공유

Bab 11

작가: Leona Valeska
last update 최신 업데이트: 2025-11-07 22:37:48

Dua hari kemudian.

Langit sore berwarna abu-abu ketika Sophia tiba di depan klinik. Gedung itu terlihat sama seperti sebelumnya. Begitu tenang, rapi, dan dingin. Tapi di dadanya, sesuatu terasa bergejolak.

Dia berdiri sejenak di depan pintu kaca, menarik napas panjang sebelum mendorongnya masuk.

Dia berjalan menuju ruangan John, tumit sepatunya terdengar jelas di lantai marmer yang sunyi.

Saat pintu terbuka, John sudah menunggunya. Ia sedang duduk di kursinya, tampak santai seperti biasa. Kemeja putihnya tergulung di siku, menampilkan lengan yang berotot namun tenang, dan mata tajamnya segera terarah pada Sophia.

“Datang juga,” katanya ringan, tanpa nada heran. “Kupikir kau akan benar-benar berhenti.”

Sophia menutup pintu perlahan, lalu duduk di kursi di hadapannya. “Aku hampir saja berhenti,” katanya datar. “Kalau bukan karena omonganmu pada Mike.”

John menaikkan alisnya sedikit. “Omonganku?”

Sophia menatapnya tajam. “Kenapa kau bilang padanya kalau aku ingin menambah jadwal terapi m
이 책을.
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터

최신 챕터

  • Sentuh Aku, Pak Mentor   Bab 119

    Sore itu, sebuah kafe yang terletak tidak jauh dari gedung pengadilan tampak relatif lengang.Alunan musik instrumental yang lembut mengisi ruang, berpadu dengan aroma kopi yang menenangkan.Sophia duduk di salah satu meja dekat jendela, punggungnya tegak, raut wajahnya tegas tanpa sedikit pun senyum.Di hadapannya, Clara duduk dengan posisi tubuh agak membungkuk, kedua tangannya saling bertaut di atas meja, menandakan kegelisahan yang tidak mampu ia sembunyikan.Sejak awal pertemuan, suasana di antara mereka terasa kaku. Sophia tidak berniat memperpanjang percakapan yang menurutnya tidak perlu.Waktu dan energinya sudah terlalu banyak terkuras oleh persidangan, kebohongan, serta manipulasi yang silih berganti.Sophia menatap Clara lurus-lurus, lalu membuka percakapan dengan suara tenang namun dingin.“Aku tidak ingin bertele-tele,” ucapnya tegas. “Katakan langsung apa yang ingin kau bicarakan denganku.”Clara terkejut sejenak oleh ketegasan itu. Ia mengangguk kecil, menarik napas pan

  • Sentuh Aku, Pak Mentor   Bab 118

    Dua minggu kemudian, ruang sidang Pengadilan Negeri kembali dipenuhi oleh suasana tegang yang menyesakkan.Deretan kursi kayu tampak terisi hampir penuh oleh para pengunjung yang ingin menyaksikan kelanjutan perkara besar yang melibatkan Mike, Sophia, serta sejumlah nama lain yang turut terseret.Cahaya matahari yang masuk melalui jendela-jendela tinggi tidak mampu menghangatkan atmosfer dingin yang menyelimuti ruangan itu.Hakim ketua memasuki ruang sidang dengan langkah mantap, diikuti oleh dua hakim anggota. Ketukan palu menggema, menandai dimulainya persidangan lanjutan.“Sidang dinyatakan dibuka dan terbuka untuk umum,” ucap hakim ketua dengan suara berat dan tegas.“Agenda persidangan hari ini adalah mendengarkan pembelaan terakhir dari pihak terdakwa.”Kuasa hukum Mike berdiri dari kursinya, merapikan jas hitam yang dikenakannya. Wajahnya tampak serius, seolah telah menyiapkan strategi terakhir untuk menyelamatkan kliennya dari jerat hukum yang semakin kuat.“Yang Mulia,” ujar

