LOGIN"Apa kamu sengaja merekam saat kita bercinta lalu memberitahukan Ayah mertuaku?!"
Kalimat itu keluar tajam dari mulutku begitu pintu apartemen tertutup. Tanganku mengepal kuat, sementara pandanganku menyambar langsung ke arah Inara—dia sedang duduk di tepi sofa, mengenakan lingerie renda baru yang warnanya menyala di bawah cahaya lampu. Kulitnya terlihat mengilap dan tubuhnya terpampang dengan seksi. Tapi aku sama sekali tak peduli dengan penampilannya. Dadaku penuh dengan amarah yang membara. "Merekam? Merekam bagaimana, Sayang?" Wajah Inara tampak bingung, dia berdiri perlahan dari duduknya lalu melangkah kecil mendekat ke arahku, tangannya terulur perlahan seolah ingin menyentuhku. Ketika jarinya hampir menyentuh kulit wajahku, dia tiba-tiba berhenti dan matanya menatap wajahku dengan tatapan khawatir. "Ngomong-ngomong wajah Kakak kenapa? Kok babak belur begini?" "Itu nggak penting." Aku cepat menepis tangannya"A-ku minta maaf, Om," jawabku yang tiba-tiba menjadi gugup, suara bergetar dan tangan menggenggam ujung kursi dengan kencang. Jangan sampai karena dia ingat hal itu, membuatnya menjadi benar-benar marah padaku. "Bukan maksud nggak sopan, tapi aku melakukan itu karena dipaksa Maira, dia memintaku untuk menemaninya masuk ke kamar Om. Padahal aslinya aku nggak mau dan aku sudah berusaha menolak, Om.""Memangnya apa yang sebenarnya kalian cari?" Tatapan mata Om Bagas tiba-tiba tajam, seolah menusuk langsung ke jantung, membuatku berdebar tak karuan."Ke-kenapa Om nggak tanya langsung saja ke Miara?" Nanti jika ku jelaskan, takutnya akan jadi masalah. Aku tak mau gara-gara aku, membuat hubungan Om Bagas dan Maira menjadi tambah tidak baik-baik saja. Suaraku pelan, penuh keraguan."Om sekarang tanya padamu.""Tapi aku sendiri nggak tau, Om.""Masa kamu nggak tau?""Beneran." Aku mengangguk cepat, meski tubuhku mulai gemetar—kaki sedikit bergetar di bawah kursi. Semoga saja dia percaya pada
"Aku nggak kepengen apa-apa, Om." Aku menggeleng cepat. "Aku cuma penasaran aja, kepengen tanya sesuatu yang lain."Ckiiittt!!Suara rem mobil yang tiba-tiba menusuk ketenangan, ban menyisir aspal dengan suara kasar membuat tubuhku terasa kaku. Om Bagas menghentikan mobil di pinggir jalan, matanya langsung menuju arahku."Tanya apa, Sayang?" Dia menatapku dengan tatapan yang tak sabar, alisnya sedikit terangkat."Padahal nggak perlu sampai menghentikan mobil segala lho, Om." Aku menggeleng lagi, suara pelan dengan nada sedikit mengkritik tapi lembut. "Aku cuma mau tanya kayaknya Om lagi bahagia hari ini, ya? Kalau boleh tau, itu karena apa, Om?"Hatiku berharap dia mau berbagi cerita bahagia—semoga itu bisa membuat kesedihan yang melilit dadaku hilang sejenak."Tentu saja karena kamu." Dia tiba-tiba menoel hidungku dengan jari telunjuknya yang hangat, gerakan cepat tapi penuh kasih."Kok karena aku?" Dahiku berkerut dalam, rasa bingung tercermin jelas di wajahku."Iya. Kebahagiaan Om
