Share

Bab 111

Author: Leona Valeska
last update Last Updated: 2026-01-02 22:30:01

Pagi itu cahaya matahari masuk perlahan melalui celah tirai jendela ruang rawat, menyinari bangsal dengan kehangatan yang lembut.

Jam dinding di atas pintu menunjukkan pukul tujuh tepat.

Suasana rumah sakit yang biasanya dipenuhi kesibukan kini terasa lebih tenang, seolah memberi ruang bagi pemulihan Sophia yang masih terbaring di atas ranjang dengan posisi setengah duduk.

Di hadapannya, sebuah meja kecil telah disiapkan dengan sarapan sederhana namun bergizi.

John duduk di sisi ranjang, mengenakan kemeja rapi dengan lengan yang digulung hingga siku.

Di tangannya terdapat sendok kecil yang berisi bubur hangat. Dengan gerakan perlahan dan penuh kehati-hatian, ia menyuapi Sophia, memastikan wanita itu tidak tergesa saat menelan makanan.

“Pelan-pelan,” ucap John dengan nada lembut. “Jangan dipaksakan. Tubuhmu masih membutuhkan banyak energi untuk pulih.”

Sophia menurut. Ia membuka mulutnya dan menerima suapan itu, lalu mengunyah dengan tenang.

Tatapannya sesekali tertuju pada John yang s
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Sentuh Aku, Pak Mentor   Bab 111

    Pagi itu cahaya matahari masuk perlahan melalui celah tirai jendela ruang rawat, menyinari bangsal dengan kehangatan yang lembut.Jam dinding di atas pintu menunjukkan pukul tujuh tepat.Suasana rumah sakit yang biasanya dipenuhi kesibukan kini terasa lebih tenang, seolah memberi ruang bagi pemulihan Sophia yang masih terbaring di atas ranjang dengan posisi setengah duduk.Di hadapannya, sebuah meja kecil telah disiapkan dengan sarapan sederhana namun bergizi.John duduk di sisi ranjang, mengenakan kemeja rapi dengan lengan yang digulung hingga siku.Di tangannya terdapat sendok kecil yang berisi bubur hangat. Dengan gerakan perlahan dan penuh kehati-hatian, ia menyuapi Sophia, memastikan wanita itu tidak tergesa saat menelan makanan.“Pelan-pelan,” ucap John dengan nada lembut. “Jangan dipaksakan. Tubuhmu masih membutuhkan banyak energi untuk pulih.”Sophia menurut. Ia membuka mulutnya dan menerima suapan itu, lalu mengunyah dengan tenang.Tatapannya sesekali tertuju pada John yang s

  • Sentuh Aku, Pak Mentor   Bab 110

    Beberapa jam setelah menjalani penanganan intensif, suasana di ruang rawat Sophia mulai terasa lebih tenang.Lampu-lampu redup memantulkan cahaya lembut ke dinding putih bangsal, sementara bunyi alat monitor terdengar stabil dan teratur.John berdiri di dekat jendela, memandangi langit malam yang perlahan mulai berubah warna.Wajahnya tampak letih, tetapi matanya masih menyimpan kecemasan yang belum sepenuhnya reda.Tanpa disadari John, jari-jari Sophia bergerak perlahan. Kelopak matanya bergetar, lalu terbuka dengan hati-hati.Pandangannya sempat buram beberapa detik sebelum akhirnya fokus. Ia mengedarkan tatapannya ke sekeliling ruangan, mencoba memahami di mana dirinya berada.Saat matanya menangkap sosok John yang berdiri membelakanginya di dekat jendela, bibirnya bergerak pelan.“John …?” panggil Sophia dengan suara lirih, hampir tak terdengar.Namun, suara itu cukup untuk membuat John tersentak. Ia spontan menoleh dan matanya membelalak sebelum langkah kakinya segera menghampiri

  • Sentuh Aku, Pak Mentor   Bab 109

    Ambulans berhenti tepat di depan pintu Instalasi Gawat Darurat rumah sakit. Pintu belakang terbuka dengan cepat, dan Sophia segera dipindahkan ke atas brankar oleh tim medis yang telah bersiap.Tubuhnya terbaring lemah, wajahnya pucat, sementara noda darah masih terlihat jelas meski telah diberi penanganan awal.John berjalan di samping brankar itu dengan langkah tergesa, matanya tak lepas dari wajah Sophia yang tak sadarkan diri.Setibanya di dalam ruang IGD, Sophia langsung dibawa masuk ke ruang penanganan intensif.Tirai ditutup, pintu didorong hingga menutup rapat, meninggalkan John sendirian di lorong rumah sakit yang dingin dan terang. Ia berhenti melangkah, kemudian bersandar pada dinding. Perlahan, John memejamkan matanya.Bayangan darah yang mengalir di paha Sophia kembali terlintas jelas di benaknya. Dadanya terasa sesak, napasnya berat.Sebagai seorang dokter, pikirannya segera dipenuhi kemungkinan-kemungkinan medis yang paling ia takuti.“Apakah Sophia sedang hamil?” gumam

