Startseite / Romansa / Sentuh Aku, Pak! / 08. Ratusan Peraturan

Teilen

08. Ratusan Peraturan

last update Veröffentlichungsdatum: 20.08.2021 14:43:41

Setelah beberapa hari, akhirnya Carla mengambil keputusan untuk memberikan Savian kesempatan untuk tinggal bersamanya.

Pagi ini di ruang tengah, Carla dan Savian sedang berbicara empat mata perihal syarat dan peraturan yang harus Savian taati selama pria itu tinggal di flat. Savian membaca dengan teliti selembar kertas yang Carla berikan. Kedua bola mata Savian perlahan melebar saat membaca ratusan peraturan yang tertera di atas kertas dengan coretan tinta hitam itu.

"Tapi ingat ya, kamu di sini cuma numpang!" tekan Carla seraya memandangi Savian yang tengah fokus membaca. 

"Dengan peraturannya sebanyak ini?" Savian menatap Carla tak percaya. Bahkan peraturan sekolah saja kalah ketat dan banyaknya di bandingkan peraturan di flat ini. 

Carla mengangguk dengan polosnya, tak peduli dengan reaksi berlebihan Savian.

"Iya." jawab Carla singkat.

Savian menggelengkan kepalanya. Matanya kembali menatapi coretan-coretan tak masuk akal yang Carla buat, gadis itu bahkan akan memberi sanksi berupa denda jika melanggar peraturan tersebut.

"Apaan ini, peraturan nomor satu! masa aku menggunakan kamar mandi setelah kamu? gak adil, dong!" protes Savian, matanya menatap Carla menantang. 

Carla melipat tangannya di depan dada sebelum menanggapi protes dari calon flatmate nya itu. 

"Aku ini mahasiswa, sering ada kelas pagi." 

"Kamu kira aku pengangguran?" balas Savian sewot. "Aku juga kerja, jadi harus mandi pagi!" imbuhnya. 

Carla menggaruk tengkuknya, ia berpikir untuk mencari jalan keluar demi kenyamanan bersama yang satu itu. 

"Gimana kalau gantian? Hari senin aku yang mandi duluan, hari selasa kamu yang mandi duluan, jadi selang-seling. Dan waktunya gak boleh lebih dari 10 menit, itu sudah termasuk waktu buat buang air besar!" jelas Carla. Savian berpikir sejenak sebelum menyetujuinya. 

"Tambahin 5 menit, deh!" tawarnya. 

Carla menggeleng dengan tegas, "10 menit cukup!" tekannya. 

Savian mendesah berat, "Aku kalau mandi pagi suka lama, Car."

Kening Carla mengernyit tak paham, "Kenapa begitu?"

Savian tersenyum penuh arti, "Biasalah, ada yang harus di tidurin dulu." jawabnya membuat Carla berpikir keras lalu bergidik setelah mengerti maksud dari pembicaraan mesum pria di hadapannya itu. 

"Okey, waktu mandi 15 menit. Jam 6 harus sudah masuk kamar mandi, kalau telat, pihak kedua boleh pake kamar mandi duluan!" 

Melihat anggukan mantap Savian, Carla kembali melanjutkan ucapannya. 

"Peraturan nomor dua, sarapan masak sendiri-sendiri." 

"Kenapa gak kamu saja yang masakin aku sarapan sekalian, kamu kan perempuan?" 

Mata Carla langsung melotot. Memangnya kodrat perempuan itu memasak? kenapa perempuan selalu di identikan dengan urusan dapur?!

"Kamu mau numpang atau mau jadiin aku pembantu di sini?" sarkas Carla membuat Savian merapatkan mulutnya. 

"Peraturan nomor tiga, menjaga kebersihan flat menjadi tugas bersama. Setiap weekend wajib membersihkan flat dan patungan belanja bahan pangan." 

Kali ini Savian tidak protes, pria itu mengangguk tanpa suara. 

"Peraturan nomor empat, kalau keluar kamar harus berpakaian yang benar. Kamu gak boleh bertelanjang dada dan..." Carla berpikir dulu, "Pokoknya harus berpakaian yang sopan!" lanjut Carla langsung ke inti. 

