Share

Bab 95. Hasil Rekaman

Author: Sweety
last update publish date: 2026-08-30 21:30:12

"Kenapa? Masih mau?" suara Angkasa rendah, berat dan serak. Napas dari bibir pria itu mengembus hangat di bibir Asha yang terbuka tipis.

Asha mengerjap pelan dengan dadanya yang naik turun karena sekujur tubuhnya terasa panas. Belum lagi inti tubuh gadis itu yang masih berdenyut di bawah sana.

Ia mengatupkan bibir lalu menaikkan punggungnya sendiri untuk lepas dari kungkungan Angkasa.

"Enggak kok, Kak. Aku cuma bertanya—"

Kalimat Asha terpotong bersamaan saat Angkasa menahannya untuk bangun
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Rahcelle Chuu
ashaa yaamvunn asbunnya
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Senior Galak, Jangan Dekat - Dekat!   Bab 191. Mainkan yang Itu

    "Angkasha… apa aku bisa mendengar permainan biola kamu sekarang?" ujar Angkasa pelan di atas kepala Asha.Gadis itu perlahan menarik wajahnya dari dada Angkasa. Ia mendongak, menatap pria di hadapannya dengan bingung.Entah apa yang terjadi pada Anglasa malam ini. Wajah pria itu terlihat sangat lelah dan sorot matanya pun tampak berat."Di sini, Kak?" tanya Asha."Bukan." Angkasa menggeleng pelan. "Kita keluar sebentar. Kalau di sini, nanti kedengaran dan memancing penjaga asrama."Asha mengangguk paham. "Oh, iya ya, Kak.""Ambil biola kamu dulu. Aku keluar duluan," kata Angkasa, melepaskan pelukannya."Oke, Kak," timpal Asha."Aku tunggu di gerbang sebelah timur kampus," tambah pria itu. Asha kembali mengangguk.Kehadiran Angkasa yang sudah beberapa hari tidak ditemuinya membuat gadis itu melupakan segala prasangka yang sempat memenuhi pikirannya. Ia tidak lagi memikirkan ke mana pria itu pergi atau dengan siapa.Sekarang, ia hanya mau memenuhi permintaan Angkasa.Asha segera masuk k

  • Senior Galak, Jangan Dekat - Dekat!   Bab 190. Ingin Bertemu Asha

    "Apa, Kak?" Sabrina mengangkat bahu santai. "Kenapa kaget begitu aku tahu soal Kakak dan Asha?"Angkasa masih menatap Sabrina tanpa berkedip. Gadis itu terkekeh bersama Alena."Aku pernah lihat Kakak bareng dia berdua di belakang perpustakaan," ucap Sabrina, mengangkat alis sambil tersenyum tipis.Adeline menahan senyum, menatap Angkasa. "Namanya mirip yang sama kamu, Sayang."Angkasa masih belum berkomentar.Sabrina kemudian menambahkan. "Dan dia cantik, Mama. Walaupun aku sempat sebal ya sama dia waktu masa orientasi, tapi dia baik."Alena yang sejak tadi diam ikut menimpali. "Jadi itu alasan Kak Angkasa belakangan sering senyum sendiri?""Enggak juga," bantah Angkasa datar, meski sebenarnya memang Asha penyebab ia bisa tersenyum lagi.Adeline akhirnya tertawa kecil melihat interaksi anak-anaknya. Wanita cantik itu lalu meraih pundak Angkasa."Bawa Angkasha Meijers bertemu Mama besok. Mama jadi penasa

  • Senior Galak, Jangan Dekat - Dekat!   Bab 189. Kangen

    Beberapa hari telah berlalu dan Asha akhirnya menyadari satu hal yang selama ini berusaha ia abaikan. Ia telah jatuh hati pada Angkasa. Bukan sekadar rasa kagum atau ketertarikan sesaat seperti yang pernah ia rasakan pada kakak kelasnya bernama Samudra di masa SMA. Perasaannya pada Angkasa jauh lebih dalam, rumit dan membuat dadanya sesak setiap kali memikirkan pria itu. Sayangnya, akhir-akhir ini, Angkasa sulit ditemui. Sudah berhari-hari, pria itu tidak bermalam di unit kamar mereka. Asha berusaha berpikir positif. Angkasa mungkin sedang sibuk mengerjakan proyek arsitekturnya di luar atau mungkin sedang mengikuti latihan intensif untuk pertandingan hoki yang sempat pria itu sebut tempo hari. Namun tiap malam sebelum tidur, pikiran Asha mulai berkelana ke arah yang tidak ia sukai. Bagaimana jika Angkasa sedang bersama perempuan lain? Malam berikutnya, Asha kembali makan malam sendirian. Semangkuk mie instan

