Share

98. Kepala lima

Author: Rossy Dildara
last update publish date: 2026-01-15 14:12:59
“Itu ….”

“Mau siapapun yang duluan, intinya sama saja!” potong Dylan cepat ketika melihat Qiara terdiam terlalu lama. Kebingungan jelas terpancar di wajah putrinya, membuat Dylan tak ingin menyeretnya lebih jauh ke dalam situasi yang tidak nyaman. Dia menarik napas dalam-dalam, berusaha menurunkan tensi yang sejak tadi memanas. “Sekarang kita masuk ke rumah, kita makan malam sama-sama.”

“Ih nggak mau, Lan! Aku ingin makan malam berdua saja dengan Qiara!” Bagas langsung menolak tegas, tanpa rag
Rossy Dildara

Ada yang bisa nebak ga berapa umur Om Bagas?🤭

| 3
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Sentuh Aku, Om Dokter!   196. Diruqyah

    Sebelumnya, tepat setelah menerima telepon dari Laura yang memberitahu bahwa Dylan dan Bagas di tahan polisi lalu Qiara dan Kai akan tinggal di rumahnya untuk sementara waktu, sebuah rencana yang sudah lama dia susun bersama kakak seniornya tiba-tiba terlintas jelas di benak Maira. Sepertinya hari ini adalah waktu yang paling tepat. Apalagi saat ini Bagas tidak ada di sisi Qiara, tidak ada yang akan menghalangi atau mencurigai gerak-geriknya. Maira pun segera mengetik balasan untuk Davin: [Jadi, Kak. Ini aku baru bujukin Mamiku supaya mau ikut bersamaku. Nanti semisal aku sudah otewe berangkat, aku akan kabari Kakak.] Setelah mengirim pesan itu, dia menyimpan kembali ponselnya dengan wajah yang kembali tenang dan tersenyum manis. "Ya sudah, Mai. Aku mau mandi terus izin dulu ke Bunda, ya?" pamit Qiara lalu menggendong Kai. "Biar aku saja yang minta izin ke Oma. Mami langsung mandi saja nggak apa-apa," jawab Maira cepat, berusaha memudahkan segalanya. "Ya sudah." Qiara menganggu

  • Sentuh Aku, Om Dokter!   195. Sudah cukup sampai di sini

    "Bun ... apa nanti sore kita ke kantor polisi lagi?" tanya Qiara pelan, matanya menatap Laura yang sedang dengan telaten memandikan Kai di bak mandi.Suasana di rumah terasa sepi sejak mereka pulang tadi. Laura meminta Qiara untuk tinggal di rumahnya mulai sekarang, membawa serta Kai, selama Bagas masih ditahan di kantor polisi."Mau ngapain kita ke sana lagi?" sahut Laura balik bertanya, suaranya terdengar datar namun jelas, wajahnya tampak heran dengan pertanyaan putrinya itu."Buat anterin pakaian ganti dan perlengkapan lainnya buat Ayah sama Om Bagas, Bun. Masa mereka nggak ganti baju sama sekali? Apalagi Om Bagas, dari pagi sampai sekarang belum sempat mandi," jelas Qiara dengan nada khawatir yang sangat terasa."Soal itu biar Sakti yang urus. Bunda sudah titip sama dia tadi.""Jam berapa Om Sakti mau berangkat? Kalau gitu aku mau masak dulu deh, Bun. Aku mau bawain makanan khusus buat Ayah dan Om Bagas," ucap Qiara antusias, berniat ingin berbuat sesuatu untuk suami dan ayahnya

  • Sentuh Aku, Om Dokter!   194. Teringat masa lalu

    Dylan sempat terpaku beberapa detik, menatap Bilal dengan sorot mata tak percaya. Rahangnya mengeras, sementara dadanya naik turun menahan emosi yang tiba-tiba kembali menguar. Seharusnya dia ingat. Seharusnya dia sadar sejak awal. Bilal memang sudah masuk penjara… tapi sialnya, dari sekian banyak tempat, kenapa harus di penjara yang sama? Bahkan satu sel dengannya. Benar-benar nasib yang menyebalkan. "Aku ditahan di sini karena difitnah, Ayah," jawab Bilal dengan raut sedih, matanya menunduk seolah menanggung beban berat. Dylan hanya mendengus kasar. "Ternyata kalian saling mengenal, ya? Baguslah kalau begitu," ucap salah satu polisi dengan nada santai, seolah tak peduli dengan ketegangan di antara keduanya. Bunyi ceklek terdengar nyaring saat gembok sel dikunci. Dua polisi itu kemudian pergi begitu saja, meninggalkan Dylan dan Bilal dalam ruang sempit yang terasa semakin pengap. Keheningan sempat menggantung. Namun tak lama, Bilal kembali membuka suara. "Ngomong-ngomong Aya