Savian terkekeh kecil, ia menaikan satu alisnya, "Kamu takut tergoda sama aku, ya?"

Segera Carla berdicih, meremehkan ucapan pria itu. Padahal sebenarnya memang benar. Selain takut tergoda, Carla juga takut khilaf. Ya, meskipun mustahil juga sih kalau ia khilaf ke Savian. 

"Tapi, Car, peraturan yang satu itu gak berlaku buat kamu, kok. Kamu boleh pakai baju sesuka kamu saja. Soalnya, aku lebih suka lihat kamu pakai tank top dan celana gemes dari pada lihat kamu pakai hoodie dan celana training kayak sekarang." 

Carla berdecih lagi, itu sih enak di Savian namanya! memangnya tubuhnya ini patung pahatan yang di ciptakan untuk di nikmati oleh mata orang-orang yang memandang. 

"Peraturan-"

"Stop, Car, cukup!" Savian langsung memotong ucapan Carla. Bisa selesai sampai malam kalau gadis itu menyebutkan ulang peraturan yang dibuatnya satu persatu.

"Okey! bagus kalau kamu udah mengerti dan gak perlu aku jelasin ulang satu persatu." kata Carla lalu melipat rapi lembaran kertas di tangannya, "Nanti aku tempel kertas list peraturan ini di pintu kulkas supaya kamu ingat terus." lanjutnya. 

Savian menegakan tubuhnya yang semula menyender pada badan sofa. "Di kertas itu gak tertulis peraturan yang ngelarang aku buat bawa cewek. Berarti aku boleh bawa cewek nih?"

Sebuah kalimat yang membuat Carla menoleh dan langsung melotot galak. Dalam hati Carla mengumpat, kenapa ia melupakan hal penting yang satu itu?! 

Carla sungguhan tidak berpikir kalau Savian berniat membawa cewek ke flatnya. Ternyata, sugesti nya selama ini kepada dirinya sendiri memang benar. Semua pria itu sama, hanya memandang wanita sebagai pemuas nafsu saja. Carla selalu berusaha untuk berpikir positif, tapi Carla tidak bodoh untuk tidak mengerti pertanyaan Savian barusan. 

Lagi pula untuk apa pria itu membawa cewek ke flat jika bukan untuk melakukan... ah, sudahlah, Carla tidak ingin membuat pikirannya berkelana lebih jauh. 

"Gak boleh!" bentak Carla galak. 

"Kenapa? kamu jealous kalau aku bawa cewek lain?" goda Savian memancing kemarahan gadis di hadapannya. 

Carla bergidik, "Dih! siapa juga yang jealous!" sentak Carla mulai tersulut emosi. Matanya melirik waspada ke arah Savian yang kini berpindah duduk di sebelahnya. 

"Kamu ngelarang aku bawa cewek, kalau aku butuh penyaluran berarti ke kamu, ya?" goda Savian, ia berbisik nakal tepat di samping telinga Carla, membuat bulu kuduk Carla meremang karena hembusan napas hangat pria itu menyapu kulit sela lehernya. 

Maka Carla segera berdiri sebelum akal sehatnya menghilang karena godaan maut dari Savian. 

"Kamu di sini cuma numpang! jadi jangan macam-macam!" sentak Carla sambil menatap Savian penuh peringatan.

Bukannya merengut takut, Savian malah terkekeh melihat raut wajah kemerahan Carla. Tampak galak dan menggemaskan secara bersamaan. Apa lagi melihat rambut gadis itu yang sedikit berantakan, tangan Savian gatal ingin merapikannya kalau saja Carla belum berdiri duluan untuk menghindarinya. 

"Seminggu ini percobaan dulu, kalau kamu gak lulus dan melanggar peraturan yang aku buat, berarti kamu harus segera pindah dari flat ini!" lanjut Carla membuat kekehan di bibir Savian lenyap setelah mendengarnya. Savian pikir, Carla membuat peraturan karena gadis itu sudah setuju untuk berbagi flat dengannya. Ternyata, masih banyak ujian yang harus Savian lalui. 

Melihat raut wajah tak terima Savian, Carla buru-buru beranjak dan masuk ke dalam kamarnya sebelum mendengar protes dari Savian.

Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen
Kommentare (12)
goodnovel comment avatar
Binti Suciati
udah pernah baca tp agak lupa
goodnovel comment avatar
Bani othman
Kuat makan Wang!
goodnovel comment avatar
richardus lau
sangat tidak pro apa tidak ada pemasukan jadi hanya mengharapkan dari koin saja
ALLE KOMMENTARE ANZEIGEN

Aktuellstes Kapitel

  • Sentuh Aku, Pak!   [S2] - 40. Check-in

    Ide menginap itu muncul dari Keina.Bukan direncanakan, tidak ada yang direncanakan dari hari ini sejak awal. Tapi ketika matahari mulai turun dan langit berubah jadi gradasi jingga kemerahan yang membuat Keina tidak sanggup memalingkan matanya, dia menoleh ke Kahfi dan berkata dengan sangat sederhana.“Mas, kita bisa enggak, enggak pulang malam ini?”Kahfi menatapnya.“Aku mau lihat mataharinya tenggelam.” lanjut Keina. “Dan kalau bisa, lihat langit malamnya juga dari sini.”Kahfi tidak menjawab langsung. Matanya beralih ke cakrawala sebentar, langit yang memang sedang sangat layak untuk ditonton, lalu kembali ke Keina."Sebentar saya pesan villa." jawabnya tanpa pikir panjang."Tapi kan kita enggak bawa baju ganti, Mas?""Kita beli nanti."Keina menyengir.Villa yang Kahfi pesan bukan yang mewah, hanya villa kecil dengan satu kamar, teras menghadap laut, dan dinding putih yang terasa bersih dan tenang. Cukup untuk dua orang yang tidak berencana kemana-mana.Mereka mampir ke minimark

  • Sentuh Aku, Pak!   [S2] - 39. Weekend dan Laut

    Keina tidak langsung menjawab.Matanya masih berlinang, bukan karena sedih, tapi karena ada sesuatu yang terlalu besar untuk ditampung diam-diam di dalam dada. Sesuatu yang hangat, yang berat, yang makin hari makin susah untuk berpura-pura tidak ada.Kahfi yang rela meninggalkan karirnya. Kahfi yang memikirkan Keina bahkan sebelum Keina sempat memikirkan dirinya sendiri.Orang macam apa ini.“Mas.” suara Keina keluar sedikit serak.“Hmm?” Kahfi mengambil sendoknya, mulai makan dengan tenang, seperti baru saja tidak mengucapkan sesuatu yang membalikkan semua yang Keina pikir dia tahu tentang pernikahan ini.“Mas serius?”“Saya tidak pernah bilang sesuatu yang tidak serius.”Keina menatap profil suaminya dari samping, rahang yang tegas, mata yang fokus ke piring di depannya, tangan yang bergerak teratur. Tidak ada gurat keraguan di sana. Tidak ada ekspresi seseorang yang baru saja berkorban besar.Kahfi mengatakannya seperti itu adalah hal yang paling wajar di dunia.Pindah ke Jakarta.

  • Sentuh Aku, Pak!   [S2] - 38. Promil?

    Enam hari berselang usai dirinya resmi menjadi budak korporat, akhirnya pagi ini Keina bisa kembali merasakan yang namanya bangun siang. Lebih tepatnya, gadis itu ketiduran lagi usai sholat subuh. Begitu sepasang matanya terbuka, Keina langsung duduk tegak. Kepalanya celingukan ke kanan dan ke kiri, mencari keberadaan suaminya yang entah dimana."Mas." panggil Keina dengan rasa cemas. Entahlah, bangun tidur tanpa melihat batang hidung suaminya kini menjadi hal asing untuk gadis itu. Tak mendengar jawaban dari Kahfi, buru-buru Keina turun dari ranjang, dia berjalan keluar dari kamar seraya mengikat asal rambutnya menjadi satu bagian. Gadis itu menghembuskan napas lega tatkala mendapati Kahfi yang sudah duduk di sofa ruang tengah seraya sibuk dengan iPadnya disana."Mas," panggil Keina mendudukan dirinya tepat di samping Kahfi. "Lho, sudah bangun?" Kahfi mengalihkan fokusnya dari layar iPad. Dia tersenyum tipis melihat Keina yang tanpa izin menyesap kopi miliknya. "Aku kira mas keman