  • Senior Galak, Jangan Dekat - Dekat!   Bab 188. Mode Sweet Angkasa

    Asha membuka matanya pelan, menangkap sinar matahari pagi yang menyelinap masuk melalui celah tirai. Ia berkedip beberapa kali sebelum menoleh ke kasur di seberang. Dan ternyata kosong. "Kak Angkasa gak pulang ya semalaman?" gumamnya, menatap kasur tersebut selama beberapa detik. Entah kenapa pikirannya sedikit terusik. Mungkinkah Angkasa bersama perempuannya yang lain? Atau membantu Della lagi? Asha menghela napas lalu segera menggelengkan kepala dan turun dari tempat tidur. Daripada terus memikirkan Angkasa, Asha melakukan berbagai kegiatan, mulai dari merapikan kamar, menyapu dan mengepel lantai unit d lalu menyiapkan sarapan sederhana berupa semangkuk sereal dan susu. Tubuh gadis itu terasa lebih lemas, mungkin karena hari kedua menstruasinya. Semalam, sebelum tidur, ia baru menyadari bahwa siklus bulanannya datang. Saat perkuliahan berlangsung, Asha beberapa kali melirik ponselnya untuk mengecek pesan dari Angkasa. Namun, sampai detik ini, tidak ada kabar dari pria itu. P

  • Senior Galak, Jangan Dekat - Dekat!   Bab 187. Kedatangan Pengganggu

    Angkasa yang sudah menyadari suara ketukan di pintu unit, segera mengangkat wajahnya dan menoleh sebentar lalu kembali menatap Asha. Napas mereka sama-sama terengah-engah. Angkasa mengusap kepala Asha lembut seraya berkata. "Tunggu di sini." "Kunci pintunya," imbuh pria itu. Asha mengangguk paham. Setelah itu, Angkasa masuk ke area mandi dan keluar menggunakan bathrobe abu-abu. Caranya mengikat tali bathrobe itu membuat Asha terpaku, bahkan di saat genting seperti ini pria itu tetap tenang. Angkasa memberikan handuk putih pada Asha sebelum ia keluar dari kamar mandi dan menutup pintu. Entah siapa yang datang mengganggu? Angkasa mengembuskan napas panjang saat menemukan Hayden yang berdiri di depan pintu unit kamarnya. "Akhirnya kau buka pintu!" seru Hayden. Tanpa menunggu izin, pemuda itu masuk ke dalam unit sambil menenteng laptop dan setumpuk dokumen. "Aku meneleponmu dari tadi, Ka, tapi kau gak jawab-jawab. Kau ngapain aja?" Angkasa menatap punggung Hayden dengan wajah dat

  • Senior Galak, Jangan Dekat - Dekat!   Bab 186. Kamu Bebas Menyentuhnya

    Sedekat ini dengan Angkasa selalu memangkas habis logika Asha. Bibirnya terbuka tipis, namun jawabannya tersangkut di tenggorokan. Gadis itu kemudian hanya mengangguk malu-malu. Sudut-sudut bibir Angkasa terangkat tipis. Lantas ia menggendong Asha, menopang paha gadis itu. Sementara Asha mengalungkan lengannya lebih erat di tengkuk Angkasa. Tidak ada yang berbicara saat Angkasa mulai berjalan. Pasalnya bibir mereka kini saling memagut dalam. Entah siapa yang memulai. Angkasa menghisap benda mungil kenyal Asha dengan penuh damba, membuat Asha membalas dengan sama kuatnya. Setelah masuk kamar mandi tanpa menutup pintu, Angkasa mendudukkan Asha di sebelah wastafel sembari melepas ciuman mereka beberapa jenak. Asha menaikkan tatapannya, bertemu dengan mata gelap Angkasa yang terlihat begitu sayu. Napas gadis itu keluar masuk tak beraturan, seolah paru-parunya kehabisan stok udara. Angkasa kemudian menggosokkan uj

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status