LOGINAngkasha—yang lebih suka dipanggil Asha—tak pernah menyangka namanya yang nyaris sama dengan Angkasa, Ketua BEM paling arogan membuatnya harus sekamar dengannya. Tinggal satu asrama dengannya sudah cukup berbahaya. Apalagi kalau satu kampus tahu Ketua BEM dan mahasiswi baru ternyata berbagi kamar yang sama. Satu skandal saja, reputasi Angkasa hancur... dan masa depan Asha ikut melayang. Namun masalahnya, kenapa Ketua BEMnya selalu membawa alat setiap hari di balik celananya?!
View More"Yah, kita gak satu kamar, Asha."
Asha melirik sekilas ke arah sahabatnya yang sedang mencebikkan bibir, lalu kembali menatap kartu akses di tangannya. Ini hari pertama perpindahan massal mahasiswa baru ke gedung asrama. Sesuai kebijakan baru rektorat tahun ini, seluruh mahasiswa baru wajib tinggal di asrama kampus. Padahal, seandainya disediakan opsi, Asha lebih suka tinggal di rumah tantenya dengan bekerja paruh waktu daripada tertahan dengan asrama dan peraturan-peraturannya. "Mau bagaimana lagi, Key? pembagian kamar asrama kan sudah ditentukan," jawab Asha dengan tarikan sudut bibir yang kaku. Keyra, sahabatnya meneliti kartu di tangan Asha, lalu terkekeh pelan. "Aku tahu nama kita jauh dari urutan abjad. Tapi kenapa penempatan asrama kita bisa sejauh ini ya? Kamarmu di ujung." "Kamu berani kan?" imbuhnya. Asha mendengkus pelan, mengabaikan nada menggoda dari sahabatnya. "Menurut kamu sereman mana sama hidupku?" Keyra tertawa terbahak. Iya juga. Siapa yang tak seram melihat sahabatnya yang hidup sebatang kara? Ia menghela napas, "padahal aku mau ngobrol lama sama kamu. Sumpah BEM Univ kita, Kak Angkasa, tau kan, Sha? … Angkasa ya! Bukan kamu. Dia—ganteng banget!" Asha memutar bola matanya malas, lalu melirik sekilas ke arah koridor yang mulai lengang. Sebenarnya dia tidak punya tenaga untuk meladeni ocehan sahabatnya tentang Angkasa, ketua BEM kampus yang dipuja banyak mahasiswi itu. Semua karena dari demo besar bulan lalu. Sosok Angkasa terus disorot kamera media kampus karena aksinya memimpin mimbar bebas. Dan Keyra menjadi salah satu mahasiswa baru yang terpincut. Dan Asha sebenarnya tidak tertarik dengan ketua BEM yang menyebalkan itu. "....Oke deh, jangan sampai kamu bikin masalah di hari pertama," pesan Keyra sambil mengacungkan telunjuk. Asha memutar bola matanya malas, kemudian menurunkan telunjuk sahabatnya itu. "Aku bukan pembuat masalah ya." "Iya sih, tapi masalah biasanya yang datang sendiri ke kamu," balas Keyra, lalu mereka berpisah menuju koridor masing-masing. Di tengah lalu-lalang mahasiswi yang membawa koper besar, Asha melangkah menyusuri koridor asrama sambil meneliti nomor kamar satu per satu. Tatapannya tak sengaja menangkap pantulan dirinya di dinding kaca. Asha mengenakan kemeja putih lengan panjang berlapis rompi rajut krem dan tas punggung sederhana. Roda kehidupan memang berputar, tak selamanya seseorang berada di atas. Asha misalnya. Pernah ada di titik tak perlu memikirkan biaya hidup dan pendidikan, namun kini Asha menggantungkan masa depannya pada beasiswa. Gadis cantik itu menghela napas sambil merapatkan map formulir penempatan asrama ke dadanya, lalu kembali menarik koper. Begitu menemukan unit kamarnya, Asha segera membuka pintu