LOGINSampai di apartemen mereka, Rendra menceritakan pertemuannya dengan Kiara. Dara mendengarkan sambil menyuapi Biru makan malam.
“Jadi dia bakal menetap di sini, Bi?” tanya Dara.“Untuk sementara iya, Sayang. Katanya setelah Lilia besar, mungkin balik ke Singapura.”Dara mengangguk. “Lilia anaknya lucu. Mirip dia.”Rendra memperhatikan Dara. “Kamu nggak apa-apa?”Dara menatapnya, lalu tersenyum. “Nggak kok. Aku nggak cemburu.Tak lama berselang, Rendra pulang dengan bungkusan kue bolu kesukaan Biru. Ia meletakkannya di meja, lalu duduk di samping Dara. “Kiara sudah pulang?” Dara mengangguk. “Iya. Lilia pamit. Biru sampai sedih.” Rendra menatap Biru yang sedang menggambar di meja. “Dia suka banget sama Lilia.” “Iya.” Dara menyesap tehnya. “Kiara juga udah berubah, Bi.” Rendra mengamati istrinya. “Kamu baik-baik saja?” Dara menatapnya, lalu tersenyum. “Aku baik-baik saja. Malah ngerasa ... lega.” “Lega?” “Iya. Selama ini aku pikir, kalau aku bertemu Kiara lagi, aku akan marah. Atau sedih. Tapi ternyata …” dia menunduk, memainkan ujung cangkir. “Ternyata aku cuma lihat dia sebagai ibu Lilia. Teman main Biru. Dan itu cukup.” Rendra meraih tangannya. “Kamu hebat, Sayang. Tidak semua orang bisa seperti kamu.” Dara
Sampai di apartemen mereka, Rendra menceritakan pertemuannya dengan Kiara. Dara mendengarkan sambil menyuapi Biru makan malam.“Jadi dia bakal menetap di sini, Bi?” tanya Dara.“Untuk sementara iya, Sayang. Katanya setelah Lilia besar, mungkin balik ke Singapura.”Dara mengangguk. “Lilia anaknya lucu. Mirip dia.”Rendra memperhatikan Dara. “Kamu nggak apa-apa?”Dara menatapnya, lalu tersenyum. “Nggak kok. Aku nggak cemburu.”“Aku nggak bilang cemburu. Aku tanya kamu nggak apa-apa?”Dara menghela napas. “Dulu, mungkin aku akan marah, Bi. Tapi sekarang? Kita sudah lewati terlalu banyak hal untuk masih menyimpan amarah. Lagian,” ia menatap Biru yang sibuk dengan makanannya, “Biru punya teman baru. Itu lebih penting.”Rendra meraih tangannya. “Makasih ya, Sayang. Kamu hebat.”Dara membalas genggaman itu. “Kita berdua hebat karena bisa berdamai dengan masa lalu.”
Sore harinya, di perjalanan pulang mereka. Biru duduk di kursi belakang, masih bersemangat. “Ibu, Lilia lucu! Dia suka dinosaurus juga, tapi dia suka yang T-rex! Biru suka yang brontosaurus!”Dara tersenyum di balik kemudi. “Bagus, Nak. Kamu punya teman baru.”“Besok Biru main lagi sama Lilia, ya?”Dara mengangguk. “Boleh, Sayang.”Biru bernyanyi kecil, senang.Dara menatap jalanan, pikirannya melayang. Riani masih hidup. Dengan nama baru, anak baru, kehidupan baru. Dan ia harus memberi tahu Rendra.Tapi untuk saat ini, ia memilih menikmati kebahagiaan kecil di depan matanya. Biru punya teman baru, dan ia, mungkin, bisa memaafkan masa lalu.Malam itu, Rendra pulang dengan wajah lelah. Namun, dia langsung tersenyum begitu melihat Biru berlari ke arahnya.“Ayah! Ayah! Biru punya teman baru! Namanya Lilia!”Rendra menggendongnya. “Wah, cerita dong sama Ayah!”
Tiga Tahun Kemudian, Taman Kota … Biru berlari-lari kecil di taman, mengejar kupu-kupu. Rendra dan Dara duduk di bangku taman, mengawasinya dengan senyum. “Pelan-pelan, Nak!” teriak Dara. Biru berbalik, melambai, lalu kembali mengejar kupu-kupu. Samuel, Jasmine, Irvan, Nina, Fanny, dan Tari datang membawa makanan dan minuman. Mereka berkumpul di taman, sekadar bertemu untuk merayakan kebersamaan. “Kak, Biru makin pinter ya,” kata Nina. Dara tersenyum. “Iya. Suka nanya ini itu. Kadang bikin aku kewalahan.” Rendra menambahkan, “Kemarin dia nanya, kenapa langit biru. Aku jawab, karena warna kesukaan dia.” Semua tertawa. Biru berlari kembali, memeluk kaki Dara. “Ibu, aku lihat kupu-kupu! Warnanya kuning! Bagua banget!” “Bagus, Nak. Nanti kita gambar kupu-kupunya, ya.” B
Ruang kamar yang hanya diterangi cahaya remang dari lampu tidur menciptakan suasana yang hangat dan intim. Setelah Biru tertidur pulas di kamarnya, Rendra menarik Dara perlahan ke dalam kamar mereka. Tanpa banyak kata, ia membimbing istrinya ke tepi ranjang, lalu merebahkannya dengan lembut di atas seprai yang dingin.Rendra membayangi Dara, kedua tangannya menahan tangan istrinya di sisi bantal. Jari-jarinya menyelip di sela-sela jemari Dara, menggenggam erat namun tetap lembut. Dara menatapnya dengan mata yang berbinar, menunggu.Rendra menunduk. Bibirnya mulai mengecup kening Dara dengan gerakan lambat, penuh penghormatan. Lalu turun ke pangkal hidung yang mungil, ke pipi yang mulai memerah, hingga akhirnya menemukan bibir Dara. Ciuman pertama itu lembut, hanya persinggungan ringan yang membuat Dara menghela napas.Tapi Rendra belum selesai. Bibirnya bergerak turun, menyusuri dagu, lalu ke leher—tempat yang paling sensitif milik Dara. Ia
Malam itu, Dara dan Rendra duduk di balkon. Biru tertidur di boks dalam kamar, diawasi oleh baby monitor.“Bi, kita akhirnya sampai di saat ini,” kata Dara.Rendra meraih tangannya. “Iya. Setelah perjalanan panjang.”Dara menatap langit berbintang. “Dulu, waktu aku sama Arkha, aku nggak pernah kebayang bisa bahagia kayak gini.”Rendra mengecup tangannya. “Kalau sekarang?”“Sekarang ... aku bahagia. Bukan karena sempurna, tapi karena aku punya kamu, punya Biru, punya keluarga dan sahabat yang peduli.”Rendra mengecup tangannya. “Kamu pantas bahagia, Sayang. Kamu sudah berjuang keras.”Dara tersenyum. “Kita berdua.”Mereka berpelukan. Di dalam kamar, Biru bergerak, lalu kembali tidur.Di apartemen kecil itu, kehidupan terus berjalan. Ada tangis, ada tawa, ada kenangan pahit yang perlahan memudar, dan ada cinta yang terus tumbuh.Karena pada akhirn
Mobil Rendra meluncur pelan memasuki halaman rumah Dara. Rumah yang dulu ia anggap miliknya bersama Arkha. Jarum jam sudah menunjukkan pukul sembilan, dan lampu di dalam rumah menyala, menandakan Arkha sudah pulang. Saat Dara meraih gagang pintu, bersiap untuk masuk ke dalam p
“Urusan Arkha tahu atau nggak, itu urusan belakangan, Ra,” jawab Rendra tegas, tangannya memegang pundak Dara dengan lembut. “Yang penting kesembuhan Ibu dulu. Kita bisa atur penjelasannya nanti kalau beliau sudah membaik.” Dia menatap mata Dara, suaranya menjadi lebih lembut.
Dara terdiam. Karena Rendra benar. Dalam semua kebohongan itu, dia memang merasa lebih hidup, lebih berani, lebih merasa … diinginkan.Dara yang tak fokus ke arah jalanan tak mengetahui jika Rendra melajukan mobil ke arah lain. Alih-alih mengantarnya pulang, mobil Rendra berbelok da
Sarapan pagi itu terasa seperti medan ranjau. Dara menatap Arkha di seberang meja, menyusun kata-kata dengan hati-hati sebelum melontarkan rencana kecilnya.“Mas, aku ... kayaknya aku mau mulai terapi lagi sama Rendra,” ucapnya, berusaha terdengar ragu dan penuh harap.







