تسجيل الدخولLaura yang melihat itu langsung bergerak cepat."Bu!!" Dia menghampiri, menopang tubuh Mirna agar tidak jatuh. Tangannya sigap melingkari bahu wanita tua itu yang mulai kehilangan tenaga. "Bu Mirna duduk dulu… pelan-pelan .…""Nenek kenapa?? Dadanya sakit kenapa??" tanya Bilal panik. Suaranya bergetar, kedua tangannya ikut membantu mendudukkan sang nenek di sofa. Wajahnya berubah pucat, napasnya memburu melihat kondisi Mirna yang tiba-tiba melemah."Jantung Nenek rasanya …." Kalimat itu menggantung.Belum sempat Mirna menjelaskan apa yang dia rasakan, kepalanya langsung terkulai ke samping. Tubuhnya lemas. Kesadarannya hilang begitu saja."Ya Allah… pingsan!" seru Laura panik, menepuk-nepuk pipi Mirna dengan lembut, berharap ada respons sekecil apa pun.Dylan ikut mendekat dengan langkah cepat, wajahnya tegang namun tetap berusaha tenang."Angkat kepalanya… pelan dan baringkan ke sofa," ucapnya, tangannya sigap membantu menopang tubuh Mirna agar tidak terjatuh dengan kasar.Mereka ber
Ucapan dari wanita tua itu benar-benar seperti menyiram bensin ke dalam api yang sudah menyala. "Enak saja mengambil! Nggak boleh!!" Dylan langsung melangkah cepat. Gerakannya refleks, tanpa berpikir panjang. Tangannya mendorong boks bayi menjauh dari jangkauan Bilal, seolah naluri seorang ayah dan kakek mengambil alih sepenuhnya. Sorot matanya tajam. Melindungi. Menolak. Dan di detik berikutnya— Bughh!! Suara pukulan itu menggema keras, memantul di dinding kamar VVIP yang semula tenang. Tanpa aba-aba, tanpa peringatan tinju Bagas sudah mendarat telak di pipi kanan Bilal. "Aarrggghh!!" Kepala pria itu terlempar ke samping. Tubuhnya oleng beberapa langkah ke belakang, nyaris kehilangan keseimbangan. Kakinya terseret, bahunya sempat membentur kursi sebelum akhirnya dia berhasil menahan diri agar tidak jatuh. Buket uang di tangannya terlepas. Berserakan di lantai. Ruangan sontak gempar. Qiara yang berada di atas ranjang langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan. Matanya m
Ruangan VVIP itu terasa hangat dan tenang.Aroma khas rumah sakit bercampur dengan wangi lembut dari tubuh bayi yang baru lahir. Lampu redup menambah suasana nyaman, membuat siapa pun yang berada di dalamnya seakan ingin berbicara dengan suara pelan.Qiara bersandar setengah duduk di atas ranjang, tubuhnya masih lemah, namun wajahnya terlihat jauh lebih segar dibanding beberapa jam lalu.Di sampingnya, Bagas duduk dengan posisi sedikit mendekat, menyuapi Qiara bubur ayam dengan penuh perhatian. Gerakannya pelan, sabar, bahkan sesekali dia meniup sendok itu sebelum menyodorkannya ke bibir Qiara.Sementara itu… Dylan berdiri di dekat boks bayi.Sejak tadi, matanya tak lepas dari sosok kecil yang tengah tertidur pulas di dalam sana.Bayi laki-laki itu—Kainoa Alfarizi.Kai.Nama yang baru saja Dylan berikan dengan penuh pertimbangan. Nama itu bukan sekadar indah diucapkan, tapi juga penuh makna.“Kainoa” diambil dari bahasa Hawaii yang berarti lautan bebas—melambangkan harapan agar sang c
Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, suasana di dalam mobil dipenuhi campuran rasa haru, dan tak percaya. Laura yang duduk di kursi depan, di samping Dylan yang mengemudi, sejak tadi tak bisa mengalihkan pandangannya. Matanya terus tertuju pada bayi kecil yang kini sudah terbungkus rapi dalam bedong di pangkuannya. Tangannya mengelus lembut kain itu. Sesekali menyingkap sedikit, hanya untuk memastikan wajah mungil itu tetap terlihat. Bukan hanya haru. Tapi juga… heran. Bayi laki-laki itu tampan sekali. Kulitnya bersih, hidungnya mancung, bentuk wajahnya tegas meski masih sangat kecil. Sempurna. Tak ada kekurangan sedikit pun. Namun—semakin lama Laura memperhatikan... semakin jelas sesuatu yang mengusik pikirannya. Wajahnya mirip. Sangat mirip dengan Bagas. Alisnya. Garis hidungnya. Bahkan bentuk bibirnya. Laura sampai menahan napas