menggunakan kartu akses. Dia berjalan melewati dapur lalu ke tengah ruangan dan menuju kamar tidur. Pandangan gadis itu tertumbuk pada dua kasur single yang masing-masing menempel pada rangka kayu. Artinya dalam satu kamar berisi dua orang. Ia meletakkan koper di dekat lemari, lalu memasang charger ponselnya. Mapnya diletakkan di atas meja belajar yang terhubung dengan sebuah rak buku kosong. Manik matanya kemudian beralih ke arah pintu. Terdengar suara air mengalir dari dalam kamar mandi. Teman sekamarnya sudah sampai lebih dulu ternyata. Semoga saja bukan tipe teman sekamar yang merepotkan. Namun, tidak ada koper atau tas lain selain miliknya di sudut ruangan. Asha mengabaikannya, memilih membuka koper untuk mengambil pakaian ganti. Setelah perjalanan dari rumah tantenya, dia ingin segera mandi sebelum orientasi malam dimulai. Beberapa menit kemudian, gadis berambut panjang cokelat itu sudah selesai melepas pakaian dan hanya melilitkan handuk pada tubuh putih beningnya. Sialnya, perutnya mendadak memberikan sinyal darurat. "Aduh…" Asha lari terbirit-birit keluar kamar, lalu menatap pintu kamar mandi yang masih berembun. Gadis itu mendekat dan mengetuk pintu. "Hai? Bisa lebih cepat gak? Aku butuh ke toilet." Tidak ada respons. Asha mengerutkan kening dan mencoba menekan gagang pintu yang ternyata terkunci. Astaga. Baru saja dia berharap tidak mendapatkan teman sekamar yang merepotkan, malah sekarang dihadapkan dengan situasi genting seperti ini. Asha curiga teman sekamarnya adalah cewek berkelakuan tuan putri manja yang mandinya bisa sampai tiga jam. Terpaksa harus keluar kamar. Sepengetahuan gadis itu ada toilet umum di setiap lantai. Asha menghela napas, lalu merapikan lilitan handuk di dadanya. Baru saja dia berbalik untuk mengambil pakaian dalam, pintu kamar mandi terbuka lebar dan tercium aroma sabun. Senyum di bibir merah mudahnya tersungging lega. Asha refleks berbalik cepat dan melangkah tanpa melihat ke depan. "Untung saja kamu sudah selesai, aku sudah hampir ke—" Ucapan Asha terhenti saat tubuhnya menabrak dada bidang seseorang. Saking kokohnya, dia terpental mundur dan kakinya terpeleset di lantai licin. Tangan gadis itu refleks meraih apa saja untuk berpegangan sebelum jatuh ke belakang, dan sialnya, yang menangkap lengannya sosok itu agar tidak tertahan. Lunglai karena kakinya tidak menahan lantai yang licin, ia menyerusuk ke bawah dan yang tertangkap hanyalah handuk di pinggang pria itu. Bruk! Asha ternganga lebar. Matanya refleks bergerak dari atas ke bawah sebelum buru-buru memalingkan muka sambil menjerit histeris. "AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAH!" Gila! Kenapa... kenapa… ia punya... belalai? Lebih gilanya lagi.. Kenapa pria ini di sini?!"Kalau aku mau 'kamu' bagaimana, Angkasha?" suara Angkasa parau. Tatapan pria itu terkunci ke wajah Asha yang memerah seperti kepiting rebus.Asha terpaku beberapa jenak, membingkai setiap fitur wajah tegas dan tajam Ketua BEMnya dengan pupil yang bergetar.Entah dorongan dari mana, Asha akhirnya mengangkat kedua lengannya melingkar di tengkuk Angkasa. Jarak wajah mereka tersisa beberapa inci. Napas keduanya yang memburu saling berbaur, menciptakan hangat dua kali lipat yang menggetarkan dada.Ujung hidung Asha menyentuh ujung hidung tinggi pria itu, mata keduanya yang sudah sayu saling terkunci satu sama lain.Kepala Asha dipenuhi berbagai alarm yang berbunyi secara bersamaan. Alarm pertama mengatakan 'ingat Ketua BEM itu yang pernah membuatmu menangis di wawancara beasiswa.' Alarm kedua berbunyi 'dia membuatmu malu di depan ratusan mahasiswa baru dan memberimu hukuman.'Alarm ketiga seolah berteriak 'jangan dekat-de
