LOGINSudah hampir satu jam rasanya Kai menyusu, dan sampai sekarang Bagas lihat dia belum melepaskan puting maminya. Sebagai seorang dokter kandungan yang paham betul soal perawatan bayi dan kesehatan ibu serta anak, rasa khawatir mulai menjalar di dadanya. Dia tahu betul durasi menyusu yang ideal untuk bayi seumur Kai.Dengan gerakan lembut namun tegas, dia pun berniat mengambil alih Kai dari gendongan istrinya."Sayang... sudah sejam Kai nenen. Hentikan sekarang saja," ucapnya lembut kepada Qiara. Namun, istrinya justru menahan tangannya dengan cepat, seolah tak ingin memisahkan diri dari buah hatinya."Jangan, Om! Kasihan. Om sabar dulu, nanti gantian."Qiara pikir Bagas sudah tidak sabar untuk menyusu seperti Kai, maksudnya ingin mendapatkan perhatian dan kasih sayang darinya dengan cara yang sama. Padahal, bukan itu maksud Bagas."Bayi yang masih berumur sebulan idealnya nenen 20 sampai 45 menit, Sayang, durasinya. Kalau lebih dari itu takutnya dia kekenyangan dan ujungnya muntah, ma
Qiara tersentak sedikit, lalu menoleh cepat ke arah sumber suara. Ternyata Bagas sudah terbangun. Pria itu berbaring miring, menopang kepalanya dengan satu tangan, sementara matanya yang masih sedikit sayu menatap mereka dengan senyum menggoda yang tercetak jelas di bibirnya. "Masih juga pagi, Kai udah minta nenen aja. Papi juga kepengen nenen dong, Mi," ucapnya dengan nada manja, tangannya terangkat lalu mengelus lembut pipi kanan istrinya. "Wajarlah, Om, namanya Kai masih bayi." "Om juga 'kan bayimu, Sayang, bayi gede." "Bukan bayi gede, tapi bayi tua." Qiara terkekeh, matanya menyipit geli melihat tingkah suaminya. "Tua-tua begini goyangan Om masih mantep, kan? Buktinya Kai jadi." Bagas menyeringai, nada suaranya penuh percaya diri bercampur godaan. "Apa sih Om, kok tiba-tiba ke goyangan? Nggak nyambung ah." Qiara memutar bola matanya malas, meski senyum masih tak lepas dari bibirnya. Bagas perlahan duduk, menyandar pada sandaran tempat tidur. Bibirnya mengerucut man
Bab 186 bisa dibaca ulang, ya, buat yang semalam udah buka. udah aku revisi soalnya.Happy reading 💕💕®®®®®®®®®®®®®®®®®®®®®®®®®®®Di perjalanan, mata Dylan tak pernah diam. Selain fokus menatap jalan raya, dia terus menyapu pandang ke plat nomor kendaraan di sekitarnya, berharap menemukan yang dia cari.Dia hafal betul angka dan huruf plat mobil Bagas, ingatan yang terpatri kuat di kepalanya.Namun, sayangnya, jalanan malam itu cukup ramai dan padat. Meski dia memacu mobilnya dengan kecepatan yang wajar namun tetap waspada, dia tak berhasil menemukan jejak mobil Bagas di antara deretan kendaraan yang lalu lalang.Akhirnya, Dylan memutuskan untuk mengubah arah, menuju rumah utama Bagas. Dia berasumsi pria itu mungkin pulang ke sana bersama Kai dan Qiara.Tapi sesampainya di depan gerbang rumah Bagas, harapannya kembali pupus. Halaman rumah itu terlihat sepi, dan tak ada tanda-tanda mobil Bagas terparkir di sana."Apa Bagas sudah pulang ke rumah, Pak?" tanya Dylan, menurunkan kaca mob
"Lho! Cucu ganteng Opa ke mana?" Suara Dylan tercekat di tenggorokan, napasnya seolah berhenti saat matanya menangkap pemandangan ranjang bayi yang kosong melompong. Popok yang semula dia genggam erat, kini meluncur begitu saja dari jemarinya yang mendadak lemas, jatuh tak berdaya di lantai. Jantungnya berpacu kencang, menabuh genderang kepanikan yang memekakkan. Baru saja, beberapa menit yang lalu, senyum lebar masih terukir di wajahnya. Dylan hendak mengganti popok sang cucu tercinta. Namun, saat menyadari stok popok di kamar Qiara sudah habis, dia bergegas menuju kamarnya sendiri. Ingatannya masih segar, kemarin dia membeli banyak popok dan meletakkannya di sana. Kini, kepergian singkat itu berujung pada kekosongan yang menyesakkan. Merasa butuh penerangan yang lebih jelas untuk mencari, tangan Dylan dengan sigap meraih sakelar di dinding. Cahaya terang dari lampu utama langsung memenuhi ruangan, menyingkirkan bayang-bayang yang sebelumnya menari-nari, namun tak juga menyingki