  • Sentuh Aku, Pak Mentor   Bab 108

    Sophia menoleh ke arah ponselnya yang bergetar di atas meja kerja. Layar menyala menampilkan nama John.Senyum tipis segera terukir di wajahnya, senyum yang lahir dari rasa hangat dan rindu yang tak perlu ia sembunyikan. Ia meraih ponsel itu tanpa ragu dan segera menerima panggilan tersebut.“Halo,” ucap Sophia lembut. “Kau sangat merindukanku, hm? Baru juga aku hendak menutup butik, kau sudah menghubungiku.”Di seberang sana, John terkekeh pelan. Nada suaranya terdengar ringan, berbeda dari ketegangan yang akhir-akhir ini sering mewarnai hari-hari mereka.“Apa aku tidak boleh merindukanmu?” balasnya. “Aku sedang di jalan. Aku akan menjemputmu.”Sophia melirik jam dinding di ruang kerjanya. “Baiklah,” katanya. “Aku akan bersiap-siap. Tidak lama lagi aku selesai.”Setelah mengakhiri panggilan, Sophia menarik napas lega. Ia berdiri, lalu menutup beberapa tirai yang menghadap ke etalase butik.Cahaya lampu luar perlahan terhalang, meninggalkan suasana yang lebih redup dan tenang. Ia mera

  • Sentuh Aku, Pak Mentor   Bab 107

    Raka berdiri di ambang pintu apartemen John dengan raut wajah yang sulit ditebak.Begitu pintu terbuka dan John mempersilakannya masuk, Raka melangkah ke dalam dengan langkah mantap, meski sorot matanya tampak gelisah. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri, seolah sedang mencari keberadaan seseorang yang tidak tampak di ruangan itu.John menangkap gestur tersebut. Ia menutup pintu apartemennya, lalu berkata dengan nada tenang, “Sophia sedang berada di butik. Banyak pekerjaan yang harus dia selesaikan hari ini.”Raka tidak menanggapi penjelasan itu. Ia hanya berjalan menuju sofa dan duduk tanpa mengucapkan sepatah kata pun.Sikapnya tetap kaku dan kedua tangannya bertumpu di atas lutut, sementara pandangannya lurus ke depan. Keheningan pun tercipta, cukup lama hingga terasa berat.John menghela napas pelan, lalu duduk di kursi yang berhadapan langsung dengan Papanya.Ia menatap Raka dengan sorot mata serius. “Ada apa sebenarnya Papa datang ke sini?” tanyanya akhirnya. “Tidak biasanya Papa da

  • Sentuh Aku, Pak Mentor   Bab 106

    Betapa terkejutnya Sophia ketika mendengar kabar yang disampaikan John kepadanya. Wajahnya seketika memucat, sementara sorot matanya membeku, seolah sulit mempercayai setiap kata yang baru saja terucap.Mereka duduk berhadapan di ruang keluarga apartemen Sophia, suasana malam itu terasa sunyi dan berat, seakan ikut menanggung beban kebenaran yang perlahan terungkap.Sophia menarik napas panjang, berusaha menenangkan dirinya yang mulai gemetar. Dadanya terasa sesak, namun ia memaksakan diri untuk tetap tegar. “Lanjutkan,” ucapnya pelan, suaranya nyaris tak terdengar. “Aku ingin mendengar semuanya.”John menatap Sophia dengan ekspresi serius. Ia tahu, apa yang akan disampaikannya berikutnya tidak mudah diterima. Namun, ia juga percaya bahwa Sophia berhak mengetahui kebenaran sepenuhnya, tanpa ada satu pun yang ditutupi.“Sebelum bertemu denganmu,” ujar John perlahan, “Mike sebenarnya sudah berada di ambang kebangkrutan.”Sophia mengangkat wajahnya, matanya membelalak. “Kebangkrutan?” ul

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status