wajahnya dipenuhi rasa iba.“Mas… Bu Nadia itu kuat. Dia pasti berjuang di dalam. Tapi Mas juga harus tenang…”“Tenang?!” Doni mengangkat suaranya, lalu cepat-cepat menurunkannya karena sadar mereka berada di rumah sakit.“Rik, aku hampir saja nabrak anak kecil di jalan. Aku hampir bikin orang mati! Karena kepalaku kacau, karena aku panik… terus sekarang aku ha