"Mau sampai kapan kamu duduk di teras terus, Nak? Hari sudah mulai gelap, seharusnya kamu pulang saja."Laura bergumam pelan, matanya tak lepas dari layar laptop yang diletakkan di atas meja kerja suaminya. Di sana, layar CCTV menampilkan dengan jelas situasi di teras depan rumah—Qiara yang masih duduk dengan bahu melorot dan wajah murung, serta Bagas yang tadi sempat menyentuh perutnya dengan gelisah.Dia melihat setiap gerak-gerik menantunya, dari saat mereka makan siang, hingga momen menegangkan saat Bagas hendak menyiram bensin dan mencoba mendobrak pintu.Ada perasaan campur aduk di dada Laura—khawatir, tidak tega, tapi juga paham betul betapa besarnya kekecewaan yang sedang dirasakan suaminya. Namun melihat mereka berdua terpaku di luar, seolah tak mau beranjak meski malam mulai menjelang, hatinya yang lembut tak bisa menahan rasa iba.Tiba-tiba, suara panggilan terdengar dari luar pintu ruang kerja, memecah keheningan."Bu Laura!"Tak lama kemudian, ketukan pintu pun terdengar.
Bau menyengat langsung tercium menusuk hidung. "Om ngapain?" suara Qiara langsung berubah tegang, nada khawatir bercampur ketakutan terdengar jelas. Dia berjalan cepat mendekati suaminya. "Itu bukannya bensin, ya?""Iya, Sayang." Jawaban Bagas terdengar santai. Bahkan terlalu santai untuk situasi yang begitu berbahaya dan gila ini.Tangannya kembali terangkat, hendak menyiramkan lagi—tapi dengan cepat Qiara menahannya. Tangan kecilnya mencengkeram erat pergelangan tangan Bagas yang kekar, berusaha menghentikan aksi nekat itu."Terus kenapa Om siram? Bensin 'kan bahaya, Om. Kalau kena api bisa kebakar." Matanya memandang Bagas lekat-lekat, berharap suaminya sadar akan apa yang sedang dia lakukan.Bagas menoleh. "Justru Om ingin membakarnya."Degh!Jantung Qiara seolah berhenti berdetak sesaat. Matanya langsung membulat sempurna, tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar."Om mau bakar rumah Ayah?" tanyanya lagi, berharap dia salah dengar."Iya." Bagas mengangguk mantap, tanpa
Aku sontak terkejut, kaget sekaligus heran dengan apa yang Ayah sampaikan.Tapi bagaimana bisa Ayah sampai berpikir sejauh itu tentang Om Bagas? Dan semua prasangkanya benar-benar keliru.Meski dia sudah berumur, tapi tak ada satupun yang peot dari diri Om Bagas, terutama burungnya. Bahkan benda tu
“Usir saja,” jawab Ayah santai. “Katakan kalau aku tidak mau bertemu dengannya.”Aku terkejut, sekaligus heran dengan jawabannya.“Kok Maira diusir sih, Yah?” tanyaku dengan dahi berkerut.Ayah tak menanggapi, bahkan sama sekali tidak menatapku. Dia langsung melangkah keluar kamar begitu saja, disu
“Keterlaluan! Dia benar-benar nekat!”Mataku terasa panas saat menatap layar laptop. Rahangku mengeras, kedua tanganku mengepal begitu kuat sampai terasa bergetar.Emosiku sudah benar-benar meluap ketika rekaman CCTV memperlihatkan kejadian semalam—detik demi detik yang membuat darahku mendidih.Di
Mobil melaju cukup kencang membelah jalanan. Tanganku mencengkeram setir erat-erat, pikiranku kalut, fokusku terpecah antara jalanan dan bayangan buruk tentang Qiara. Jantungku berdegup tidak karuan, seolah berlomba dengan suara mesin mobil.Tiba-tiba, sebuah mobil dari belakang menyalip tanpa aba-