  • Sentuh Aku, Pak Mentor   Bab 117

    Satu bulan kemudian, suasana di Pengadilan Negeri terasa jauh lebih tegang dibanding hari-hari biasa.Ruang sidang utama dipenuhi oleh pengunjung, awak media, serta beberapa pihak yang memiliki kepentingan dalam perkara besar yang kini menjadi perhatian publik.Kasus penyerangan, pemerasan, dan penipuan yang melibatkan Mike akhirnya memasuki sidang perdana.Sophia dan John hadir sejak pagi. Keduanya duduk berdampingan di bangku penggugat.Wajah Sophia tampak lebih tenang dibandingkan sebulan lalu, meskipun sorot matanya masih menyimpan kehati-hatian.John duduk di sampingnya dengan sikap tegap dan menggenggam tangan Sophia erat seolah ingin memastikan bahwa wanita itu tidak lagi merasa sendirian menghadapi semua ini.Tak lama kemudian, majelis hakim memasuki ruang sidang. Semua hadirin berdiri, lalu kembali duduk setelah hakim mempersilakan.Sidang pun dibuka secara resmi dengan ketukan palu yang terdengar nyaring dan tegas.Hakim ketua mulai membacakan perkara yang menjerat Mike deng

  • Sentuh Aku, Pak Mentor   Bab 116

    Tiga hari kemudian, suasana apartemen John terasa jauh lebih tenang dibandingkan hari-hari sebelumnya.Cahaya matahari sore menembus tirai tipis ruang tengah, memantulkan nuansa hangat yang kontras dengan rangkaian peristiwa kelam yang baru saja mereka lewati.Sophia akhirnya diperbolehkan pulang oleh dokter setelah kondisinya dinyatakan stabil. Meski tubuhnya masih tampak sedikit lemah, wajahnya memperlihatkan ketenangan yang perlahan kembali.Saat itu, Sophia duduk di sofa ruang tengah dengan posisi bersandar, kedua tangannya bertumpu di atas pangkuannya.John duduk di sampingnya, menjaga jarak yang cukup dekat, seolah ingin memastikan bahwa Sophia benar-benar baik-baik saja.Sejak mereka tiba di apartemen, John nyaris tidak melepaskan perhatiannya sedikit pun dari wanita itu.Beberapa saat mereka terdiam, menikmati ketenangan yang jarang hadir belakangan ini.Sophia kemudian menoleh ke arah John, menatap wajah pria itu dengan sorot mata penuh pertanyaan yang sejak tadi tertahan di

  • Sentuh Aku, Pak Mentor   Bab 115

    Benny melangkah masuk ke dalam ruang kerja Raka dengan raut wajah yang penuh kegelisahan.Pria paruh baya itu tampak jauh lebih kurus dibandingkan terakhir kali mereka bertemu.Rambutnya yang sudah mulai memutih dibiarkan sedikit berantakan, sementara kedua matanya menyiratkan kelelahan yang mendalam.Dia menutup pintu dengan hati-hati, lalu melangkah mendekat dan duduk di kursi yang berhadapan langsung dengan Raka.Raka mengangkat wajahnya perlahan dari berkas-berkas di atas meja.Tatapannya datar, tanpa kehangatan, seolah sudah menebak maksud kedatangan Benny sejak awal. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi, kedua lengannya terlipat di dada.“Raka,” ucap Benny dengan suara serak. “Aku datang kemari untuk memohon bantuanmu.”Raka tidak langsung menjawab. Dia hanya menatap Benny sekilas, lalu kembali mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Keheningan beberapa detik itu terasa menekan.“Aku mohon,” lanjut Benny, suaranya semakin lirih. “Tolong bicaralah dengan John. Minta dia mencabu

  • Sentuh Aku, Pak Mentor   Bab 114

    “Jadi benar, kau sedang hamil?” tanya Bianca dengan mata membola karena terkejut.Sophia menerbitkan cengiran tipis, sementara matanya berkilat oleh campuran rasa tak percaya dan haru.“Aku juga tidak tahu,” jawabnya pelan. “Sampai kemarin, aku benar-benar tidak menyadarinya.”Tangannya terangkat perlahan lalu mengusap perutnya yang masih rata. Sentuhan itu dilakukan dengan hati-hati, seolah takut mengganggu sesuatu yang rapuh namun berharga di dalam sana.“Aku tidak pernah membayangkan akan ada kehidupan di dalam tubuhku,” lanjut Sophia dengan nada lirih.“Semua ini bermula dari terapi, dari proses penyembuhan yang kupikir hanya akan membantuku berdiri kembali. Lalu entah bagaimana, aku terikat, jatuh cinta, dan sekarang … aku sedang mengandung bayi John.”Bianca menghela napas panjang seraya menatap sahabatnya dengan sorot mata penuh perhatian. Dia kemudian duduk lebih dekat, lalu meraih tangan Sophia.“Kau harus menjaga kandunganmu dengan sangat baik,” katanya lembut namun tegas. “

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 책을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 책을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status