Share

Bab 146

Author: Mita Yoo
last update Last Updated: 2026-01-06 20:02:49

Malam di Yogya terasa lebih tenang. Setelah Laras pulang dan suasana riuh mereda, Dara dan Reza duduk di teras belakang, ditemani secangkir teh jahe hangat dan suara jangkrik yang saling bersahutan. Dalam keheningan yang akrab itu, Dara akhirnya membuka sedikit pintu hatinya untuk bercerita pada sepupunya yang selalu menjadi pendengar yang baik.

Dara memulai ceritanya dengan suara rendah, hampir berbisik, matanya menatap cangkir teh jahe di tangannya. “Sebenernya ... aku ke sini
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Sentuh Aku Lagi, Sayang!   Bab 299

    Esoknya, di kantor polisi, Samuel duduk di ruang kerja salah satu rekannya dengan secangkir kopi hitam yang sudah dingin. Di depannya, tumpukan berkas dan beberapa lembar foto yang baru saja ia cetak. Foto-foto itu menunjukkan Arkha dan Ben di berbagai lokasi—kafe, gudang tua, parkiran apartemen Rendra.Pintu terbuka. Rendra masuk dengan langkah cepat, diikuti Irvan.“Sam, gimana?” tanya Rendra langsung.Samuel menghela napas, menunjuk kursi di depannya. “Duduk dulu. Ini bakalan panjang, Ren.”Mereka duduk. Samuel membuka laptopnya, menampilkan beberapa rekaman CCTV.“Ini yang berhasil dikumpulkan timku dalam dua hari. Arkha dan Ben ketemu di kafe ini tiga kali dalam seminggu terakhir. Mereka juga terpantau di gudang tua kawasan pelabuhan, lokasi yang sama dengan tempat persembunyian mereka dulu.”Irvan mencondongkan badan. “Ada bukti mereka yang ngatur serangan ke aku?”Samuel mengangguk. “Ini.”Dia menunjukkan rekaman lain. “Ini wartawan yang nulis berita pertama. Namo, wartawan lep

  • Sentuh Aku Lagi, Sayang!   Bab 298

    Suasana di apartemen Irvan berubah drastis dalam tiga hari. Meja makan yang biasanya bersih kini penuh dengan berkas-berkas, laptop, dan secangkir kopi yang sudah dingin sejak pagi. Irvan duduk dengan mata merah, lingkaran hitam di bawah matanya semakin jelas.Nina berjalan mendekat dengan ponsel di tangan, wajahnya pucat.“Mas, ada pesan masuk.”Irvan mengangkat wajah lesu. “Apa lagi?”Nina menunjukkan ponselnya. Sebuah pesan masuk dari nomor tidak dikenal. Isinya foto foto Irvan sedang makan malam dengan seorang wanita cantik di restoran mewah. Wanita itu tertawa, tangannya menyentuh lengan Irvan dengan akrab.“Masih mau nikah sama playboy ini?” tulis pesan itu.Irvan membaca, lalu menghela napas panjang. “Sayang, itu cuma klien. Klien dari luar kota. Kami makan malam bisnis, nggak lebih.”Nina menatapnya. Bukan curiga, tetapi lebih kepada iba.“Mas, aku nggak percaya in

  • Sentuh Aku Lagi, Sayang!   Bab 297

    Keesokan paginya,  Irvan baru saja tiba di kantornya ketika sekretarisnya, Rina, menyambut dengan wajah pucat.“Pak Irvan, ada berita buruk,” kata wanita itu.Irvan mengerutkan kening. “Ada apa?”Rina menunjukkan layar ponselnya. Sebuah portal berita online menampilkan judul yang sangat mencolok.“Proyek Apartemen Mewah Irvan Pratama Diduga Bermasalah: Izin Lingkungan Dipertanyakan”.Irvan membaca cepat. Isinya tuduhan tanpa bukti yang jelas, tetapi ditulis dengan gaya seolah-olah itu adalah fakta. Nama perusahaannya disebut berkali-kali, disandingkan dengan foto proyek yang sedang berjalan.“Ini fitnah,” gumamnya.Namun, sebelum dia sempat bereaksi, ponselnya berdering. Dari seorang investor.“Pak Irvan, ada apa dengan berita ini? Saya dapat telepon dari rekan-rekan.”Irvan menenangkan. “Itu berita bohong, Pak. Saya akan klarifikasi—”Kemudian