'Astagaaaaaa…' rutuk Asha dalam hati. Ia sekaligus mengutuk dirinya sendiri karena lupa mengunci pintu kamar mandi sebelum berendam. Tak pernah terbesit di kepalanya, Angkasa akan kembali secepat ini ke kamar.Dan yang lebih parah, radar bahayanya aktif begitu mendengar celetukan teman Ketua BEMnya dari luar."Ka, ngapain grasah-grusuh di kamar mandi?"Manik cokelatnya membulat panik ke arah Angkasa yang sama tegangnya dengan Asha.Jika tidak cepat bertindak, sudah pasti mereka akan ketahuan sekamar. Mana Asha sedang di posisi tidak mengenakan sehelai benang pun, hanya air dan busa-busa dalam bathtub yang membalut tubuhnya sampai batas dada.Dan, Angkasa sudah menyingkirkan semua pakaiannya ke dalam keranjang di luar area mandi."Sekarang gimana?" bisik Asha terburu-buru. Jemari lentiknya mencengkeram erat tepi bathtub.Tanpa banyak bicara, Angkasa segera melepaskan jaket almamaternya dan menarik ke atas kaus putih yang
Asha membuka pintu unit kamarnya dengan lemas, langkah gadis itu berat masuk ke dalam. Tubuhnya terasa remuk, bahunya merosok, wajahnya menekuk dan kelopak matanya terasa berat hingga terlihat nyaris terpejam. Karena ulahnya sendiri—pikiran Asha ke mana-mana—saat games tebak gambar, kelompoknya kalah dan harus menjalani hukuman bersama. Argh! Sudah dua hari berturut-turut dia mendapatkan hukuman di masa orientasi ini. Rasanya seluruh otot tubuh Asha sedang mengajukan surat protes. Dulu, setiap kali kelelahan semacam ini menghampirinya, Asha tinggal memesan sesi spa. Tubuhnya akan dimanjakan dengan pijatan relaksasi, aroma terapi yang menenangkan dan segelas minuman hangat yang disajikan khusus untuk Asha. Sekarang? Jangankan spa, memikirkan pengeluaran tambahan saja sudah membuat dompet Asha menjerit. Dan yang paling menyebalkan, wajah Angkasa seakan melayangkan ejekan padanya saat sesi games itu.
Asha menelan salivanya sekuat tenaga, apalagi saat Angkasa menurunkan tangan. Ia merasakan ibu jari pria itu menyapu samar di bibirnya yang terbuka tipis. Asha kemudian mengatupkan bibir lalu mengulumnya kuat-kuat. Rak-rak buku yang menjulang tinggi memang berhasil menyembunyikan dirinya dan Angkasa dari pandangan luar, tetapi jarak nol di antara Asha dan Ketua BEMnya membuat gadis itu sulit mengendalikan napasnya yang terasa sesak. Sekarang, Angkasa menahan bahu Asha agar tidak bergerak. Di luar persembunyian mereka, langkah kaki terdengar semakin tergesa. Suara kecapan terdengar semakin jelas. Sementara itu Asha memejamkan matanya, berharap di depannya tiba-tiba muncul pintu darurat untuk kabur. Dia ingin segera menjauh dari Angkasa sekaligus menghindari dua sosok yang terdengar sedang berciuman di luar sana. "Sayang, stop… jangan di sini." Perempuan itu te
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore