LOGINKeesokan paginya, Rendra dipaksa untuk datang ke Kantor Polisi. Rendra diminta datang untuk membuat laporan. Wanita itu, yang semalam tertabrak dan sudah mendapatkan pengobatan bernama Yuna, 23 tahun, pekerja pabrik. Dia datang dalam keadaan cukup sadar untuk dimintai keterangan.
Di ruang pemeriksaan, Yuna duduk dengan kaki dibalut perban. Dia menatap Rendra dengan sedikit takut. “Maaf, Dokter. Saya yang salah. Saya nyebrang nggak lihat-lihat. Karena gelap bangetSampai di apartemen mereka, Rendra menceritakan pertemuannya dengan Kiara. Dara mendengarkan sambil menyuapi Biru makan malam.“Jadi dia bakal menetap di sini, Bi?” tanya Dara.“Untuk sementara iya, Sayang. Katanya setelah Lilia besar, mungkin balik ke Singapura.”Dara mengangguk. “Lilia anaknya lucu. Mirip dia.”Rendra memperhatikan Dara. “Kamu nggak apa-apa?”Dara menatapnya, lalu tersenyum. “Nggak kok. Aku nggak cemburu.”“Aku nggak bilang cemburu. Aku tanya kamu nggak apa-apa?”Dara menghela napas. “Dulu, mungkin aku akan marah, Bi. Tapi sekarang? Kita sudah lewati terlalu banyak hal untuk masih menyimpan amarah. Lagian,” ia menatap Biru yang sibuk dengan makanannya, “Biru punya teman baru. Itu lebih penting.”Rendra meraih tangannya. “Makasih ya, Sayang. Kamu hebat.”Dara membalas genggaman itu. “Kita berdua hebat karena bisa berdamai dengan masa lalu.”
Sore harinya, di perjalanan pulang mereka. Biru duduk di kursi belakang, masih bersemangat. “Ibu, Lilia lucu! Dia suka dinosaurus juga, tapi dia suka yang T-rex! Biru suka yang brontosaurus!”Dara tersenyum di balik kemudi. “Bagus, Nak. Kamu punya teman baru.”“Besok Biru main lagi sama Lilia, ya?”Dara mengangguk. “Boleh, Sayang.”Biru bernyanyi kecil, senang.Dara menatap jalanan, pikirannya melayang. Riani masih hidup. Dengan nama baru, anak baru, kehidupan baru. Dan ia harus memberi tahu Rendra.Tapi untuk saat ini, ia memilih menikmati kebahagiaan kecil di depan matanya. Biru punya teman baru, dan ia, mungkin, bisa memaafkan masa lalu.Malam itu, Rendra pulang dengan wajah lelah. Namun, dia langsung tersenyum begitu melihat Biru berlari ke arahnya.“Ayah! Ayah! Biru punya teman baru! Namanya Lilia!”Rendra menggendongnya. “Wah, cerita dong sama Ayah!”
Tiga Tahun Kemudian, Taman Kota … Biru berlari-lari kecil di taman, mengejar kupu-kupu. Rendra dan Dara duduk di bangku taman, mengawasinya dengan senyum. “Pelan-pelan, Nak!” teriak Dara. Biru berbalik, melambai, lalu kembali mengejar kupu-kupu. Samuel, Jasmine, Irvan, Nina, Fanny, dan Tari datang membawa makanan dan minuman. Mereka berkumpul di taman, sekadar bertemu untuk merayakan kebersamaan. “Kak, Biru makin pinter ya,” kata Nina. Dara tersenyum. “Iya. Suka nanya ini itu. Kadang bikin aku kewalahan.” Rendra menambahkan, “Kemarin dia nanya, kenapa langit biru. Aku jawab, karena warna kesukaan dia.” Semua tertawa. Biru berlari kembali, memeluk kaki Dara. “Ibu, aku lihat kupu-kupu! Warnanya kuning! Bagua banget!” “Bagus, Nak. Nanti kita gambar kupu-kupunya, ya.” B
Ruang kamar yang hanya diterangi cahaya remang dari lampu tidur menciptakan suasana yang hangat dan intim. Setelah Biru tertidur pulas di kamarnya, Rendra menarik Dara perlahan ke dalam kamar mereka. Tanpa banyak kata, ia membimbing istrinya ke tepi ranjang, lalu merebahkannya dengan lembut di atas seprai yang dingin.Rendra membayangi Dara, kedua tangannya menahan tangan istrinya di sisi bantal. Jari-jarinya menyelip di sela-sela jemari Dara, menggenggam erat namun tetap lembut. Dara menatapnya dengan mata yang berbinar, menunggu.Rendra menunduk. Bibirnya mulai mengecup kening Dara dengan gerakan lambat, penuh penghormatan. Lalu turun ke pangkal hidung yang mungil, ke pipi yang mulai memerah, hingga akhirnya menemukan bibir Dara. Ciuman pertama itu lembut, hanya persinggungan ringan yang membuat Dara menghela napas.Tapi Rendra belum selesai. Bibirnya bergerak turun, menyusuri dagu, lalu ke leher—tempat yang paling sensitif milik Dara. Ia
Malam itu, Dara dan Rendra duduk di balkon. Biru tertidur di boks dalam kamar, diawasi oleh baby monitor.“Bi, kita akhirnya sampai di saat ini,” kata Dara.Rendra meraih tangannya. “Iya. Setelah perjalanan panjang.”Dara menatap langit berbintang. “Dulu, waktu aku sama Arkha, aku nggak pernah kebayang bisa bahagia kayak gini.”Rendra mengecup tangannya. “Kalau sekarang?”“Sekarang ... aku bahagia. Bukan karena sempurna, tapi karena aku punya kamu, punya Biru, punya keluarga dan sahabat yang peduli.”Rendra mengecup tangannya. “Kamu pantas bahagia, Sayang. Kamu sudah berjuang keras.”Dara tersenyum. “Kita berdua.”Mereka berpelukan. Di dalam kamar, Biru bergerak, lalu kembali tidur.Di apartemen kecil itu, kehidupan terus berjalan. Ada tangis, ada tawa, ada kenangan pahit yang perlahan memudar, dan ada cinta yang terus tumbuh.Karena pada akhirn
Usai semua tamu pulang, apartemen kembali sunyi. Rendra dan Dara duduk di sofa, memandangi Biru yang tertidur di boksnya. Bayi mungil itu terbungkus selimut biru muda, tangannya yang kecil mengepal di samping wajahnya.“Lihat dia, Bi,” bisik Dara. “Dia tidur kayak malaikat.”Rendra tersenyum, merangkul bahu Dara. “Dia memang malaikat kita. Malaikat kecil yang datang setelah badai. Dia pelengkap hidup kita.”Dara bersandar di bahu suaminya. Matanya mulai sayu, tetapi senyumnya tidak pernah pudar.“Bi, aku mau cerita sesuatu.”“Apa, Sayang?”Dara menghela napas. “Waktu baby blues itu ... aku ngerasa kayak dunia runtuh. Aku ngerasa nggak becus jadi ibu. Aku ngerasa ... aku nggak pantas punya Biru.”Rendra tidak menyela. Ia hanya memeluknya lebih erat.“Tapi kamu …” Dara menatapnya. “Kamu nggak pernah berhenti berjuang. Kamu gendong Biru, kamu ganti popok, kamu bangun tengah m
Pulang ke rumah, yang biasanya merupakan pelarian, kini berubah menjadi medan pertempuran lain. Mobil Rendra disambut oleh kerumunan wartawan dan lensa kamera yang menyorot tajam dari balik gerbang. Lampu blitz kamera berkedip-kedip, menerangi wajahnya yang lelah namun tetap berada dalam ekspresi
Ponsel di tangan Arkha bergetar, menampilkan notifikasi pesan masuk. Sebuah foto. Saat dia membukanya, dunia seolah runtuh dan kemudian menyala dalam api amarah yang bisa membakar dirinya. Foto itu diambil dari jarak cukup jauh, tetapi cukup jelas. Sangat jelas menampilkan waj
Langkah Rendra terhenti di depan pintu kayu rumah tua itu. Dari dalam, terdengar suara. Bukan suara tangisan, tetapi teriakan yang teredam, penuh dengan emosi yang meledak. Suara Dara. Dan suara lain yang lebih dalam, sedang marah. Dia menduga itu suara Arkha.
Kalimat itu diucapkan Rendra seperti janji pada Dara, meski ia sendiri belum tahu bagaimana harus mengurus badai skandal yang begitu besar itu.Dara akhirnya mengangguk, mematuhi. Dia mengikuti Maya keluar dari ruangan, melirik sekali lagi ke arah Rendra yang berdiri sendirian di te