Suara itu terdengar jelas, bahkan menggema dari lantai atas. Nyaring dan begitu hidup. Dylan dan Bagas langsung saling pandang. Wajah mereka sama-sama berubah. Kaget, bingung, bahkan tidak percaya. “Kok ada suara bayi di rumahmu, Lan?” tanya Bagas dengan dahi berkerut dalam. “Bayi siapa?” Dylan ikut mengerutkan kening. Matanya menyipit, mencoba memastikan apa yang dia dengar barusan tidak salah. “Entah,” jawabnya sambil mengedikkan bahu. “Bayi siapa ya itu?” Namun suara tangisan itu kembali terdengar. Lebih jelas, lebih nyata. Seolah memanggil. Tanpa banyak berpikir lagi, keduanya langsung bergerak cepat menaiki tangga. Langkah mereka kini tidak lagi santai. Ada rasa cemas yang tiba-tiba menyeruak di dada masing-masing. Baru beberapa anak tangga mereka lewati, tiba-tiba terdengar suara langkah tergesa-gesa dari arah atas. Drap! Drap! Drap! Laura muncul. Wajahnya pucat, napasnya terengah, matanya panik. “Ayah! Dokter Bagas!” serunya dengan suara bergetar. Dylan d
“Isinya pakaian dan keperluanku, Lan,” jawab Bagas dengan santai. Lalu tanpa canggung, dia menoleh ke arah Bibi pembantu yang baru saja mendekat. “Bi, tolong bawakan semua barang-barangku dan tata dengan rapi di lemarinya Qiara.”Perkataan itu spontan membuat Dylan menatapnya tajam.“Eh, apa-apaan kamu, Gas?” tanyanya, nada suaranya mulai terdengar tidak suka. “Tiba-tiba minta Bibi bawakan barangmu. Dan kenapa juga kamu ke sini dengan membawa semua itu?”“Mulai malam ini aku akan tinggal di rumahmu, Lan,” jawabnya tenang. “Sebagai calon suaminya Qiara, tentu saja aku akan menjadi suami siaga menjelang dia melahirkan.”Dylan langsung menghela napas panjang, jelas terlihat tidak sepenuhnya setuju.“Nggak perlu sampai segitunya sih, Gas,” katanya. “Lagian aku juga sudah ambil cuti, jadi biar aku dan Bundanya saja yang siaga menjaga Qiara.“Lebih banyak orang yang siaga, itu lebih baik, Lan," sahut Bagas mantap.“Om Bagas benar, Yah.” Qiara tiba-tiba menyahut, membuat Dylan menoleh ke ara
{Semua kegelapan yang aku rasakan selama ini seketika hilang, saat aku bertemu dan mengenal Qiara. Seolah gadis cilik yang memiliki senyuman yang sangat manis, bahkan mengalahkan gula dan madu.}{Jantungku berdebar setiap menatap matanya yang begitu cantik. Bukan, bukan cuma mata, tapi s
[Maaf, Mai, kalau sekarang nggak bisa. Aku lagi sibuk. Lain kali saja, ya.] Entah kenapa aku jadi takut bertemu dengan Bu Karin. Jadi langsung kutolak saja tanpa pikir panjang. Tapi... bukankah Om Bagas bilang dia dan Bu Karin bukanlah sepasang kekasih? Harusnya tida
Setelah beberapa saat, Om Bagas perlahan melepaskan ciumannya.Wajahnya sedikit terkejut, seolah dia merasakan sesuatu yang tidak biasa. Dia menggeserkan bokongnya sedikit, matanya menatap ke arahtempat tidur , dan hidungnya tampak mengendus perlahan."Lho, Sayang... kenapa tempat tidurmu basah?" t
"Karin, kamu apa-apaan sih! Kita bukan anak kecil lagi, lagian malu dilihat umum apalagi ada anakku di sini!" Om Bagas cukup bereaksi, langsung menarik diri dengan lembut tapi tegas untuk melepaskan genggaman tangan wanita itu. Dia menoleh ke arah tamu yang menatap dengan senyum malu, lalu kembali