"Apa kamu sengaja merekam saat kita bercinta lalu memberitahukan Ayah mertuaku?!" Kalimat itu keluar tajam dari mulutku begitu pintu apartemen tertutup. Tanganku mengepal kuat, sementara pandanganku menyambar langsung ke arah Inara—dia sedang duduk di tepi sofa, mengenakan lingerie renda baru yang warnanya menyala di bawah cahaya lampu. Kulitnya terlihat mengilap dan tubuhnya terpampang dengan seksi. Tapi aku sama sekali tak peduli dengan penampilannya. Dadaku penuh dengan amarah yang membara. "Merekam? Merekam bagaimana, Sayang?" Wajah Inara tampak bingung, dia berdiri perlahan dari duduknya lalu melangkah kecil mendekat ke arahku, tangannya terulur perlahan seolah ingin menyentuhku. Ketika jarinya hampir menyentuh kulit wajahku, dia tiba-tiba berhenti dan matanya menatap wajahku dengan tatapan khawatir. "Ngomong-ngomong wajah Kakak kenapa? Kok babak belur begini?" "Itu nggak penting." Aku cepat menepis tangannya
Ya... aku sudah tahu tentang kehamilan Qiara. Tapi bukan dari dirinya sendiri, melainkan dari Nenek. Itu terjadi di rumah sakit, saat aku baru saja bersiap-siap, sudah diizinkan oleh dokter untuk pulang."Kok Qiara dan orang tuanya nggak ke sini, kenapa ya, Lal?" tanya Nenek yang tampak sibuk mengemasi barang-barangku ke dalam koper, tangannya yang keriput bergerak cepat namun tetap hati-hati. "Seharusnya 'kan mereka ke sini untuk mengantarkanmu pulang.""Aku nggak tau, Nek." Aku menggeleng dengan wajah bingung, sambil terus memerhatikan layar ponselku yang tidak menunjukkan satu pun pesan atau panggilan masuk dari Qiara. "Nomor Qiara susah dihubungi sejak kemarin malam. Aku sudah beberapa kali menelpon dan mengirim pesan, tapi tidak ada balasan. Aku juga sudah menghubungi Bundanya, tapi sama saja, nggak ada jawaban.""Coba hubungi Ayahnya saja, Nak. Dylan pasti tau keadaan Qiara." Nenek memberikan saran."Nomor Ayah dia aku blokir, Nek. Sudah lam
"Kamu benar, tapi ...." Ucapan Inara memang ada benarnya. Tapi bagian dalam diriku yang masih punya akal sehat merasa ragu dan bingung dengan apa yang dia tawarkan. Semisal aku setuju lalu dia benar-benar hamil, lantas bagaimana ke depannya? Masa aku menikahinya dan meninggalkan Qiara?Dilihat dari sisi mana pun, Qiara jauh lebih baik ketimbang dirinya."Apa Kakak ragu?"Aku mengangguk cepat, jempolku masih menggenggam gelas teh hangat yang sudah mulai dingin di tangan. Jantungku berdebar kencang, merasa bimbang."Apa yang membuat Kakak ragu? Tapi lebih baik dicoba dulu, Kak. Kalau kita belum mencobanya... bagaimana bisa aku hamil anak Kakak?" Ucapnya dengan nada yang lembut namun terdengar pasti, matanya tetap menatapku tanpa ragu."Bukan masalah itu.""Terus??" Dahi Inara berkerut dalam, alisnya yang tipis terangkat ke atas. Dia tampak bingung menatapku."Semisal kamu hamil, bagaimana ke depannya?
(POV Bilal) "Sial! Sial! Sial!" Suaraku terdengar serak dan penuh amarah, bergema di dalam kamar yang kini terasa begitu sempit. Kakiku melangkah mondar-mandir tanpa arah, tumit sepatuku membuat suara yang menusuk telinga setiap kali menyentuh lantai marmer. Kedua tanganku mengepal erat, sementara rasa gelisah dan ketakutan menusuk dada seperti jarum tajam. "Bagaimana bisa Ayah memiliki bukti perselingkuhanku? Bukankah selama ini aku sudah main cantik?" Kedua tanganku naik ke kepala, meremas rambutku dengan kuat sembari mengingat tayangan video tadi. Jelas-jelas itu di kamar hotel, tapi siapa yang berani merekamnya? Siapa yang punya akses dan alasan untuk melakukan hal itu? Apa mungkin Inara, selingkuhanku? Tanpa pikir panjang, aku langsung mengambil ponselku dari dalam kantong celana untuk menghubunginya. Sebelum menjadi selingkuhan, Inara adalah mantan pacarku yang terakhir—setelah aku menjalin hubungan dengan Qiara. Saat itu kami putus karena keputusanku sendiri, d