  • Sentuh Aku Lagi, Sayang!   Bab 296

    “Sial!”Arkha membanting ponselnya ke kursi penumpang. Dia memukul setir dengan kedua telapak tangan, membuat klakson melengking sebentar, memecah keheningan malam.Beberapa pejalan kaki menoleh, tapi cepat-cepat berpaling begitu melihat ekspresi Arkha. Wajahnya merah padam, urat di lehernya menonjol, matanya menyala dengan api kemarahan yang mengerikan.“Rendra,” desisnya, meludahkan nama itu seperti racun. “Pasti Rendra yang suruh. Dia memang seneng banget bikin aku emosi.”Dia menghela napas panjang, berusaha menenangkan diri. Amarah tidak akan membantu. Dia harus berpikir jernih.Ponselnya bergetar. Panggilan masuk dari Ben.“Gimana?” suara Ben di seberang.“Nomorku diblokir sama Dara. Aku nggak bisa hubungi dia.”Ben tertawa kecil. “Udah kuduga. Rendra pasti tahu.”“Iya. Sekarang gimana?”Keheningan di seberang beberapa saat. Lalu Ben berka

  • Sentuh Aku Lagi, Sayang!   Bab 295

    Dara berlari, memeluk suaminya erat. “Nggak akan, Bi. Nggak akan pernah.”Mereka berpelukan di tengah ruangan, meja makan dengan makanan setengah tersentuh jadi saksi. Rendra memeluknya balik, erat, seolah takut jika dilepas, Arkha akan datang dan merenggutnya.“Maaf,” bisik Rendra sambil mengusap lembut  rambut Dara. “Maaf aku marah-marah.”“Maafin aku juga, Bi. Harusnya aku cerita dari awal,” bisik Dara.Rendra melepas pelukan, menatap Dara. “Janji, mulai sekarang, apa pun yang terjadi, kamu cerita. Sekecil apa pun. Bahkan kalau Arkha cuma lewat di depan apartemen.”Dara tersenyum tipis di sela air mata. “Iya. Aku janji.”Mereka kembali berpelukan, kali ini lebih lama. Di luar, malam semakin larut.“Kita hapus nomornya,” kata Rendra. “Blokir semua kontak. Nggak ada lagi akses dia ke kamu dan sebaliknya. Aku nggak sanggup kalau harus ngelihat dia deketin kamu. Nggak akan.”

  • Sentuh Aku Lagi, Sayang!   Bab 294

    Malam itu, Dara berusaha keras melupakan pertemuan singkat dengan Arkha. Dia ingin percaya bahwa itu hanya badai kecil yang bisa ia lewati. Fokusnya kembali pada hal yang paling berarti saat ini. Dirinya sendiri, kesehatannya, dan program kehamilan yang tengah ia jalani dengan penuh harap.Rendra duduk di seberang meja makan. Suasana hangat menemani mereka—nasi goreng buatan Dara, dua gelas jus alpukat, dan canda ringan yang mengisi sela-sela suapan. Untuk sesaat, semuanya terasa normal. Bahagia.Lalu ponsel Dara berdering.Getaran itu mengganggu ketenangan, meninggalkan bekas di permukaan kayu. Rendra, dengan refleks seorang suami yang terbiasa melayani, mengulurkan tangan.“Biar aku aja yang ambil hape kamu, Sayang,” katanya, santai.Dara mengangguk tanpa curiga, menyuap nasi goreng berikutnya.Rendra meraih ponsel itu. Layar menyala, memperlihatkan sebuah nama yang membuat jantungnya berhenti berd

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status