  • Sentuh Aku, Om Dokter!   193. Supaya mereka tobat

    "Kita nggak perlu bayar uang jaminan untuk membebaskan mereka, Nak," ucap Laura saat mengobrol tadi, suaranya pelan namun tegas. Qiara langsung menoleh, keningnya berkerut heran. "Kok gitu, kenapa, Bun?" tanya Qiara heran. "Nanti biar aku yang bayar semuanya, Bunda nggak usah khawatir." Dalam pikirannya, Qiara menduga Laura merasa keberatan dengan nominal yang disebutkan oleh petugas sebelumnya. Wajar saja—urusan dengan polisi memang tidak pernah murah. Dan dalam hal ini, Qiara merasa semua ini terjadi karena dirinya. Karena masalah yang berawal darinya. "Biarkan saja Ayah dan suamimu ditahan di sini, Nak." "Lho?!" Qiara tampak terkejut mendengar ucapan Laura. Tubuhnya sedikit condong ke depan, memastikan dia tidak salah dengar. "Bunda serius ngomong kaya gitu? Tapi kenapa?" Laura menarik napas pelan sebelum menjawab, tatapannya lurus ke depan. "Supaya mereka tobat, Nak. Supaya mereka nggak berkelahi lagi." Qiara menelan ludah. Ada rasa tidak nyaman yang langsung menj

  • Sentuh Aku, Om Dokter!   192. Jangan salahkan dirimu

    Merasa tak mendapatkan titik temu penyelesaian saat diinterogasi tadi karena kedua belah pihak sama-sama keras kepala dan saling menyalahkan, pihak polisi akhirnya memutuskan untuk bertanya pada pihak keluarga.Mereka berharap keluarga lebih mengerti akar permasalahan sebenarnya hingga kedua pria itu nekat baku hantam."Sebenarnya ini bukan kali pertama mereka adu jotos, Pak. Ini sudah kedua kalinya. Dan yang pertama, ujungnya Dokter Bagas sampai masuk penjara. Tapi sejujurnya, ini semua hanyalah masalah keluarga biasa yang membesar," jelas Laura dengan hati-hati, berusaha menempatkan diri."Lho, terus apa masalahnya memang tidak bisa diselesaikan dengan cara baik-baik, ya Bu? Tanpa harus ada kekerasan fisik seperti ini?" tanya petugas polisi dengan nada heran."Aku sudah sering menasehati suamiku, Dylan. Tapi suamiku orangnya memang agak keras kepala, Pak. Dan emosinya suka sekali tidak terkontrol kalau sudah marah," jawab Laura jujur."Memang susah ya, Bu, kalau punya watak keras da

  • Sentuh Aku, Om Dokter!   191. Interogasi

    Dengan langkah hati-hati, Qiara yang menggendong Kai berhenti di depan pos satpam. Di sana, salah satu satpam tengah duduk sambil mengompres pelipis matanya dengan handuk yang dicelupkan ke air es. Wajahnya tampak kesakitan dan sedikit memar.Namun, tak ada sosok Bagas di sana. Qiara semakin heran, apalagi saat dia melewati bagian lift tadi, lift apartemen itu berjalan normal dan tidak rusak sama sekali."Permisi, Pak ... maaf, apa Bapak melihat suamiku?" tanyanya dengan sopan, sambil menguatkan gendongan pada tubuh mungil Kai.Pak Satpam menoleh pelan, lalu menatap Qiara dengan wajah bingung. "Suami Nona yang mana, ya? Maaf saya nggak tau."Karena penghuni apartemen ini sangat banyak, jadi Pak Satpam tidak bisa mengenali satu persatu pasangan dari mereka. Apalagi jika mereka datang hanya sesekali saja."Namanya Bagaskara, Pak. Tadi dia pamit katanya mau ngambil pesanannya dari ojol yang dititipkan ke sini," jelas Qiara."Oh Pak Bagas." Mendengar nama itu, ekspresi satpam langsung ber

  • Sentuh Aku, Om Dokter!   68. Untuk kesayanganku

    Keesokan harinya.Sebelum matahari benar-benar tinggi menyinari langit Bandung, aku sudah siap pulang ke Jakarta. Aku duduk di kursi belakang, sementara asisten pribadiku yang bernama Jaka—tengah mengemudi dengan tenang, tangan kiri tetap erat di setir sambil mata memantau lalu lintas yang mulai ra

    last updateLast Updated : 2026-03-25
  • Sentuh Aku, Om Dokter!   66. Meratapi nasib

    Mataku perlahan terbuka, kelopak mataku yang berat terasa seperti ditutup oleh lapisan tebal kapas. Aku menyesuaikan diri dengan cahaya lampu gantung yang menerangi ruangan dengan warna kuning hangat. Sorot mataku berkeliling. Ini seperti kamarku di rumah Ayah. Dan saat ini aku sedang berbaring di

    last updateLast Updated : 2026-03-25
  • Sentuh Aku, Om Dokter!   61. Tidak ada kabar

    Setelah menutup telepon, aku berniat langsung ke rumah sakit dan membatalkan makan siang bersama Ayah. Namun, Ayah melarang keras meskipun aku sudah menjelaskan bahwa Mas Bilal mengalami kecelakaan dan kini tengah dioperasi. Dia memperingatkan bahwa makan siang juga penting untukku saat ini, terlep

    last updateLast Updated : 2026-03-24
  • Sentuh Aku, Om Dokter!   60. Jangan lama-lama!

    "Ayok." Ayah mengangguk perlahan, wajahnya menunjukkan pemahaman terhadap hasratku. Dia kemudian mengajakku keluar bersama dari ruangannya, tangannya secara lembut menyandar di pundakku seolah ingin memberikan kekuatan.Ketika kami sampai di lobby, kami melihat ruangan yang sepi tanpa ada jejak Om

    last updateLast Updated : 2026-03-24
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status