  • Sentuh Aku, Pak!   [S2] - 37. Feedback Pak Manajer

    Selasa pagi, Keina datang tujuh menit lebih awal dari hari sebelumnya.Bukan karena dia lebih siap, tapi karena Kahfi berangkat lebih awal dan otomatis menurunkannya lebih awal juga. Alhasil Keina berdiri di depan gedung Prominent dengan kopi susu sachet di tangan yang dia beli dari minimarket seberang, menatap pintu lobby yang belum terlalu ramai.Lift ke lantai tujuh. Ruangan Humas masih sepi, hanya Bagas yang sudah duduk di mejanya, headphone besar menutup telinganya, jari-jarinya bergerak cepat di atas keyboard.Keina duduk di mejanya. Menghidupkan komputer. Membuka catatan dari hari kemarin. Perutnya sudah terisi penuh, jadi dia tidak perlu sarapan lebih dulu sebelum memulai hari keduanya bekerja di sini.Tepat pukul delapan pagi, ruangan sudah penuh dan ramai dengan suaranya masing-masing.Nara mengetik sambil sesekali bergumam pada layarnya sendiri. Tiara mengedit sesuatu dengan headphone menutup telinganya. Reno sedang menelepon klien dengan nada yang sangat profesional tapi s

  • Sentuh Aku, Pak!   [S2] - 36. "Nanti Disaat Yang Tepat

    Lift terbuka di lantai dasar. Keina mengikuti langkah Kahfi keluar dari gedung, tapi baru tiga langkah dari pintu lobby, Kahfi berhenti.“Tunggu di sini sebentar.” ujarnya tanpa menoleh.Keina berdiri di dekat tiang lobby, menonton Kahfi yang berjalan menuju area parkir dengan langkah yang sama seperti biasanya, teratur, tidak terburu-buru. Beberapa karyawan yang berpapasan dengannya mengangguk hormat, dan Kahfi membalasnya dengan anggukan yang sama.Keina menyandarkan punggungnya ke tiang, menatap langit Surabaya yang mulai berubah warna jingga di ujung barat. Hari ini, hari yang sejak Minggu malam membuatnya tidak bisa tidur, hari yang dia bayangkan akan jadi malapetaka, ternyata tidak seburuk itu.Mobil Kahfi berhenti tepat di depannya dua menit kemudian. Kaca jendela turun.“Naik.”Keina membuka pintu penumpang, melempar tasnya ke jok belakang, dan duduk dengan helaan napas panjang yang sudah dia tahan sejak tadi.“Capek?” tanya Kahfi sambil mengemudi keluar dari area parkir.“Lum

  • Sentuh Aku, Pak!   [S2] - 35. Day 1 Menjadi Budak Korporat

    Minggu malam, Keina tidak bisa tidur untuk kedua kalinya dalam seminggu.Tapi kali ini alasannya berbeda dari malam sebelum interview. Kalau dulu dia takut gagal, sekarang dia takut berhasil. Atau lebih tepatnya, takut dengan semua konsekuensi dari keberhasilan itu. Besok. Hari pertama kerja. Ya, jumat sore Keina mendapatkan kabar dari HRD kalau mulai hari senin dia sudah bisa masuk kerja. Keina menatap langit-langit kamar, menghitung ulang hal-hal yang sudah dia siapkan. Baju sudah digantung di luar lemari, blazer putih tulang dan celana bahan hitam, pilihan yang sudah dia finalisasi setelah tiga kali ganti pikiran sejak Jumat. Tas sudah dipack dari tadi sore. Alarm sudah diset jam lima pagi. Sudah siap. Harusnya. “Na.” Suara Kahfi terdengar rendah, setengah mengantuk. Keina menoleh. “Mas belum tidur?” “Susah tidur kalau ada orang yang bolak-balik di sebelah.” jawab Kahfi dengan mata masih terpejam. “Aku gak bolak-balik.” Keina membela diri. “Aku cuma… ganti posisi beberapa ka

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status